
Terik matahari kini memasuki ruangan persegi yang bertuliskan 12 IPA 2 di papan di atas pintu tersebut, para siswa mulai gelisah sambil mengerjakan kesibukannya masing-masing, sama halnya dengan seorang lelaki yang bertubuh gagah dengan rambut hitam yang sedang membaca sebuah buku yang berada di tangannya, ia mulai menggerakkan tangannya dan juga lehernya, serta sesekali mengubah posisi duduknya.
"Satya!"
Lelaki itu menoleh pada orang menepuk pundaknya sambil memanggil namanya.
Ya, nama lelaki itu adalah Satya Anggara, lelaki tampan berusia 18tahun yang menjadi idola beberapa sekolah di kota Bandung.
"Kenapa?" Tanya Satya, kemudian ia kembali membaca buku ditangannya tersebut.
"Ngantin yuk! Bosen!" Ucap Ridwan sambil membuka kancing kerah bajunya.
Satya tetap membaca bukunya tanpa menoleh pada Ridwan.
"Cuek banget! Ayo dong! Lo nggak bosen apa dikelas mulu?" Tanya Ridwan.
Lagi-lagi Satya tidak menoleh, ia malah membelakangi Ridwan, seolah-olah Ridwan tidak ada di sana.
"Ok! Ntar, gua bocorin tuh sama si Lidia, kalau Satya Anggara, lelaki yang selalu dibanggakannya adalah buaya tak berekor yang selalu menggoda gadis-gadis cantik dari sekolah lain saat pergi ke... sekolah...!"
Satya langsung menutup bukunya dan memasukkannya kedalam laci.
"Wan! Kamu mau apa? Bakso! Soto! Atau apa gitu!" Ucapnya serius.
"Baru aja diancam, gimana dilakuin beneran?" Ucap Ridwan pelan sambil berjalan kearah pintu, kemudian disusul Satya yang tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
Kedua berjalan bersamaan sambil dengan kedua tangannya di kantong celana. Beberapa adik kelas yang mereka lewati menjerit melihat ketampanan kedua, terdengar juga ada beberapa gadis yang memperebutkan keduanya.
"Satya! Saranghe!" Teriak seorang gadis yang duduk di atas meja sambil membentuk love dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"Nde! Sarange!" Balas Satya sambil tersenyum dan sedikit menunduk.
"Aaaaaaagh!" Gadis itu berteriak histeris sambil melompat-lompat kegirangan.
Ridwan dan Satya tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Kekanak-kanakan!" Ucap Ridwan.
"Gambaran orang yang masa kecilnya suram!" Sahut Satya.
***
Saat Satya dan Ridwan sedang asik melahap makanan didepannya, seorang gadis berambut hitam sebahu menghampiri keduanya.
"Siang!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Siang Mbak! Mau pesan apa?" Tanya Ridwan serius.
"Pesan temannya, tanpa selingkuhan dan mantan!" Jawab gadis itu.
"Beres!" Ucap Ridwan sambil mengacungkan jempolnya.
Ketiganya tertawa pelan, kemudian Satya memesan makanan untuk gadis yang kini duduk di depannya.
"Tumben kamu nyamperin! Biasa si dugong ini yang nyamperin!" Ucap Ridwan sambil tersenyum.
"Ini Neng!" Ucap ibu kantin sambil memberikan semangkuk mie bakso pada gadis itu.
"Makasih, Bu!" Ucapnya.
"Iya! Tadi malem habis ditegor sama si bos, katanya aku harus nyamperin lo berdua sekali-sekali, jangan taunya cuma disamperin!"
"Apaan sih? Nggak, Lidia bohong! Jangan percaya!" Ucap Satya sambil menuangkan air ke dalam gelas untuk gadis didepannya.
"Owhhh ya! Lid, ntar aku ada les, kamu pulang sendiri aja nggakpapa kan?" Ucap Satya.
"Iya! Nggakpapa kok! Lagian aku mau pulang cepat hari ini! Keluarga aku dari Lampung datang ke rumah!" Ucap Lidia sambil tersenyum.
Satya dan Ridwan mengangguk bersamaan.
"Ada roti dong!" Ucap keduanya bersamaan.
Lidia membulatkan matanya, kemudian menelan lua bakso dari sendok di tangannya.
"Ada!" Ucapnya mengangguk.
"Becanda kali!" Ucap Satya sambil tertawa, sedangkan Ridwan menggigit kukunya sambil merapikan rambut di dekat telinganya dengan centil.
"Aduh! Kok bisa samaan sih, sama cogan! Jangan-jangan jodoh lagi!" Ucapnya.
Satya dan Lidia tertawa kecil, kemudian tawa itu berubah menjadi senyuman manis saat mata keduanya saling bertatapan.
