
Assalamualaikum temen temen, Devil In Sorrow up lagi nihhh!!.
.
.
Oh iya. Jangan lupa tinggalin jejak, yuk langsung masuk ke bab 4.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Regan!" Pekik mamanya, mendapati tangan Regan berdarah, tadinya ia ingin minum namun ia malah tidak sengaja menyenggol gelasnya.
"Mami, kenapa kesini?"
"Mami tabok kamu!, ya liat kamu lah. Mami itu mami kamu, wajar dong mami khawatir. Oh iya Anaya tadi yang ngabarin mami." Bian ibu Regan, membantu putranya menyeka darah yang mengalir.
"Kemana Anaya? Kok kamu ditinggal." Tanya bian.
"Beli makanan buat anak tante." Anaya datang dengan tote bag agak besar ditangannya.
"Anaya, panggilkan dokter tangan Regan kena pecahan kaca." Suruh bian, Tanpa mengucap iya Anaya langsung keluar untuk menjemput dokternya.
Sementara itu Regan kesal terhadap maminya yang selalu semena mena terhadap Anaya, "mi, bisa lebih lembut gak nyuruhnya?"
"Gak bisa, emang dia siapa? harus mami lembutin." bian mendengus sebal. Regan menghembuskan nafas kasar.
Seorang dokter wanita yang sangat cantik datang, dia menjahit dan mengobati tangan Regan. Bian dibuat kagum dengan sosok dokter muda didepannya.
"Sudah, anak ibu jangan banyak gerak ya. soalnya kondisi anak ibu belum pulih." Ucap dokter itu.
"Iya dok, terimakasih ya. Oh iya nama dokter siapa?" Tanya bian.
Zahira tersenyum, "Zahira Buk."
"Kalau begitu saya permisi." Dokter cantik itu keluar. Anaya yang sedari tadi duduk menunggu kini berdiri.
"Ayo makan." Anaya hendak duduk disebelah Regan sebelum akhirnya bian merampas bubur itu dari tangannya.
"Tante aja yang suapin. kamu gak sekolah Anaya?" Tanya bian.
"Enggak, tadi udah ijin." Jawab Anaya.
"Ohh." Anaya duduk kembali di sofa, mengecek pesan yang terkirim oleh seseorang.
Leader 💻
Kami sudah menemukannya. Queen apakah kami harus menyiksanya dulu atau Queen sendiri yang ingin turun tangan?
⁰⁵.³⁸
Anaya mengetikkan sesuatu membalas pesan itu.
^^^Saya ke sana.^^^
^^^⁰⁷.⁰³^^^
"Tante, Regan. saya pamit sebentar."
Bian dan Regan menoleh, "mau kemana?" Tanya Regan.
"Biarin, paling cuma keluyuran." cibir bian.
Anaya tersenyum devil, 'untung mami Regan, kalau tidak sudah jadi daftar di buku saya.'
"Ada sesuatu. saya pamit tante Regan." Anaya keluar, membawa ipad nya ia sudah melacak alamat seseorang yang harus ia temui.
Anaya mengemudikan mobilnya ke tempat sepi, tepatnya jauh dari pemukiman, Anaya melihat beberapa orang tengah mabuk mabukan. Menenggak minuman alkohol yang sepertinya kata mereka enak sekali.
Anaya masih memantaunya dari jauh, kelompok pemabuk itu masih tak menyadari mobil Anaya dari kejauhan.
Anaya yang masih dengan baju serba hitamnya, memakai kembali topi, dan masker hitamnya. Rambutnya yang ia kuncir kuda membuatnya leluasa untuk bergerak tanpa harus merapi rapikan anak rambutnya.
Anaya berjalan mendekati segerombolan pemabuk itu, Anaya melihat mereka dengan tatapan amarah. Disisi lain orang suruhan Anaya menunggunya di tempat dekat dengan mobil Anaya.
