
Assalamualaikum temen temen, seneng banget udah sampe bab 3. Aku gak bosen bosen sapa kalian, walau yang baca sama komen dikit. Berusaha siapa tau nanti ada rezeki para pembaca banjir vote sama komen buat Nana.✨🌼
.
.
Udah siap belum kelanjutan devil In Sorrow???
.
.
Yuk langsung scroll aja ke bawah!!🔥🔥
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya setelah menutup mata seperti keinginan Regan, Regan segera bergegas membuka kotak hitam itu dan mengeluarkan semua isinya. Mulai dari pulpen, penghapus, penggaris buku, notebook, sketchbook, tas dan lainnya yang bernuansa angsa.
Tak ingin Anaya berubah pikiran, Regan sesegera mungkin menyiapkan semua itu.
Setelah dirasa selesai Regan beralih ke Anaya yang tengah menunggu, perlahan Regan membuka ikatan dikepala Anaya dengan tangannya.
"Taraa. Surprise!!" Ucap Regan bersemangat.
Anaya yang masih takjub dipenglihatannya. Semua yang ia mau ada disini, kapan manusia menyebalkan ini beli untuknya, ahh sudah Anaya tidak mau dibuat pusing untuk itu.
"Thanks." Satu kata berasal dari bibir Anaya. Kini angsa angsanya sudah kembali awas saja jika Regan kembali mengusilinya.
Regan tersenyum meski Anaya tidak terkejut, walau dia tidak heboh. Namun Regan bisa melihat tersirat kebahagiaan dimata Anaya walau hanya sedikit. Setidaknya dia bisa membuat Anaya bahagia walau hanya sedikit.
"Lo nyuri?" Tanya Anaya.
"Jahat lo, mana ada sultan nyuri."
"Dari mana?, tadi bingung mau cari di shoope. Kenapa ada?"
"Kayak gak tau gue aja lo, apapun gue lakukan demi lo Naya." Ucap Regan.
"Lo katanya. Anak buah lo kali."
"Yah kan sama aja."
"Terserah."
Anaya perlahan melihat apa saja yang ada didepannya, bagus dan lucu dua kata yang mewakili semua barang yang ada didepannya.
"Makasihnya mana?" Tanya Regan.
Anaya menoleh, "Gaada pengulangan." Setelah itu Anaya mengambil tas putih silikon dengan bentuk angsa. Lucu Anaya menyukainya, tapi kesukaannya hanya boleh diketahui orang orang terdekatnya.
Notice : (menurut Anaya Regan bukan orang terdekatnya namun Regan lah yang sok dekat, yang membuat mereka menjadi dekat. Tapi akhirnya Regan sudah Anaya anggap sebagai kakak nya yah, walau menyebalkan!
Regan tersenyum, ia melirik jam ditangannya. Sudah jam 11 malam? Semalam itukah dari tadi ia bersama Anaya berbicara?, Lebih tepatnya Regan yang memancing dulu agar Anaya mau berbicara.
"Gue pulang dulu, kalau kangen nanti telfon gue." Ucap Regan sembari berdiri.
Melihat Regan yang berpamitan pulang Anaya melihat jam dinding besar diruang tamu, sudah jam 11 apa mereka selama itu berbicara. Oh sudahlah jika Regan dihentikan untuk pulang cowok ini pasti langsung besar kepala.
"Pulang aja."
"Gue pamit ya, jaga diri lo jangan tidur malam malam." Anaya mengangguk kecil.
Dalam hati Regan, 'gua akan bawa kembali, senyuman yang hilang dari lo Naya.'
"Hati hati." Regan menoleh mendengar ucapan Anaya, kemudian dia mengisyaratkan iya.
Anaya melihat dari teras, mobil Regan sudah keluar dari pagar mansion nya. Anaya masuk kembali, dan hanya ada kesepian di rumah ini. Kegelapan di kamar Anaya, dan kesunyian selalu menyelimuti nya.
Anaya masuk ke kamarnya, dengan nuansa abu abu. Membaringkan tubuhnya yang lelah, lelah dengan semua ini. Dimana ia ada namun dianggap tidak ada oleh keluarganya. Jangan ditanya sakit itulah yang dirasakan Anaya, namun Anaya berusaha menemukan pembunuh kakak kembarnya, agar dia tenang walau keluarganya tidak akan pernah menganggapnya.