***
Sepulang sekolah, Satya mengantarkan Lidia ke depan gerbang sekolah sambil bergandengan tangan.
"Ehhemmm! Ehhemm!"
Kedua menoleh kebelakang, terlihat Pak Harto, wali kelas Lidia sedang tersenyum melihat tingkah laku kedua anak muridnya itu.
Satya dan Lidia sontak melepaskan tangannya, kemudian tersenyum menunduk, berbeda dengan Ridwan yang senyum-senyum bahagia melihat kedua temannya tertangkap basah oleh guru sedang bergandengan.
"Rasainnnn! Emang enak! Makanya, hargai yang jomblo! Iyakan Pak!" Ucapnya.
Pak Harto tersenyum manis sambil memukulkan buku ditangannya pada Ridwan.
"Makanya jangan jomblo!" Ejek Pak Harto.
Satya dan Lidia kemudian tersenyum mendengar perkataan Pak Harto.
"Melihat kalian berdua, Bapak jadi teringat saat Bapak baru pacaran dulu! Bapak seakan-akan melayang-layang di udara saat menggenggam tangan pacar Bapak dulu! Bapak senang kalian tidak berpacaran sembunyi-sembunyi! Tapi ingat, jangan sampai melakukan hal yang tidak sewajarnya dilakukan oleh pasangan yang berpacaran! Paham?" Terang Pak Harto.
Lidia hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Pasti Pak! Pasti!" Ucap Satya gagah.
"Yasudah! Kalau begitu Bapak tinggal dulu yah! Satya sama Ridwan nanti tunggu Bapak dan yang lainnya di lapangan basket yah!" Ucap Pak Harto sebelum pamit pulang.
"Baik Pak!" Sahut Satya dan Ridwan bersamaan.
Selang beberapa menit Pak Harto pulang, Lidia juga pamit pulang.
"Yaudah! Kalau gitu aku pulang dulu yah! Kalian berdua langsung pulang habis dari sekolah! Jangan keluyuran lagi! Satya, kamu apalagi, kamu kan yang sering nge godain cewek dari sekolah tetangga!" Ucap Lidia.
Satya hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Lidia, kemudian Lidia beranjak pergi setelah mencubit perut Satya.
***
Kini matahari mulai turun, udara sudah mulai dingin, kedua lelaki bertubuh gagah itu berjalan sambil menjinjing tas ranselnya dengan malas.
"Hari ini sial banget deh, udah ketahuan pacaran sama Lidia, uang jajan nggak ada, motor juga mogok! Punya teman juga, selalu nebeng, padahal dianya punya mobil! Dasar pelit!" Gerutu Satya sambil menyeret tasnya.
"Apaan sih? Ngejek mulu ni anak!" Ucap Ridwan.
Setelah sekian lama berjalan, Satya dan Ridwan sampai di rumahnya masing-masing. Satya langsung berbaring di kasur setelah melepaskan sepatunya, seragamnya dan rambutnya basah kuyup karena keringat.
"Kak! Ada telfon!" Ucap Vika, adik Satya paling bungsu.
"Kok handphone gua ada sama lo? Lo kepoin mantan gua yah?" Ucap Satya.
Vika mengangkat sudut bibirnya sambil memutar bola matanya.
"Apaan sih? Curigaan amat!" Ucap Vika.
Satya beranjak dari kasur, kemudian meraih ponselnya dari tangan adiknya. Setelah Vika pergi, Satya menutup pintu kamarnya dan membersihkan diri ke kamar mandi. Selang tiga puluh menit kemudian, Satya keluar sambil mengeringkan rambutnya, ia kemudian berjalan kearah kasur, berbaring sambil meraih ponselnya.
"Siapa yang nelfon? Kok Vika nggak ngasih tahu!" Ucapnya.
"Lidia!" Ucap kaget.
Ia kemudian bangkit dari kasur, mencoba menghubungi Lidia beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari Lidia.
"Kok perasaan aku nggak enak gitu yah?" Ucapnya pelan.
Satya mondar-mandir di samping kasur dengan kedua tangannya di pinggang.
"Tok tok tok!"
"Siapa?"
"Mama! Makan yuk Ga, yang lain udah nungguin tuh!" Ucap Mama.
"Iya Ma!" Sahut Satya.
Saat hendak keluar kamar, ponselnya kemudian berdering, Satya berlari kembali kedalam kamar, melihat nama pemanggil, kedua matanya membulat, kemudian menjawab panggilan.
"Halo! Sayang maaf yah! Tadi aku pulangnya telat, jafi nggak ngangkat telfonnya deh!" Ucap Satya.
"Iya nggakpapa kok Sat!"
