
Assalamualaikum temen temen, apa kabar kalian semua??, Semoga selalu sehat ya. Alhamdulillah aku udah selesai in bab 2, dan aku up hari ini juga.
.
.
Oya gimana menurut kalian cerita aku di bab pertama?.
Maaf ya temen temen kalau cerita yang aku buat gak sesuai ekspektasi kalian, tapi aku bakalan berusaha supaya cerita aku lebih hidup dan menarik. Oke gitu aja yang pengen aku sampai in.
.
.
Come on kita ke bab 2.....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Udah?" Tanya Regan memastikan Anaya sudah menghabiskan makanannya atau belum. Anaya mengangguk.
"Gue bayar dulu, jangan tinggalin gue." peringatnya.
Regan kemudian beranjak, dan Anaya masih duduk manis ditempatnya dengan perut kenyang. Seperti yang Regan bilang ia duduk menunggu Regan datang. Biasanya Anaya akan selalu meninggalkannya, lagi pula ia tak suka menunggu. Dan kalau kenapa sekarang Anaya menunggu Regan, sudah pasti ada alasannya.
"Ayo." Regan datang dan mengajak Anaya.
"Ikut gue." Anaya berdiri, Anaya mulai meluncurkan rencana jahilnya.
"Kemana?" Tanya Regan.
"Ke loker ambil jaket." jawabnya.
"Terus kemana lagi?" Tanya Regan sekali lagi.
"Koperasi" jawabnya singkat.
"Ngapain?" Tanya Regan.
"Nyari buaya." jawabnya asal.
"Yaudah ayo, gue saranin kalo mau cari buaya bukan di koperasi. Cari di kelas 12, banyak malah." usul Regan, niat hati Anaya ingin membuat Regan kesal malah dirinya yang kesal.
"Udah ayo!" Anaya melangkah keluar kantin menuju loker. Sudah cukup ia dibuat dongkol dari tadi pagi, sekarang ia harus membalas Regan.
Mereka berjalan berdampingan menuju loker tujuan pertama mereka, tak sedikit pasang mata yang melihat mereka. Sesampainya di loker para siswi ia mengambil jaket denim yang ia simpan didalamnya.
"Lo sakit?" Tanya Regan segera melihat Anaya mengambil jaket dan memakainya. Anaya menggeleng.
"Terus?"
"gak papa." Anaya menarik tangan Regan menyeretnya kedepan koperasi sekolah.
Sampai di depan koperasi Anaya mulai meluncurkan rencananya.
"Lo mau gue ngapain?" telunjuk Regan terulur menunjuk Anaya kemudian dirinya.
Anaya mendekat, berjinjit untuk sampai ke telinga Regan. "Beneran?" tanya Regan memastikan.
"Iya, kan gue udah janji" balas Regan. Anaya tersenyum licik. Anaya berjinjit dan membisikkan sesuatu ditelinga Regan, membuat sang empu langsung melotot, untung saja itu mata tidak loncat keluar.
"L-lo serius nay?" Tanya Regan mulai khawatir, puas Anaya puas melihat wajah panik regan.
"Muka gue bercanda?. Makanya gue ambil jaket."
"T-tapi." Regan mengusap wajahnya gusar. Anaya tersenyum melihat ke frustasi an Regan.
"Kalo gak mau, gue ke kelas." Anaya memasang wajah datar. Anaya sudah melangkah 2 langkah sebelum akhirnya Regan mengheningkan nya.
"Iya." ucap Regan mantap.
"Ya?"
"Gue udah janji dan gue gak bakal ingkari janji gue. Apalagi itu untuk Lo." ucap Regan sok keren.
"Dih, tadi melotot sampe mau keluar itu kornea."
"Yaudah sana! sana beli!" suruh Anaya menahan tawanya.
"Iya." Regan masuk ke koprasi, disana ada dua guru yang berjaga. Mati dia bagaimana ia membeli apa yang Anaya minta.
"Permisi Bu."
"Iya nak, mau beli apa?" tanya guru yang sudah berumur 40 nan itu.
"Itu, yang di pakai perempuan." jawab Regan konyol.
"Eh, maksudnya nak?"
"Yang dipakai perempuan banyak nak." lanjut guru itu.
"Oh iya, saya ingat. Roti!"
"Roti?, Pembalut?" Tanya guru itu mulai tertawa.
"I-ya."