Hanya ibu nya yang perlahan mulai dekat kembali dengan Anaya, namun masih seperti dulu. Ibu dan ayah Anaya selalu meninggalkannya saat setelah ia pulang sekolah, entah untuk urusan pekerjaan dan lainnya.
Sehingga waktu untuk bersama kedua orang tuanya sangatlah sedikit, jika ia bertemu hanya saat waktu bangun dan berangkat sekolah saja. Bagaimana jika di meja makan? Semua akan seperti tidak ada manusia, saling diam dan fokus ke makanannya masing masing.
Perlahan mata lentik Anaya terasa sangat berat, kemudian perlahan tapi pasti ia menutupnya. Membiarkan ia tidur ditemani dengan dinginnya malam dan gelapnya kamar diselimuti kesunyian.
Selang setengah jam Anaya terbangun mendengar suara dering hp nya, Anaya bangun dan melihat hpnya yang menyala karena panggilan dari nomer Regan.
"Hallo, benar ini dengan saudara Anaya?" Tanya seorang di sana.
"Benar, ini siapa?"
"Saya dari pihak kepolisian. ingin memberitahukan, bahwa saudara Regan mengalami kecelakaan." Hampir saja Anaya menjatuhkan hpnya tapi ia ingat jika terjatuh maka dia tidak akan tau dimana Regan sekarang.
"Korban sudah kami bawa kerumah sakit ______ mohon untuk menemui korban. Kami akan selidiki penyebab terjadinya kecelakaan ini." Lanjut polisi itu.
"Baik saya segera kesana." Anaya mematikan sambungannya, mengganti bajunya dengan celana training hitam dan kaos hitam, mengikat kuda rambut hitam legamnya, dan mengenakan topi hitam tak lupa pula ia membawa kacamata dan masker hitam semua serba hitam.
Karena Anaya tak punya alasan untuk menyukai warna selain hitam, di hidupnya saja tidak ada warna yang ada hanya kegelapan, kesendirian, kesunyian. Itulah mengapa Anaya menyukai warna hitam tak berwarna seperti hidupnya.
Anaya mengambil hp, dan ipadnya. Kemudian menyambar salah satu kunci dari jejeran kunci mobil yang tertata rapi disitu. Keluar membanting pintu kamarnya. Ia hendak membuka pintu utama dengan sidik jarinya sebelum suara menghentikannya.
"Mau kemana?" Tanya seseorang, suaranya sangat Anaya kenali yah suara papahnya.
Anaya tak menjawab.
"Mau kemana!" Papahnya mengeraskan suaranya. Entah sejak kapan papahnya datang ke sini, biasanya akan pulang jam 3 atau jam 4 dini hari.
"Penting buat papah tau?" Anaya melanjutkan langkahnya meninggalkan sosok papahnya yang marah terhadapnya.
Toh jika papahnya tau, dia tidak akan mengizinkan dia pergi. Mengekang Anaya sebagai hukuman dan tidak pernah memperdulikan bagaimana keadaannya. Sudah menjadi hal basi buat Anaya.
Anaya memasuki garasi mobil yang sangat luas, terlihat jejeran mobil mewah terparkir disana. Ia menekan kunci mobilnya dan pintu mobil sport nya terbuka keatas.
Anaya memasuki mobilnya dan segera berputar untuk keluar. Melajukan mobilnya dengan cepat membunyikan klakson saat didepan gerbang agar satpam membukakan pintu untuknya.
Anaya mengulang klakson nya membuat satpam yang tengah tertidur itu langsung kaget dan bergegas membukakan pagar untuk Anaya.
Anaya memberhentikan mobilnya didepan satpam itu. "Jika seperti ini lagi, ini adalah hari terakhir saya melihat kalian disini." tatapan Anaya gelap, ia marah kepada dirinya sendiri jika ia mencegah Regan pasti dia tidak akan kecelakaan.
"M-maaf non, saya tidak akan mengulanginya." gugup satpam itu.
Anaya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesegera mungkin ia melihat keadaan Regan. Ia khawatir dengan cowok itu, walau dia sangat menyebalkan tapi Anaya tidak ingin orang terdekatnya mengalami masalah karenanya.
Tak lama Anaya sampai dirumah sakit tempat Regan ditangani. Anaya langsung memasuki UGD dan mencari korban kecelakaan.
