Dendam Pengantin

Dendam Pengantin
Mulai berkomitmen


__ADS_3

Menjelang musim hujan, Sabtu pagi kali ini sudah di hiasi dengan hujan deras. Membuat Vita dan Deny hanya berdiam diri di dalam kamar masing-masing. Deny sibuk dengan laptopnya untuk mencari lowongan pekerjaan yang tidak jauh dari rumah dan bisa di lakukan selain pada jam kuliahnya. Sedangkan Vita, Dia membaca beberapa manga baru yang dia beli kemarin.


Kegiatan menyenangkan Vita terganggu oleh ponselnya yang begetar di samping bantal tidurnya


2 panggilan tak terjawab


kata itu tertera di layar handphone nya. Panggilan tak terjawab itu berasal dari ibunya, Vita segera saja menghubungi ulang nomor ibunya.


saat detik ke 4 panggilan Vita sudah tersambung.


" Iya ma, Ada apa?"


tanya Vita dengan suara agak keras, mungkin saja ibunya tidak mendengar suaranya karena hujan yang begitu deras ini.


"nak, kamu di rumah?"


suara dari seseorang yang berstatus sebagai ibu Vita itu terdengar dari speaker Handphone Vita.


"iya, dirumah ma, kenapa?"


"mama mau ke rumah kalian hari ini, Mau nginap juga. mama mau mengganggu malam minggu kamu sama Deny, haha"


Kata-kata dari ibunya membat Vita tak berkutik. Ibu dan ayahnya akan mengginap disini malam ini? Hal mengerikan macam apa itu?


"o-oh.. iya boleh kok ma, dateng aja kalau mau nginep ga perlu hubungi aku dulu. Jam berapa mama sama papa akan datang kemari?"


Hanya itu jawaban yang bisa Vita berikan pada ibunya, bagaimana pun juga dia tidak mungkin menolak permintaan ibunya.


" Ini lagi siap-siap mau pergi, Siang nanti mungkin ibu dah sampai"


" okelah ma. Hati-hati ya di jalan"


" iya nak"


Sambungan telpon itu di matikan oleh ibunya.


Vita memandang horor handphone yang ada di tangannya.


Bagaimana ini...


Pikirnya.


Tanpa berrfikir panjang Vita keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Deny yang ada di samping kamarnya.


BRAKKK


Pintu kamar Deny di buka dengan sangat keras sehingga membuat sang empu kamar terlonjak kaget.


"Apa sih? Kenapa? ada maling?"


Ujar Deny kesal. Laptop di pangkuan nya hampir saja terlempar. Ketika dia melihat raut wajah Vita, wajah itu pucat dan menunjukan raut 'gawat'


" Lebih parah dari maling Deny. Mama gue mau kemari siang ini dan mau nginap pula!"


Ujar Vita ga kalah kesal. Dia bahkan tidak sadar jika dia mengucapkan nama Deny dengan benar, tidak seperti biasanya. Hal yang sebenarnya sudah sangat biasa ini sudah seperti bencana bagi Vita.


Reaksi Deny juga tidak jauh dari Vita.


Mertuanya akan berkunjung?. Bagaimana dia bersikap kepada orang tua Vita nanti, bagaimana cara dia memperlakukan mertuanya. Walau dia sudah lama mengenal orangtua Vita. Sekarang keadaan nya sudah berbeda, Orang yang dulu dia panggil om dan tante, dan bersikap selayaknya untuk menjaga kesopanan lalu sekarang harus seperti apa dia memanggil orang tua Vita? Apa dia harus berpura-pura menjadi menantu yang baik, tapi bagaimana jika Vita mengadukan hal-hal buruk yang dia lakukan kepada Vita? Sejak awal hubungan Vita dan dirinya tidak lah harmonis dan itu bukanlah hal yang pantas dia perlihatkan ke mertua nya. Walau itu lah yang sebenarnya terjadi.


" Orang tua gue tidur di mana? Semua kamar di pake, Ruangan lantai atas masih belom ada kasurnya"


" ya.. Mana gue tau. gue juga bingung ini"

__ADS_1


jawab Deny sambil memikirkan hal apa yang harus dia lakukan.


" Lo tidur di luar aja ya"


Pinta Vita dengan suara memohon.


" Enak aja lo. Ogah gue tidur di luar"


Sahut Deny sewot.