"Wahhh... Cewek nihhh. Icip icip boleh kali." Kata salah satu pemabuk itu, sebenarnya hanya 3 sasaran Anaya, tapi jika mereka ingin menjadi bagian dari ketiga orang itu maka Anaya terima lapang dada.
Mereka mendekati Anaya, salah satu dari mereka hendak memegang pundak Anaya. Langsung ditepis oleh Anaya dan langsung memutar tangan pria gendut itu. Sapu tangan Anaya gunakan tidak ingin mengotori tangannya.
"Wahh, jago juga nih cewek. Gue taruhan kalau lo menang ambil ni cewek." Ucap salah satu dari mereka.
"Siapa takut, kecil ini mah."
"Gue juga mau coba kali bos!" protes salah satu dari mereka. Menurut kabar yang Anaya terima mereka adalah geng kecil yang membuat riuh berbagai tempat, mulai dari begal, tabrak lari, dan pemerkosaan yang mereka lakukan.
Karena memang tempat saat ini adalah tempat terpencil, mereka berpindah pindah dalam melakukan kejahatan. Baru setelah 2 bulan. Mereka akan beraksi kembali.
Satu persatu mereka maju menghajar Anaya, Anaya tentu saja bukan lawan mereka. Delapan orang telah Anaya tumbangkan kini sisa tiga orang. Anaya mendekati mereka, dan bersiul.
Anak buah Anaya segera mendatangi Anaya.
"Bereskan mereka. Lakukan sesuai rencana."
Delapan orang itu terkapar di tanah, babak belur mereka tak sadarkan diri.
"Baik Queen."
Mobil Anaya masuk ke sebuah bangunan besar yang terbengkalai, jangan salah itu hanya tampilan luarnya ruang bawah tanah dibangunan itu bagaikan tempat yang sangat kejam, dan mengerikan.
Anaya berdiri didepan tiga orang itu. Menatap mereka dengan senyuman, senyuman devil. Anaya akan menjadi pembantai yang siap membantai berapapun orang, jika sudah menyelakai orang orang terdekatnya.
Tiga orang itu sudah sadar dari pengaruh alkohol, mereka memberontak dan meminta dilepaskan.
"Lepaskan, saya gak punya salah sama bocil ingusan seperti kamu!." salah satu pria buncit itu memberontak.
"Kami gak punya salah sama kamu, ngapain kamu ikat kami seperti ini."
"Jika kalian tidak ingin di ikat, maka maju dan lawan saya." Anaya duduk di sofa hitam didepan ketiga orang itu.
"Perlu saya jelaskan apa kesalahan kalian?" Anaya bangkit dan membuka pisau kecil miliknya.
"Saya akan jelaskan, tapi per kalimatnya satu goresan." Anaya mendekati salah satu dari mereka.
"Kemarin malam, jam sebelas sembilan belas." Anaya mendekati pisau kecil tajamnya kearah lengan pria itu.
"Akhhhhhhh.." rintih pria itu.
"Mau lanjut?, menurut saya, saya harus lanjut karena kalian tidak tau diri. berbuat salah tapi tidak bertanggung jawab."
"Apa kalian ingat?, di jalan sepi dekat pabrik tahu terbengkalai itu. kalian ingat?" Anaya beralih ke pria satunya, dan ya Anaya melajukan pisau kecilnya secara perlahan di lengan pria itu.
"Akhhhhhhhhh... Sakitttt." Rintih pria itu, sedangkan pria satunya yang sudah Anaya gores dengan pisaunya masih merintih kesakitan. Karena goresan itu tidak terlalu dalam tapi hanya dipermukaan saja, seperti kita terkena gores kertas sakit sekali bukan.
"Kemarin malam, kalian tabrak seorang laki laki. Tapi kalian malah kabur. Tidak bantu dia kan?" Lagi lagi Anaya menggores satu pria yang belum Anaya gores. Rintihan demi rintihan keluar dari mulut ketiganya. Tak memuaskan Anaya dia kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa kalian tabrak?, kalian sudah tau, laki laki itu tidak punya salah dengan kalian, bahkan laki laki itu tidak mengenal kalian. kenapa kalian tabrak?!" bentak Anaya, auranya menggelap amarahnya tak bisa dibendung lagi. Cukup ia bermain dengan pisau kecil kesayangannya yang sangat tajam, cukup untuk merobek kan tubuh mereka tapi tak Anaya lakukan.
