
Satya tengah tertidur di samping Ridwan, tangan memegang erat tangan sahabatnya itu, sedangkan bunda Ridwan tidur di sofa.
Ridwan perlahan membuka matanya, mendapati bunda tertidur di sofa ia tiba-tiba terkejut.
"Ngapain gua disini?"
"Astaga! Ni anak lagi, pake megang tangan segala! Dikiranya gua pacarnya!" Ucapnya ketus.
"Mmm!" Satya merengek.
Ridwan kemudian mengangkat kakinya sebelah kanan, kemudian menendang lengan Satya pelan sampai hampir terjatuh.
"Ehhh copot! Copot!"
"Apaan sih lo?" Tanya Ridwan.
"Syukurlah! Ternyata lo masih hidup!" Ucap Satya.
"Ya masihlah!" Ridwan melipat kedua tangannya.
Satya kemudian berjalan untuk membangun bunda Ridwan.
"Tante! Ridwan udah bangun!" Ucapnya, namun tidak ada respon.
Ridwan kemudian bersandar sambil menghela nafas.
"Bunda! Buatin Ridwan sarapan!"
Bunda langsung terbangun dan berjalan ke arah pintu tanpa menoleh sedikitpun pada Satya maupun Ridwan.
"Tante! Kita disini!" Ucap Satya dengan lugunya.
"Ridwan! Kamu udah sembuh Nak!" Ucap Bunda yang segera berlari ke arah anaknya setelah menyadari bahwa anaknya telah bangun.
"Kok bisa begini sih Wan? Kenapa?" Tanya Satya.
"Kita ditabrak lari!" Jawab Ridwan kesal.
"Ehhh! Astrid? Gimana sama Astrid?" Tanyanya.
"Udah melewati masa kritis! Katanya!" Jawab Satya.
"Syukurlah kalian berdua baik-baik aja! Kalau kamu mati? Siapa yang akan menjadi anak kesayangan Bunda?" Ucap bunda sambil mengusap-ucap rambut dan wajah Ridwan.
"Kan masih ada Angga Bun!" Ucap Ridwan.
"Plakkkk!"
"Aduhhh! Bundaaa!" Ridwan merengek pada bunda saat Satya memukul kakinya.
"Angga jangan! Kamu tuh yah!" Ucap bunda bercanda.
"Kuburan lo nanti mau gua taburin apa? Bawang goreng atau daun sup?"
"Janda kembang!" Jawab Ridwan.
Ketiganya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ridwan.
***
Kini Astrid telah pulih, namun ia masih harus menetap di rumah sakit sampai ia benar-benar sembuh. Satya, Ridwan dan Dion membawanya ke taman rumah sakit.
Dion membantu Ridwan berjalan, karena Ridwan harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan dengan baik, sedang Satya mendorong kursi roda yang dipakai oleh Astrid, tak lama setelah mereka sampai di taman, Aurel, Natasya, Fasilla dan Syakira melambaikan tangannya dan berlari ke arah taman.
"Hai Astrid! Ridwan! Maaf ya baru bisa jenguk!" Ucap Fasilla.
"Gimana keadaan kalian sekarang?" Tanya Aurel.
"Udah baikan kok!" Jawab Ridwan sambil tersenyum.
Ridwan tampak baik-baik saja meski terlihat sakit secara fisik, berbeda dengan Astrid, meski tidak terlihat sakit, namun ia terlihat seperti orang yang benar-benar tidak bisa bergerak atau berbicara, ia terlihat diam dan tatapannya kosong.
"Astrid! Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Syakira sambil menunduk untuk memastikan bahwa Astrid baik-baik saja.
"Kok bisa gini ya! Hari pertama Astrid pindah ke sekolah kita, dia udah ditimpa masalah!" Ucap Aurel.
"Amel!"
Tiba-tiba Astrid bicara, namun tetap tak mengubah posisinya atau tatapannya.
"Aku ingat plat nomor kendaraan itu! Aku juga ingat wajah pengendara itu, dan orang yang ada didalamnya!" Ucap Astrid dingin.
Satya menatap temannya bergantian, merasa ada yang tidak beres dengan anak kepala sekolah itu.
"Owh iya! Ada adek kelas yang meninggal waktu kalian kecelakaan!" Ucap Dion.
"Apa?" Tanya Ridwan kaget, kemudian matanya menatap Astrid yang masih terdiam.
"Lo percaya kan sekarang? Seandainya lo mau nurutin perkataan gua waktu itu, anak itu nggak bakal mati, dan kita juga nggak bakal ngalamin kecelakaan!" Ucap Astrid pada Ridwan.
"Maksud lo?" Tanya Dion penasaran.
"Apa Amel yang menjadi dalang dari semua masalah ini?" Tanya Satya.
