Dermaga Cinta

Dermaga Cinta
Kembalinya Lidia


__ADS_3

Ketiganya terdiam dalam ruangan persegi itu, Satya dan Ridwan menatap Astrid dengan wajah serius. Astrid menatap keduanya bergantian, melambaikan tangannya di depan wajah Ridwan sepupunya itu, menyadarinya bahwa keduanya menatapnya terlalu serius, Astrid kemudian bersandar kembali, meraih gelas di meja, namun terjatuh tiba-tiba.


"Tranggg!"


"Astaga! Ya ampun!" Ucap Ridwan.


"Kamu nggak kenapa-napa Srid?" Tanya Satya panik sambil berlari menuju Astrid.


"Lo itu kenapa sih?" Tanya Ridwan khawatir, ia juga berdiri dan berjalan ke arah pecahan gelas tersebut.


Menyadari keduanya kini panik, Astrid jadi merasa bersalah, ia kemudian berbaring sambil mengedipkan matanya perlahan-lahan.


"Lo berdua istirahat aja! Biar gua yang beresin pecahan gelasnya!" Ucap Satya.


Astrid tersenyum, kemudian ia menutup kedua matanya dan tertidur, sedangkan Ridwan hanya mengangguk dan berjalan ke sofa dan berbaring hingga akhirnya tertidur.


Satya membersihkan pecahan gelas tersebut dengan hati-hati, kemudian ia keluar untuk membuang pecahan gelas itu.


Saat setelah ia sampai di tempat sampah, ia membuang pecahan gelas itu dan berjalan meninggalkan tempat itu, namun saat hendak melangkah pergi, ia melihat sebuah kertas yang bertuliskan nama dari gadis yang baru saja ia jenguk itu.


"Heummm?" Ia membulatkan matanya pada kertas tersebut.


Ia kemudian merapikan kertas tersebut dan melipatnya dengan kecil, kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya.


Satya kemudian berlari ke ruangan tempat Astrid dirawat.


"Ceklek!" Satya membuka pintu.


"Ada apa Ga?" Tanya Astrid.


"Eeeummm! Astrid, gua pulang duluan ya! Tolong kasih tau Ridwan kalau gua ada kerjaan mendesak!" Ucap Satya sambil meraih tasnya.


Astrid menatap tubuh Satya yang menjauh dari dirinya dan hilang di balik pintu.


"Kerjaan apa?" Batinnya.


"Ceklek!"


"Astaga!" Ucap Astrid pelan sambil menatap kepala Satya yang muncul di depan pintu.


"Lo ngapain ngintip dari pintu?" Tanya Astrid pelan karena tak ingin membangunkan Ridwan yang tertidur.


"Gua pamit pulang yah! Cepat sembuh cantik!" Ucap Satya sambil tersenyum, kemudian menutup pintu tersebut dan beranjak pergi.


Di perjalanan, Satya membuka kembali kertas yang ia temukan di tempat sampah sebelumnya.


"Gua nggak nyangka dia bakal kayak gini!" Ucapnya pelan.


"Kringggg! Kringggg! Kringgg!"


Satya mengeluarkan ponselnya dari kantong, menatap layar ponselnya dan mengangkat teleponnya.


"Halo Lid!" Sapa Satya serius.


Satya kemudian memasukkan kertas tadi ke dalam tasnya, berjalan ke arah parkiran dan menaiki motornya.


"Kamu lagi ngapain?" Tanya Lidia.


"Lid! Nelfonnya nanti aja ya sayang! Aku mau pulang dulu ke rumah!" Ucap Satya.


"I...."


"Astaga!" Ucap Lidia saat Satya mengakhiri telefon saat ia belum selesai berbicara.


"Ini orang kenapa sih?" Tanya Lidia heran sambil melempar ponselnya ke kasur, kemudian ia juga berbaring dengan kesal.


