Di Antara Cinta Dan Dendam

Di Antara Cinta Dan Dendam
Kabar Buruk


__ADS_3

"Tuan Daniel." Luhan, asisten Daniel menerobos masuk kedalam ruangan kerja Presdirnya dengan raut wajah yang tampak begitu panik.


"Ada apa, Luhan? Kenapa kau berlari seperti itu?" tanya Daniel dingin.


"T - Tuan Daniel. N- Nona Sharon, Tuan." ucap Luhan, sambil terbata-bata dengan menundukkan kepalanya dan tidak berani untuk menatap langsung ke arah Presdirnya.


"Katakan. Ada apa dengan adikku Sharon? Kenapa kau terlihat panik seperti itu, Luhan" tanya Daniel ingin tahu apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh asistennya itu.


"Barusan saya mendapatkan kabar jika Nona Sharon meninggal dunia, Tuan." jawabnya kemudian Luhan pun memberanikan diri untuk menatap wajah Presdirnya itu


"Kau jangan bercanda, Luhan. Itu tidak lucu. Bagaimana mungkin Sharon meninggal dunia. Padahal baru semalam, dia menghubungiku dan dia berkata akan memberikan kejutan untukku saat aku sudah pulang ke negara S." ucap Daniel membentak asistennya.


"Jika Tuan Daniel masih belum percaya, lebih baik Tuan Daniel melihat foto yang di kirimkan oleh kepala pelayan tentang keadaan Nona Sharon." ucap Luhan, sambil menyerahkan iPad yang ada di tangannya pada Daniel. "Tuan, Nona Sharon di temukan oleh seorang pelayan di dalam kamar mandi dengan luka sayatan di pergelangan tangannya Dan saat sampai di rumah sakit nyawa Nona Sharon tidak bisa tertolong karena kehabisan banyak darah." lanjutnya memberitahu.


Daniel begitu terkejut dan gemetar saat melihat kondisi adiknya yang ada di dalam foto itu di tambah setelah dia mendengarkan ucapan dari Luhan.


"Tidak. Itu tidak mungkin. Sharon tidak akan mungkin melakukan hal yang seperti itu. Luhan, segera siapkan kepulanganku ke negara S." ucap Daniel dengan raut wajah yang tampak begitu cemas akan kondisi adiknya.


"Baik, Tuan. Secepatnya, saya akan mengurus kepulangan, Tuan." ucap Luhan, kemudian pamit undur diri dari hadapan Daniel.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lebih dengan menggunakan pesawat pribadi miliknya akhirnya Daniel pun tiba di negara S. Daniel tidak langsung pulang kerumahnya, karena dia langsung pergi menuju ke arah rumah sakit, untuk memastikan kondisi adiknya baik - baik saja. Dan Daniel pun masih menyangkal tentang kematian adik perempuannya.


Saat Daniel sampai di rumah sakit dia pun langsung turun dari mobilnya dan berlari ke arah ruangan recepsionis untuk menanyakan keberadaan adiknya yang sedang di rawat.


"Dimana letak kamar adikku? Tolong beritahu kamar adikku di rawat." ucapnya gugup dan masih di selimuti oleh rasa khawatir.


"Maaf, kalau boleh saya tahu. Siapa nama adik, Tuan?" tanya sang resepsionis yang kebingungan saat mendengar ucapan dari Daniel.


"Pasien yang bernama Sharon Lim. Sekarang di rawat di ruangan apa?" jawab Daniel,

__ADS_1


"Mohon tunggu sebentar, saya akan segera mencari data pasien yang anda sebutkan tadi." ucap sang resepsionis. Daniel pun mengangguk patuh. Dan beberapa detik kemudian sang recepsionis kembali berkata dengan nada yang sedikit gugup, " T- Tuan. Nona Sharon Lim sekarang berada di ruang kamar mayat, nomor empat."


"Apa? K- kamar mayat? Aku tidak percaya, kau pasti salah melihat datanya. Coba kau pastikan lagi." ucap Daniel yang tidak terima saat sang recepsionis mengatakan jika adiknya berada di kamar mayat.


"Benar, Tuan. Di sini tertulis jika Nona Sharon Lim berada di kamar mayat, nomor empat." ulang sang recepsionis memastikan kebenarannya.


"Tidak. Itu tidak mungkin. Adikku tidak mungkin meninggal." seru Daniel penuh dengan kemarahan dan penyangkalan.


