Dendam Pengantin

Dendam Pengantin
Awal kehidupan Neraka ku (Vita POV)


__ADS_3

riing~~


riiing~~~


"eungh...."


bunyi alarm di samping tempat tidur membuat ku terbangun.


Hari ini hari pertama ku bekerja di sebuah perusahaan jadi aku menyetel alarm di jam 5 pagi agar tidak terlambat.


jika ini jam 5 pagi kenapa sudah sangat terang? melihat jam di samping ku, jarum pendek mengarah ke angka 9 dan jarum panjang nya di arah 1.


menyadari hal itu, dengan kesal aku melempar jam waker itu ke dinding.


"BIAWAK SIALAAANNN! MATI KAU!"



hai semua.. Namaku Vita Laura, umur ku 21 tahun dan sudah menikah.


di pagi hari ku yang suram ini, aku hanya duduk di tempat tidur sambil meratapi jam waker ku yang sudah hancur.



hanya ada 1 tersangka di dunia ini yang patut di salahkan atas peristiwa terlambatnya aku pergi bekerja. si anak biawak itu, pasti dia yang melakukannya, lihat saja akan kubalas nanti.



biawak yang ku maksud di sini adalah, ck aku tidak mau mengakuinya. dia adalah suami ku sendiri. Deny Frasetyo dia hanya 14 bulan lebih tua dari ku, entah bagaimana bisa 3 bulan yang lalu kami menikah, tanpa cinta, tanpa pacaran, tanpa tunangan. dan yang terpenting.



kami membenci satu sama lain.



**Flashback (3 hari sebelum pernikahan ku**)



di hari Jumat sore, tepatnya jam 17.00 WIB, aku disibukan dengan membantu mama memasak untuk makan malam. Namun anehnya banyak sekali makanan yang akan di buat, tumben sekali. biasa juga makan malam lauknya cuma tumis kangkung sama ikan goreng kenapa sekarang masaknya udah kaya mau nyambut lebaran.



"ada acara ma malam ini?"



"ngga, cuma nanti ada tamu mau nginep jadi mama masak banyak untuk makan malam nya"



"kok mama ga ada kasi tau aku sih? yakan aku bisa beres-beres apa gitu. liat deh ruang depan sama kamar tamu berantakan kaya gitu"


mendengar ocehan ku, mama menoleh ke arah ku dan tersenyum manis.



"iyah.. nanti kamu beresin ya selesai bantu mama masak😊, sekarang bantu selesaiin mama masak dulu"


ujar mama



"ma.."



"hm? apa sayang?"



dih, manggil sayang pas ada maunya doang.



"aku baru selesai mandi lho ma, masa iya mau beres-beres yang pastinya bakal bikin aku keringetan dan bau"



"lha... emang masak ga bikin kamu bau? sekarang aja kamu dah bau bawang"



papa yang duduk di sofa dapur tertawa mendengar perdebatan kami setelah itu menghampiri mama dan aku.



"papa mau bantu?"


tanya ku



"oh.. engga, mau liat aja"



mendengar perkataan papa, bibir ku secara reflek maju karena kesal.



"udah ga papa, bantu aja mama kamu abis itu beres-beres. tamunya dateng setengah 8 malam nanti kok. kamu masih punya banyak waktu"



"siapa sih tamunya? kok aku ga tau?"


tanya ku kepada mereka



"nanti kamu juga bakal tau, pokoknya habis masak, beres-beres. kamu mandi lagi terus dandan yang cantik. pake parfum sekalian biar wangi"


ujar papa



"segitu nya, emang tamunya ada perlu sama aku?"



"jangan banyak ngebantah. dengerin aja kata papamu"


kata mama, setelah dia selesai menghaluskan bumbu-bumbu.



Astaga lelahnya...


sekarang udah hampir jam 7 malam, sebentar lagi tamunya datang.


aku masih sangat penasaran, siapa sih tamu nya. kayanya bakal ramai deh.


au ah, liat aja nanti sekarang aku harus mandi.


selesai mandi, aku menuruti kata papa untuk berpakaian rapi, dandan dan pakai parfum. ya.. walau ga di suruh aku bakal tetap dandan dan harus wangi sih. hehe..


**ting..


tong**...


suara dari bel rumahku membuat aku gugup, entah kenapa.


aku rasa ini bakalan ga bagus. saat aku membuka pintu kamarku terdengar suara rusuh dari lantai bawah. karena kamar ku berada di lantai 2, jadi aku turun melalui tangga yang terhubung langsung ke ruang tamu. dan betapa kagetnya aku ketika tamunya adalah orang itu.


seseorang yang membuat ku kaget hanya melihat ku sekilas dengan kesal, kemudian berpaling.