Di lain sisi, Satya menyalakan mesin motornya dan mengebut untuk sampai ke rumah.


Tak lama kemudian ia telah sampai di halaman rumah, ia memarkir motornya dan berlari ke dalam rumah.


"Ada apa Ga? Kamu kok kayak di kejar setan aja! Gimana sama Astrid? Udah sembuh?" Mama melemparinya dengan beberapa pertanyaan.


"Ma!" Ucap Satya yang tiba-tiba terdiam.


Mama menatap Satya serius, ia mengecilkan volume TV dan meletakkan remote pada meja.


"Kenapa sayang?" Tanya mama serius sambil tersenyum pada anaknya.


Satya melepas tasnya dan mengeluarkan kertas yang ia temukan dari tempat sampah sebelumnya. Satya berlari ke arah mama dan memeluknya erat sambil menangis tanpa suara, mama hanya dapat mengelus pundak anak sulungnya.


Mama melihat kertas putih di tangan Satya, kemudian meraih kertas tersebut.


"Kertas apa ini?" Batin mama.


Mama kemudian membaca kertas tersebut, setelah lama membaca, ia kemudian terkejut sambil menutup mulutnya, ia mengerti dengan apa yang Satya rasakan, mama meneteskan air matanya dan memeluk Satya kembali.


"Ada apa sih?" Tanya Revan pelan dari lantai atas.


Revan memandangi mama dan Satya yang menangis sambil menatap kertas putih di atas meja.


"Lebay banget!" Ucap Revan sambil tersenyum.


"Ma! Kak! Ada apa?" Tanya Revan dari atas.


Papa yang baru saja pulang dari kantor langsung mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar, melihat Revan sedang menatap serius ke bawah, papa juga ikut menatap ke arah pandangan Revan.


"Ehhhh! Ngapain mereka?" Tanya papa.


"Mana gua tau!" Jawab Revan datar.


Papa terkejut dengan ucapan Revan, papa meletakkan kedua tangannya di pinggang, menggelengkan kepalanya sambil berbisik-bisik.


"Kurang ajar ni anak! Gua! Gua!"


Papa kemudian diam-diam melepaskan sendalnya, kemudian melayangkannya tepat di atas kepala Revan.


"Plakkkk!"


"Awwww!" Revan memegangi kepalanya.


"Apa..."


"Apa?" Tanya papa sambil mengangkat sebelah sandalnya.


"Papa? Papa kok mukul Revan sih? Aneh banget jadi orang!" Ucap Revan kesal.


"Kamu ngomong sama Papa aja nggak sopan! Kayak nggak diajarin aja!" Ucap papa sambil melempar sendalnya pada Revan.


"Aduhhh! Papa sakit tau! Ngeselin banget!" Ucap Revan sambil mengelus lengannya.


Revan menatap sendal itu, kemudian tersenyum dan meraihnya juga melemparnya jauh hingga ke pintu. Papa, mama, dan Satya menatap sendal yang melayang tersebut.


"Plakkkk!" Sendal tersebut terlempar tepat di wajah Vika.


"Haaaa!" Revan, Mama dan Satya menganga.


"Bhukkk!" Semua barang-barang di tangan Vika terjatuh ke lantai.


Terlihat raut wajah Vika yang mengerut dan memerah karena emosi, ditambah kekesalannya karena harus berjalan pulang ke rumah di bawah terik matahari.


Vika mengepal kedua tangannya kuat, kemudian menjatuhkan tasnya dan berjalan penuh emosi menaiki anak tangga.


"Wahhh! Bakal terjadi perang dunia ketiga nih!" Ucap papa sambil melepaskan sendalnya yang lain dan menjatuhkannya ke bawah.


"Sini!" Vika berteriak sambil menunjuk lantai di depannya.


"Bu, bukan aku!" Ucap Revan sambil berjalan mundur.


"Gua tau! Gua tau yang lempar tu sendal elo! Sini nggk?" Ancam Vika sambil menatap Revan dengan ganas.