Satya menghela nafasnya.
"Emang kenapa sayang? Kamu kangen yah, sama aku?" Tanyanya menggoda Lidia.
"Ihhhh! Apaan sih? Kepedean banget! Aku tuh cuma mau ngasih tau, kalau besok aku mau keluar kota sama Tante aku. Kamu anterin aku ke dermaga yah!" Ucap Lidia.
"Kamu mau pindah sekolah?" Tanya Satya meninggikan nada suaranya.
Lidia tertawa kecil.
"Bukanlah! Tante sama Om, mau ngajakin aku jalan-jalan! Kamu tuh yah! Mikirnya aneh mulu!"
"Owhhh! Kirain kamu mau ninggalin aku!" Ucap Satya sambil tersenyum menggaruk kepalanya.
"Jadi gimana? Kamu mau nggak?" Tanya Lidia kesal.
"Mau apa nih?" Satya terus menggoda Lidia sambil tertawa.
"Apaah sih? Ya anterin ke dermaga! Pokoknya harus!" Ucap Lidia lantang.
"Aduh! Maaf ya Lid, bukannya nggak mau, tapi emang nggak bisa! Maaf yah!" Satya masih saja menggoda Lidia, sedangkan Lidia sudah merasa kesal, apalagi setelah mendengar ucapan Satya.
"Yaudah deh, males banget ngomong sama kamu! Masa anterin pacarnya sampai dermaga aja nggak bisa!" Ucapnya kesal.
Satya kemudian tertawa, ia berguling di kasurnya sambil tertawa puas.
"Cup cup cup! Sayangku, becanda kok! Aku bakal nganterin kamu ke dermaga! Janji!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Maaf ya Satya Anggara! Kayaknya aku bakal dianterin sama temen aku deh! Si Ridwan!" Ucap Lidia membalas Satya.
Namun bukannya kesal, Satya malah tertawa terbahak-bahak, kelakuannya membuat Lidia jadi salah tingkah.
"Ridwan? Dia mau jalan-jalan sama adik kelas kita, dia baru PDKT-an!" Ucapnya.
"Satyaaa! Kamu ngeselin banget deh!"
Satya hanya tersenyum, keduanya kemudian berbincang-bincang hingga larut malam. Satya keluar dari kamar, ia turun kebawah dan mencari makanan di dapur.
"Dasar lemot! Orang udah siap makan, ini anak baru mau makan!" Ucap Papa meledek Satya yang sedang mencari makanan untuk di santap.
"Hehehe!" Satya tertawa.
Satya berjalan ke meja makan dengan segelas susu putih dan sepiring nasi goreng. Ia melahap makanannya sambil tersenyum manis mengingat kelakuan Lidia.
"Kayaknya, ada yang lagi roman-romannya nih!" Ucap Revan, adik Satya di atas Vika.
"Mama sih udah tau, pasti itu gara-gara cewek berambut pendek itu!" Sahut mama.
"Wahhh! Ternyata kak Angga laku juga yah?" Tanya Vika.
"Apaan sih Vik? Kamu kira Kakak kamu yang tampan ini dagangan? Laku?" Ucap Satya dengan pedenya.
Vika menjulurkan lidahnya, kemudian memanyunkan bibirnya pada Satya.
"Ia sih! Tampan! Tapi play boy!" Batin Vika.
"Sabar yah Vika!" Ucap Revan sambil mengusap dadanya sambil tersenyum.
"Pa, Ma! Angga mau ijin, besok mau nganterin Lidia ke dermaga!" Ucap Satya.
Papa mengubah posisi duduknya sambil membuka kacamatanya, kemudian menatap tajam pada anak sulungnya.
"Apa?" Papa bertanya.
"Mau ijin Pa! Mau nganterin Lidia ke dermaga!" Jawabnya.
"Kalau Mama sih, ok ok aja!" Ucap mama sambil duduk di sebelah papa.
"Owhhhh! Jadi ini, penyebab si abang senyum-senyum sendiri!" Ucap Vika sambil menganggukkan kepalanya pada Revan.
Revan dan Vika kemudian tertawa terbahak-bahak, Revan sampai terjungkal, Satya tertawa melihat Revan sampai tidak sengaja menyemburkan makanan di mulutnya pada papa.
Papa melepaskan kacamatanya, meraih tissue di meja dan membersihkan wajahnya dengan pasrah, semua tertawa, Satya melompat ke arah papa dan meminta maaf sambil tertawa.
"Maaf Pa! Maaf! Angga nggak sengaja!"
"Dasar Dajjal! Karakter! Nol! Kesopanan! Nol! Kebersihan! Nol!" Bentak papa.
