
Siang ini Daniel sedang berada di tempat pemotretan Hazel untuk melanjutkan rencana balas dendamnya. Dan setelah menunggu dengan cukup lama, akhirnya wanita yang akan di jadikan target balas dendam itu pun sudah keluar dari studio pemotretan itu. Sedangkan Hazel yang melihat kedatangan Daniel dia sangat terkejut, karena sebelumnya dia tidak mempunyai janji bertemu dengan Daniel.
Dengan senyum bahagianya, Hazel pun kemudian melangkah mendekat untuk menghampiri Daniel " Hai, Daniel? Sedang apa kau di sini?" tanya Hazel, setelah berada di hadapan Daniel dengan senyuman ceria di wajahnya.
"Hai Hazel. Kedatanganku kesini karena ingin menjemputmu? Apa aku sudah menganggu waktumu?" balas Daniel.
"Tidak, sama sekali. Tapi kenapa kau bisa tahu jika aku sedang ada pemotretan di sini?" tanya Hazel penasaran.
"Kebetulan aku tadi ada meeting di sekitar sini. Dan aku mendengar kalau kau sedang ada pemotretan di sekitar sini juga, jadi aku sengaja mampir kesini sebenarnya untuk sekalian mengajakmu makan siang." jawab Daniel. "Tetapi, jika kau tidak ingin makan siang bersamaku aku akan langsung pergi. Karena aku tidak ingin menjadi pengganggu jika kau masih sibuk." lanjut Daniel dan membalikkan badannya hendak berjalan meninggalkan Hazel.
"Tidak. Siapa bilang aku menolak ajakanmu" ucap Hazel, langsung mengaitkan tangannya ke tangan Daniel. "Aku mau kok pergi makan sama kamu." lanjutnya dengan penuh antusias.
Kemudian Daniel dan Hazel menuju restoran mewah yang dekat dengan tempat pemotretan. Mereka berdua saling mengobrol untuk mengenal satu sama lain. Setelah itu, Hazel langsung memberikan nomor ponselnya pada Daniel setelah mengetahui identitas Daniel yang ternyata seorang pengusaha yang sukses dan kaya raya di tambah lagi dengan Daniel yang mengajaknya pergi ke mall setelah makan siang untuk berbelanja sepuasnya.
***
Di Mall Astro, pusat perbelanjaan terbesar di negara S.
"Daniel, menurutmu yang ini bagus atau tidak?" tanya Hazel meminta pendapat dari Daniel tentang pakaian seksi yang akan dia beli.
Sedangkan Daniel hanya bisa memberikan senyuman manisnya. Karena sebenarnya, ia sudah merasa jijik jika harus berada dekat dengan Hazel terlalu lama.
"Jika kau masih bingung. Kau bisa langsung saja mengambil semua yang kau pilih tadi karena aku yang akan membayar semua tagihannya."
"Kamu tidak sedang tidak bercanda kan, Daniel?" tanyanya memastikan. "Tapi kartu kreditmu pasti akan mengeluarkan jumlah uang yang banyak sekali. Apa kau tidak apa-apa?"
"Tentu saja aku serius. Lagi pula uangku sangat banyak, jadi kau tidak usah khawatir. Belanjalah sepuasmu." jawab Daniel sambil memaksakan senyumannya.
"Terima kasih, Daniel. Kalau begitu aku akan memborong semua barang yang aku inginkan." ucapnya sambil memeluk Daniel.
Setelah itu, Hazel langsung memilih - milih barang bermerek yang dia inginkan dari pakaian, tas, sepatu, aksesoris dan sebuah kalung berlian limited edition. Melihat tingkah Hazel, Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata memang benar apa yang di katakan oleh Luhan. Wanita yang ada di hadapannya ini selain gemar berpesta dia juga sangat materialistis, terbukti dengan banyaknya barang yang sekarang dia beli.
***
Daniel pun kemudian langsung mengantar Hazel pulang kerumahnya, setelah Hazel sudah sangat puas berbelanja. Saat sampai di rumah Hazel. Hujan turun deras sekali dan Hazel menawarkan agar Daniel mampir kerumahnya sampai hujannya sudah reda. Kemudian Hazel dan Daniel pun melangkah masuk kedalam rumah tersebut. Selain menawarkan Daniel untuk berteduh sebentar di rumahnya, Hazel juga ingin memperkenalkan Daniel kepada ibunya. Dan kini Daniel sudah berada di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Hazel yang sedang memanggil ibunya.
"Mama, perkenalkan ini Daniel Lim. Lelaki yang aku ceritakan itu." ucap Hazel yang memperkenalkan Daniel dengan Ibunya.
__ADS_1
"Hai Tante..." ucap Daniel sambil menjabat tangan ibunya Hazel.
"Hai juga Daniel. Kau bisa juga memanggilku dengan sebutan Tante Sevia" Ibunya Hazel pun membalas jabatan tangan dari Daniel dan sekalian memperkenalkan dirinya. "Silahkan duduk nak Daniel." lanjutnya dengan nada yang ramah.
Dan Daniel pun menganggukkan kepalanya. Kemudian kembali duduk di sofa ruang tamu itu. "Kalau boleh tau, apakah Hazel anak satu - satunya di rumah ini, Tan?" tanya Daniel, yang berpura-pura tidak mengetahui tentang keluarga Hazel.
