Devil In Sorrow

Devil In Sorrow
BAB 1 DVS


__ADS_3

Assalamualaikum temen temen.


.


.


Aku takut cerita yang aku giring gak dapet feel nya. Tapi insyaallah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Oke sudah siap kah kalian??


.


.


Sudah siap kah kalian mengenal tokoh yang aku buat??


.


.


Sudah siap kalian ingin berlabuh dalam suka dan duka di cerita ini???


.


.


Oke gausah banyak bicara panjang lebar kali lama lagi langsung aja kita ke Bab pertama.


.


Hufftttt angin sepoi sepoi bab ter Tremor bagiku hufftttt. Hehe berjanda. Ayo kita lanjotttt!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi ini mentari kembali menyinari bumi, dan terlihatlah gadis cantik dengan bulu mata lentik tertidur pulas diatas kasur nya. Dia Anaya Zalinda Anindita Willson seorang gadis cantik berumur 16 tahun yang kini ia sudah duduk di bangku SMA kelas 11, dengan senyumannya yang manis, tapi sayang senyuman manis itu kini tak pernah ia perlihatkan lagi dan berganti dengan sifatnya yang sedingin es, dan senyum devil nya.


Diumur yang masih sangat muda ia sudah menyumbangkan puluhan piangam penghargaan untuk sekolah sekolah yang pernah ia sekolahi. Tak heran jika di umur 16 Anaya sudah duduk di bangku SMA kelas 11.


Anaya merupakan putri ketiga dari pasangan David Mahatma Willson dan Cyra Kanaya Zulanda Willson, Anaya terlahir kembar, sodara kembarnya sangat mirip dengan Anaya akan tetapi kakak kembar Anaya sudah meninggal di umur 14 tahun karena suatu peristiwa penculikan yang merenggut nyawanya. Anaya terlahir di keluarga kaya raya 7 turunan tak kan miskin. kalau hartanya tak diambil tuhan hehe, orang terkaya se Asia, semua Anaya miliki terkecuali kasih sayang kedua orang tuanya.


.


.


" Semua berawal pada tahun 2018 tanggal 03 Januari"


.


.


"Flash back On"


*


*


"Loh, hp kakak kemana ya?, Kok gak ada di tas, padahal tadi udah kakak masukin." Inaya mengobrak abrik tas nya, mencari benda pipih yang kabarnya hilang itu.


"Kakak, lupa masukin nya kali." Anaya ikut bingung, setelah mengingat ingat pasti hp kakaknya tertinggal di ruang ganti baju.


"Kakak inget kok, kakak udah masukin dalam tas, tapi kakak lupa tutup tasnya. Mungkin jatuh di ruang ganti baju tadi. Hehe."


"Yaudah, Anaya cari hp kakak dulu di ruang ganti baju tadi. Mungkin jatuh disana." ucap Anaya. Tangannya lerulur membuka pintu mobil.


"Kakak mau ikut?" tanya Anaya dihadiahi gelengan kepala oleh sang kakak kembarnya itu.


"Yakin?" Tanya Anaya memastikan.


"Iya adikku kakak akan baik baik aja kok, tenang aja gausah kaya bodyguard gitu lah." inaya mengangguk yakin sambil tersenyum.


"Yaudah, ana kunci pintunya tapi-" mata anaya mengisyaratkan ke khawatiran, entah perasaan apa yang sedang menyerangnya saat ini, dia sangat enggan untuk meninggalkan kakaknya di basecamp sendirian.


"Kakak yakin gak ikut ana aja kedalam?" Tanya Anaya sekali lagi, karena ia merasa sangat khawatir entah karena apa itu.


"Iya ana." jawab inaya mantap.


Anaya menghembuskan nafasnya dalam.


"Yaudah di sana ada iPad Anaya, kakak pegang aja dulu biar gak bosen." Pinta Anaya.


"Jaga kakak saya, jika ada luka tergores sebesar jarum. Kalian sudah tau akibatnya." Peringat Anaya kepada dua bodyguard gagah yang bertugas menjaga mereka berdua.


Setelah Anaya mengunci pintu mobilnya, Anaya melambaikan tangan kepada kakaknya yang berada dalam mobil. Berat sekali rasanya meninggalkan kakaknya walau hanya sebentar.