"Aduhhh! Vika! Beneran! Bukan aku!"


"Sini!" Bentak Vika.


"Udah sana!" Ucap papa sambil berbisik pada telinga Revan.


Revan kemudian melangkah perlahan sambil tersenyum tipis.


"Hiyaaaaa!" Vika mengambil ancang-ancang untuk memukul kembarannya Revan.

__ADS_1


"Diammmm!"


Vika, Revan, dan papa melirik ke arah Satya, terlihat Satya yang menatap ketiganya dengan malas.


"Jangan ribut!" Ucapnya datar.


Tak lama kemudian ia melangkah menuju kamarnya dan menjatuhkan diri ke tempat tidur, sedangkan Vika hanya dapat menghukum Revan dengan menyuruhnya untuk membawa barang-barangnya yang terjatuh di depan pintu.


"Aduhhhh!" Ucap Revan kesal sambil membawa semua barang-barang Vika ke kamarnya.


"Van! Nanti tolong kamu antar Mama ke rumah sakit yah!" Ucap mama sambil berjalan mendahului Revan.


Revan berhenti melangkah, memanyunkan bibirnya dan menatap punggung mama yang semakin jauh darinya.


Mama berjalan ke arah kamar Satya dan mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban dari sang pemilik kamar.


"Tok! Tok! Tok!"


"Ga! Angga!" Panggil mama, namun tak ada sahutan.


"Angga! Buka pintunya Nak!" Ucap mama lagi sambil mengetuk pintu kamar Satya.


Papa berjalan kearah mama yang terlihat cemas didepan kamar anak sulungnya.


"Kenapa Ma?" Tanya papa.


"Ini Pa! Angga nggak mau buka pintunya!" Jawab mama cemas.


Revan terlihat kesal sambil menyeret kakinya malas, kemudian menjatuhkan semua benda di tangannya tepat di depan pintu kamar Vika.


"Vika! Ambil nih barang lo!" Ucap Revan, kemudian meninggalkan tempat itu dan beranjak ke kamarnya.


"Van!"


Revan menoleh ke arah mama dan papa.


"Tolong dobrak pintu kamar Angga dong!" Ucap mama.


"Heummm? Kenapa?" Tanya Revan.


"Ceklek!"


Mama dan papa melihat ke arah pintu, terlihat Satya berdiri di ujung pintu.


"Angga baik-baik aja kok Ma! Pa!"


"Kamu ini, di panggil kok nggak nyahut-nyahut! Kita kan jadi khawatir!" Bentak mama.


"Iya Ma! Angga minta maaf! Tadi Angga nggak denger, soalnya lagi di kamar mandi!"


"Yaudah deh! Kamu istirahat aja sana! Revan juga, nilai kamu turun akhir-akhir ini!" Ucap papa.


Revan kemudian mengangguk dan berjalan ke kamarnya, sedangkan papa menggandeng mama ke kamarnya.


Satya dengan cepat menutup pintu kamarnya dan berlari ke kasur. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Ridwan.


"Apaan?" Bentak Ridwan.


"Astrid! Mana Astrid?" Tanya Satya.


"Gila! Lo nelfon gua cuma mau nanya keadaan Astrid doang? Bener-bener lo!" Ucap Ridwan kesal.


"Kenapa Wan!" Tanya Astrid yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ini! Mantan!" Ucap Ridwan sambil tersenyum pada Astrid.


"Astrid! Kamu baik-baik aja kan?"


Ridwan dan Astrid saling bertatapan, kemudian tersenyum.


"Kenapa sayang?" Tanya Astrid menggodai Satya di telepon.


"Aku serius loh Srid! Kamu baik-baik aja kan?"


"Iya Ga! Aku baik-baik aja kok! Besok udah bisa pulang! Iya kan Wan!" Ucap Astrid sambil berjalan ke arah ranjang.