"Tuan Daniel, tenangkan diri anda, Tuan. Bagaimana kalau kita langsung saja ke ruangan kamar mayat itu, dan memastikan apakah benar itu Nona Sharon atau bukan." ucap Luhan berusaha untuk menenangkan bosnya.


"Kau benar, Luhan. Aku akan memastikan sendiri apakah itu benar mayat adikku atau bukan?"


Kemudian Daniel dan asistennya itu berjalan menuju ke arah kamar mayat yang tadi di sebutkan oleh sang resepsionis. Selama berjalan menuju ke arah kamar mayat, berkali-kali juga Daniel meyakinkan dirinya jika bukan adiknya yang berada di kamar mayat itu.


Saat mereka berdua sudah sampai di depan ruangan kamar mayat. Daniel pun ragu untuk membuka pintu kamar mayat tersebut.


"Tuan, kita sudah sampai. Apakah Tuan Daniel tidak akan masuk." ucap Luhan sambil menepuk pelan pundak Daniel dari arah samping saat melihat Daniel hanya diam saja di depan pintu kamar mayat.


"Jika Tuan Daniel, tidak ingin masuk kedalam. Biar saya saja yang masuk untuk memastikannya. Apakah itu benar Nona Sharon atau bukan."


"Tidak." tolak Daniel. "Aku juga harus memastikannya juga. Kalau begitu kita masuk kedalam bersama." sambungnya dengan tegas.


Kemudian Daniel pun membuka pintu kamar tersebut. Dan di dalam ruangan itu, dia melihat ketiga perawat laki - laki yang terkejut melihat kedatangan Daniel dan Luhan. Dan salah satu perawat laki - laki itu bertanya, "Kenapa kalian masuk kedalam ruang ini? Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mencari seorang wanita yang bernama Sharon Lim. Dan dia dinyatakan meninggal pada pagi ini. Apa kalian tahu dimana letak jenazahnya?" tanya Luhan.


"Mari saya antarkan, Tuan. Dimana letak jenazahnya." jawab perawat laki - laki itu.


Kini, Daniel dan Luhan mengikuti langkah perawat tersebut. Hinggap sampai pada brankar bernomor empat. Dan di sana dia juga melihat Arga, kepala pelayan yang ada di mansionnya dan seorang dokter yang sedang berdiri di samping brankar jenazah.


Melihat kepala pelayan asisten rumah tangganya, Daniel pun langsung mengambil langkah mendekat ke arah kepala pelayan untuk menanyakan keberadaan adiknya, "Arga, kenapa kau juga berada di ruangan ini? Bukankah kau harusnya menjaga adikku di ruangan yang lain dan bukannya di ruangan yang seperti ini?" tanyanya.

__ADS_1


"Tuan muda. Maafkan saya, karena tidak bisa menjaga Nona muda dengan baik. Hingga Nona muda akhirnya meninggal dunia."


"Tidak, tidak. Aku tidak ingin mendengar jawaban yang seperti itu darimu. Kau pasti berbohong padaku kan, mana mungkin adikku meninggal dunia. Itu tidak mungkin." Seru Daniel, dia membantah ucapan dari sang kepala pelayan.


"Tenangkan diri anda, Tuan." ucap Luhan.


"Tuan muda, lihatlah ke arah brankar jenazah itu. Dia adalah Nona muda Sharon." ucap sang kepala pelayan sambil menunjuk jenazah yang terbaring kaku di atas brankar dan hanya di tutupi oleh kain berwarna putih.


Daniel melihat ke arah yang di tunjuk oleh kepala pelayan dan melangkah mendekat ke arah jenazah tersebut "Tidak mungkin. Ini tidak mungkin adikku. Kau pasti salah. Tidak mungkin jenazah yang terbujur kaku ini adalah adikku. Kau pasti salahkan, Arga." ucap Daniel dengan seribu penolakannya dan menyakinkan dirinya jika itu bukanlah adiknya.


"Cobalah Tuan buka kain putih itu." pinta sang kepala pelayan.


Daniel akhirnya memberanikan diri untuk membuka kain putih tersebut dengan perlahan. Dan saat dia melihat di balik kain putih itu betapa terkejutnya Daniel, saat dia melihat tubuh adik perempuannya yang sudah terbujur kaku.


"Sharon, sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu? Kenapa kau bisa berada di ruangan ini? Bukankah semalam kau berjanji akan memberikan kejutan untuk Kakak. Tapi kenapa kau malah terbaring di sini. Apakah ini, kejutan yang mau kau berikan pada Kakakmu, hm?."


"Tuan muda, tenangkan diri anda."


********



Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2