"Bukan gitu maksud gue bangsul. Lo nginap di rumah siapa kek. temen lo kek, di hotel kek atau di rumah pacar lo"


Ucapan Vita sedikit memelan di akhir kalimatnya ketika dia mengatakan pacar Deny. walau dia membenci Deny, mengetahui seseorang yang berstatus sebagai suaminya memiliki pacar membuat Vita kesal, Dia merasa tidak di anggap dan tidak di hargai. Vita tau, Pernikahan ini di paksa oleh orang tua kedua belah pihak, mereka sama sekali tidak mencintai satu sama lain dan juga pernikahan mereka tidak akan bertahan lama. Ibu nya pernah berkata, setidak nya 1 tahun Vita dan Deny harus bersama dan jika memang tidak ada kemajuan sedikit pun dalam hubungan mereka, maka Vita bisa mencerai kan Deny. Namun tidak bisa kah, Deny memperlakukannya seperti Istri dan menghormatinya hanya untuk sampai 1 tahun ke depan. Jika Vita bisa dia juga akan mengencani pria lain, namun sayangnya Vita tidak bisa, dia tidak bisa mendua kan seseorang yang padahal dia benci.


" Gue ga ada pacar, apa sih lo ngomongin pacar mulu. Cemburu lo sama gue? suka ?"


" Najis, Yang lebih penting lagi ya, ini kita gimana di depan mama papa gue"


"papa lo juga nginep?"


"Iya "


'*******' Deny memaki di dalam hatinya.


"Lo yang tidur di kamar gue, atau gue yang tidur di kamar lo"


Ucap Deny dengan cepat. Dia sudah tidak punya pilihan lain. Lagi pula dia sudah merencanakan hal semacam ini jauh-jauh hari. Hal yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri.


Yang Deny pikirkan adalah, dia dan Vita adalah suami istri bagaimana pun juga sudah seharusnya suami istri tidur di ranjang yang sama.


" gue mau di kamar gue lah"


Ucap Vita


"eh?"


"ah,eh,ah,eh. Lo kenapa jadi kaya orang **** gitu? mending lo bantuin gue beresin kamar gue biar ga kentara banget kita tidurnya pisah"


" ih, tapi-"


Vita masih berusaha membantah. Apa yang Deny maksud adalah Deny akan tidur di kamarnya dan orang tuanya akan tidur di kamar Deny. T-tapi dia tidak mungkin tidur sekamar dengan Deny. Apa tidak ada solusi lain, bagaimana jika-


" jangan kebanyakan mikir, gue ga bakalan ngapa-ngapain lo. lagian cuma semalam doang kan. malah aneh tau suami istri masa ga pernah tidur seranjang sejak pernikahan"


Ucapan Deny, berhasil menginstrupsi pemikiran berlebihan Vita.


" Tapi kan gue ga pernah mau jadi istri lo"


" Tapi lo udah jadi istri gue sekarang"


Vita terdiam mendengar jawaban Deny.


" Seharusnya lo masih bisa nolak permintaan orang tua kita waktu itu, tapi lo mengiyakan permintaan orang tua kita dengan maksud mau ngejahatin gue. heh.. lo pikir pernikahan itu ajang balas dendam?kalau dari awal kita sama-sama berusaha nolak waktu itu, kita ga bakal terjebak di keadaan konyol kaya gini. kalau pun lo mau nunjukin ke orang tua lo nanti kalau kita sama sekali ga bikin kemajuan dan ga menunjukan kalo kita cocok, percuma udah terlambat untuk itu semua."


" konyol?"


tanya Vita heran, bagaimana bisa dia menganggap keadaan sepert ini konyol.


" ya, sangat konyol dan benar-benar bikin gue pengen lari dari situasi ini, tapi gue ga bisa"


Vita hanya diam sambil mendengarkan ucapan Deny.


" gue ga tau, apa yang dipikirkan sama orangtua kita sampai maksain kita nikah kaya gini, cuma karena janji masa SMA mereka, itu benar-benar konyol tau ngga, hidup gue di korbankan cuma untuk hal kaya gitu, miris gue sebenarnya. Pernikahan bukan hal kecil. Pernikahan bukan suatu hal yang bisa di mainkan seenak-enak nya. Demi Tuhan Vita, pernikahan adalah hal yang bakalan melekat di diri kita sampai kita ke akhirat nanti. Pernikahan bukan soal hitam di atas putih doang, lebih dari itu! kita bahkan nikah dan berjanji di hadapan Tahan, kalau lo pikir dengan kita bercerai maka semua nya selesai, itu salah. Tuhan ga senang sama yang namanya peceraian, gitu juga gue. Gue bisa nerima ini semua karena mungkin ada hikmah dibalik ini semua. Jadi gue minta, kita bisa bekerja sama mebangun rumah tangga kaya orang lain. Yakali lo mau jadi janda di umur segini"

__ADS_1


Vita benar-benar hanya terdiam setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Deny. Selama hidupnya dia hanya fokus untuk memanjakan dirinya sendiri sampai dia puas, tidak pernah sama sekali terbersit dipikirannya seperti apa yang barusan di katakan oleh Deny.


