
"Aaaaaaa!" Satya memukulkan balok kayu di tangannya pada mata kaki Amel.
"Bhukkk!" Memukul Carla dan menendang Diana.
Ketiga kemudian terjatuh kesakitan, Friska, Cindi, Sinta, dan juga Putri mundur ketakutan.
"Udah berapa banyak korban dari keserakahan kalian?" Tanya Astrid sambil meletakkan kakinya pada leher Carla.
Amel mulai gemetar, ia mulai merangkak ke arah pintu, namun Astrid yang menyadari hal itu langsung menendang kursi di dekatnya ke pada Amel.
"Bhukkkk!"
"Aaaaagk!" Astrid menendang kepala Carla hingga tak sadarkan diri.
Astrid kemudian berjalan ke arah Amel, menarik rambut Amel dengan kasar dan mendorongnya ke arah Cindi, Friska dan juga Putri.
Astrid kemudian menutup pintu dan menguncinya.
Saat Astrid hendak berbalik, Diana memukul kepalanya dengan kursi, Astrid tetap terdiam, bahkan ia tersenyum melihat tingkah Diana yang gemetar saat melihat Astrid tak terlihat merasa kesakitan sedikitpun meski darah mengalir telah mengalir dari kepalanya.
Astrid menyentuh pipinya yang berlumur darah, kemudian menatap telapak tangannya yang bercak darah, ia kemudian berjalan ke arah Diana dan menyentuh wajahnya.
"Bhukkk!" Kursi ditangan Diana terjatuh seketika.
"Dasar psikopat!" Teriak Cindi.
"Aaaaa!" Diana berteriak saat Astrid mencekam lehernya dengan tangannya.
"Berapa banyak siswa yang meninggal atas perbuatan kalian?" Tanya Astrid sambil tersenyum.
Amel dan juga temannya masih terdiam.
"Kalian lihat? Teman kalian yang satu itu akan menjadi tontonan horor untuk kalian, juga kalian tidak menjawab pertanyaanku!" Ucap Astrid sambil melirik Carla yang terbaring di lantai.
"Awas lo yah, kalau lo macem-macem sama kita, lo bakal gua keluarin dari sekolah ini?" Ancam Amel.
"Hahahaha! Amel! Amel! Nggak sanggup lo ngehancurin hidup orang lain sendirian? Sampai-sampai lo harus ngajak Bapak lo segala! Dan juga, teman-teman lo yang hanya numpang hidup dengan lo doang, lebih tepatnya parasit!" Ucap Astrid sambil menggerakkan balok kayu ditangannya ke kiri dan ke kanan.
"Lo salah besar karena udah berani ngelawan kita!" Ucap Friska.
"Gua nggak mau buang-buang waktu yah! Lihat teman lo ini kan? Lihattt!!!" Bentak Astrid sambil mempererat tangannya pada leher Diana.
"Mel, Amel tolongin gua Mel!" Ucap Diana.
"Berapa banyak orang yang menjadi korban atas kejahatan yang kalian lakukan?" Tanya Astrid lagi.
"Dua puluh lima! Sekarang lo lepasin Diana!" Ucap Putri sambil menunjuk Astrid.
"Iya! Dua puluh lima, udah termasuk anak yang mati di kamar mandi siswa, lo dan juga Ridwan! Sekarang gua minta lepasin Diana!" Ucap Amel.
Astrid menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aishhhh! Lo mau apalagi sih?" Tanya Amel geram.
"Awwww!" Carla terbangun sambil memegangi lehernya.
"Carla!" Mereka berteriak saat Carla terbangun.
Astrid menatap ke arah Diana yang berada di tangannya, mempererat cengkeramnya hingga Diana pingsan.
"Bhukkk!" Astrid menjatuhkan Diana ke lantai.
"Mendekatlah!" Ucap Astrid pada Carla, Carla mulai meneteskan air matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Mendekatlah!"
"Aaaaaa! Tolong! Mel, Fris, Putri, Sinta, Cindi! Tolongin gue!" Teriak Diana.
"Lepakan dia!" Ucap Sinta yang sedari tadi hanya diam saja sambil menonton aksi dari Astrid.
"Jawab dulu pertanyaan gue! Lo semua harus nunjukin ke gua, dimana dan apa yang kalian lakuin sama semua korban itu!"
"Lo nggak usah kayak polisi segala dehhh!" Ucap Friska.
"Aaaaa! Jangan-jangan, kita bakal ngasih tau lo dimana mereka!" Ucap Carla saat tangan Astrid semakin mencengkram lehernya.