Satya hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"Ini ini kelakuan orang tampan! Ucap mama.
"Hahaha!" Semua tertawa riang menghiasi malam hari ini.
***
Kini embun pagi menyambut kedatangan sang mentari, sama halnya dengan Lidia yang sedang menunggu kekasihnya, Satya di depan pintu rumahnya.
"Tit! Tit! Tit!"
Lidia berlari menuju motor milik Satya, kemudian memeluk tubuh kekar lelaki itu dengan erat.
"Ehhhh! Apaan nih?" Tanyanya malu.
Keluar Lidia tertawa malu melihat tingkah laku kedua remaja itu.
__ADS_1
"Lid! Malu tau sama Mama Papa kamu!"
Lidia melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih.
"Aku kira kamu nggak datang!" Ucapnya sambil tersenyum dan mengayunkan tangannya.
"Datang dong!"
"Owhhh iya! Aku ada sesuatu buat kamu!" Ucap Satya sambil mengeluarkan bungkusan plastik berisi kardus kecil dari jok motornya.
Ia memberikannya kepada Lidia, Lidia menerima dan langsung membukanya, kemudian mengeluarkan sebuah jepitan rambut berwarna emas berukuran kecil.
"Nak! Kalian nyusul yah! Kita berangkat duluan!" Ucap seorang wanita paruh baya sambil membuka pintu mobil di sampingnya.
"Iya Ma!" Balas Lidia.
Mobil itu melaju pelan setelah semua anggota keluarga masuk kedalam mobil tersebut.
Lidia tersenyum.
"Makasih!" Ucapnya.
Satya memutar badan Lidia, kemudian mengumpulkan bagian atas rambut Lidia dan memasangkan jepitan rambut tersebut pada rambut Lidia.
"Cantik!"
"Makasih!"
Satya kemudian menaiki kembali motornya di ikuti Lidia, kemudian keduanya berangkat menuju dermaga.
Sesampainya di dermaga, Satya mengantarkan Lidia hingga ke kapal.
"Dahhhhh! Mmmuach!" Ucap Lidia melayangkan ciuman dengan tangannya pada Satya.
Satya menangkap di udara, kemudian menempelkannya pada pipinya, Lidia hanya bisa tertawa dari kejauhan.
***
Satya berjalan sendiri setelah mengantar Lidia, kini tidak ada lagi senyum di wajahnya, ia berjalan dengan malas dengan wajah cemberutnya.
"Bhukkk!"
"Awwwh!"
"Ehhh! Maaf! Maaf! Saya nggak sengaja!"
Satya baru saja menabrak seorang gadis yang terlihat seumuran dengannya.
Satya tiba-tiba terdiam, gadis yang baru saja ia tabrak masih menunduk dan ketika gadis itu mengangkat wajahnya, keduanya sama-sama terkejut sambil mundur dan menutup mulutnya.
"Astaga! Angga! Kamu?" Ucap gadis itu sambil menunjuk Satya.
"Astrid!" Ucap Satya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Satya.
"Aku, aku mau ikut keluar aku ke sini!" Jawab gadis bernama Astrid itu.
"Kamu pindah sekolah?" Tanya Satya.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Astrid! Cepat!"
"Iya Ma! Ga, aku duluan ya! See you later!" Ucap gadis itu sambil berjalan meninggalkan Satya.
"See! Seee you!" Balas Satya gugup.
"Astrid belum berubah! Dia masih sama seperti dulu! Dia juga ramah, padahal aku udah ngejahatin dia berkali-kali!" Batin Satya.
Satya kemudian berjalan sambil tersenyum melihat punggung Astrid yang hampir hilang di telah jarak.
"Astrid ngapain yah, kesini! Padahal kan masih sekolah!" Ucapnya pelan.
***
Sepulangnya dari dermaga, Satya bermain ke rumah Ridwan, karena rumah mereka berdekatan, ia hanya berjalan kaki dari rumahnya sambil membawa beberapa bungkusan.
"Ridwannnn!" Satya berteriak tanpa mengetuk pintu.
Ia langsung masuk ke dalam rumah sambil berteriak-teriak memanggil Ridwan.
"Astaga Angga! Kebiasaan deh! Setiap masuk nggak pernah kalem, selalu aja bar-bar!" Ucap mamanya Ridwan.
Ridwan tertawa kecil sambil menuruni anak tangga.
"Biasa Bun, namanya juga sahabat! Gila!" Ucap Ridwan.
Satya langsung duduk tanpa diperintah, ia mengangkat kedua kakinya ke sofa dan mengeluarkan isi bungkusan yang ia bawa.
"Apa itu?" Tanya Bunda Ridwan.