"Kamu bisa jelasin ke kita nggak apa yang terjadi?" Tanya Syakira.
Astrid menghela nafasnya dengan panjang, kemudian menggulung rambutnya yang panjang dan berdiri dari kursi roda, semua temannya terkejut termasuk Satya dan Ridwan.
"Hidup untuk mati!" Ucapnya.
"Maksudnya?" Tanya Satya.
Astrid berjalan dengan pelan sambil memegang pucuk daun-daun dari bunga di taman itu.
"Amel!" Ucapnya sambil tersenyum licik.
"Apa yang bakal lo lakuin?" Tanya Syakira mendekati Astrid.
"Tidak banyak! Hanya akan melukis dengan warna putih dan merah!" Jawab Astrid.
Percakapan keduanya terlihat nyambung, Syakira seakan-akan mengerti dengan apa yang Astrid ucapkan.
Satya berjalan ke arah Astrid, ia menepuk pundaknya dan tersenyum.
"Astrid! Jangan pernah berfikir buruk tentang orang lain, itu akan berpengaruh buruk terhadap kehidupanmu!" Ucapnya.
Astrid kemudian berbalik dan menepis tangan Satya.
__ADS_1
"Apa hubungannya sama lo? Gua bisa ngurus urusan gua lebih baik dari lo!" Ucap Astrid.
"Gua cuma nyaranin aja!" Ucap Satya sedikit menunduk, Astrid kemudian berjalan melewati Satya, namun kakinya tersandung dan hampir terjatuh, namun Satya yang bijak dan cepat langsung menangkap tubuh ramping Astrid, kemudian keduanya terjatuh dalam tatapan yang sama.
"Dheg! Dheg! Dheg! Dheg!" Seketika jantung keduanya berdenyut kencang.
"Woy lah! Kayak film India aja!" Bisik Ridwan pada Dion.
"Nggak ngotak bray!" Balas Dion.
Aurel, Natasya, Fasilla dan Syakira saling tersenyum dan bersenggolan tangan.
"Awwwww!" Ridwan menjatuhkan tongkat dan berteriak sambil memegangi kakinya.
Satya dan Astrid terkejut, kedua kemudian tersipu malu, Astrid berjalan pelan meninggalkan taman dengan wajahnya yang memerah, sedangkan Satya mendorong kursi roda di dekatnya ke arah Ridwan.
"Kalau bukan dengan cara kayak gini, lo berdua pasti jadi tontonan barisan para jomblo!" Ucap Ridwan.
"Guys! Kalau gitu kita nyusul Astrid dulu yah! Wan? Semoga cepat sembuh ya!" Ucap Aurel.
"Iya! Makasih ya!" Balas Ridwan sambil melempar senyumannya.
Aurel dan temannya kemudian berlalu meninggalkan Satya, Ridwan dan Dion.
"Astrid!"
Astrid menoleh, kemudian terpancar senyum dari wajahnya saat melihat keempat temannya melambaikan tangan padanya.
"Astrid, cepat sembuh yah!" Ucap Fasilla sambil memeluk Astrid.
"Makasih!" Ucap Astrid.
"Yang sabar ya Srid!" Ucap Syakira, kemudian memeluk Astrid.
"Cepat sembuh!" Ucap Aurel, kemudian memeluknya juga.
"Kalau aku sih beda! Cepat balas dendam ya!" Ucap Natasya sambil memeluk Astrid.
Kelimanya tertawa dan saling bercanda.
"Tadinya sih mau balas dendam!" Ucap Astrid sambil tertawa.
"Besok aku mau sekolah! Aku bakal nunjukin ke Amel, kalau dia bukanlah siapa-siapa dibandingkan kita!" Lanjut Astrid serius.
Mereka kemudian berjalan mengelilingi rumah sakit sambil bercanda dan berbincang-bincang.
"Owh iya! Astrid! Emang kepala kamu udah sembuh?" Ucap Syakira tiba-tiba.
Astrid menyentuh perban yang mengikat kepalanya.
"Ahk! Ini sih bukan apa-apa!" Ucap Astrid.
Aurel dan Natasya saling bertatapan, mulai bingung dengan perkataan Astrid.
"Lo yakin nggak kenapa-kenapa?" Tanya Fasilla serius.
Astrid kemudian berjalan, Aurel dan yang lainnya mengikutinya.
"Luka fisik tidak akan terasa dengan adaya luka batin!" Ucap Astrid.
"Pasti Astrid punya banyak masalah! Kasian dia!" Batin Syakira yang langsung tanggap dengan perkataan Astrid.
"Iya Srid! Siapa tau perasaan kamu tambah ringan setelah curhat sama kita!" Sahut Fasilla.