"Iya! Tapi lo harus janji, lo bakal ngelepasin kita semua!" Ucap Amel.
"Ok!" Ucap Astrid datar.
"Di tempat sampah, kamar mandi, lemari gudang, genteng gudang genteng sepuluh IPS 2, sepuluh IPA 3, sebelas IPA 1, halaman belakang sekolah! Lapangan basket, kamar mandi siswa, juga perpustakaan!" Jawab Amel.
"Yakin? Hanya itu?" Tanya Astrid sambil tersenyum.
"Ada yang lain! Kita pernah buang mayat tiga ratus meter dari sekolah!" Jawab Amel lagi.
Astrid kemudian mendorong Carla pada Amel dan temannya, kemudian berjalan ke arah Diana.
"Woyyy! Bangun!" Ucap Astrid membangunkan Diana dengan kakinya.
"Bangunnnn!" Bentak Astrid.
Diana kemudian membuka matanya perlahan, belum juga berdiri, Astrid langsung menarik kerah bajunya dan menyuruhnya berdiri.
"Bangun! Cepat!" Ucap Astrid sambil membawanya ke arah pintu.
"Buka!" Ucap Astrid pada Diana.
Diana dengan paksa harus menuruti perintah Astrid walaupun merasa kesal.
Astrid kemudian berjalan mundur beberapa langkah sambil menarik kerah bagian belakang seragam Diana.
"Lo semua jalan di depan, jangan melawan atau anak ini bakal jadi tontonan horor buat kalian semua!" Ucap Astrid.
Amel dan temannya masih berdiam diri, Astrid kemudian menendang kursi ke arah mereka, dan merekapun berjalan di depan.
"Kantor guru!" Ucap Astrid datar.
Amel dan juga temannya hanya bisa pasrah, mereka berjalan melewati koridor sekolah dan juga anak-anak lainnya dengan wajah malu dan tertunduk, terutama Diana yang di selalu di kawal oleh Astrid.
Astrid tersenyum penuh kemenangan, apalagi saat melewati kelas sepupu dan mantan pacarnya itu.
__ADS_1
"Gila! Astrid si anak baru itu ngelakuin hal apa sama geng ciwi-ciwi bakteri itu?" Tanya siswa lain.
"Wahhh! Mental baja tuh anak!" Sahut yang lainnya.
Sementara Fasilla dan Syakira hanya tersenyum melihat
Astrid yang berhasil membalas dendamnya.
"Syukurin!" Ucap Fasilla.
Dion berlari ke arah Fasilla dan Syakira, Ridwan kemudian menyusul dengan tongkatnya.
"Astaga! Astrid terluka loh Sil, kamu bantuin sana!" Ucap Satya khawatir dengan keadaan Astrid.
"Astrid ngapain sih? Kurang kerjaan aja, bajunya juga, udah kayak jamet segala! Rapi dikit napa?" Ucap Ridwan.
"Yang namanya habis berantem, mana ada yang rapi?" Ucap Fasilla kesal.
"Tu nih anak!" Ucap Syakira.
"Tapi gua kasihan banget sama Astrid! Luka kemarin di kepalanya aja belum sembuh, sekarang kepalanya udah bocor lagi, gua tebak, habis ini dia pasti masuk rumah sakit lagi!" Ucap Fasilla.
***
"Hai!" Sapa Astrid saat mereka telah sampai di depan kantor guru.
"Amel!" Ucap pak Harto.
"Ada apa Pak? Bapak kaget ngelihat anak kesayangan sekolah ini kena mental saat ketemu saya!" Tanya Astrid.
"Astaga! Kalian kenapa?" Tanya bu Siska saat melihat Astrid yang pakaiannya berantakan dan berlumur darah.
Astrid melepas tangannya dari kerah Diana dan mendorongnya pada Amel.
"Bu! Kepala sekolah sama polisinya dimana?" Tanya Astrid.
"Pak! Pak Harto! Tolong Pak! Tolongin kita!" Ucap Amel sambil berlutut di hadapan pak Harto.
"Cihhh! Drama!" Ucap Astrid.
"Kamu bukannya anak baru itu yah?" Tanya bu Siska.
"Bu! Saya tanya sekali lagi! Dimana kepala sekolah dan polisi yang datang tadi pagi?" Tanya Astrid sambil merapikan kembali seragamnya.
"Ada, ada di dekat toilet siswa!" Jawab bu Astrid gagap.
"Amel bangun! Jalan! Cepattt!" Bentak Astrid.
Amel kemudian berdiri, hanya pasrah dan mengikuti perintah Astrid.