"Bukan. Hazel adalah anak saya yang kedua." jawabnya dengan senyuman yang ramah pada Daniel.
"Ah, jadi Hazel memilki seorang Kakak. Aku kira dia anak tunggal di keluarga ini."
"Ya, dia mempunyai seorang Kakak yang bernama Viktor. Dan kau tahu, Hazel adalah adik yang sangat di sayangi oleh Viktor dan Kakaknya itu tidak akan terima jika adik kesayangannya itu meneteskan air mata sedikitpun ataupun jika hal buruk menimpa adiknya dia pasti akan membalas berkali-kali lipat orang yang sudah berani menyakiti adiknya." ucap Ibu Hazel sambil berusaha untuk memberikan peringatan pada Daniel jika nantinya dia memilki alasan untuk menyakiti Hazel maka akan ada yang akan datang untuk membalas rasa sakit yang di rasakan oleh Hazel.
Mendengar ucapan itu, sebisa mungkin Daniel menahan emosinya supaya rencana balas dendamnya itu tidak akan gagal. Dan di saat Daniel akan melanjutkan ucapannya tiba - tiba suara dering ponselnya berbunyi dan setelah melihat ke layar tertera nama Luhan, asistennya.
"Tante, aku akan menjawab telepon dari asistenku dulu." izin Daniel.
"Ya, tentu saja."
Kemudian Daniel pun melangkah menjauh dari Hazel dan ibunya untuk menerima panggilan telepon dari asistennya.
"Ada apa, Luhan?" tanya Daniel dingin, saat panggilan teleponnya terhubung.
"Kenapa dia bisa seperti itu?"
"Entahlah Tuan muda, aku juga belum tahu penyebabnya. Jika Tuan muda ingin datang kesini untuk melihatnya aku akan segera kirimkan lokasinya." jawab Luhan dari sebrang telepon.
"Baik. Kau awasi dia. Dan secepatnya kirimkan lokasinya padaku." ucap Daniel langsung mematikan panggilan teleponnya.
"Hazel, Tante Sevia. Maaf aku harus pergi sekarang. Karena ada urusan bisnis yang harus segera aku selesaikan." izin Daniel setelah kembali duduk di hadapan Hazel dan Ibunya.
"Tapi, di luar masih hujan Daniel. Apa tidak bisa kau pergi setelah hujannya sudah reda."
"Maaf Hazel, aku harus segera pergi sekarang karena ini bisnis yang sangat penting untuk perusahaanku." ucap Daniel berusaha untuk meyakinkan Hazel.
"Baiklah. Dan berhati - hatilah saat berkendara." ucap Hazel.
Daniel mengangguk kemudian dia melangkah pergi meninggalkan rumah Hazel dan menuju ke lokasi yang sudah di kirimkan oleh Luhan.
__ADS_1
***
Beberapa menit kemudian Daniel sudah sampai di lokasi yang di kirimkan oleh Luhan, asistennya. Entah kenapa selama perjalanan menuju ke arah Starla dirinya itu begitu khawatir. Dari arah mobilnya dia juga bisa melihat jika gadis itu masih duduk sendirian di jalan raya itu. Kemudian dia pun langsung keluar dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah gadis itu.
"Hei gadis kecil? Kamu sudah gila ya! Duduk sendirian di jalan dan kehujanan seperti ini?" Seru Daniel, sambil memayungi gadis itu agar tidak kehujanan.
"Paman? Kenapa kau ada di sini?" tanya Starla terkejut melihat kedatangan Daniel yang tiba-tiba. "Aku tadi kepleset, jadi kakiku agak sakit untuk berdiri." lanjutnya
Daniel menghela nafas panjang. "Sudah berapa kali aku katakan padamu jangan panggil aku dengan sebutan Paman!" Seru Daniel kesal. "Apakah kakimu sangat sakit, biar aku bantu?" lanjut Daniel sambil mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu bangun.
"Tidak usah." gadis itu menepis tangan Daniel. "Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit. Bahkan rasa sakit ini tidak ada apa - apanya di bandingkan rasa sakit yang sedang aku alami." tanpa sadar Starla mengatakan hal itu di depan Daniel.
"Jangan menangis." tiba - tiba saja Daniel membungkukkan badannya dan tangannya mengusap air mata gadis itu. "Apa masalahmu begitu besar, ya? Seakan kau sudah mati rasa dengan rasa sakit, hm?"
"Memangnya siapa kau berani bertanya seberapa besar masalahku? Aku tidak mengenalmu? Dan kita tidak saling mengenal?"
Bukannya marah, Daniel malah tersenyum manis. Kemudian dia mengulurkan tangannya. "Perkenalkan aku Daniel Lim. Dan kau bisa memanggilku Daniel."
"Namaku Starla. Starla Giovandra." balas Starla tanpa membalas uluran tangan dari Daniel.
"Starla, nama yang cantik." ucap Daniel. "Sini aku bantu kamu berdiri. Dan jangan keras kepala." lanjut Daniel.
Starla pun mengangguk. Kemudian dia memegang uluran tangan Daniel dan membantunya berdiri kemudian berjalan menuju ke arah halte bus untuk berteduh sementara di sana.
"Pulang nanti jangan lupa kompres matamu dengan es batu. Kalau nggak nanti matamu akan bengkak." ucap Daniel saat mereka berdua sudah duduk di halte bus itu.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.