" ah, Vita ambilin minum dong. tolong"

__ADS_1


ujar mama kepadaku, karena terlalu kaget aku hanya mengangguk dan melangkah ke dapur, mengambilkan minum untuk 3 orang tamu.


3 gelas jus jeruk sudah siap, sekarang saatnya membawa nampan ini ke ruang tamu. tapi kenapa rasanya nampan ini berat sekali.


dengan tangan yang dingin dan sedikit bergetar, aku membawa minuman ini dengan selamat sampai ruang tamu.


"duduk sini"


kata mama sampil menepuk tempat di sampingnya, isyarat untuk ku duduk di sana.


"Vita sekarang tambah cantik ya"


ujar wanita yang duduk di depan mama, Tante Erna dan pria di sampingnya Om Rendi, suami tante Erna. Lalu ada 1 lagi makhluk kebun binatang yang lepas. Deny si Biawak. kenapa dia datang kerumah ku?


aku tersenyum ke tante Erna


"biasa aja tante.."


"tante ngomong fakta kok, kamu lebih cantik dari 2 tahun yang lalu, terakhir kali tante liat kamu. iya kan pa?"


"iya, Vita tambah cantik"


ujar Om Rendi. pujian mereka membuatku tersenyum malu dan menunduk.


'dih, muka kaya **** aja bangga'


bisikan pelan dari arah pria yg duduk tepat sejajar didepan ku membuat ke menoleh dan menatapnya kesal. kurasa ibunya dan mama tidak mendengar itu karena sekarang mereka sudah sibuk mengobrol.


'elu diam, biawak dekil'


balasku pelan. dan kurasa dia mendengarnya. karena dia langsung melotot ke arah ku.


"dah yuk, kita makan malam dulu baru lanjutin bahas soal 'itu'"


ujar mama, kemudian berdiri diikuti oleh papa dan 3 tamu lainnya.




" enak ngga Er? ini yang masak Vita lho"


tanya mama ke tante Erna



" iya enak banget Wira, aih.. makin suka deh tante sama Vita. udh cantik jago masak pula"



"ah.. enggak kok tante, aku masaknya bareng mama juga tadi"


ujarku, karena masakan ini tidak 100% buatan ku. jadi aku ga mau di puji kaya gitu.



"aku cuma bantu-bantu dia doang Erna"


kata mama ke tante Erna.



aku kembali memakan makanan ku dengan malas.



ya. malas.



kenapa biawak lepas ini harus duduk di samping ku?!


dan juga, papa, mama, om, tante segera menduduki kursi dan berdampingan satu sama lain menyisakan dua kursi kosong untuk ku dan Deny. apa sih yang mereka rencanakan? firasatku sungguh tidak enak.


makhluk disampingku juga dari tadi hanya diam sejak di meja makan. padahal dia orangnya bacot banget.




"Vita udah tau soal ini wir?"


tanya tante Wira ke mama


"belum Er, inilah kenapa aku nunggu hari ini baru mau bilangnya"



"tau soal apa ma? "



" Besok lusa, kamu nikah sama Deny. Dan mama ga nerima penolakan"



hah?!



apa?!



aku. nikah sama Deny?



lelucon macam apa ini?



"hahahaha... mama apa sih. bercandanya kelewatan tau nggak?"



ah.. iya


mama pasti cuma bercanda, mana mungkin serius.


aku tertawa untuk mencairkan suasana, namun malah seperti ketawa yang menyedihkan dan dipaksakan



"ga ada yang bercanda Vita, kami memang ingin menikahkan kalian sejak lama. kamu tau kan kalau kami semua sudah berteman sejak masih di bangku SMA, dulu waktu mama kamu lagi ngandung kamu, kami iseng-iseng buat perjanjian. Perjanjiannya jika bayinya perempuan maka Deny akan di nikah kan sama kamu. dan karena kamu perempuan, kamu mau ya nikah sama Deny?"



penjelaskan panjang lebar dari papa membuat ku merasa sangat terguncang,


bagaimana bisa aku menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai?


terlebih lagi. kami musuh!



sejak kecil, aku dan Deny tidak pernah tidak berkelahi jika bertemu satu sama lain. mama dan papa juga tau hal itu, kenapa malah ingin menikahi kami?



kulihat Deny yang sedari tadi diam dengan wajah seram dan memerah. bukankah biawak itu tidak setuju dengan hal ini, kenapa dia tidak melakukan protes dan malah diam saja?!



"ma.. tapi aku dan Deny bahkan ga deket ma. Mama tau kan dia sering jahilin dan bikin aku nangis dari kecil. masa mama mau kami menikah, ga mau ah. Seharusnya mama ngomongin soal ini dulu ke aku, bukan tiba-tiba kaya gini"


ucapku kesal pada mama, mama hanya menanggapi dengan tersenyum sedikit.