Anaya berjalan memasuki mall, dan langsung menuju ruang ganti baju yang ia tempati bersama sang kakak. Ia mengecek ruang itu dan ternyata benar hp inaya tergeletak di lantai, untung saja ruang ganti baju yang mereka tempati paling ujung jadi jarang orang pakai.


Anaya bergegas kembali ke basecamp mall tapi ia dikejutkan oleh pemandangan tak terduga didepannya. Kaca mobil Anti pelurunya yang pecah dan kakaknya yang menghilang. Serta dua bodyguard yang tergeletak tak sadar di lantai. Anaya masih berusaha mencerna apa yang terjadi di depannya ini. Sedetik kemudian.


"Kakak!!!" Teriak Anaya dengan air mata yang sudah berjatuhan. Anaya bingung harus mencari kakaknya kemana, sepertinya ini bukan penculikan orang biasa. Anaya langsung menghubungi papahnya Davide.


"H-hal-o Pah.." suara Anaya bergetar.


"K-kak I-na Pah, dia diculik. Bodyguard yang tadi kalah jagain kak Ina Pah."


"Anaya kamu tenang, papah akan ke sana. Tunggu papah ya sayang." David bergegas bersama orang nya menuju base camp mall yang Anaya kunjungi.


Anaya melirik kearah seorang bodyguard yang masih sedikit sadar.


"Siapa pelakunya." amarahnya meluap, Anaya kecewa dan marah terhadap dirinya sendiri. Meninggalkan inaya sendirian dan hanya mempercayakan ke dua bodyguard lemah ini.


"A-ada sekitar 15 orang, berpakaian hitam langsung menyerang k-kita Queen. Lalu mereka m-mencoba menghancurkan kaca mobil Queen. K-ami tau itu anti peluru, i-tu sebabnya saya berusaha nahan mereka selama mungkin. S-sampai Queen datang." Jelas bodyguard yang terluka parah itu namun setelah menyampaikan itu, dia menutup mata.


Anaya mengecek mobilnya dan ia melihat secarik kertas bertuliskan pesan.


"Hey queen, I've brought David's weak daughter, David's source of strength and David's favorite. It's your fault that you didn't take this weak older sister with you"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian papah Anaya datang. Orang yang David bawa, itu memiliki tugas masing masing. Yang satu membereskan kedua bodyguard itu, dan yang satu lagi meretas cctv basecamp itu.


"Pah ini." Anaya memberikan surat itu kepada papah nya.


Setelah membaca itu David menyeret Anaya kedalam mobilnya dan David juga menyuruh orang untuk mengecek cctv saat kejadian itu.


"Kenapa kamu tidak bawa kakak kamu Anaya!" Bentak David membuat Anaya langsung menunduk.


"Kenapa!?" Anaya tak berani menjawab.


"Papah akan hadapkan kamu banyak pertanyaan dirumah jika kamu tak menjawab sekarang!" Lagi lagi Anaya bungkam bukan karena ia tak mau menjawab. Tapi karena dia takut serta syok karena dari kecil papahnya tidak pernah membentaknya.


"Bos, saya sudah lacak dan temukan lokasi nya bos." ucap seorang laki laki di kursi belakang mobil.


Kemudian mereka langsung menginjak gas, melaju dengan kecepatan penuh.


Kini mereka sampai di sebuah tempat yang sangat sepi, tempat ini seperti rumah yang tak berpenghuni. Ketika David membuka pintu betapa syok nya mereka mendapati inaya yang sudah terkulai lemas dilantai dan bersimbah darah. Disamping tubuh inaya juga terdapat kertas bertuliskan.


"You are 2 minutes late, so if you are late again there will be another victim. Of course it will be from your family."


Kertas itu Anaya masukkan kedalam sakunya.


"I-inaya Bagun anak papah." David memeluk tubuh anak nya yang bersimbah darah.


"P-ah kita bawa kak Ina kerumah sakit, darahnya udah banyak keluar. Takut kak Ina kenapa kenapa." Ucap Anaya.


Mereka langsung membawa inaya kerumah sakit terdekat namun telat, nyawa inaya sudah tak bisa tertolong karena dia kehilangan banyak darah. David syok, marah, sedih sekaligus rasa itu bercampur aduk membuatnya tak bisa mengungkapkan ekspresi nya.