"Bilang dari tadi kek, ini." guru itu memberikan sekantong kresek barang yang diminta Regan.
Regan keluar dengan wajah lesu, membuat Anaya tak bisa menahan tawanya lagi.
"Kenapa?" tanya Regan polos.
"Enggak, mana itu!" Regan memberikan kantong kresek yang ia pegang.
'walau dengan cara seperti ini, gue akan buat lo tertawa nay walau hanya sebentar. Luka di hati lo harus sembuh dan lo bisa keluar dalam lingkaran dendam.' batin Regan.
Regan tau apa yang Anaya rencanakan setelah Anaya membisikkan sesuatu ditelinga ya tadi. Regan juga ikut tersenyum tanpa Anaya sadari, 'ini, ini yang telah lama hilang dari lo nay. Senyum dan tawa lo nay.' batinnya.
'gue akan terus ada disamping lo, buat lo tertawa. Dan gue akan bantu lo ngambil kembali kasih sayang om Davide dan Tante Cyra' batin Regan.
'seandainya lo amnesia bentar aja dan sikap lo kembali lagi kaya dulu nay.'
'eh iya, apa Anaya tadi amnesia? Kok dia ketawa. Sampe lupa gue kalo tadi Anaya ketawa.' Regan tak berhenti berbicara sendiri dengan pikirannya.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju kelas, mereka di sepanjang jalan menuju kelas Anaya tak hentinya tertawa dalam hati mengingat kata kata Regan tadi di koprasi.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi, itu tandanya semua pelajaran hari ini telah usai dan akan mulai lagi besok pagi.
Anaya berjalan di lorong yang sepi, dibelakangnya ada laki laki yang mengekorinya siapa lagi kalau bukan Regan.
Manusia yang selalu membuatnya kesal, bahkan tensinya bisa naik jika sehari full bersama Regan. Untung dirumahnya tak ada Regan.
"Naya!" panggil Regan.
"Hm."
"Masih marah?" Tanya Regan.
"Gak!"
Hari ini adalah hari paling menyebalkan bagi Anaya, siapa lagi biang kerok nya jika bukan Regan!
Suruh siapa tadi Regan mengambil semua pulpen angsa milik Anaya, dan Regan menyembunyikan semua isi pulpen Anaya.
Akibatnya Anaya tak bisa menulis tadi. Untung otaknya encer jadi semua jadi soal di papan tulis bisa langsung ia jawab di depan.
"Naya!" panggil Regan sekali lagi.
"Apa!" jawab Anaya berbalik dengan tatapan tajamnya.
"Seloww seloww." setelah dilemparkan tatapan tajam oleh Anaya. Nyali Regan menciut sebentar. Salah Regan sendiri mengambil barang kesayangan Anaya.
"Aku beliin yang baru" ucap Regan berusaha membujuk Anaya agar tak marah padanya.
"Gak!" jawab Anaya sewot.
"Yakin?, Padahal aku mau beliin kamu pulpen, penghapus, penggaris, buku, boneka dan banyak lagi."
Anaya terdiam sejenak, koleksi pulpen angsa nya akan bertambah. 'Di tolak enggak ya' batin Anaya.
"Yaudah." jawab Anaya.
__ADS_1
"Yaudah apa?" Tanya Regan.
"Katanya gamau." lanjutnya.
"Bisa gak, lo gausah jadi orang menyebalkan sehariii!!!! Aja!" Kekesalan Anaya di ubun ubun. Kenapa ada spesies seperti Regan ini, katanya dingin cuek dan apalah itu tapi nyatanya bohong sekali!!
"Gue kan bercanda."
"Iya nanti gu-" belum sempat Regan melanjutkan kalimatnya Anaya membanting pintu mobilnya dengan keras dan melaju keluar parkir sekolah.
"Gue yakin sampe besok dia puasa ngomong." Regan geleng geleng.
"Ada bener nya juga. kata orang orang gue cool, dingin, cuek. Tapi kenapa ke Anaya, gue cerewet, nyebelin, terus bisa cosplay kayak topeng monyet?" tanya nya pada dirinya sendiri, kemudian juga memasuki mobil sport warna hijau miliknya.
Umur Regan dan Anaya terpaut 1 tahun, Regan kini berumur 17 tahun, sedangkan Anaya berumur 16 tahun.
.
.
