
Astrid membuka mata, ia melihat langit yang masih gelap melalui jendela kamarnya.
"Huaaaa!" Ia meregangkan tubuhnya di atas kasur, kemudian beranjak dari tempat tidur.
Ia menggulung rambut panjangnya dan berjalan menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya, setelah keluar dari sana, ia berjalan kearah jendela. Pemandangan pagi ini memang begitu indah, terlebih karena kamar itu berada di atas, ia dapat melihat rumput hijau kecil di halaman belakang rumah, kucing-kucing lucu peliharaan Ridwan terlihat telah bermain di sana.
Astrid teringat kembali pada kenangannya bersama Satya, kala itu keduanya masih berusia 15 tahun, masih sangat muda dan kekanak-kanakan, namun dari segi sikap, kedua sudah lumayan dewasa.
"***Astrid! Kamu mau aku gombalin nggak?"
"Mau!"
"Kamu tau nggak bedanya kamu sama kamu?"
"Tau!"
"Apa coba?"
"Kalau aku cewek, kamu cowok!"
"So sweet banget cayang!"
"Najis***!"
"Hahahaha!"
Astrid berusaha menahan senyumnya.
"Kok aku jadi malu sendiri sih?" Ucapnya.
Dilain sisi, Satya yang telah berseragam sekolah sedang sibuk mencari sepatu sebelah kanan.
"Vikaaaa! Vikaaaa!" Satya berteriak keras memanggil Vika.
"Astaga Tuhan Yesus! Baru juga bangun, ni anak udah ngundang dosa!" Ucap Vika dari dapur.
Satya berjalan dengan sepatu sebelah kirinya menuruni anak tangga.
"Tangan kamu kenapa Ga?" Tanya papa yang telah sarapan pagi dengan pakaian formalnya.
"Biasa Pa! Di sundul dosa! Di cium aspal!" Jawabnya santai.
"Itu karena kamu ugal-ugalan bawa motornya!" Ucap papa.
Satya tiba-tiba berhenti melangkah dan menatap wajah papa dengan tajam, papa terkejut melihat anak sulung yang terlihat menyeramkan.
"Angga nggak jatuh dari motor Pa!" Ucapnya.
"Terus?"
"Jalan kaki!" Jawabnya.
Ia kemudian melangkah mendekati Vika.
"Vik! Ayolah! Jangan kau sembunyikan sepatu ku yang tak semahal sepatu itu!"
"Sranggg!" Vika menarik sendok goreng.
"Tranggg!"
"Astaga Yesus Kristus selamatkan aku!" Ucap papa karena terkejut.
Berbeda dengan Satya, ja tampak tak beremosi.
"Siapa juga yang mau ngumpetin sepatu kamu yang bau jambu itu?" Tanya Vika emosi.
"Apaan jambu?" Tanya Revan yang keluar dari kamar mandi bawah untuk mandi.
"Janji busuk!" Jawab papa.
"Ehh! Ngapain kamu mandi disana? Kemana kamar mandi di kamarmu?" Tanya papa.
"Ada Pa disana!" Jawab Revan.
"Aduhhh! Sepatu kakak kamu sembunyikan dimana dek?" Tanya Satya memelas.
"Nggak ada Satya Anggara! Aku nggak nyuri sepatu!"
"Aduhhhh! Ga! Kan masih banyak sepatu kamu yang lain! Kenapa harus yang itu sih?" Tanya mama.
"Itu Ma! Kesayangan yang ngasih!"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Pelan-pelan dong Pa, makannya!" Ucap mama.
Vika berjalan dengan wajah kesalnya ke meja makan.
"Kesayangan! Kesayangan! Kekenyangan!" Ucapnya kesal.
"Aduhhh! Ngalah lagi! Ngalah lagi!" Ucap Satya mengelus dadanya.
Satya naik ke lantai atas dan mengganti sepatunya dengan sepatu lainnnya, berdiri di depan cermin, kadang ia mengacak-acak rambutnya, terkadang ia merapikan kembali.
Satya menuruni anak tangga dan berjalan ke meja makan.
"Nahhhh! Keren banget anak sulungnya Papa!" Ucap papa.
"Padahal biasanya anak pertama itu buriking loh! Kok bisa-bisanya anak yang satu ini berbeda!" Ucap mama.