Kejadian itu berlalu, kini Anaya bagai anak dalam sepi. Mama dan papa nya sudah tak seperti dulu lagi, mereka salah paham dan tak mau mendengarkan penjelasan Anaya sedikitpun. Anaya merasa bersalah dan sangat sedih karena lambaian tangan hari itu adalah lambaian terakhir untuk kakaknya.


Detik, menit, jam, hari berlalu sikap anaya, mamah dan papah nya sama sama berubah 180°, Cyra dan David sama sekali tak menghiraukan Anaya. Anaya juga menjadi pendiam suka mengurung didalam kamar, dia juga berubah drastis.


Hingga 3 bulan berlalu, Ia mencoba menjelaskan hal ini baik baik kepada mamahnya, Anaya yakin mamahnya akan mendengarkan nya.


Anaya jarang sekali tersenyum dihadapan orang lain kecuali keluarga nya, jika dengan sifat Anaya sekarang maka mustahil jika Anaya akan tersenyum dihadapan orang lain.


Lambat laun mama Anaya mulai mendengarkan penjelasan Anaya dan, Cyra juga mulai menghangat kepada Anaya tapi tidak dengan papahnya. Anaya mati matian melengkungkan senyuman untuk mamanya setiap sudut bibir itu terangkat kilasan peristiwa akan kakaknya terulang kembali di otaknya. Itu yang membuat Anaya tak mau tersenyum.


Misi sekaligus tugas yang Anaya jalani yaitu mencari pelaku siapa yang membunuh kakaknya. Anaya masih beruntung karena dia punya sahabat sekaligus teman kecil yang bernama Regantara Atmaja, dia orang yang selalu menghibur Anaya sampai saat ini. Tapi sikap Anaya masih sama dingin dengan wajah datarnya seakan tak ada warna lagi dalam hidupnya.


*


*


"Flash Back Of "


Anaya membuka mata indah nan tajamnya perlahan, menyadari cahaya matahari yang menembus masuk kedalam kamarnya. Anaya bangun dan meregangkan otot ototnya. Kemudian ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri dan bersiap siap untuk pergi sekolah.


Anaya berdiri dihadapan kaca besar yang memperlihatkan seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah, rapi dan cantik dua kata yang menggambarkan Anaya saat ini. Setelah siap Anaya berjalan menuruni satu persatu anak tangga di mansionnya untuk menuju ruang makan.


"Pagi pah mah.." sapa Anaya sembari tersenyum, walau senyuman itu susah sekali ia buat.


"Pagi" jawab mama nya, sedangkan papahnya? Tidak menggubrisnya sama sekali.


"Ana, mama masakin makanan kesukaan kamu." ucap Cyra sambil menuangkan makanan diatas piring makanan Anaya.


"Makasi, ma. Anaya kangen makanan kesukaan Anaya." balas Anaya sambil menyimpulkan senyuman dibibirnya. Entah kenapa saat ini rasanya ia agak ringan untuk tersenyum, mungkin ini karena kasih sayang mamanya yang membuatnya kembali bisa tersenyum lega.




Selesai sarapan Anaya ingin bergegas menuju sekolah.


"Anaya pergi dulu ya mah." pamit Anaya seraya menyalimi punggung tangan mamanya. Kemudian ia beralih kehadapan papahnya yang juga sudah rapi dengan jas hitam yang tampak begitu menawan David pakai.


Anaya memasuki mobil sport mewah warna hitam yang selalu ia pakai, mobil kesayangannya. Hadian dari papahnya waktu ia ber umur 13 tahun. Itu alasan kenapa ia sangat suka mengendarai mobil sport ini. Karena dengan memakainya Anaya teringat akan tawa dan senyum papanya dikala ia pertama kali menyetir mobil pemberian papanya ini.


.


.


Anaya melajukan mobilnya membelah ramainya jalan, hal inilah yang tidak Anaya sukai banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Sesampainya disekolah tak heran lagi jika Anaya menjadi pusat perhatian siswa siswi terutama kaum Adam. Anaya keluar dari mobilnya dengan wajah datarnya tapi itu tak menghilangkan pesona kecantikannya.


Selain paras yang cantik, tak lupa pula Anaya di titipkan kecerdasan diatas rata rata. Banyak yang mengagumi Anaya terutama kaum Adam, tapi mereka hanya bisa mengagumi saja tak berani mendekati Anaya. Karena Anaya selalu dingin dengan wajah cuek dan datarnya, sepertinya lupa disetting ekspresi deh, ditambah lagi Anaya selalu sendirian jika bersama seseorang maka tak lain tak bukan itu hanya Regan seorang.