Malam hari* Mansion Keluarga Willson
18.15
Drrrrhttttt. Dering suara handphone Anaya berbunyi.
Regan Gila. Nama tertulis di panggilan masuk itu Anaya menjawabnya.
"Hallo." Suara bariton Regan diseberang sana, yang menurut ciwi ciwi itu mengagumkan tapi tidak untuk Anaya.
"Hm."
"Siap siap, gue jemput sekarang." perintah regan.
"Gak." tolak Anaya.
"Gaada penolakan."
"Siapa lo maksa gue?" Anaya paling tidak suka jika dipaksa.
"Gue gak bermaksud, gue mau beliin Lo pulpen, pencil, penghapus, buku angsa. Masa lo gak ikut?" jelas Regan.
"Oh." jawaban yang muncul dari bibir Anaya.
"Yaudah sana siap siap Naya." setelah mengatakan itu Regan mematikan sambungan teleponnya.
Anaya berpikir sejenak. Ikut enggak ya? Setelah berpikir sejenak ia memutuskan untuk ikut.
Karena mamah dan papah nya tidak ada dirumah jadi Anaya tidak perlu untuk ijin ke siapapun.
Beberapa menit kemudian Anaya sudah rapi dengan dress warna biru muda, rambut digerai indah dengan aksesoris mutiara menghiasi rambutnya. Jangan lupakan make up tipis yang menghiasi wajahnya menambah kecantikan Anaya.
Anaya duduk di sofa besar ruang tamu yang begitu megah nan mewah. Ya ini adalah Mansion keluarga Willson.
Ting tong... Suara bell menggema di dalam mansion. Setelah itu seorang pelayan terburu buru hendak ke pintu utama.
"Tunggu." seketika pelayan itu berhenti.
"Kenapa non?" Tanya pelayan itu menunduk.
"Saya yang buka."
"T-api non, ini udah tugas bibi."
"Bibi kebelakang, ambil makanan dan minuman. Ini tamu saya" ucap Anaya datar.
"B-baik non" kemudian pelayan itu langsung bergegas pergi.
"Masyaallah" kagum Regan setelah ia berbalik menghadap pintu ternyata Anaya sudah berada di belakang nya.
Anaya menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu yakin mau ke mall gini?" Tanya Regan memastikan. Anaya hanya mengangguk.
"Gue takut nay."
"Kenapa? Gue kayak hantu?" Anaya dibuat bingung oleh kata kata Regan.
"Takut lo diculik orang." Anaya menaikkan sebelah alisnya.
"Tadi lo dandan pake kaca?" Tanya Regan lagi.
"Gak pake." jawab Anaya mulai sebal.
"Oh pantes, cantiknya kelewatan."
"Kok lo bisa se-"
"Tanya lagi, gue jahit mulut Lo." geram Anaya makin lama Regan semakin menjadi ni spesies. Ohh bagaimana cara membuat satu spesies ini agar terdiam.
Mulut Regan hendak menanyakan sesuatu lagi, diurungkan secepat kilat sebab mendapat tatapan tajam dari Anaya.
"Gak jadi." Regan malah nyelonong masuk kedalam.
Anaya sudah sangat sebal, udah ngomong berbelit Belit malah ditinggal masuk.
Pengen aja main lompat tali pakai usus Regan seru kali ya.
Anaya menyusul Regan yang tengah duduk disofa.
"Lo gak dateng saat pembagian tata Krama?" tanya Anaya ikut duduk di sofa.
"Gue tidur, gak dibangunin sama mami." jawabnya enteng.
Anaya mengangguk ngangguk, "Oh, pantes minus akhlak."
"Makasi." Jawab Regan.
"Ini non, Aden makanan nya. Silahkan dimakan dan diminum atuh." dua orang pelayan datang dengan makanan dan minuman.
"Makasih." ucap Anaya.
"Iya sama sama. Bibi permisi den, non." Kedua pelayanan itu kemudian pergi.
"Naya lo tau gak?" Tanya Regan.
"Gak."
"Ya gak tau lah, kan gue belum ngomong." Ucap Regan.
"Lo belum cerita ngapain nanya!"
"Iya juga si." Regan menyengir, sepertinya Regan menyogok, Anaya heran Regan bisa masuk sepuluh besar di SMA Antariksa.
"Gue nemuin informasi tentang orang itu. Dia ada di Indonesia." Jelas Regan.