"Mau sulung, bungsu, bungkus, buriking, kentangking, selagi masih ada mama, semuanya beres!' Ucapnya.
Mama tertawa kecil, kemudian membuat sarapan untuk
anak-anaknya.
"Cepetan makannya Ga! Biar Papa anterin ke sekolah! Kamu jangan naik motor dulu!" Ucap papa.
"Terus kita berdua?" Tanya Revan.
"Sekolah kalian kan dekat, bisa jalan kaki!" Jawab mama.
"Apaan sih Ma! Masa ia jalan kaki?" Kesal Vika.
"Nggak usah Pa! Angga berangkatnya sama Ridwan aja!" Ucap Satya mengalah.
"Tit! Tit!"
"Nah! Itu si Ridwan datang!" Ucap Satya.
Satya langsung berlari ke kamar untuk mengambil tasnya, kemudian pergi ke meja makan untuk minum, menyalami kedua orangtuanya dan menepuk pundak kedua adik kembarnya.
"Dahhh!" Ucapnya.
"Hati-hati sama tangan kamu!" Teriak Vika.
"Iyaaaa!"
***
Sesampainya di sekolah, Satya turun dari motor dan berjalan bersama Ridwan menuju kelas.
"Wan! Kamu tahu nggak?" Tanya Satya pelan.
"Nggak tau!"
"Plakkk!" Satya memukulkan tasnya pada Ridwan.
"Iya-iya belum tau! Apaan emang?" Tanya Ridwan sambil mengelus tangannya.
"Lidia!"
"Owhhh! Udah tau!" Lagi-lagi Ridwan memotong ucapannya.
"Apaan!" Bentak Satya.
"Nggak tau!" Ridwan menggelengkan kepalanya.
"Kan, emang lo bener-bener! Laknat!"
"Apaan emang?" Tanya Ridwan pelan.
"Lidia pindah sekolah!"
"Ahhh!" Ucap Ridwan kaget.
"Apa?" Tanyanya lagi.
"Iya! Kemarin dia ngasih tau gua kalau dia pindah sekolah! Pantesan aja waktu gua jemput dia dari rumah, dia sempat nangis sambil meluk gua! Parah banget emang!"
"Itu namanya karma Ga!"
"Aaaah?" Satya dan Ridwan menoleh pada gadis yang baru saja berbicara.
"Astrid!" Ucap keduanya kaget.
Terlihat Astrid yang berseragam sama dengan mereka sedang berjalan dari belakang sambil memperhatikan kukunya.
"Kamu pindah sekolah Srid?" Tanya Satya.
"Kok lo nggak ngasih tau gua sih Wan!" Lanjutnya sambil menyenggol lengan Ridwan.
"Gua juga kagak tau dia mau pindah sekolah!" Bisiknya.
Astrid melewati keduanya dari tengah sambik tersenyum licik.
"Dulu lo ninggalin gua karna loe mau pindah sekolah ke kota yang luas ini! Terus, tanpa adanya kata putus lagi! Lor ngilang gitu aja! Dan sekarang, kayaknya karma udah berjalan, pacar kamu itu akan ngelakuin hal yang sama kayak apa yang lo lakuin ke gua!" Ucap Astrid, kemudian pergi berlalu tanpa tanpa menoleh sedikitpun pada Satya dan Angga.
"Atau jangan-jangan mereka tukeran lagi!" Ucap Ridwan.
"Nggak mungkin!"
***
"Ok anak-anak! Karena hari ini adalah hari pertama kita aktif belajar dalam tahun ajaran baru, maka ibu mau kalian membuat kelompok belajar yang baru, tapi kelompoknya hanya dua anggota saja!" Ucap ibu Siska yang mengajar pagi hari ini.
Karena Ridwan duduk di belakang Satya, Satya hanya perlu memutar posisi duduknya untuk membuat kelompok.
"Ciluk Bah!" Ucap Satya.
"Awas! Ntar tangannya kebentur!" Ucap Ridwan.
Bu Siska terus berbicara tentang pembelajaran mereka kedepannya, semua siswa tampak mendengarkannya dengan baik, kecuali Satya.
Ia masih memikirkan tentang Lidia dan ucapan Astrid barusan.
__ADS_1
"Itu namanya karma Ga!"
"Apa bener ini karma?" Batinnya.
Pikirannya terus berkecamuk, ia tetap memikirkan Lidia sampai bu Siska keluar dari kelas tersebut.