"K-ami, m-i-nta m-aaf." ucap salah satu dari mereka.
"K-ami waktu itu M-abuk."
Anaya tersenyum iblis, kemudian ia mengambil palu dari jejeran alat di lemari yang berisikan berbagai alat, stang, kunci Inggris, obeng, gergaji, mur, paku dan masih banyak lagi.
Anaya berjalan lagi menuju tiga orang itu, palu kecil ditangannya ia ayun ayun kan. Tak sabar ingin mendengar rintihan dari tiga orang ini.
__ADS_1
"Kalian sudah tau kesalahan kalian, saya akan bermain dulu sebentar. dan akan saya buat kalian menyerahkan diri kepada polisi." Masih dengan baju serba hitam, Anaya kemudian memalu jempol kaki salah satu dari mereka.
"Atau saya langsung kirim ke makam saja?"
"Akhhhhhhhhh, k-au bukan manusia. Kau ib-liss!!" teriak pria itu.
"Kalau kalian apa?, saya akan berbuat kejam kepada orang yang telah berbuat salah."Anaya tersenyum menatap pria didepannya.
"Jika saya lepaskan ikatan kalian, kalian akan cepat tumbang dan saya tidak ingin kan itu. Jadi mari kita lanjutkan." Pria disebelah Anaya bergidik, dia takut dan gemetaran.
"Tidak usah takut. saya hanya meringankan hukuman kalian nanti jika sudah dipenjara."
Anaya mendekati pria disebelahnya, dan melakukan hal yang sama, memalu jempol kaki pria. Itu.
"Akhhhhhhhhh." Pria itu menjerit.
"Ka-sihani kami. A-nak dan Istri kami menunggu kami dirumah." Ucap pria terakhir yang belum Anaya palu.
"Jangan bawa kata kasihan, apa kalian tidak berpikir. kerja, membeli alkohol! Apa gunanya?!"
"Apa kalian tidak pikir bagaimana keluarga kalian!" Anaya langsung memalu jempol kaki pria itu seraya tersenyum.
"Mereka pasti kecewa dengan sikap kalian. tapi tidak papa, karena kalian tidak akan menjadi beban pikiran lagi untuk keluarga kalian."
"Akhhhhhhhhh." rintih pria itu.
"Kita ganti permainan." Anaya berjalan santai ke lemari itu. Memilih alat untuk digunakan bermain dengan mereka.
Matanya tertuju pada stang, Anaya tersenyum dan kemudian mengambilnya. Berjalan kembali menuju ketiga pria yang tengah merintih kesakitan.
"Jangan siksa kami, kami mohon."
"Jangan memohon kepada saya, karena saya bukan tuhan."
Anaya tersenyum melihat jempol mereka yang berdarah, rasanya pasti sakit. Anaya mendekati kaki itu dan kemudian memasukkan stang itu ke selah selah kuku jari jempol yang berdarah itu. Tanpa perasaan Anaya mencabut kuku itu.
"Akhhhhhhhh......Akhhhhhhh.......akhhhhh...... Hiks hiks s-akitt....!" Jerit pria itu, Anaya tersenyum, melihat pria didepannya ini merintih kesakitan. Jari jempol itu sudah berdarah darah.
"Wahhh kuku kamu gak panjang, gimana cabut nya. Is is tak boleh nih, harus adil, dia kan udah dicabut masa kamu enggak." Anaya mengalirkan pisaunya, dan sedikit mencungkil kuku jempol pria itu.
"Shitt... Akkhhh..." Rintih pria itu.
Anaya tersenyum rintihan itu yang Anaya inginkan, senyuman terus terlukis di bibirnya.