Sesampainya di lokasi, Astrid tersenyum dan bejalan membelah keramaian dan menuntun Amel dan temannya pada polisi.
"Astaga Astrid!" Ucap Dion yang terkejut melihat Astrid yang berlumuran darah.
Bukan hanya Dion, namun Natasya dan Aurel juga terkejut, polisi dan guru-guru di sana berlari ke arah Astrid dan membantunya duduk di kursi.
"Amel! Kamu ngapain ada disini?" Tanya Pak Rusdan.
"Pi! Tolongin Amel!" Bisik Amel dari jauh.
"Dek! Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?" Tanya seorang polisi di sana.
Astrid mengangkat tangannya tepat di depan wajah polisi tersebut, kemudian Astrid membuat perban yang melilit kepalanya.
"Thakkk!" Astrid mengangkat kaki kanannya pada meja, menarik roknya dan melepaskan lakban yang merekat ponselnya pada celana pendeknya.
"Ini!" Ucap Astrid datar tanpa menoleh pada polisi di sampingnya.
Polisi tersebut menerima ponsel tersebut dan mendengarkan hasil rekaman video dan suara yang ia rekam tanpa sepengetahuan Amel dan temannya.
Astrid kemudian berjalan ke arah Dion dan menyuruhnya untuk membawanya ke rumah sakit.
"Gua mati Dion! Jadi gua minta lo anter gua ke rumah sakit sekarang juga!" Ucap Astrid.
Dion mengangguk, kemudian membantu Astrid berjalan, namun saat melangkah beberapa langkah, tubuh Astrid terjatuh ke tanah, Dion kemudian dibantu beberapa orang di sana untuk membawa Astrid ke rumah sakit.
Ambulance yang membawa Astrid melaju kencang ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit, Astrid segera dilarikan ke ruang IGD, kini selang infus dan darah kembali merekat pada tubuhnya.
"Baru aja keluar dari sini kemarin! Sekarang udah masuk lagi!" Ucap bunda Ridwan sambil mondar-mandir di depan pintu IGD tersebut.
"Bunda!" Ucap Ridwan yang berjalan bersama Satya.
Bunda dengan cepat berdiri dan berlari ke arah Ridwan dan Satya.
"Kalian ini kerjanya apa sih? Masa ngejaga satu orang aja nggak sanggup?" Tanya bunda geram.
Ridwan dan Satya saling bertatapan dan tertunduk pasrah.
"Bun! Ini bukan salah kita! Ini emang maunya Astrid!" Ucap Ridwan sambil duduk di kursi bersama Satya.
"Gimana?" Tanya Dion yang baru saja datang dari toilet.
"Dokternya belum keluar!" Jawab bunda.
"Sabar ya Tante!" Ucap Dion, bunda hanya mengangguk.
"Wan! Jangan sampai Tante dan Om kamu tau kalau Astrid masuk rumah sakit!" Ucap bunda.
"Iya Bun!"
***
Tiga hari telah berlalu, Astrid masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang dan darah di tangannya.
"Astrid! Bangun dong! Kita semua khawatir sama kamu!" Ucap Ridwan.
Satya hanya dapat memandangi Astrid dari kursi, ia mulai sedih dan termenung.
Ridwan berjalan ke arah Satya dan duduk di sampingnya.
"Ada kabar nggak dari Lidia?" Tanya Ridwan.
__ADS_1
"Nggak!" Jawab Satya datar, ia kemudian bersandar dan memejamkan matanya.
"lo udah buka, hadiah dari dia?" Tanya Ridwan yang ikut bersandar.
"Belom! Nggak sempat!" Jawab Satya tanpa bergerak.
"Telfon dong! Siapa tau dia lagi sakit!" Ucap Ridwan memberi saran.
"Udah! Bukan cuma gua doang yang nelfon, Mama! Papa! Revan! Juga Vika! Tapi nggak diangkat!" Balas Satya.
"Kok perasaan gua nggak enak yah!" Ucap Ridwan.
"Kenapa lo?" Tanya Satya yang mengubah posisi duduknya.
"Iya! Gua punya firasat kalau Lidia dalam masalah!" Ucap Ridwan.
Satya menatap kesal pada Ridwan yang bersandar di dinding.
"Lo kalau ngomong jangan sembarang Wan! Mau, tu gigi gua copotin dua-dua?" Ucap Satya sambil menarik hidung Ridwan.
"Satu-satu!"
"Haaaa!" Ridwan dan Satya menoleh ke sumber suara.
"Astrid!" Ucap mereka bersamaan.