"Tok! Tok! Tok!"
Seorang lelaki mengetuk pintu ruangan kelas itu.
Dia adalah Dion, ketua kelas dari kelas Lidia sekaligus ketua OSIS SMA itu.
"Ngapa ngapain dia kesini?" Tanya Ridwan pada Satya.
Namun Satya masih saja melamun tanpa menyadari bahwa Dion telah berada di depannya.
"Woi!" Ucapnya sambil memegang daun telinga Satya.
Satya terkejut, kemudian mengubah posisi duduknya.
"Kok lo disini?" Tanya Satya.
"Lidia pindah sekolah?" Tanyanya.
"Lo kesini cuma mau bahas Lidia? Gila! Lo itu ketua OSIS tau! Nggak pantes buat ngegibah!" Ucap Ridwan.
"Bukan! Gua mau ajak lo berdua ikut tim basket gua! Gimana?" Tanya Dion.
"Tim basket? Tapi bukannya kamu masuk tim badminton?" Tanya Satya.
"Itukan dulu! Sekarang nggak!" Jawab Dion.
"Gimana? Bisa nggak?" Tanya Dion lagi.
"Bisa!" Jawab keduanya.
"Ok! Ntar pulang sekolah kita ngumpul bareng! Ok!" Ucapnya.
"Ok!" Ucap Satya dan Ridwan hanya mengangguk sambil membereskan bukunya.
Ketiga berjalan berurutan keluar kelas bak gangster, memasukkan tangannya ke dalam kantung, sambil bersiul, beberapa orang yang mereka lewati menyapa mereka bahkan ada juga yang meminta tanda tangan.
"Pagi Kak Dion!"
"Pagi!"
"Kak Satya! Minta tanda tangannya dong!"
"Boleh!"
"Kak Ridwan! Jadikan aku kekasihmu! Di jutain juga nggak apa-apa kok!"
"Bisa-bisa! Bisa banget malah!"
Setelah melewati tempat itu, mereka pergi ke kantin.
"Padahal Sabtu kemarin Lidia masih makan bareng kalian berdua loh! Disini!" Ucap Dion sambil menarik kursi untuk tempat duduknya.
Satya hanya dapat tersenyum sambil melihat kursi kosong yang Lidia duduki sebelumnya.
"Owhhh iya! Di kelas gua ada siswa baru! Cantik! Putih! Glowing! Tinggi! Pokoknya selevel Lidia lah! Namanya..."
"Astrid!" Jawab Satya dan Ridwan bersamaan.
"Hah! Kok kalian tau?"
"Mantan pacar Satya!" Ucap Ridwan sambil memegangi sisi pinggir gelas di depannya.
"Sepupu Ridwan!" Ucap Satya.
"Apa? Masa?" Tanya Dion.
"Nggak!" Jawab keduanya kompak.
Dion memutar bola matanya malas, kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.
"Owhhh! Itu dia tu!" Ucapnya kaget saat melihat Astrid berjalan dengan segerombolan gadis-gadis cantik idola sekolah.
Satya dan Ridwan menoleh, keduanya tersenyum, namun senyuman berubah menjadi sebyumlicik saat gerombolan gadis-gadis cantik itu melewati neja mereka.
"Dia juga pintar!" Ucap Satya sambil menatap tajam pada Dion.
"Juara satu umum setiap perlombaan! Juga juara kelas!" Sahut Ridwan.
"Gaaawattt!" Ucap Dion kesal sambil menoleh pada murid baru itu.
"Kayaknya ada yang takut tersaingi nih!" Ucap Ridwan terkekeh.
"Gimana kalau dia ngegantiin kalian berdua! Satya jadi juara dua umum, Dion jadi juara dua kelas!" Ucap Ridwan.
"Lo gimana?" Tanya Satya dan Dion bersamaan.
"Gua! Juara tiga umum sama juara dua kelas udah selalu ditangan!" Ucapnya.
"Kita berempat bakal bersaing meraih juara satu umum!" Ucap Dion.
"Kalau gua sih gampang! Juara atau nggak juara, itu nggak masalah bagi gua! Karena kejuaraan di sekolah bukanlah faktor utama kesuksesanku!" Ucap Satya santai.
"Iya! Bener juga sih!" Ucap Dion.
"Tapi kayaknya gua tau kenapa Lidia pindah sekolah!" Ucap Dion serius.