Detik berikutnya dering hp menghentikan aksinya. Anaya berjalan menuju hpnya diatas meja.
RG
Jika kalian tanya nama Regan panjang sekali di kontak Anaya, sudah pasti itu bukan Anaya yang menamainya. Regan yang memberikan nama. Awalnya Regan ganteng, cakep se antariksa.
Namun Regan ganti karena Samsung Z flip milik Anaya, langsung dibanting oleh orangnya karena geli melihat nama yang Regan tulis di hpnya. Dan ya, Anaya harus berganti hp lagi.
Nama yang tertulis di layar hp nya yang sedang berdering.
"Hallo." Ucap Anaya.
"Hallo, Naya kamu kemana? lama amat." Tanya Regan.
Anaya menyuruh tiga orang tadi yang ia siksa untuk diam, kemudian menjawab telpon dari Regan.
"G-gue, lagi ada sesuatu. bentar lagi gue ke sana. gue tutup dulu." Jelas Anaya.
"Jangan bilang kamu-" Selidik Regan, ia paham betul sifat Anaya, pasti sekarang Anaya tengah mencari orang yang telah menabraknya. Atau mungkin sudah Anaya temukan.
"Enggak. gue lagi urus sesuatu. jangan mikir macem macem. udah dulu nanti gue ke sana."
"Iya, hati hati." Anaya mematikan telpon nya. Menatap kembali tiga orang yang sedang merasakan sakit tanpa suara.
"Obati mereka, besok atau lusa saya kesini lagi." Perintah Anaya kepada orang suruhannya.
"Baik, Queen." Mereka melepaskan ikatan tiga orang itu dan menyeretnya keruangan gelap, satu orang satu tempat. Mereka diikat kakinya dengan rantai berduri.
Tapi setelah berada di ruangan gelap, rantai dan segala belenggu yang ada di mereka dilepas semua. Diberi makan sehari satu kali, agar mereka tidak mati.
Anaya pergi keruangan ganti di tempat itu Menganti bajunya, dan memakai baju berwarna hitam lagi tapi berbeda dari sebelumnya.
Kemudian, Anaya melempar baju yang telah ia gunakan kemudian ia bakar semua baju yang melekat di badannya yang ia gunakan menyiksa orang itu.
Anaya berjalan menuju ruangan gelap, dan menghidupkan lampunya.
"Steefanno." Panggil Anaya.
"Yes, Queen. apa ada masalah?" Tanya laki laki berbaju serba hitam itu.
"Baik, saya akan lakukan perintah Queen."
Anaya berjalan menuju mobilnya, dibanting pintu mobil nya dan pergi menuju rumah sakit. Ia melirik jam tangannya ternyata sudah jam sebelas, pantas saja Regan menelponnya.
Sampai dirumah sakit Anaya memarkirkan sepedanya, ia bertemu dengan seseorang yang tiba tiba menyapanya.
"Anaya?" Anaya berpapasan dengan seseorang yang tak ia kenal namun dia tau namanya.
Anaya menaikkan sebelah alisnya, mata tajamnya melihat laki laki didepannya ia pernah bertemu dengan laki laki ini di olimpiade fisika dulu.
"Ya?"
"Kamu masih ingat saya?, Saya Zevanno Luis hallveen. Partner kamu waktu olimpiade beberapa bulan yang lalu."
"Maaf saya buru buru." Dengan secepat kilat Anaya melenggang pergi dari hadapan cowok itu.
Anaya masuk ke kamar inap Regan, dilihatnya Regan tengah duduk dengan tatapan menyelidik kepadanya. Dilemparkan kembali tatapan horor oleh Anaya membuat Regan menghentikan aksinya.
"Kok lama?" Tanya Regan.
"Masih berak."
"Yang bener dong Naya."
"Ada urusan tadi." Bian hanya bisa sewot, 'ck sok sibuk! Urusan urusan.' batinnya.
Anaya mendekati Regan dan berbisik, "cepet sembuh gue kerepotan."