"Hm." Jawab Anaya.
"Kok hm. Yang lain dong."
"Emang lo ada request?." jawab Anaya datar.
"Emang lo terima request?"
"Gue minta kah?"
"Tadi-"
"Shut lo salah, gue cuma tanya. Gue gak buka dan gak terima request apapun."
Selesai memakan hidangan yang diberikan mereka berdua bergegas untuk berangkat ke mall.
Anaya dan Regan berjalan menyusuri mall, mereka menjadi pusat perhatian banyak orang, tak sedikit orang yang menganggap mereka berpacaran.
"Lama." satu kata keluar dari mulut Anaya, yang membuat Regan seketika menoleh.
"Kenapa?" Tanya Regan melihat Anaya wajahnya sudah datarrr sekali. Anaya ikut menoleh kearah Regan tapi ia tak menanggapi Regan.
"Mana pulpen nya?" Tanya Anaya dengan wajah yang sudah mulai kesal.
"Ya ini lagi cari Naya." Jawab Regan sambil melihat deretan pulpen cantik cantik di depannya.
"Di shoope ada." Mendengan ucapan Anaya, seketika Regan menoleh ke Anaya. Anaya bingung dan menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa lo gak bilang dari tadi, tau gitu gue kosongin tokonya." Regan menepuk jidatnya, sudah hampir 2 jam berdiri di mall hanya mencari alat tulis berbentuk angsa, yang benar saja!
"Orang sombong nanti jelek." ucap Anaya.
"Secara tidak langsung dan virtual, Lo bilang gue ganteng?" Regan menyugar rambutnya yang memang cool, tapi tidak bagi Anaya. Kasian, udah tampil Cool tapi bagi Anaya Regan hanya spesies manusia yang tak lebih dari kata menyebalkan!
"Pede. Udah cepet!"
"Cuma beli ini doang?" Tanya Regan kepada Anaya sambil mengangkat 2 boneka angsa lucu yang tadi Anaya pilih.
"Iya, pulpen sama lainnya beli di shoope." Setelah mengucapkan itu Anaya pergi meninggalkan Regan sendiri.
"Astaghfirullah, sabarr." Regan mengusap ngusap dadanya.
"Udah?" tanya Anaya melihat Regan datang dengan dua bonekanya dan hendak memasukkannya kedalam mobil.
"Iya."
"Yaudah ayo pulang." Ajak Anaya.
__ADS_1
"Iya iya."
Anaya Masih teringat ingat akan kejadian dahulu itu sebabnya Anaya tak mau berlama lama di mall.
Sampai di mansion Anaya, mereka berdua turun dari mobil sport Regan.
"Masuk dulu." Ajak Anaya.
"Eh, enggak deh. makasi." Tolak Regan belagu agar ditawari masuk lagi oleh Anaya.
"Gausah basa basi."
"Siapa yang basa basi. Beneran gak usah." tolak Regan.
"Kalo mau, masuk. Kalo enggak, buruan pulang." ketus Anaya.
"Yaudah iya." Regan berjalan didepan Anaya dengan wajah kesal.
"Pake gak mau segala." Anaya mendengus.
"Bik." Panggil Anaya dari ruang tamu. Seperkian detik kemudian, sua orang pelayan datang tergesa gesa.
"Iya non, ada apa?" Tanya salah satu pelayan.
"Tolong ambil makanan, dan minuman ya." Perintah Anaya.
"B-baik non." Kedua pelayan itu kemudian pergi.
"Lo gak nanya gue mau minum apa?" Kata Regan sambil ambil alih duduk disamping Anaya.
"Gak."
"Bisa aja gue pengen minum es, atau jus atau lainnya kan." kata Regan. 'mulai! mulai hal yang tidakkk berguna Regan bicarakan.' batin Anaya.
"Air aki? Comberan? Aquarium?" Tanya Anaya jutek.
"Air ****** boleh juga." usul Regan, sambil menyilang kan kakinya.
"Oke." Anaya hendak beranjak, namun ditarik duduk lagi oleh Regan.
"Bercanda, serius amat."
"Yang sebenernya haru jutek itu gue, lama lama di mall gak bilang dari tadi. Tau gitu gue gak bawa lo kesana." Regan mengoceh, bukan masalah ia harus berkeliling lama. Melainkan sahabatnya satu ini takut trauma, dan akan kembali mengingat masa lalu.