"Kenapa?" Tanya Satya penasaran.
"Kemungkinan besar itu karena dia nggak dapat juara umum semester lalu, selain itu dia juga nggak dapet juara satu kelas! Dia pernah ngomong ke gua kalau dia bakal ikut Tante Omnya pindah kalau dia nggak bisa mewujudkan impian Ayahnya!" Jawab Dion.
"Kayaknya!" Ucap Ridwan, sedangkan Satya hanya termenung setelah mendengar ucapan Dion.
"Tak! Tak! Tak! Tak!"
Dion, Satya, Ridwan dan yang lainnya melihat kearah pintu masuk kantin tersebut.
"Pembawa rusuh tuh!" Ucap Satya saat mendapati tiga delapan orang gadis centil dan nakal itu datang dari luar kantin sambil membawa sebuah bisbol.
"Ketos! Loe tangani nih kasus!" Ucap Satya sambil tersenyum licik.
"Ehhh kemana perginya tuh anak!" Tanyanya.
Ridwan menunjuknya dengan bibirnya, Satya melihat ke bawah meja, Dion bersembunyi agar tidak diketahui gadis-gadis pembuat rusuh itu.
"Kayaknya ada yang bakal ngegantiin Lidia nih! Ucap Amel ketua geng gadis pembuat rusuh itu.
"Tapi baguslah! Gadis loun...! Upsss! Ada pacarnya!" Ucap Amel menutup bibirnya setelah melihat Satya.
Astrid tetap memakan roti tawar ditangannya dengan santai layaknya tidak ada orang yang berbicara, ia melirik Satya yang kursinya tak jauh darinya.
"Nama lo siapa?" Tanya Amel sambil meletakkan kipasnya pada leher Astrid.
Ridwan tertawa kecil sambil melirik Satya.
"Amel nggak tau kalau Fan Girls BTS yang sedang di ganggunya seorang psikopat!" Ucap Ridwan.
"Gua sih bodoh amat! Itu tanggung jawab si ketos!" Ucap Satya sambil menendang Dion yang tepat di samping kakinya.
Aurel, Natasya, Fasilla dan Syakira tetap santai sambil memakan makanan ditangannya.
"Woiii! Anak baru! Lo denger gua nggak?" Bentak Amel.
Astrid tetap tersenyum pada keempat temannya, sedangkan Amel dan ketujuh anggota semakin panas melihat tingkah Astrid.
"Awww!" Ucap Astrid saat Carla menarik rambut panjangnya dengan kasar.
Aurel, Natasya, Fasilla dan Syakira berdiri, anak-anak lain menjauh dari sana, takut mereka akan terkena amukan dari kedua kubu yang berbanding terbalik itu.
"Lo tau nggak Amel ini siapa? Dia anak kepala sekolah ini! Tau nggak?" Bentar Carla.
Satya berdiri dan menggepal kedua tangannya, ia tersulut emosi saat melihat mantan pacar itu diperlukan kasar seperti itu, ia ingin menghapiri gadis pembuat rusuh itu, namun Ridwan mencegatnya dan menyuruhnya duduk.
"Sabar!" Ucap Dion dari bawah.
"Udah Dion! Lo duduk di kursi aja! Nggak usah sembunyi!" Ucap Ridwan.
"Tau ni anak! Nggak tanggung jawab amat jadi ketua OSIS!" Ledek Satya.
"Bawa dia ke gudang!" Pinta Amel, kemudian berjalan dengan kipasnya diikuti anggotanya.
Astrid kemudian dibawa paksa oleh Carla dan Friska, sedangkan Aurel dibawa Sinta, Natasya dibawa Diana, Fasilla dibawa Cindi, Syakira dibawa Putri dan Bunga.
"Lepasss!" Ucap Astrid saat hendak keluar dari pintu kantin.
"Heyyy! Lepasin mereka!" Teriak Dion.
Dion kemudian berjalan kearah Amel dan menarik kipasnya dan membuangnya ke lantai.
"Lo itu apa-apaan sih? Nggak Lidia, nggak anak baru ini, lo selalu aja belain!" Ucap Amel.
"Gua nggak suka ada anggota OSIS yang di hina dan direndahkan! Sekarang gua minta lo semua lepasin mereka, atau.."
"Atau apa? Atau kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini!" Ucap Amel yan membuat Dion terdiam.