Regan balas berbisik, "kakak pungut, seneng liat lo khawatir."
Jika meladeni Regan sampai malam tidak akan selesai. Ia memilih duduk dan memberikan makanan untuk Regan.
"Regan, mami keluar sebentar ya mau nemuin dokter Zahira tadi ada yang mau mami tanyain soal resep obatnya."
"Iya mi, hati hati."
.
.
.
"Lo kenapa bisa kecelakaan?" Tanya Anaya.
"Waktu itu-
.
.
Flash Back On
Mobil Regan melaju melewati jalanan sepi tak sengaja tadi ia hampir saja melindas ibu kucing dan anak anaknya. Beruntungnya tak jadi ia lindas karena ia mengerem, untungnya tidak melindas ibu dan anak kucing itu.
Regan turun dari mobil nya, dan melihat keadaan kucing itu. Regan menyeberang jalan ke jalan diseberang nya, kucing itu langsung berlari mundur dari mobil Regan akhirnya kucing itu berada di samping jalan.
Regan mengambil kucing kucing itu, berniat akan membawanya pulang. Sorot mobil yang membuat tubuhnya terpental, ditabraknya Regan hingga tak sadarkan diri.
Sang pelaku langsung melarikan diri, hingga beberapa saat kemudian datang mobil patroli polisi dan menemukan Regan yang tak sadarkan diri ditepi jalan.
Flash Back Of
.
.
"Gitu Naya." Anaya hanya ber oh.
"Kenapa masih tanya? Aku yakin kamu udah tau Naya." ucapan Regan langsung membuat Anaya menolehkan kepalanya menatap sorot tajam mata Regan, dan bertabrakan dengan sorot gelap nan tajam mata Anaya.
"Sok tau."
.
.
Di ruangan Dokter Zahira
Tok.. tok.. tok..
Ketukan pintu membuat Dokter Zahira menghentikan aktivitas nya yang sedang melamun.
__ADS_1
"Masuk."
Cklekk..
"Dokter Zahira." Sapa mama Regan.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Ehhh, iya saya mau tanyakan apakah dalam waktu dekat anak saya sudah boleh pulang?" Tanya bian basa basi.
"Maaf anak ibu atas nama siapa ya?" Tanya Zahira.
"Atas nama Regan, diruang VVIP 1." Jawab bian cepat.
Zahira mengangguk, "insyaallah, kalau perkembangannya cepat 2 atau 3 hari lagi sudah boleh pulang."
Bian mengangguk mengerti, "baik dokter. oh iya saya salut sama dokter Zahira, udah cantik, muda, sudah jadi dokter." Zahira tersenyum malu mendapat pujian dari bian.
"Oh iya dok, nanti kalau anak saya sudah pulang. Saya minta tolong.. sama dokter, jadi dokter pribadi anak saya ya." Pinta bian.
Zahira tersenyum, harus bagaimana dia menerima atau menolak tapi ia tak tega melihat kekecewaan jika dirinya menolak.
"Baiklah." Jawab Zahira.
"Wahh, terimakasih dokter." Mata bian berbinar, pepett terus sampai jadi mantu.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya dok, saya mau keruangan anak saya lagi."
"Iya Bu." Zahira mengangguk sembari tersenyum.
.
.
.
Hari ini Regan diperbolehkan untuk pulang, Anaya membantunya untuk masuk kedalam mobilnya. Sedangkan bian tidak bisa ikut di mobil Anaya karena kapasitas nya memang untuk dua orang.
"Mama ikutin dari belakang ya, Anaya hati hati bawa mobilnya." Anaya hanya mengangguk. Dan melajukan mobilnya sesuai permintaan bian.
Anaya membantu Regan merebahkan tubuhnya di kasur king size warna abu abu itu, Anaya hendak pergi sebelum tangannya dicekal oleh Regan.
"Mau kemana?"
"Ada urusan."
"Gaboleh harus temenin gue."