"Owhhh! Ini Tante, namanya dodol penular virus cinta!" Jawab Satya sambil mengeluarkan sebuah dodol kecil dan memamerkannya.
"Humppp!"
"Dodol cinta, dodol cinta! Kamu kira Tante masih anak muda, digodain gituan?" Ucap Bundanya Ridwan setelah meraih dodol ditangan Satya.
"Aduhhh!" Satya menurunkan kedua kakinya ke lantai sambil memegangi perutnya.
"Kenapa kamu?" Tanya Ridwan.
"Laper! Belom makan seharian!" Jawabnya.
Bunda Ridwan tersenyum, ia sangat senang melihat kedua lelaki remaja itu tertawa dan bercanda bersama.
Satya maupun Ridwan memang sangat dekat, keduanya sudah seperti kakak beradik, mereka bergantian datang ke rumah, tidur bersama, berangkat sekolah bersama dan juga bobrok bersama.
"Satya! Jangan makan semuanya yah! Aku juga belum makan nih!" Ucap Ridwan dari balik kamar mandi.
"Udah kamu mandi aja dulu! Soal makanan kamu tenang aja!" Ucap Satya sambil tersenyum licik.
Bunda dari Ridwan ikut tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kamu sama Ridwan nggak ada bedanya Ga!" Ucapnya.
"Tok! Tok! Tok!" Terdengar suara pintu yang terketuk.
Satya tetap melahap makanan di piringnya, ia bahkan berjalan ke lantai atas dengan makanan ditangannya, sedangkan Bunda Ridwan berjalan ke arah pintu.
"Halooo!"
"Haiii! Aduhhh kok datangnya nggak bilang-bilang sih? Kan bisa di jemput sama Ridwan!"
Terlihat Bunda sedang menyambut tiga orang tamunya dengan gembira.
"Ini siapa?" Tanya Bunda pada gadis cantik didepannya.
"Astrid Tante!"
Mereka tertawa, Bunda kemudian mengambil minuman dan beberapa cemilan, saat akan menyajikannya, Satya turun dengan piring dan gelas kotor ditangannya.
Satya bersiul, Astrid yabg melihatnya langsung menunduk dan bersembunyi di balik bantal sofa, sedangkan Satya tidak menyadari bahwa Astrid ada di sana.
"Tante! Tamunya siapa? Terus, darimana?" Tanya Satya.
"Adiknya Om kamu, sama sepupunya Ridwan dari luar kota!" Jawab Bunda.
Satya hanya mengangguk, sekilas ia melihat pada orang yang duduk di sofa, tiba-tiba matanya melotot, bukan karena Astrid, tetapi karena bungkusan yang ia bawa sebelumnya.
"Tante! Dodol!" Satya menunjuk bungkusan dodol di meja.
"Wahhh! Ada dodol nih!" Ucap wanita paruh baya yang duduk di samping Astrid.
Satya menggigit bibir bawahnya sambil berjalan menuju dapur untuk mengembalikan piring ditangannya, kemudian mencucinya sambil mendengarkan perkataan kedua orang tua Astrid dan Ridwan.
"Dodolnya sama persis sama dodol yang pernah dibawain sama Angga ke rumah ya Srid!"
"Iya Ma! Persis!"
Satya langsung tersadar setelah mendengar suara Astrid, ia mencuri-curi pandang dan benar saja, yang ia lihat adalah Astrid, mantan pacarnya saat SMP dulu.
"Ceklek!"
Ridwan keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melekat pada lehernya, ia melihat pada Satya yang melotot memandangi Astrid, Ridwan juga ikut melihat kearah sama, tiba-tiba ia berteriak kegirangan hingga membuat orang rumah terkejut, termasuk Satya.
"Aaaaa! Astrid! Tante! Om! Kapan datangnya!"
Ridwan kemudian berjalan kearah kursi sofa.
"Astrid!" Ridwan mengedipkan matanya.
Satya kemudian berjalan kearah Ridwan, matanya kemudian bertemu dengan mata Astrid, keduanya saling bertatapan.
"Loh! Angga! Nak Angga anaknya Ririn?"
Ridwan dan Bunda Ririn saling bertatapan, Satya tersenyum, kemudian menyalami kedua orang tua Astrid.
"Bukan Tante! Angga cuma main-main aja ke sini! Kebetulan Ridwan itu temannya Angga!" Jawabnya, kemudian duduk di samping Ridwan.
"Kalian saling kenal?" Tanya Bunda Ririn.
Ketiganya tertawa kecil sambil melihat ke arah Satya yang menggaruk kepalanya, ia terlihat salah tingkah.
"Angga ini mantan pacarnya Astrid!" Jawab papa Astrid.
"Pahhhh!" Astrid memberikan isyarat dengan tersenyum paksa.