Ya dia adalah Regan Tamara Atmaja sahabat sekaligus teman masa kecil Anaya, yang sekarang menjadi satu satunya orang yang selalu menemani Anaya disaat sedih maupun bahagia. Dengan wajah terpahat tampan, tubuh atletis, disertai manik mata hitam legam. Seorang kapten basket SMA BUNGA BANGSA, dan jangan lupakan otak encernya yang sudah seperti blue band panas, juga sifat dingin bercampur menyebalkan yang sudah tertanam sejak kecil tapi diantara sifat dingin Regan terselip kebarbaran dan kekonyolan Regan, jika sudah bersama Anaya.


Tapi itu tak berlaku untuk orang lain, jika dengan Anaya kalian lihat sendiri nanti hehe. Banyak perempuan yang mengejar cintanya, menyatakan cinta padanya namun miris tak satupun Regan lirik.


Dia hanya ingin selalu membuat Anaya bahagia tanpa harus harus membagi waktu untuk orang lain, sampai ada seorang laki-laki yang jauh lebih baik darinya, yang mampu membuat Anaya keluar dari lingkaran devil in sorrow. Dengan kata lain Mengeluarkan Anaya dari kesedihan, dan menghilangkan sifat kejam tak berhati Anaya.


*Notice*


Di sekolah Marga keluarga Anaya dan Regan sengaja tidak diberitahukan, demi keamanan mereka terlebih takut adanya musuh David yang mengetahui keberadaan putrinya. Yah walaupun sekolahnya milik Zack kakek anaya.


.


.


"Naya tunggu!" panggil seorang laki-laki yang suaranya tak asing ditelinganya, Anaya menghiraukannya memilih melanjutkan jalannya.


'ya ampun!, gue hantu apa sampai kabur gitu gue panggil.' batin Regan.


"Anaya tunggu!" panggil Regan meninggikan suaranya. Seketika Anaya berhenti dan berbalik menghadap Regan yang tiba tiba sudah berada di hadapannya.


"Hm?"


"Cuek amat si, orang panggil jawabnya cuma hm, gak ada yang lain kek?"


"Gak terima request." balas Anaya datar.


Regan menangkup kedua pipi Anaya, dan kemudian mencubitnya.


"Gue-!" Anaya menghempaskan tangan Regan ke kutub Utara, eh berjanda kali. Serius amat.


"Lagian, gak boleh jutek pagi pagi gini"


"Senyum dong." pintanya Regan. Sejauh ini hanya Regan yang berani melakukannya, jika orang lain sudah dipotong mungkin tangannya.


"Kaya lo murah senyum aja." balas Anaya masih dengan wajah datar nya.


"Aku murah senyum kok, tapi ke kamu." balas Regan sambil mengedipkan matanya.


"Gak lucu." setelah itu Anaya meninggalkan Regan, jika terus bersamanya maka Ida akan dibuat dongkol dan darah tinggi pagi pagi seperti ini.


'kalo aku gak bisa buat kamu tersenyum, aku bisa buat kamu dongkol. Biar itu wajah berguna. Kalo gak senyum marah kan bisa.' batin Regan. Senyum jahil terbit, siap menaikkan darah Anaya yang sepertinya datar datar saja setiap harinya.


"Mau kemana?" Anaya menghentikan langkahnya saat tangannya berhasil diraih oleh Regan.


"Kelas" jawabnya singkat.


"Iya, tapi aku gak bisa ikut. Pak Robi panggil aku keruang guru." Ucap Regan tersenyum.


"Yaudah sana, gue gak minta temenin kan?" sewot Anaya.

__ADS_1


Seperkian detik kemudian.


"Kok masih disini? Gak jadi?" Anaya naikkan sebelah alisnya.


"Jadi." jawab Regan sambil tersenyum jahil. Anaya merasakan Regan akan menjahilinya.


"Terus?" Tanya Anaya waspada.


Regan menurunkan kepalanya dan membisikkan sesuatu di telinga Anaya.


"Lo nyadar gak?, Dari tadi anak anak liat kita. Lo si berhentinya di banyak anak anak." Bisik Regan. Seketika Anaya langsung mengedarkan pandangannya melihat sekeliling dan benar saja semua atensi murid tertuju kepada mereka berdua.