__ADS_1
"Sus, dimana korban kecelakaan atas nama Regan?."
"Oh atas nama Regan, baru saja dokter pindahin keruang VVIP diatas."
"Ruang VVIP berapa?" Tanya Anaya.
"Ruang inap VVIP 1 dilantai 4. Apakah Anda keluarga korban?" Tanya suster itu.
"Terimakasih, saya adiknya." Anaya kemudian melangkah pergi menuju ruangan Regan.
Anaya berdiri membeku didepan ruangan Regan, ia masih belum siap melihat Regan tapi ia harus tau bagaimana keadaan Regan sekarang.
"Anda keluarga korban?" Tanya polisi yang tengah berada di depan kamar Regan.
"Saya adiknya. Nanti akan saya kabari ke keluarga saya."
Anaya membuka pintu itu, dan memasukinya, terlihat Regan yang tengah berbaring diatas kasur dengan infus ditangannya, dengan kepala diperban dan alat bantu oksigen.
Dada Anaya seketika terasa sesak, tak tega melihat keadaan Regan. Semua tulangnya rasanya lemas, perlahan ia memberanikan diri mendekat duduk dikursi samping Regan.
Anaya memegang tangan Regan, kini ruangan ini sunyi hanya terdengar alat denyut jantung yang seperkian detik berbunyi.
Anaya menatap wajah Regan yang kini matanya tertutup, rasa bersalah lagi lagi menyelimutinya.
"Bangun re." Perlahan buliran bening jatuh dari pipi mulus Anaya.
"Maafin gue, karena gue lo kecelakaan. Andai gue cegah lo pulang, pasti gak akan begini." Anaya menangis tapi nada suaranya masih seperti biasa seperti buka orang menangis.
"Lo nyebelin, kenapa lo harus kecelakaan re. Katanya lo gak mau buat gue sedih, kenapa harus gini." Dalam hati kecil Anaya masih tersirat rasa sayang kepada orang orang terdekatnya, walau ia tutupi dengan diamnya.
"Lo harus bangun, siapa yang mau buat gue kesel kalau bukan lo." Anaya masih menangis.
"Lo harus ingat, meski lo sering buat gue kesel, dan gue marah bahkan ngumpat, gue gak bisa lihat lo begini re."
"Lucu ya, saat lo terbaring gini lo gak denger, gue malah ngomong terus."
"Lo harus bangun, jangan siksa gue dengan lo begini." Air mata Anaya terjatuh ke tangan Regan.
Jari kekar Regan yang di infus, bergerak sedikit. Anaya menolehkan kepalanya berharap apa yang ia rasakan tadi terjadi lagi. Ya tangan Regan bergerak lagi.
Anaya menyeka air matanya, bergegas memanggil dokter.
Dengan tergesa dokter pun memasuki ruangan Regan, dan memeriksa keadaan Regan.
"Bagaimana dok." Tanya Anaya.
"Kondisi pasien tidak terlalu parah, beberapa jam kedepan pasti dia akan sadar. Kalau begitu saya permisi." Dokter itu keluar, menyisakan Anaya yang duduk kembali disamping Regan.
"Gue tunggu lo sadar. awas lo sadarnya lama. Gue tinggal!" Anaya tertidur disamping Regan memegangi tangan Regan yang sedang di infus.
Regan merasakan tangannya basah, dan seperti ada yang menggenggam nya. Kepalanya sakit, dan dia perlahan membuka kelopak matanya, memperlihatkan Anaya yang tengah tertidur menunggunya.
Seulas senyum terlukis dibibir Regan, 'tunggu apa Anaya nangis? Terus kenapa gue basah?.' Akh sudahlah Regan sudah bahagia melihat Anaya yang khawatir kepadanya.
Regan mencoba menggerakkan tangannya, merasa tangan Regan bergerak anaya terbangun melihat kearah Regan yang menutup matanya. Disaat begini sempat sempatnya Regan mengusili Anaya.
"Kapan lo bangun.? Jangan tutup mata lo gue gak mau, liat lo kayak tadi." Anaya kembali meneteskan air mata, matanya sudah sangat sembab karena dari tadi dia tidak benar benar tidur. Melainkan memejamkan matanya dan menangis dalam dia.