"Gila! Kapan lo berdua pacaran?" Tanya Ridwan.
"Waktu SMP dulu! Masih bocah!" Jawab Astrid sambil meraih dodol di atas meja.
"Kalau sekarang?" Tanya bunda Ririn dengan penasaran.
Ridwan menyenggol lengan Satya sambil berbisik di telinganya.
"Bisa dong Astrid jadi pacarku!"
"Kalau dia mau!" Balas Satya dingin.
Astrid tersenyum, ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Ridwan.
"Apa?"
Ridwan menatap Astrid penasaran.
"Save nomer!" Ucapnya.
Ridwan tersenyum, meraih ponsel tersebut dan menyimpan nomernya, Satya dengan bijak mengingat nomer teleponnya dalam ingatannya.
Ridwan tersenyum, kemudian mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik.
"Makasih!" Astrid tersenyum sambil menerima ponselnya dari Astrid.
"Kamu belom ganti kartu juga sampai sekarang?" Tanya Satya yang membuat semua mata menuju padanya.
Astrid menggigit bibir bawahnya sambil berusaha untuk menahan pipi untuk memerah.
"I, iya!" Jawabnya.
"Apaan sih? Ngeselin banget deh!" Ucap Ridwan kesal.
Tak berapa lama kemudian, Satya pamit untuk pulang ke rumah.
"Tante, Om, Angga pulang dulu yah!"
"Iya, hati-hati di jalan!" Ucap papa Astrid.
Ridwan tertawa sambil menutup mulutnya.
"Om! Itu anak rumahnya di sebelah! Bedanya cuma bangunan rumah doang!" Ucap Ridwan.
Astrid keluar dari rumah, ia melihat keluar untuk mencari tahu rumah Satya.
"Kalau kamu mau ikut juga boleh kok!" Ucap Satya, kemudian ia menundukkan kepalanya sambil tersenyum dan beranjak pergi.
"Ikut!"
Satya berhenti dan menoleh ke arah Astrid.
"Astrid!" Bentak Ridwan.
"Boleh yah! Ma! Pa! Aku kangen sama Vika!" Astrid memelas pada kedua orangtuanya.
"Boleh! Tapi jangan pulang malem!" Ucap papa.
"Paling pulang pagi Om!" Ucap Satya.
Satya berjalan perlahan, kemudian disusul Astrid sambil menyesuaikan langkah kakinya dengan Satya.
"Brummmm! Thittt!" Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju kearah Astrid.
"Awwwh!"
"Bhukkkk!" Kedua terjatuh ke samping jalan, darah segar mengalir dari tangan Satya ketika melindungi kepala Astrid agar tidak terbentur.
"Aduhhh! Maaf Mas, Mba! Saya nggak sengaja!" Ucap pengendara motor yang hampir menabrak Satya dan Astrid.
"Nggakpapa kok Mas, Mas lanjut jalan aja, kita nggakpapa kok, beneran!" Ucap Satya.
Satya menyembunyikan tangannya yang terluka dibalik badannya, masih dapat tersenyum meski darah mengalir dari tangannya.
"Aduh! Maaf ya Mas! Mba!"
"Santai aja Mas! Kita baik-baik aja kok!" Ucap Astrid setelah selesai membersihkan pakaiannya.
__ADS_1
Pengendara motor itu berlalu meninggalkan keduanya.
"Kamu nggak kenapa-napa kan Srid?"
"Aku yang harus nanya, kamu baik-baik aja kn?" Astrid kembali bertanya.
"Aku baik-baik aja kok! Jawab Satya sambil tersenyum.
"Dasar bodoh!" Ucap Astrid kemudian.
"Ha?" Satya membulatkan matanya pada Astrid.
Astrid meraih tangan kanan Satya yang terluka.
"Kamu mungkin bisa berbohong pada orang lain, tapi bukan dengan ku!" Ucapnya sambil menggulung lengan baju Satya.
"Rumah kamu dimana? Luka kamu harus diobati Ga!"
Satya tersenyum melihat Astrid, dia memang tidak bisa berbohong kepadanya.
"Ayo!" Satya berjalan sambil memegangi lengannya.
"Syalommmm!" Astrid mengetuk pintu.
Satya menatap lekat pada Astrid.
"Kamu belum berubah juga ya Srid!" Ucapnya.
Astrid menoleh, kemudian kembali mengetuk pintu.
"Syalommm!"
"Iya! Siapa?" Mama membuka pintu.
Mama memandangi wajah Astrid, kemudian melihat ke arah anaknya.
"Astaga ya ampun! Ya Tuhan! Kamu kenapa Ga?" Tanya mama panik.
Satya hanya tersenyum.