"Ada dokter Zahira nanti kesini." Anaya melepaskan tangan Regan, dengan wajah datarnya.
"Gue maunya lo, bukan dokter." Kekeuh Regan.
"Gak, gue ada urusan."
Regan memalingkan wajahnya, "Keras kepala lagi, waktu gue sakit lo nurut nurut aja."
"Lumpuh aja sekalian, kalau mau gue urus."
"Jadi istri gue aja sekalian biar bisa 24 jam."
"Ngaco lo."
"Plissss..." Regan masih memohon.
"Gausah manja, lo udah sembuh." Anaya melangkahkan kakinya mendekati pintu, Regan melihatnya dan menghentikannya.
"Naya, jangan tinggalin gue!" Panggil Regan, Anaya tak mendengarkannya. Regan dibuat bingung sendiri, kenapa Anaya seperti cuek walaupun dia menuruti omongannya selama sakit. Waktu malam saat ia kecelakaan dan diruang VVIP sebelum ibunya tau, Anaya juga baik baik aja. Kenapa sekarang cuek dan gini?
'a-ppa Anaya cemburu sama dokter Zahira?, Masa ia. Tapi kalaupun Anaya cemburu dia kan gak punya hati, eh maaf untung dia gak denger. Tapi masa iya Naya cemburu sama zahira.' batin Regan.
"Permisi." Zahira masuk lengkap dengan jas putih serta tas ditangannya, dengan kerudung yang selalu melekat di kepalanya.
Bian berada dibelakang Zahira, bian mengikuti langkah kaki Zahira untuk bertemu dengan Regan.
Bian memeriksa tubuh Regan, ternyata luka lukanya sudah mengering. Untungnya walau ia terpental tulang Regan tidak ada yang patah, namun hanya sakit semua badannya.
"Kamu sudah lebih baik, oleh karena itu kamu dipulangkan. Cukup minum obatnya dengan teratur dan kamu akan sembuh." Ucap Zahira. Regan hanya mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi."
Bian duduk disebelah Zahira, dan mengajak dokter muda itu untuk tunggu dirumahnya sebentar untuk berbicara.
"Dokter, saya sudah buatkan sup, bubur dan makanan kesukaan Regan dalam jumlah banyak. Dokter makan dulu ya." Pinta bian.
Zahira tersenyum, "iya Bu."
"Kalau begitu saya ambil kursi rodanya Regan dulu. Tunggu sebentar ya." Bian hendak beranjak sebelum suara Regan menghentikannya.
"Mah, Regan gak lumpuh. Regan bisa jalan sendiri."
"Ahh tenang saja, mamah yang bakal dorong."
"Gak, Regan gak mau. lagian regan bisa jalan."
Bian mengurungkan niatnya, ia hanya ingin memancing putranya saja untuk menjalankan rencana nya. Ya sebuah rencana.
Regan berjalan didepan menuruni tangga, sedangkan Zahira dan bian berada dibelakangnya. Dengan sengaja bian menginjak gamis yang dipakai Zahira.
"Astaghfirullah.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, hiks udah nyampe di penghujung aja nihh... Sedih aku pengen cepet cepet up biar bisa ketemu kalian.
.
.
Jangan bosen bosen nungguin aku up ya, karena insyaallah aku bakal konsisten up-nya dan insyaallah aku akan berusaha buat tamat kan semua cerita aku. Doa in ya.
.
.
Oke aku minta maaf kalau banyak typo bertebaran, vote dan komen kalian bisa nambahin semangat aku. Dan kalaupun masih sepi vote sama komen gak papa, semangat dan usaha dulu karena usaha kita tidak akan mengkhianati hasil manis yang akan kita dapat nanti. Kuncinya tetap semangat, konsisten dan terus berusaha.
.
.
Luv banyak banyak buat temen temen yang udah baca Devil In Sorrow 🤍🤍
.
.
See you next part babayyyy
.
.
.
23 Maret 2022
Publish 29 Desember 2022
__ADS_1