Regan tersenyum dalam hati, ia ingin mengusili Anaya. Kapan lagi buat Anaya tegang. Regan melancarkan aksinya, menggerak gerakkan jarinya Anaya terkesiap dan berakting seolah sesak nafas.
Anaya yang melihat itu panik bukan main, Regan seperti orang asma. Klepek klepek seperti ikan di daratan.
"Re, Regan! Gak lucu!" Anaya panik tak kala Regan semakin membuat buat aktingnya.
"Dokterrr." Panggil Anaya keras, dia memanggil dokter tapi dokternya tak kunjung tiba. Anaya sangat panik melihat kondisi Regan yang masih klepek klepek seperti ikan.
Anaya yang panik menunggu dokter tak kunjung datang langsung memeluk Regan dengan derai air mata nya. "Re, jangan gini. Gue takut. lo jahat re."
Regan menghentikan aksinya tak menyangka Anaya akan menangis seperti ini, khawatir sekali Anaya dengannya.
Anaya masih memeluk Regan, disaat Anaya meredakan tangisannya ia merasa Regan baikan dan tidak klepek klepek seperti tadi.
"Naya." Panggil Regan, Anaya langsung mendongak dan menatap Regan yang membuka matanya.
Terlihat mata Anaya berbinar mendapati Regan yang telah membuka matanya. Anaya melepaskan pelukannya.
"Gue minta maaf." Ucap Regan.
"Gak, kenapa lo minta maaf."
"Gue-" Anaya menghentikan ucapan Regan dengan jari telunjuknya yang ia tempel dibibir Regan.
"Gue, gak mau denger apapun. gue lagi bahagia lo siuman, jadi tolong gausah dilanjutin."
"Lo khawatir?" Tanya Regan.
"Kalo lo sehat udah gue gulingin lo dari ranjang." Geram Anaya, Anaya yakin jika Regan ikut kontes jadi orang menyebalkan dia pasti menang.
'Disaat seperti ini masih bisa bertanya kamu khawatir yang benar saja! khawatir sekali malah.' batin Anaya.
'Tanpa lo jawab gue tau, lo sangat khawatir Naya. Disisi lain lo kejam, gak berperasaan, dingin cuek. Tapi disisi lain lo baik, penyayang tapi itu tertutup sama sikap cuek lo.' batin Regan.
"Peluk lagi, gue yakin besok gue sembuh." Otak Anaya seketika Paham, apa Regan tadi pura pura?? Tatapan menyelidik Anaya lemparkan kepada Regan.
"Gue pura pura tadi." Benar dugaannya, lagian kenapa Anaya langsung percaya tidak tau Regan saja.
Anaya mencubit lengan Regan. "Sakit Naya." ringis Regan.
"Biarin, gue khawatir lo mainin. untung gak gue cekik tadi." Ucap Anaya membuat Regan bergidik.
"Tapi sayang kan sama gue?" Tanya Regan.
"Sayang, lo kan abang gue." Seandainya Regan tidak selalu mengusili Anaya pasti Anaya tidak akan selalu kesal dengannya. Mereka berdua seperti adik kakak yang saling menyayangi satu sama lain.
"Sini." Regan mengangkat tubuhnya sedikit dan bergeser. Menepuk disebelahnya untuk membiarkan Anaya tidur disebelahnya.
"Gak." Tolak Anaya.
"Naya, gue gak macem macem. Cuma satu macem, gue mau lo tidur disini, Sini." Regan menepuk tempat disebelahnya.
Anaya berjalan menuju Regan, "Lo abang yang gue pungut." Mereka tertawa sebentar kemudian Anaya menuruti kemauan Regan.
Tidur disebelah Regan, Regan menatap Anaya lekat. Damai diwajah Anaya sangat terpancar, wajah nya berkali kali lipat sangat cantik saat ia tidur.
Keduanya pun tertidur, rasa lega dihati Anaya membuatnya sangat bahagia, Regan siuman.
Pagi hari Anaya terbangun, dia melihat kearah Regan yang masih tertidur, ia bertekad tidak akan mencueki Regan seperti dulu lagi. Regan sangat sabar menghadapi sifat Anaya. Anaya salut dengan Regan yang telah selalu menemaninya.
Anaya bangkit dan mengambil ipadnya. Membuka nomor dan mengirimkan pesan pada nomor itu.
.
.