Deny benar, Jika saja dia mampu menolak permintaan kedua orang tua nya waktu itu, mungkin ini tidak akan terjadi. Vita terlalu menganggap enteng arti dari kata 'pernikahan'.


Tanpa vita sadari saat ini Deny sudah ada di depannya. Vita mendongak untuk memandang wajah suaminya itu. Vita baru menyadari betapa tinggi tubuh Deny sebenarnya. tinggi Vita bahkan tidak mencapai dagu Deny.


Raut wajah Deny yang tadinya terlihat suram dan kesal sekarang dia menampilkan raut lembut dan sedikit memberi senyum ke Vita.


"Gue tau dan gue sadar, kalo dari kita kecil gue selalu ngejahilin lo, bikin lo nangis, ngejek lo dan lainnya. gue minta maaf untuk itu.


Gimana kalo kita memulai semuanya dari awal lagi?"


Vita masih terdiam, entah kenapa dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun sekarang. Dia hanya mampu memandangi wajah Deny yang penuh dengan keseriusan di setiap perkataan dan raut wajahnya.


" Ga lama lagi kan gue wisuda. gue mau fokusin ke itu dulu. setelah lulus gue bakalan nyari kerja kok. Lo bisa belanja pakai uang gaji gue, ya gue tau sih. lo udah sultan dan uang orang tua lo udah ga terhitung banyak nya, ga kaya gue. cuma ya.. gue suka memulai sesuatu dari nol, gue mau menghidupi keluaraga gue pakai uang yang gue cari sendiri walau itu ga seberapa. Sejujurnya gue ga pengen nikah sampai 2 kali atau lebih. Karena lo udah jadi Istri gue yang akan menjadi satu-satunya dalam hidup gue. Lo juga harus memperlakukakan gue selayak nya suami dan gue akan selalu jadi suami lo sampai lo mati, gue ga nerima penolakan"


Dengan itu Deny membawa barang-barangnya yang memang tidak banyak itu dan dibawa ke kamar Vita.


Setelah Deny menghilang dari hadapannya, Vita tersentak dan sadar akan hal aneh yang dikatakan Deny beberapa detik yang lalu. Segera saja Vita berlari ke kamarnya. Disana dia melihat Deny yang sedang menyusun barang-barang di atas meja miliknya.


" Barang gue ga banyak kok yang gue bawa ke sini. cuma ini"


Ujar Deny sambil menunjuk ke arah laptop dan tas miliknya


" Tadi, lo bilang apa?"


Tanya Vita dengan bodohnya. Membuat Deny memandang tak habis pikir ke Vita. Apa dia tidak mendengarkan semua ucapan panjang lebar Deny barusan?


" Gue ga akan mau ngulangin kata-kata gue barusan ya Vit"


Kata Deny kesal.


" b-bukan gitu. Tunggu-tunggu, bentar. biarin gue mencerna semua kata-kata lo yang bikin gue shock barusan"


Deny mnghela nafas pelan dan dia dengan santainya duduk di kasur milik vita sambi menunggu dan mendengarkan apa yang akan Vita katakakan.


" Jadi lo dari awal setuju mau nikah sama gue?"


tanya Vita yang di balas gelengan kepala oleh Deny.


"lah?"


ujar Vita heran


" ck, lo kebanyakan mikir. kita terima aja keadaan kita sekarang, dan kenapa kita ga serius aja sama hubungan kita? dari pada ga jelas kaya gini. Setidak nya kita harus memutuskan kita harus gimana, lebih serius atau di kelarin semua nya. bukan di tengah-tengah antara nerima dan nolak kaya gini"


wajah Vita terlihat memerah walau samar.


" Jadi maksud lo, kita beneran jadi kaya suami istri gitu?"


"hm''


"T-tapi.."


Deny beranjak dari duduk nya dan menghampiri Vita yang masih terdiam seperti orang **** di depan pintu kamar.


" kamu kebanyakan mikir, kita mulai semuanya dari awal mulai hari ini"


ujar Deny setelah nya dia mencium lembut kening Vita. Rona samar yang tadi ada di pipi Vita sekarang menjadi semakin merah dan warna itu menghiasi seluruh wajahnya.


" Aku mau ke mini market dulu. Beli minuman sama cemilan, kamu beresin kamar aku"


Ujar Deny setelahnya dia berlalu begitu saja dari hadapan Vita.

__ADS_1


"eh? aku? kamu?"


__ADS_2