"Masuk duku cepat! Biar diobatin lukanya!" Ucap mama.
Mama berlari mengambil kotak P3K, Satya berjalan kedalam rumah.
"Astrid! Ayo!" Ucapnya.
Astrid kemudian berjalan mengikuti Satya.
"Kamu cuci lukanya dulu sana! Habis itu diobati!" Ucap Astrid sambil berjalan ke arah kursi.
Saat hendak duduk, Satya bertanya pada Astrid.
"Yang ngobatin siapa?" Tanyanya.
Astrid terdiam, ia tersenyum kemudian duduk.
"Aku!" Jawabnya.
Satya tersenyum, kemudian pergi untuk mencuci lukanya.
"Dimana? Ga? Sini lukanya Mama obatin!" Ucap mama sambil berjalan membawa kotak p3k.
Astrid berdiri saat melihat mama berjalan ke arahnya.
"Syalom Tante!" Sapa Astrid sambil menyalam dan mencium mama.
"Syalom cantik! Kamu ini siapanya Angga yah?" Tanya mama.
"Astrid Ma! Dia Astrid!" Jawab Satya dari arah dapur.
Mama menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut.
"Iya Tante! Ini Astrid!"
"Aduhhh!" Satya tiba-tiba menjerit.
Astrid membantu Satya berjalan ke kursi dan mengobati lukanya.
"Astrid! Astaga! Tante sampai nggak kenal, habis kamu cantiknya kebangetan sih!"
Satya dan Astrid tersenyum.
"Tante bisa aja deh! Dari dulu juga Astrid tetap gini-gini aja!" Ucap Astrid.
"Hello my mother!" Ucap Vika dari tangga.
"Ada tamu?" Tanya Revan.
Setelah Astrid selesai mengobati tangan Satya, ia menoleh pada Vika dan Revan.
"Iya! Mantan doi si Abang!" Ucap mama menjawab pertanyaan Revan.
Astrid tersenyum sambil menunduk, kemudian mendekatkan mulutnya pada Satya.
"Itu pasti adik kamu kan Ga! Vika sama Revan!" Bisik Astrid.
"Iya!" Jawab Satya.
"Siapa?" Tanya Vika sambil duduk di depan Satya dan Astrid, sedangkan Revan memilih duduk di samping mama.
"Bentar!" Ucap Revan memperhatikan gadis yang duduk di samping kakaknya.
"Mantan waktu kapan?" Tanya Revan mulai mengintrogasi.
"SMP!" Jawab Satya.
"Bentar! SMP, Idol favorit?" Tanya Revan menunjuk Astrid.
"Min Yoongi!" Jawabnya.
"Bangtan Sonyeondan?" Tanya Vika.
Astrid mengangguk senang.
"Itu aja ribet! Dia itu..."
"Stop! Stop it Ma'm!" Ucap Revan.
Mama menutup mulutnya dengan tangannya, kemudian tersenyum pada Astrid, Astrid juga tersenyum, kemudian menggaruk kepalanya.
"Tiga belas ditambah dua berapa?" Tanya Revan lagi.
"Dua!" Jawab Astrid.
"Udah! Aku udah tau!" Ucap Vika mengangguk.
"Nggak nanya kok lapor!" Ucap Revan mencibirkan bibirnya.
"Kakak, Kak Astrid kan?" Tanya Revan.
Astrid tersenyum.
"Iya Van! Ini Astrid!" jawabnya.
"Plak!"
"Astaga!" Ucap mama kaget saat Revan memukul meja.
"Apaan sih lo?" Bentak Vika.
"Kok, Kak Astrid ada disini?" Tanya Revan penasaran.
"Astrid itu sepupunya Ridwan!" Jawab Satya.
"Iya Van! Ridwan itu sepupu aku!" Sahut Astrid.
"Sebenarnya aku udah tau dari tadi kalau Kak itu Kak Astrid! Mantan pacar Angga kan cuma satu!" Ucap Vika sambil berdiri, kemudian berjalan ke arah dapur.
"Dasar! Ini anak kebiasaan banget ya! Emang kamu kira aku ini adik kamu? Hah?" Tanya Satya meninggikan nada suaranya.
"Udah Ga! Gak usah teriak-teriak! Vika kan emang gitu! Nggak sopan! Jadi kamu sabar aja!"
"Iya Kak! Kamu itu masih nama aja yang disebut tanpa kata Kakak, lah aku? Terzolimi, tersiksa, tertipu, bahkan tersakiti! Kak Angga tau nggak? Aku putus sama Laura gara-gara apa?" Tanya Revan.
Satya menggelengkan kepalanya.
"Karena Vika ngaku-ngaku pacarnya Revan!" Jawab mama sambil menyalakan lampu.