"Eummm!" Sahut Ridwan.


***


Satya mengeluarkan tangan kanannya dan meraih ponselnya yang terletak di atas meja.


"Haloo!" Sapa Satya pelan dengan suara mengantuk.


"Kamu kok belum bangun juga sih Sat? Ini udah setengah enam loh!"


Satya langsung duduk dan menempel ponsel di telinganya.


"Untung kamu nelfon Lid, kalau enggak, aku pasti masih tidur sampai sekarang!" Ucap Satya yang terburu-buru mengambil pakaiannya di lemari.


"Iya! Yaudah aku matiin telfonnya ya Sat, aku juga mau berangkat sekolah nih!" Ucap Lidia, kemudian menutup telepon.


Satya melempar ponselnya ke kasur, kemudian berlari ke kamar mandi. Setelah tiga puluh menit kemudian, Satya keluar dari kamar dan turun terburu-buru ke lantai bawah.


"Ma! Pa! Angga berangkat duku yah!" Ucap Satya sambil menyalam tangan kedua orangtuanya.


"Sarapan dulu Kak!" Ucap papa.


"Nanti sarapan di rumah aja Pa! Angga berangkat dulu yah!"


"Duluan ya dek!" Ucap Satya lagi sambil menepuk pundak kedua adik kembarnya, setelah itu berlari keluar rumah dan berangkat dengan motornya.


"Ngenggg! Ngengggg!" Satya menancap gas hingga ke pintu gerbang sekolah.


Satya memarkirkan motornya, tak lama kemudian Dion dan Syakira datang dengan motor yang sama dan berhenti di samping Satya.


Satya menatap keduanya sambil tersenyum tipis.


"Kenapa?" Tanya Syakira setelah turun dari motor, Dion membukakan helem yang melekat pada kepala Syakira.


Satya memutar lehernya ke samping sambil berdecak pinggang.


"Pamer kemesraan!" Ucapnya pelan.


"Kenapa sih lo?" Tanya Dion setelah memarkirkan motornya.


"Tau nih!" Sahut Syakira yang langsung menggandeng tangan Dion.


Satya memutar lehernya kembali, ia tersenyum kepada pasangan di depannya itu.


"Kalian, pacaran?" Tanya Satya pelan sambil menunjuk ke arah tangan Syakira yang menggandeng tangan Dion.


"Iya!" Jawab Dion senang.


Satya mengangguk, kemudian tersenyum.


"Selamat! Selamat untuk kalian berdua! Tapi, bisakah anda berdua menghargai mata dan perasaan para pejuang LDR seperti saya ini?" Tanya Satya sambil tetap tersenyum.


"Hahahaha! Iri, bilang bos!" Ucap Syakira.


"Ayo sayang!" Lanjut Syakira sambil menyeret Dion pergi dari parkiran.


"Aishhhhhk! Sialan, padahal dulu gua sama Lidia juga gitu! Tapi kok kalau liat orang lain yang gituan, nyesek juga!" Gerutu Satya.


"Brummmm! Brummmm!"


Satya menoleh, terlihat Ridwan dan Astrid yang juga datang berboncengan ke arah parkiran, mereka memarkirkan motornya di samping motor milik Dion.


"Good morning my friend!" Ucap Ridwan setelah memarkirkan motornya.


Satya menunduk sambil menghela nafasnya panjang, meletakkan kedua tangannya kembali ke pinggang, saat ia mengangkat kepalanya, ia melihat Ridwan yang hendak melepas helem di kepala Astrid.


"Sialan! Ini anak ngejek gua apa gimana?" Batinnya kesal.


"Ehhem! Lo berdua juga jadian?" Tanya Satya datar sambil menatap sekeliling.


"Heummm?" Ridwan dan Astrid terdiam menatap Satya.


Tangan Ridwan dan Astrid masih memegang helem di kepala Astrid, Satya menatap kembali pada Astrid dan Ridwan.