"Makasih ya guys! Kalian baik banget sama aku, kalian itu sahabat pertama aku, tau nggak? Di sekolah aku yang dulu, aku itu nggak punya teman, apalagi sahabat!" Ucap Astrid sambil tersenyum.
"Berarti yang harus sabar itu siapa Srid?" Tanya Natasya bercanda.
"Semuanya dong Sya! Astrid harus sabar sama semua rintangan di hidupnya, dan kita, kita harus bersabar sampai Astrid mau ngomongin masalahnya sama kita!" Ucap Aurel.
"Guysss! Jangan gitu dong!" Ucap Astrid tertawa.
***
Kini pagi telah datang, semua orang di dalam rumah telah mengerjakan kesibukannya masing-masing, Astrid merapikan seragamnya di depan cermin, ia memasangkan dasinya sambil tersenyum licik.
"Hari ini, Astrid akan berubah menjadi Astrid yang sebenarnya! Akan melepaskan topeng berlapis yang selama ini digunakan!" Batinnya.
Astrid kemudian meraih tas dan ponselnya dan segera turun ke meja makan.
"Pagi!" Sapanya sambil menuruni anak tangga, terpancar senyum yang tak biasa dari wajahnya.
"Baru kali ini kamu senyum selebar ini!" Ucap papa yang telah berpakaian rapi.
"Iya Srid! Jangan-jangan kamu punya gebetan ya!" Sahut mama.
"Apaan sih Ma ya nggaklah!" Ucapnya.
"Tok! Tok! Tok! Tok!"
Terlihat Ridwan yang berjalan menuruni anak tangga dibantu tongkatnya.
"Wan! Kamu kok udah sekolah aja sih? Kan kamu masih sakit!" Ucap Astrid sambil menarik kursi.
Ridwan terus berjalan hingga ke meja makan, menarik kursi dan duduk di samping Astrid.
"Terus, gimana sama kamu yang perbannya masih di kepala?" Tanya Ridwan.
Astrid memakan makanannya sambil tersenyum.
"Astrid beda! Astrid itu kuat!" Ucap bunda.
"Terus, Ridwan?" Tanya Ridwan sambil memakan makanannya tanpa menoleh ke arah lain.
"Lembek!" Ucap bunda.
Kedua orangtua Astrid, Astrid dan bunda tertawa, Ridwan memasang wajah datar dan kesalnya.
"Dikira Ridwan yang ganteng dan perkasa ini bolu? Lembek?" Ucapnya kesal.
"Segitu aja udah kesal! Emang lembek lo!" Ucap Astrid.
Setelah selesai makan, mama dan papa dari Astrid harus berangkat pulang ke tempat tinggalnya, sedangkan Astrid harus melanjutkan sekolahnya di kota ini.
"Dah Ma! Dah Pa! Hati-hati ya! Ntar malem jangan lupa nelfon Astrid!" Ucap Astrid.
"Iya sayang!" Ucap mama dari dalam mobil.
__ADS_1
Setelah mereka pergi, Ridwan dan Astrid masuk ke dalam mobil milik bunda, kemudian diantar ke sekolah.
"Bunda pamit ya, kalian berdua hati-hati!" Ucap bunda.
"Iya Bun! Bunda juga hati-hati ya!" Ucap Ridwan, kemudian kedua melambaikan tangan sambil tersenyum pada bunda yang telah pergi berlalu dari depan pagar sekolah.
"Ayo!" Ucap Astrid meninggalkan Ridwan dibelakangnya.
"Bantuin napa Mbak!" Ucap Ridwan kesal sambil terus berjalan dengan tongkatnya.
Astrid tersenyum sambil memperlambat langkah kakinya.
"Mandiri dong Wan! Harus bisa hidup tanpa bantuan orang lain!" Ucap Astrid.
Ridwan mengejar Astrid yang belum jauh di depannya, kemudian meraih tangannya, namun Astrid tetap berjalan tanpa menoleh atau berhenti sedikitpun.
"Bhukkk!"
"Aaaagk!" Ridwna terjatuh saat seorang wanita menabrak dan menginjak kakinya yang terluka.
"Astaga! Ridwan kamu baik-baik aja?" Ucap Astrid kaget, kemudian membentu Ridwan berdiri.
"Ya elah! Masih segitu aja udah ngeluh, manja banget!" Ucap Amel tanpa merasa bersalah, kemudian pergi bersama temannya meninggalkan Astrid dan juga Ridwan tanpa meminta maaf.
Astrid mengepal kedua tangannya dan menatap penuh kebencian terhadap segerombol manusia tak memiliki hati itu.
"Amel!" Astrid berteriak keras sehingga beberapa siswa menoleh ke arahnya.