"Lo ketua osis?" Tanya Astrid sambil tersenyum miring.
"Iya! Emang kenapa?" Ucap Carla.
"Gua nggak nanya lo!" Ucap Astrid, keempat temannya tertawa begitu juga dengan semua orang di kantin tersebut.
Dion memang tidak bisa berbuat apa-apa pada Amel dan teman-temannya karena kedudukan ayahnya.
"Lo diam aja Dion! Atau lo bernasib sama kayak Lidia!" Ucap Amel sambil meraih kipasnya dari lantai.
"Bhukkk!" Satya memukul meja dengan keras
Semua orang terkejut kecuali Astrid, ia masih terlihat tenang tanpa terjadi sesuatu walau Carla selalu menarik rambutnya dengan kasar.
Satya berjalan kearah Amel, wajahnya kini berubah ganas dan terlihat menyeramkan. Amel berjalan mundur, ia mengisyaratkan temannya untuk melepaskan Astrid dan juga yang lainnya. Mereka berkumpul dibelakang Amel, kini keberanian Amel kembali karena ketujuh temannya.
"Lo jangan macem-macem deh! Karena nyokap bokap lo punya kedudukan di sekolah ini, itu bukan berarti lo bisa seenaknya aja sama anak-anak yang sekolah disini! Ingat yah, kalau bukan karena kedua orangtua lo, lo nggak lulus dari kelas 10, karena apa? Karena otak udang lebih pintar dan cemerlang daripada otak lo!" Ucap Satya sambil menuding Amel dengan kasar.
Setelah itu Satya berjalan keluar kantin diikuti Dion dan Ridwan, Astrid, Natasya, Aurel, Fasilla dan Syakira berjalan berurutan dari belakang.
Amel yang emosi berjalan keluar kantin dan melempar kipasnya tepat di lengan Satya yang terluka, Satya berhenti berjalan saat darah mengalir dari membasahi lengan bajunya, Ridwan dan Dion berlari kearah Satya, keduanya panik melihat darah yang mengalir itu.
Amel gemetar melihat Satya, ia tidak menyangka bahwa kipasnya akan melukai lelaki yang selama ini ia sukai, ia menggigit bibirnya dan menggenggam roknya.
Astrid kini menunjukkan ekspresi wajahnya yang tersulut emosi, ia kemudian menggulung rambutnya dan mengambil kipas Amel, kemudian melemparkannya ke tempat sampah. Melihat itu, ketakutan Amel bertukar menjadi sebuah emosi, ia berjalan ke arah Astrid dan menjambak rambutnya dan melemparkan pengikat rambutnya.
__ADS_1
"Lo anak baru ya disini! Jangan banyak tingkah!" Bentak Amel.
"Ridwan, lo bawa Angga dari sini! Kayaknya gua bakal ngasih pelajaran sama anak nggak tau diri ini! Ucap Astrid.
"Udah nggak apa-apa kok! Cuma luka kecil!" Ucap Satya sambil berdiri.
"Owhhh iya! Amel, ini belum berakhir ya, Lidia meninggal gara-gara lo, jadi lo juga harus mati untuk membayar kesalahan yang lo perbuat!" Ucap Satya, kemudian beranjak pergi.
Semua orang menutup mulutnya dan berbisik tentang hal buruk terhadap Amel, kemudian pergi karena bel masuk berbunyi.
"Tadi gua kira Lidia pergi ke luar kota cuma jalan-jalan! Tapi ternyata buat mempermudah keluarganya untuk menguburkannya di makam keluarga mereka!" Ucap Aurel menakuti Amel.
Amel mengira kalau apa yang diucapkan Satya benar, karena sebelumnya Amel dan anggotanya memang menyiksa Lidia bahkan memotong rambutnya dengan paksa karena dia berpacaran dengan Satya.
Astrid juga mengira bahwa Lidia yang ia ketahui sebagai pacar mantan pacarnya itu memang meninggal, ia tidak tahu kalau Satya hanya menakut-nakuti Amel saja.
***
Sepulang sekolah, Astrid berpisah dengan keempat temannya, ia berjalan keluar kelas sambil merapikan rambutnya yang kusut karena Amel dan temannya itu.
"Baru juga hari pertama masuk sekolah, aku udah diganggu sama haters-haters itu, awas aja yah! Aku nggak bakal diam! Aku bakal ngebalas perbuatan kalian!" Ucapnya pelan.