__ADS_1


Satya mengangkat kedua alisnya, Ridwan kemudian tersadar dari lamunannya dan melepas helem dari kepala Astrid.


"Apa maksud dari perkataan mu barusan?" Tanya Astrid dengan wajah datarnya.


"Udah ahk! Gua mau masuk kelas dulu, cepetan Wan!" Satya berjalan meninggalkan parkiran dan berjalan sambil memasukkan tangan ke kantongnya.


"Iya!" Sahut Ridwan yang ikut menyusul.


Astrid masih terdiam, ia menarik tali tas ransel pink di punggungnya, kemudian tersenyum dan berjalan menyusul kedua lelaki itu.


"Gimana mau pacaran, orang yang di hati masih belum bisa terganti!" Ucap Astrid tersenyum sambil berjalan mundur melewati Satya dan Ridwan.


Satya tiba-tiba berhenti melangkah, ia menatap Astrid yang kini berbalik dan berlari ke arah kelasnya.


"Haiiii!" Sapa Astrid sambil melambaikan tangannya.


"Astrid!" Ucap Aurel, Fasilla, Syakira dan Natasya bersamaan.


Keempatnya menatap Astrid yang berlari kegirangan ke arah keempat temannya.


"Astrid! Lo kok udah sekolah aja!" Ucap Natasya.


"Lo udah sembuh Srid?" Tanya Aurel.


"Gila, gua kira lo nggak bisa jalan!" Ucap Syakira.


"Plakkk!"


"Awwww!" Syakira memegangi kepalanya yang baru saja di pukul oleh Fasilla.


"Kegirangan banget! Ada apa?" Tanya Fasilla.


Satya tersenyum melihat tingkah laku Astrid yang memutar-mutar rambutnya yang panjang menirukan gaya Amel. Ridwan yang menyadarinya langsung berdehem dan masuk ke kelas mendahului Satya.


"Kalian mau tau, kenapa aku senang banget masuk sekolah meski keadaan gua masih kayak gini?" Tanya Astrid.


Keempatnya mengangguk berurutan, Astrid tersenyum sambil berdecak pinggang.


"Karena para gangster wanita sialan itu udah berhasil gua keluarin dari sekolah!" Ucap Astrid penuh kemenangan.


"Owhhhh! Itu!" Ucap keempat temannya sambil tersenyum, kemudian mereka menggiring Astrid masuk ke dalam kelas.


***


Sepanjang hari di sekolah, Satya terus melamun sambil memikirkan Astrid.


"Dorrr!"


"Ehhh setan!" Ucap Satya.


"Ngelamun mulu Bang! Liat tuh di depan ada siapa!" Ucap Natasya sambil tersenyum pada Satya.


"Aduhhh! Tau ahk, gua ngantuk!" Ucap Satya meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya.


"Ehhhh! Liat dulu di depan ada siapa!" Ucap Natasya lagi sambil menarik tangan Satya.


"Lo itu kenapa sih? Ganggu tau nggak!" Ucap Satya pelan sambil mengangkat kepalanya menatap Natasya.


Natasya melipat kedua tangannya sambil memayunkan bibirnya meniru ucapan Satya.


"Ga! Angga!" Ridwan berlari dari arah luar ke kursi Satya.


Satya menatap keduanya malas.


"Apa lagi sih?" Tanya Satya.


"Itu, di luar ada!"


"Ada apaaaaa?" Tanya Satya kesal sambil berdiri dari kursinya.


Satya kemudian berjalan dengan wajah kesalnya ke arah pintu, saat melewati pintu kelas, ia tiba-tiba terdiam.


"Bhukkkk!"


Tubuh Satya mundur beberapa langkah kecil, Lidia memeluknya erat sambil meneteskan air matanya, Satya membulatkan matanya dan menepuk-nepuk punggung Lidia pelan.


"Gua kangen bangettttt!" Ucap Lidia setelah melepaskan pelukannya.