"Gudang!" Ucap Astrid lagi, kemudian membantu Ridwan berjalan ke kelasnya melewati gerombolannya Amel.
"Berani juga ini anak!" Ucap Amel sambil memainkan kipas tangannya.
Sesampainya di depan kelas XII IPA 2, Astrid melepaskan tangannya dari Ridwan.
"Srid! Lo yakin mau balas dendam?"
"Yakin! Dendam itu bukan dari kita berdua aja Wan, tapi adik kelas yang udah jadi korban perbuatannya!" Ucap Astrid datar.
"Yaudah kalau gitu lo hati-hati ya! Gua masuk dulu!" Ucap Ridwan, kemudian keduanya berpisah.
***
Satu sekolah ramai akan anak gadis yang tewas di sekolah itu, Dion dan Natasya juga tengah sibuk mengurusi kejadian itu bersama beberapa polisi, meski mereka tau kalau kasus ini akan digantung tanpa alasan jelas, sedangkan Satya dan Ridwan sedang mencari keberadaan Astrid.
Keduanya mencarinya ke kelasnya, namun tidak terlihat juga.
"Sil! Astrid dimana?" Tanya Ridwan pada Fasilla.
"Nggak tau juga Wan! Kita juga udah nyari dia dari tadi pagi!" Jawab Fasilla.
"Owhhh iya Sat! Ada titipan dari Lidia, maaf ya baru bisa ngasih tau! Soalnya aku suka lupa!" Ucap Syakira sambil memberikan sebuah kota berukuran besar.
Satya menerimanya sambil terus menatap kotak itu.
"Tapi kok, Lidia nggak ada kabarnya lagi ya?" Tanya Satya.
Syakira dan Fasilla saling bertatapan, keduanya seakan-akan menyembunyikan sesuatu.
"Lidia baik-baik aja kan Kira!" Ucap Satya.
"Lo berdua kok diam aja! Jawab dong! Kasian Angganya!" Ucap Ridwan.
"Baik! Lidia baik-baik aja! Dia lagi sibuk aja sekarang!" Ucap Syakira.
"Awas ya lo berdua kalau bohongin temen gua!" Ancam Ridwan bercanda.
"Idihhhh! Kalau kita bohong emang kenapa?" Tanya Syakira.
"Gua nikahin lo berdua!" Jawab Ridwan.
"Bagus dong! Jadi mantu orang ganteng, tajir melintir lagi!" Ucap Fasilla.
"Hooooh! Mandang fisik lo!" Ucap Satya.
***
Astrid mengeluarkan bajunya, kemudian melonggarkan dasinya dan mematahkan balok kayu dari sebuah meja di gudang.
"Sok preman lo! Dasar tikus sawah!" Ledek Amel.
Namun Astrid tetap dingin, ia dapat mengontrol emosi dan perasaannya.
"Apa? Mau ganas?" Tanya Carla.
"Nggak!" Ucap Astrid datar sambil meniup debu pada balok kayu di tangannya.
"Jangan main-main deh sama kita! Nanti lo bernasib sama kayak adik kelas itu! Ha-ha-ha!" Ucap Amel puas.
"Owhhhh! Jadi kalian yang bunuh! Gua sih udah duga! Pasti kalian biang keroknya!" Ucap Astrid menjadi nada bicara agar tetap stabil.
Amel dan temannya semakin emosi, mereka mulai senjata senjata masing-masing dan mengepung Astrid, namun Astrid tetap santai, ia bahkan duduk manis di kursi.
"Lo bakal mati hari ini!" Ucap Diana sambil mendorong balok kayu ditangannya pada leher Astrid sehingga membuat lehernya berdarah karena goresan paku yang menonjol.
Astrid tersenyum, ia tetap menatap dan membolak-balik balok kayu ditangannya.
"Ini bukan hari kematianku!" Ucapnya sambil tersenyum.
Amel dan temannya makin panas, mereka makin emosi dengan ucapan Astrid.
"Bhukkk!"
"Thaggg!" Astrid menepis pukulan dari Amel dengan santai dan datar.
"Selow dong! Masih banyak waktu loh Mel!" Ucap Astrid datar.
"Berani banget lo!" Ucap Carla sambil menunjuk Astrid.
"Baru tau?" Tanya Astrid sambil tersenyum licik.
"Gila lo! Nggak takut mati ya loh!" Ucap Friska.
"Ngapain takut mati? Takut kena penjara aja nggak!" Ucap Astrid.
"Brengsek!" Teriak Amel.
"Iya! Tau! Tapi kamu tau nggak Amel, semua manusia itu punya dosa, bedanya, ada yang sadar, ada nggak sadar diri, kayak lo semua misalnya!"
__ADS_1
"Aaaaaa!"