Saat melewati kelas Ridwan dan Satya, ia melihat kebelakang, ia melihat Amel membawa seorang adik kelas mereka ke arah kamar mandi.
Astrid mengepal tangannya dan berjalan menuju kamar mandi, namun masih beberapa langkah, Ridwan memanggil.
"Astrid!"
Astrid menoleh.
"Apa?" Tanyanya kesal.
"Ayo gua antar pulang! Kita masih ngumpul setelah ini!" Ucapnya.
"Tapi! Itu, Amel!"
"Udah ayok! Habis ini tim basket mau ngumpul, ntar nggak ada yang nganter kamu pulang!" Ucap Ridwan memotong ucapan Astrid.
Astrid berjalan kearah Ridwan, namun kekecewaan tergambar di wajahnya karena ia tidak dapat melakukan apa-apa terhadap Amel dan temannya karena kedudukan ayah Amel dan karena dia juga masih tergolong anak baru disini.
Diperjalanan, Astrid terus mengingat kejadian itu, pikirannya tidak tenang, ia menggigit kukunya dan menghela nafasnya kasar.
"Brummm!"
"Awwwhk!" Astrid berteriak saat Ridwan menancap gas tiba-tiba.
Ridwan melihat kedua tangan Astrid yang memeluknya erat.
"Apaan sih Wan?" Astrid melepaskan tangannya dan hanya menggenggam bajunya saja.
"Habis kamu bengong mulu!" Ucap Ridwan.
"Wan! Tadi aku liat Amel nyiksa adik kelas bareng temen-temennya! Gimana kalau dia mati? Aku kepikiran itu terus!" Ucapnya.
"Strid! Nggak mungkinlah Amel berani melayangkan nyawa! Emang nggak takut hukum?" Ucap Ridwan.
"Tapi aku ngerasa bakal terjadi sesuatu yang butuk sama anak itu!"
"Astrid, kamu nggak boleh...."
"Bhrukkkkk! Bhuggg!"
Motor Ridwan ditabrak lari oleh pengendara mobil, Ridwan terlempar ke pinggir jalan raya, jalanan menjadi ramai dan padat karena harus berhenti menyelamatkan Ridwan.
Karena Ridwan menggunakan helem, kepalanya baik-baik saja, namun kakinya terluka karena terbentur pada mobil di depannya sebelumnya.
Ia memegangi kakinya yang terluka, beberapa orang datang membantunya, ada yang mengejar pengendara mobil yang baru saja menabrak lari Ridwan dan Astrid.
Saat Ridwan hendak dibawa ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit, ia menggenggam tangan seorang lelaki disampingnya.
"Pak! Tadi saya bawa sepupu saya, dimana dia?" Tanyanya.
Semua orang kini menjadi panik setelah mendengar perkataan Ridwan.
"Pak! Saya harus cari sepupu saya Pak, gimana kalau terjadi sesuatu padanya?"
"Udah dek! Kamu harus dibawa ke rumah sakit, teman kamu biar kami yang cari!" Ucap seseorang yang ikut membantu Ridwan.
"Pak! Ada anak sekolah yang ditemukan di depan sana! Udah dibawa ke rumah sakit, luka parah!" Teriak seorang wanita dari seberang jalan.
"Pak! Tolong bawa saya kesana!" Ucap Ridwan memelas.
Ridwan kemudian dibawa ke rumah sakit yang sama dengan tempat Astrid dibawa, Astrid dibawa ke ruang IGD, sedangkan Ridwan dirawat di ruangan biasa, namun ia tak sadarkan diri setelah mengetahui Astrid terluka parah.
"Kringggg! Kringgg! Kringgg!"
"Halo!" Bunda Ridwan mengangkat telepon dari pihak rumah sakit.
"Astaga! Ya Ampun! Terimakasih ya Sus! Saya akan segera ke sana!"
"Ada apa Rin?" Tanya mama Astrid.
"Ridwan, Ridwan dan Astrid di rumah sakit, ditabrak lari sama orang lain!"
"Astaga ya Tuhan!"
***
Kedua orang tua Astrid dan bunda Ridwan hanya dapat mondar-mandir di depan pintu ruangan tempat anaknya dirawat, mereka menangis dan mulai putus asa.