"Masa?" Tanya Satya sambil mencubit pipi Lidia.


"Ridwan!" Ucap Lidia setelah Satya melepas tangannya dari pipinya.


"Lo pasti kangen juga kan sama gua?" Tanya Ridwan menggodainya, kemudian membentangkan tangannya dan memeluk Lidia.


"Lo itu best friend gua! Gimana bisa gua lupa sama lo?" Ucap Lidia sambil menepuk punggung Ridwan.


"Tapi kamu mau ngapain lagi datang ke sini?" Tanya Satya tiba-tiba.


Lidia melepaskan pelukannya, ia menoleh ke arah Satya.


"Mau jalan-jalan aja, udah lama juga nggak kesini, lagian aku juga ada urusan sama kepala sekolah!" Jawab Lidia.


"Anterin gua ke kelas yok!" Ucap Lidia sambil menggandeng tangan Satya.


Satya berjalan mengikuti Lidia, sedangkan Natasya dan Ridwan di tinggal begitu saja.


"Ehhem!" Ucap beberapa siswa yang melihat Satya dan Lidia bergandengan.


"Lid! Malu tau diliatin sama siswa lain!" Ucap Satya pelan sambil tersenyum tanpa menoleh Lidia.


Lidia tetap berjalan tanpa menghiraukan ucapan Satya, sesampainya di kelas, Fasilla, Aurel, dan siswa lain melihat ke arah keduanya.


"Lidia!" Ucap Fasilla.


Lidia melepaskan tangannya dari Satya, kemudian berlari ke arah temannya dan memeluknya erat.


Satya tersenyum, namun saat melihat Astrid yang tertidur pulas di samping Syakira yang sedang berbincang dengan Dion, wajahnya berubah menjadi datar.


"Satya Anggara, aku hauss!" Ucap Lidia manja.


Satya tersenyum, ia kemudian berjalan meninggalkan kelas dan pergi ke kantin.


"Syakira!" Panggil Lidia.


Syakira dan Dion menoleh, Astrid yang tadinya tertidur ikut terbangun, ia menoleh ke arah pintu dan mengira bahwa yang berteriak sambil memanggil Syakira adalah Natasya yang berjalan beriringan bersama Ridwan, namun saat ingin tidur kembali, Syakira dan Dion berdiri dan berjalan menghampiri Lidia.


Astrid membulatkan matanya saat melihat Syakira dan temannya yang lain memeluk Lidia.


"Dia!" Ucapnya pelan sambil menunjuk Lidia.


Dion berjalan menghampiri Ridwan yang berdiri di ujung pintu, mereka kemudian pergi menyusul Satya ke yang pergi kantin.


"Lidia!" Ucap Astrid.


Lidia menoleh, Natasya, Aurel, Fasilla, dan Natasya membulat matanya.


Astrid beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Lidia.


"Lohhh! Kok kamu!" Ucap Lidia terbata, kemudian keduanya berpelukan.


"Lo berdua saling kenal?" Tanya Syakira.


"Iya! Kita pernah ketemuan di dermaga!" Jawab Lidia.


Astrid tersenyum sambil duduk di atas meja.


"Ternyata Lidia yang Amel maksud kemarin Lidia yang ini?" Tanya Astrid.


Natasya mengangguk, kemudian berjalan dan bersandar pada meja yang diduduki oleh Astrid.


"Amel? Pasti dia ngeganggu kamu, dia memang suka banget ngeganggu anak baru!" Ucap Lidia.


Lidia kemudian berjalan ke arah pintu sambil mengepal kedua tangannya.


"Mau kemana?" Tanya Astrid.


"Gua mau ngelabrak tu anak!" Jawab Lidia kesal.


"Mereka udah gua keluarin dari sekolah!" Ucap Astrid.

__ADS_1


"Heummm? Maksudnya?" Tanya Lidia.


__ADS_2