Leader 💻
^^^Cari tau siapa penyebab kecelakaan regan.^^^
^^^⁰⁴.³⁶^^^
Baik, Queen..
⁰⁴.³⁶
__ADS_1
.
.
Anaya melihat kearah Regan yang masih tertidur pulas, jam masih menunjukkan setengah 5 pagi. Anaya segera menelepon kedua orang tua Regan tadi malam ia lupa, salahkan Regan jika ia lupa. Anaya dibuat panik sampai sampai ia lupa memberitahukan perihal Regan kepada mamahnya.
"Hallo Tante." Sapa Anaya di telfonnya.
"iya halo, Regan dari tadi malam belum pulang. dia sama kamu?"
"Regan kecelakaan Tante, tadi malam. Anaya lupa kasih tau Tante. Tante tenang karena Anaya yang jaga Regan." Ucap Anaya.
"Apa kecelakaan?, Gimana sekarang kondisi Regan?" Tanya mama Regan panik.
"Tadi malam sudah siuman, tapi sekarang masih tidur."
"Baik, Tante kesana Regan ada dirumah sakit apa ruang apa?" Tanya mama Regan.
"Rumah sakit_____ ruang VVIP 1 lantai 4 Tante." Jawab Anaya.
"Tante kesana sekarang, tunggu Tante."
"Iya, tante hati hati."
Ibu mana yang tak panik mendengar anaknya kecelakaan, sudah pasti panik kan. Itulah yang dirasakan mama Regan sekarang. Ia segera bergegas bersama suaminya kerumah sakit yang Anaya bilang tadi.
Ingin rasanya Anaya diperhatikan, dikhawatirkan seperti Regan, tapi apalah daya orang tuanya tidak memikirkan dan tidak mementingkan nya.
Regan perlahan membuka matanya menyadari Anaya tak ada disampingnya. "Naya." Panggil Regan.
"Naya." Panggilnya lagi.
"Apa?" Anaya mendekat kearah Regan yang sedang berbaring.
"Gak papa cuma nyari aja, takut lo jatuh kena tendang waktu gue tidur."
"Kalau gue jatuh berdiri, terus cabut tabung oksigen lo."
"Gaboleh gitu, gue kan baik. Jangan dijahatin dong."
"Biar cepet sembuh."
"Mati yang ada na."
"Lo laper?" Tanya Anaya.
"Lapar lah."
"Gue beli makanan, nanti gue balik lagi. Diem jangan banyak gerak, awas nanti gue datang lo berdiri." Ancam Anaya.
"Yaudah gue keluar dulu." Anaya menghilang dibalik pintu, saat Regan sakit Anaya sangat perhatian dan banyak omong tidak seperti biasanya. Sekarang Anaya agak cerewet. Regan tersenyum kecil mengingat kata kata panjang Anaya. Yang selama ini tak lebih dari 7 kata.
Anaya melajukan mobilnya membelah jalan yang masih agak sepi, ia membeli bubur, burger pizza, makanan ringan dan minuman. Tak lupa ia juga membelikan baju untuk Regan. Dia tak memakai baju, dan hanya memakai baju pasien pasti dia dingin.
"Totalnya enam ratus dua puluh kak." Ucap kasir itu, Anaya membeli makanan di mall.
Anaya mengambil ATM di dompet angsanya, memberikan kepada kasir itu.
"Maaf kak, isinya kosong." Anaya mengambil kembali ATM itu. Dan menggantinya dengan yang lainnya.
"Maaf kak ini juga kosong." Anaya geram pasti papah nya pelakunya, karena ia keluar tadi malam.
Anaya meletakkan blackcard itu dengan kesal dimeja kasir. Total ada 3 blackcard di dompetnya tapi sangat jarang ia gunakan.
"Ini kak, terimakasih sudah berbelanja di sini." Tak banyak bicara Anaya melangkahkan kakinya keluar dari mall.
Dirumah sakit mama Regan datang
PRANGKKKK!!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, kesel sama Regan situasinya kayak gitu sempet sempatnya usilin Anaya. Tapi gak papa Anaya udah agak cair ya.
.
.
Komen nextt!!.
.
.
Kalian gak papa teror aku di komen, kalau komen dan vote nya tembus 30 aku up pin. Secepatnya.
.
.
See you next part babayyyy.
.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
__ADS_1
19 Maret 2022
Publish 28 Desember 2022