"Wan! Jangan tinggalkan Bunda Nak! Jangan manyusul Ayahmu! Bunda nggak punya siapa-siapa lagi Nak!" Batinnya sambil menangis.
Sementara kedua orangtua Astrid tak berhenti menangis, mereka ketakutan dan tidak dapat membayangkan jika anak semata wayangnya akan pergi meninggalkannya.
Dilain pihak mama mulai khawatir karena Satya belum juga pulang, terlebih karena Satya juga tidak memberi tahu kalau mereka ada les atau semacamnya di sekolah.
"Syalommm!" Vika mengetuk pintu dan sambil mengucap salam.
Mama dengan cepat membuka pintu.
"Mama kenapa?" Tanya Vika.
"Revan mana?" Mama kembali bertanya.
"Ke kantornya Papa!" Jawab Vika sambil berjalan melewati mama.
"Terus kamu pulangnya sama siapa?" Tanya mama.
"Alvin!" Jawab Vika menyebut nama pacarnya.
"Kakak kamu belum pulang, perasaan mama nggak tenang!" Ucap mama.
Vika yang menaiki anak tangga tiba-tiba berhenti.
"Sebenarnya Vika juga gitu Ma!"
Mama langsung menatap Vika.
"Angga! Pulang Nak!" Ucap mama khawatir.
Di lain sisi, Satya dan Dion sedang sibuk bermain di lapangan basket, teman-teman mereka yang lainnya juga sedang berlatih.
"Ridwan kok lama banget ya Ga!" Ucap Dion.
"Iya! Tapi kok perasaan gua nggak enak yah dari tadi!" Ucap Satya.
"Satya!" Seseorang berteriak dari kejauhan.
Satya dan Dion mencari sumber suara, terlihat Laura berlari menuju keduanya.
"Ridwan! Ridwan kecelakaan!"
"Thuk! Thukk! Thukk! Thukkk!" Bola ditangan Satya terjatuh, Satya berlari meraih tasnya dan berlari keluar lapangan.
"Angga! Biar gua anterin! Lo kan nggak bawa motor!" Teriak Dion, kemudian berlari mengejarnya.
Namun saat yang bersamaan, Fasilla berteriak meminta tolong dari arah kamar mandi.
"Tolongggg! Ada mayatttt!" Teriaknya, semua orang di lapangan berlari ke kamar mandi siswa.
Laura yang sebelumnya juga ikut berlari mengejar Dion harus berhenti dan berlari kearah kamar mandi.
Dion yang mendengar teriakkan Fasilla langsung berlari ke ruang guru dan mendobrak pintu.
"Astaga Dion! Kamu bikin kaget aja! Nggak sopan kamu jadi ketua OSIS!"
"Mayat!"
"Apa?" Bu Siska terkejut.
Ia langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Dion, sementara guru-guru yang lain masih bingung dengan perkataan Dion.
"Nggak tau Bu! Taki kayaknya Fasilla dan anak-anak lain udah ngumpul disana! Tolong hubungi polisi dan ambulance yang Pak! Bu! Saya juga harus ke rumah sakit karena murid baru dari kelas saya kecelakaan bersama Ridwan!"
"Astaga!"
"Astaghfirullah!"
"Apa yang terjadi satu hari ini!"
"Cepatlah bertindak, siapa tau siswa tadi masih dapat diselamatkan Pak! Bu! Saya permisi!" Ucap Dion.
Dion kemudian berlari pergi ke arah parkiran dan membawa Satya pergi ke rumah sakit.
Keduanya bertanya dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain, setelah menemukan dimana keduanya dirawat, mereka pergi menjenguk.
"Tante! Om!" Panggil Satya.
"Dion! Angga!" Bunda menangis memeluk keduanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Tante?" Tanya Satya.
"Kami nggak tau Ga! Kami juga nggak tau kenapa mereka kayak gini!"
"Terus, yang nabrak! Yang nabrak siapa? Dimana kejadiannya?" Tanya Dion.
"Dipersimpangan lewat sekolah kalian Dion! Penabrak itu belum tertangkap!"
"Astaga!" Ucap keduanya.
"Tante sama Om yang sabar yah! Kita berdoa untuk kesembuhan Astrid dan juga Ridwan!"
"Aminnn!" Ucap mama Astrid.
Bunda Ridwan dan papa Astrid hanya mengangguk sambil menghapus air matanya.
__ADS_1