Salah Anaya tidak memperhatikan sekeliling dan berhenti di keramaian murid saat Regan menghentikannya.


Anaya langsung melemparkan tatapan kesal kepada Regan, sedangkan Regan saat ini tertawa jahil melihat wajah Anaya yang kesal.


Sudah cukup ia dibuat darah tinggi oleh Regan, Anaya memutuskan untuk pergi ke kelas saja.


Sampai dikelas Anaya langsung duduk manis, membuka buku dan membacanya. Teman teman sekelas Anaya rata rata semua pendiam terutama Anaya. Ia terus berjalan menelusuri setiap kata yang tertata rapi dibuku itu sampai akhirnya bel masuk tiba. Anaya segera menghentikan aktifitasnya.


Bel istirahat berbunyi, Anaya mengedarkan pandangannya kearah tempat duduk Regan. Terlihat disitu Regan sedang membereskan buku bukunya.


"Ayo!" ajak Regan yang sejak kapan berada di sebelahnya.


"Kemana?" Anaya melirik malas.


"Panti jompo." jawab Regan asal. Sudah tau ini waktu istirahat masih nanya. Regan menghembuskan nafasnya pelan.


"Ngapain?" Anaya menaikkan sebelah alisnya, ngapain juga ni satu spesies ngajakin ke panti jompo.


"Beli makanan." Regan menjawabnya asal lagi.


"Sengklek, mana ada orang jual makanan di panti jompo." heran Anaya.


"Gak jadi, ayok ke kantin." Ajak Regan.


"Males." tolak Anaya. Tanpa ba-bi-bu lagi Regan langsung menarik tangan Anaya menuju kantin sekolah, untung masih tinggal 1 meja untuk mereka berdua.


"Mau makan apa?" Regan meraih buku daftar makanan dan minuman.


"Gak!"


"Kenapa?" Tanya regan.


"Kenyang!"


"Naya."


"Apa?"


"Mau makan apa?"


"Enggak Regan Tamara!" Tolak Anaya.


"Beneran?" Tanya regan memastikan. Anaya mengangguk.


"Tadi gue denger perut lo bunyi, masa gak laper?" Pasrah pasrah kalau sudah begini, Anaya tak bisa memungkiri apa yang dikatakan regan namun ia malas untuk makan.


"E-nggak. Kok." sudah pasti Anaya mengelak! Jelas jelas Regan tadi dengar suara gemuruh dalam perut.


"Laper pasti." kekeuh nya.


"Kemana saat pelajaran IPA waktu SMP? Perut gemuruh itu bukan tanda lapar, tapi kurang minum."


"Gue pesen makanan dulu biar lo kenyang." Anaya mendengus sebal, Regan tak mendengarkannya.


"Lo dengerin gue gak sih re?!"


Regan mendekat hingga jarak antara wajah mereka berdua bisa terhitung 15 cm. "Gue denger, setiap kalimat, kata dan huruf."


Setelah itu Regan beranjak untuk membeli makanan di kios kantin, sedangkan Anaya pasrah menunggu Regan tiba, mau menolak bagaimanapun jika Regan sudah tau jika Anaya lapar maka dia akan terus memaksa.


Bukan karena Regan tak tau hal itu, Regan hafal betul Anaya makan dirumahnya sangat sedikit dan alasannya sudah Regan paham betul.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum Hai temen temen, udah sampai di penghujung part aja. Hehehehe, kalo gitu sampe sini aja dulu cerita Anaya. Untuk kelanjutannya tunggu aku update ya temen temen.


.


.


Kalo kalian suka boleh lah vote sama komennya, dan satu lagi kalau ada typo tolong komen. ✌️


.


.


Sebenernya aku udah lama nulis cerita ini kalo ga salah 6 bulan yang lalu tapi baru berani update sekarang.


.


Dan satu lagi, makasi buat temen temen yang udah mau baca cerita aku😘, sehat selalu kalian 🥰.


.


.


Oke gitu aja, sampai ketemu di part selanjutnya ya. Babay 🖐️


.


.


.


18 Desember 2021

__ADS_1


(Tanggal nulisnya.)


Tapi masih ada yang aku perbaiki dikit dikit hehe biar lebih baik aja.


__ADS_2