Astrid bangun dan bersandar, kemudian tersenyum menatap Satya yang masih menarik hidung Ridwan.
"Lo berdua sih! Ganteng, pinter, baik, nggak mainin perasaan cewek, tajir melintir, sopan! Tapi ada satu kurangnya! Lo berdua kok homo sih?" Tanya Astrid sambil tertawa.
"Astaga ya ampun!" Ridwan memegangi hidungnya saat Satya menariknya kuat.
Satya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, wajahnya tersipu malu, namun ia diam-diam menatap wajah Astrid yang terlihat ceria.
"Kringgg! Kringgg! Kringgg!" Tiba-tiba ponsel Satya berdering.
"Angkat!" Ucap Astrid.
"Iya! Siapa tau Lidia!" Sahut Ridwan.
Satya mengeluarkan ponselnya dan menatap layar ponselnya.
"Nggak ada namanya!" Ucap Satya.
Astrid dan Ridwan kemudian menatap Satya dengan serius.
"Halo!" Sapa Satya.
"Sayang! Aku kangen!"
"Astaga!" Satya tiba-tiba berdiri, berdecak pinggang dan tersenyum.
"Maaf ya! Aku nggak ngabarin kamu beberapa hari ini! Ponsel aku rusak! Ngomong-ngomong kamu udah nerima hadiahnya nggak?" Tanya Lidia.
"Kampret lo! Dajjal, bikin orang khawatir aja lo! Nggak punya otak lo!" Bentak Satya.
Astrid dan Ridwan menatap Satya serius.
"Ngomong sama siapa dia?" Bisik Astrid.
"Lidia!" Jawab Ridwan.
Satya mulai berjalan mondar-mandir sambil membentak Lidia.
"Maaf sayang! Ponsel aku rusak! Aku nggak bohong!" Ucap Lidia.
"Kampret lo! Nggak, gua nggak mau maafin lo! Kurang aja lo! Bisa-bisa lo ketawa disaat gua lagi marah!" Ucap Satya lagi.
Astrid menatap punggung Satya sambil tersenyum.
"Seandainya aja Satya masih jadi pacar gua! " Batin Astrid sambil terus memperhatikan Satya.
Ridwan yang menyadarinya langsung berdehem.
"Ehhhem! Hargai yang jomblo dong bro!" Ucap Ridwan sambil menggaruk keningnya sambil menatap lantai.
"Elehhh! Bilang aja lo iri!" Ucap Astrid meledek Ridwan dengan menunjuknya dan menjulurkan lidahnya.
"Lid, aku hubungi nanti ya! Aku sama Ridwan ada kerjaan sekarang! Bye sayang!" Ucap Satya.
"Aaaaaa!" Ridwan dan Astrid berteriak sambil tersenyum.
"Baper bang!" Ucap Astrid tertawa.
"Sayang!" Ucap Ridwan lagi.
"Apaan sih lo berdua!" Ucap Satya malu sambil menggaruk kepalanya dan berjalan ke arah Ridwan.
"Enak banget ya jadi pacar lo!" Ucap Astrid datar sambil menatap dinding di depannya.
"Heummm? Maksudnya?" Tanya Satya bingung dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Lo lagi dalam masalah ya Srid!" Ucap Ridwan sambil berjalan ke arah Astrid.
"Lo itu ngomong apa sih Wan!" Ucap Astrid tersenyum.
"Iya! Gua perhatiin, lo akhir-akhir ini kayak ada masalah!" Ucap Ridwan yang duduk di samping Astrid.
Satya menatap keduanya dengan serius sambil sesekali menatap layar ponselnya.
"Ada masalah apa Strid!" Ucap Satya yang tetap menatap pada layar ponselnya.
"Lo berdua kenapa sih? Nggak ada bedanya!" Ucap Astrid sambil tersenyum pada Satya yang masih menatap layar ponselnya.
"Kalau ada masalah cerita aja sama kita!" Ucap Ridwan sambil meniup ujung kuku jari tangannya.
"Banyak!" Ucap Astrid yang tiba-tiba datar.
"Salah satunya?" Tanya Satya dan Ridwan bersamaan sambil menatap layar ponselnya dan ujung kuku jari tangannya.
"Lo berdua apa-apaan sih?" Ucap Astrid lagi sambil tersenyum dan membersihkan kukunya.
__ADS_1
Satya dan Ridwan masih saja dengan kesibukannya, Astrid tersenyum, kemudian bersandar menatap langit-langit ruangan itu.
"Kehadiran gua di dunia ini aja sudah menjadi masalah bagiku!"