__ADS_1


" karena kamu pasti ga mau makanya mama ga mau bilang dari dulu, ngerepotin. sekarang kamu dan Deny udah ga bisa nolak. dan mama tau sampai sekarang kamu bahkan ga punya pacar 1 pun, jadi turuti kata mama dan papa. Gedung yang kami sewa untuk resepsi udah mulai di dekorasi. besok kamu sama Deny harus ngurusin surat-surat dan persyaratan nikahnya. soal baju serahin aja sama mama dan tante Erna. kalau masih coba nolak. apartemen dan fasilitas kamu lainnya mama ambil lagi. terus kamu pindah ke Amerika dan kuliah di sana, nerusin bisnis papa kamu. mau yang mana? nikah sama Deny dan dapat rumah baru dari kami, atau seperti yang mama bilang tadi?"



Ancaman seperti apa itu? sudah ku bilang aku tidak ingin kuliah dan berurusan dengan bisnis! tapi jika dibandingkan harus menikah dengan biawak itu...



" aku ke Amerika saja"



"oh? yakin? dengan kemampuan bahasa inggris kamu yang kaya gitu? dan juga kamu bakal sendirian lho disana. beneran milih ke Amerika?"



kali ini papa yang ikut memanas-manasi keadaan.



"ma..pa.. kalian ga takut aku masuk perjara apa?"



"lho kok jadi ke situ bahasnya?"


kini semua orang pandangannya tertuju ke arahku, bahkan si biawak melihat ke arahku dengan tatapan '*gila nih orang*'



"kalo aku ga sengaja ngebunuh, atau ngecarunin si Deny gimana?"



Bukan nya memberi respon seperti yang aku inginkan, orang tua Deny dan orang tua ku tertawa terbahak-bahak.



"heh... ya kali, gue bisa dibunuh sama cicak kaya lo"


Deny tersenyum meremehkan. benar-benar sialan!



sebentar....



jika aku menikah dengan Deny. bukankah itu berarti aku akan tinggal berdua di rumah baru kami?


bukankah itu berarti, aku memiliki banyak kesempatan untuk menyiksa biawak itu?


bahkan jika aku menjadikannya hewan peliharaan ku, orang tua kami tidak akan mengetahuinya kan?



astaga... betapa jenius nya aku.



" ya, baiklah aku akan menikah dengan Deny"



**Flashback END**



"ini terbalik! seharunya aku yang menyiksa biawak keparat itu! kenapa semenjak hidup bersama nya, selalu aku yang mengalami sial. kenapa bukan dia!"



aku berteriak kesal dan, melempar bantal, guling dan selimut. untuk meluapkan rasa kesal ku. aku hanya ingin bekerja dan menghasilkan uang sendiri. dengan begitu aku bisa dengan segera meninggalkan rumah ini.


Arrrgghhhh!!! semakin ku pikirkan, aku menjadi semakin kesal.



"kenapa lo? ga bisa berak?"



mendengar suara biawak itu ada disini, aku menoleh dan mendapatinya sedang bersandar di pintu kamar dan memandangku heran.



"NGAPAIN LO NGUBAH ALARM GUE HAH?!"



teriak ku dan berjalan ke arahnya dengan wajah garang.


kenapa dia ngga takut sih ngeliat muka aku.



"muka lo mirip monyet"



Tuhan.. kumohon segera ambil nyawa makhluk di hadapan ku ini.


Deny dengan santai ninggalin aku gitu aja, tanpa wajah bersalah, dengan wajah datarnya.


ku ambil sendal rumahan yang aku pakai dan melemparkan nya ke Deny. dan Woww.. mengenai belakang kepala nya.



"sakit setan!"



"lo yang mulai ya kunyuk"



"istri itu ga boleh ngelawan sama suami. kualat baru tau rasa lo"



"najis tau ngga. najis!"



Deny mengehela nafasnya, kemudian mengambil sendal rumahan ku yang tadi mengenai kepala nya.


reflek saja aku menyilangkan tangan untuk melindungi diriku sendiri dari lemparan sendal dari Deny.



namun bukannya melempar sendal itu, Deny mengembalikan nya pada ku dengan baik-baik.



"cari kerja jangan jauh-jauh, banyak cafe-cafe di sekitar rumah yang buka lowongan kerja"


aku masih diam, namun setelah mengatakan itu Deny berlalu begitu saja dari hadapan ku dan memasuki kamar tidurnya.



ya, kami memang ngga tidur bersama, rumah ini memiliki 3 kamar. dan aku menolak untuk tidur seranjang dengan biawak itu.



tapi kenapa dia tau, kalau aku mendapat pekerjaan yang jauh dari rumah?



**novel pertama ku, maaf jika banyak kesalahannya**

__ADS_1



![](contribute/fiction/1555324/markdown/15412783/1604465521410.jpg)


__ADS_2