Vika memutar bola matanya sambil berjalan membawa teh dan cemilan.
"Kenapa kamu ngaku-ngaku jadi pacarnya saudara kembar kamu sendiri?" Tanya Angga serius.
Vika membagi minuman tersebut, kemudian duduk di samping Revan.
"Karena adik kesayangan kamu ini, selalu ngeburuk-burukin aku sama temennya!" Jawabnya sambil memutar telinga Revan.
"Aaaaaa! Itu karena teman aku itu gebetannya Vika Kak! Si Heru!" Teriak Revan.
"Aduhhh!" Ucap Astrid sambil tertawa.
"Vika sama Revan belum berubah juga ya Tante!" Lanjutnya.
"Iya Strid! Kadang Tante kasian sama Angga! Kalau ini berdua berantem, terus nangis, Om kamu malah nyalahin Angga, yang sama sekali nggak tau apa-apa!"
Astrid tersenyum sambil menoleh pada Satya.
"Iya, aku..."
"Kringggg! Kringgg!"
"Sebentar!" Ucap Satya sambil berdiri dan mengangkat telfonnya.
"Halo!" Sapa Satya.
"Eummm! Ini video call Satya! Jangan nunjukin telinga kamu!" Ucap Lidia.
Satya melihat layar ponselnya.
"Astaga!" Satya menepuk jidatnya.
"Hahaha! Kamu ini!" Ucap Lidia.
Satya tersenyum melihat layar ponselnya.
"Kenapa nelfon jam segini? Kangen yah?" Tanya Satya.
"Iya! Kangen sama Tante juga, kangen Vika, kangen Revan sama Om!" Ucapnya tersenyum, namun tiba-tiba ia menangis.
"Loh! Lid! Kamu kok nangis sih!" Tanya Satya.
Mama, Astrid, Vika dan juga Revan menatap Satya dengan heran dan penasaran.
"Kenapa sih? Ada masalah apa? Hah?" Tanya Satya lembut.
"Aku! Sebenarnya aku mau pindah sekolah Ga!" Jawabnya.
Lidia semakin menangis menjadi-jadi, mengacak-acak rambutnya dan meneteskan air matanya.
"Kamu kalau mau nge prank aku! Itu yang wajar-wajar aja dong!" Ucapnya pelan.
"Ada apa sih?" Tanya Vika.
Astrid penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Satya dan orang di telefon.
"Maaf Sat! Tapi aku nggak sanggup ngasih tahu kamu sama Ridwan secara langsung!" Jawab Lidia.
"Kok kamu bohongin aku sih Lid? Apa susahnya sih buat jujur? Hah? Kamu kira ini semua cuma candaan doang? Hah?" Satya membentak-bentak Lidia.
Satya berjalan menaiki anak tangga sambil terus bersungut-sungut.
"Siapa yang nelfon?" Tanya Astrid.
"Siapa lagi kalau bukan Lidia!" Jawab Revan.
"Bentar yah! Mama nenangin Kakak kalian dulu! Astrid kalau lapar, makan aja, minta sama Vika. Nggak usah segan-segan!" Ucap mama, Astrid hanya tersenyum sambil mengangguk.
Setelah mama pergi, Satya duduk di kursi sebelah Astrid dan mengganti siaran televisi.
"Lidia itu pacarnya Angga?" Tanya Astrid.
"Iya!" Jawab Vika dan Revan bersamaan.
"Owhhh!" Astrid mengangguk.
"Owhhh iya! Aku pulang dulu ya Vik, Van! Takutnya nanti Mama sama Tante nyariin!" Ucap Astrid.
"Aku antar sampai depan ya Kak!" Ucap Revan.
Astrid tersenyum sambil mengangguk.
"Boleh!" Ucapnya.
Vika berdiri dan ikut mengantar Astrid sampai depan rumah.
"Dahhh!" Ucap Vika sambil melambaikan tangannya pada Astrid, Astrid membalasnya sambil tersenyum, sedangkan Revan menatap Astrid tak lepas.
"Kasian Kak Astrid! Udah ditinggal pergi waktu pacaran, sekarang udah ketemu, ditinggal lagi karena Kak Lidia! Malah pake marah lagi!" Ucapnya.
Keduanya kemudian berjalan ke dalam rumah.
"Van! Van! Masih sempat-sempatnya kasian sama orang lain! Kasihanilah dirimu! Karena sampai sekarang masih aja zombi! Ehhhh maksudnya alone!" Ucap Vika mengejek Revan.
Revan memutar lengannya, kemudian mengejar Vika.
"Adik kurang aja!" Teriaknya sambil mengejar Vika yang telah berlari lebih awal.
__ADS_1