Anaya tak menjawab, membiarkan laki laki disampingnya ini mengoceh, toh nanti kalau capek berhenti sendiri.
"Udah?" Anya menoleh melihat ragam yang sudah berhenti mengoceh.
"Udah." jawab Regan.
"Mau nambah?"
"Mau."
"Lanjutin, tapi gue mau tidur di kamar."
'Ngapain nawarin kalau ujung ujungnya gak setuju? Regan Lo ganteng, orang ganteng kalau sabar, tambah ganteng. Oke.' batinnya.
"Ini non, den." Tiga pelayan datang membawa makanan dan minuman.
"Makan gausah basa basi. Lagian gue juga laper gak diajak makan tadi sama lo. Biasanya maksa ngajak makan, giliran laper beneran gak diajak." Regan menoleh, impresif! Bisa Regan hitung lebih dari 15 kata? Bahkan 20 kata? Wah wah suatu pencapaian bagus Regan. Pertahankan!
Biar mulut Anaya ada gunanya, masa digunain cuma diem diem dan diem doang.
"Kenapa lo?" Tanya Anaya.
"Ya, maaf. Gue khawatir ke lo, soalnya tadi lo diem aja, jadi gue buru buru buat bawa lo pulang."
'lanjutkan Regan buat Anaya kesal selalu 1 persatu nanti bicara Anaya akan panjang lebar. Biar walaupun lo harus di katain terus. Buat hatinya lebih hidup, keluarkan dia dari dunia gelapnya.' batin Regan.
Mereka berdua memakan makanan yang ada di meja, mereka berdua makan dengan lahap, meminum minuman dan terakhir mereka bersandar bersama di sofa abu abu besar di ruang tamu.
"Alhamdulillah, kenyang. Nikmatnya." Ucap Regan.
"Naya, perut lo udah kayak orang hamil aja blendung, lagian siapa suruh lo makan kebanyakan." Seketika Anaya langsung menoleh, apa Regan bilang blendung? Perut nya rata dibilang Blendung waduh parah! min Regan makin hari makin bertambah.
Dan apa lagi kata Regan tadi makan banyak, oh tidak regan tak tau diri, dia menghabiskan dua piring sekaligus.
Regan hendak berdiri sebelum pertanyaan Anaya menghentikannya. "Mau kemana?"
"Cie takut gue pulang ya." ledek Regan.
"Baru juga gue mau usir lo."
"Bercanda nay, gue mau ambil iPad gue dimobil ketinggalan. Bosen gue diem gini, lebih baik kan lukis lo." Regan mengedipkan sebelah matanya.
Anaya tak merespon, regan langsung melenggang keluar untuk mengambil ipad nya, ia datang kembali dengan sebuah kotak hitam besar dengan pita pink.
"Duarrrr!!!" Regan mengagetkan Anaya, tapi hebatnya Anaya tidak terkejut sama sekali.
Anaya menoleh, "Basi."
Regan duduk disebelah Anaya menaruh kotak hitam itu diatas meja. Menyuruh Anaya untuk menutup mata.
"Tutup mata Naya." Suruh Regan.
"Gak. lo gak pinter surprise."
"Apa susahnya sih tinggal tutup mata doang." Tangan kekar Regan menutup mata Anaya, langsung saja Anaya menghempaskan tangan kekar Regan yang dihiasi cincin silver bertuliskan R di jari kelingkingnya.
"Gausah, cari pacar sana kalau surprise surprise an!" sewotnya.
"Udah, diem Naya. Nurut napa." Regan kembali menutup mata Anaya dengan kain hitam yang sudah ia sediakan tadi.
Anaya menurut, menunggu sahabatnya ini menyuruhnya untuk membuka penutup mata ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen yey. Udah di penghujung nihhhhh....
.
.
Regan sabar amat ya, perhatian lagi. tapi dia juga nyebelin. Kadang aku yang nulis suka sebel sama Regan. Wkwkwkk.
.
.
Next gak nihh???.
Komen dong.
.
.
See you next part babayyyy.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
17 Maret 2022
(Tuh kan lama dari jarak bab sebelumnya, karena emang aku tinggalin cerita ini waktu itu. Tapi aku come back dan lanjutin cerita ini hihihi.)
__ADS_1
Tapi udah aku poles ulang kok, dibetulin para typoo nya. Dan hilangin beberapa yang tidak penting.