Di Antara Cinta Dan Dendam

Di Antara Cinta Dan Dendam
Pertemuan Pertama


__ADS_3

"****!" Umpat Daniel kesal, saat dia mendengar ucapan dari asistennya itu yang sedang membacakan hasil laporan medis adiknya.


"Luhan, segera kau cari tahu tentang kehidupan pria brengsek ini." perintah Daniel. Dia memberikan sebuah foto seorang laki - laki yang ia yakini adalah pacar dari adiknya. Dan laki - laki yang sudah membuat adiknya hamil.


"Baik Tuan, segera saya akan mencari informasi lengkap mengenai lelaki itu." ucap Luhan.


"Jika kau sudah selesai dengan laporanmu. Lebih baik kau keluar dari kamarku dan selesaikan pekerjaanmu."


Luhan menunduk, lalu dia undur diri dari kamar Daniel.


Setelah Luhan keluar dari kamarnya. Daniel pun langsung melemparkan berkas hasil pemeriksaan medis milik adiknya. "Brengsek!" Ucapnya kesal. "Jika aku sudah mengetahui indentitas laki - laki itu aku bersumpah akan memberikan balasan yang kejam kepadanya."


***


Saat ini, Daniel selalu di liputi oleh kemarahan dan kekecewaan dan juga berbagai rasa sakit dan kesedihan, jika mengingat kembali tentang kematian dari sang adik.


Dan Daniel, kini sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk melampiaskan rasa kesal yang bersemayam di dadanya. Mata lelaki itu pun memerah dan napasnya memburu tak beraturan.


Daniel marah? Tentu saja. Dia sangat marah saat mengetahui hasil pemeriksaan medis adiknya. Dan dia juga sangat marah pada lelaki yang tidak mau bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah laki - laki itu perbuat kepada adiknya.


Ciiiitttt!


Daniel segera menginjak pedal rem. Saat dia melihat seorang gadis yang sedang membawa bunga hendak menyebrang jalan. Namun sayang, wanita itu sudah terjatuh akibat tertabrak mobil miliknya.


"Oh ****!" Umpat Daniel kesal, kemudian dia pun langsung turun dari mobil dan melihat kondisi wanita yang ia tabrak itu


"Hei, Paman! Kalau bawa mobil itu jangan ngebut - ngebut! Lihatlah bungaku ini? Semuanya sudah rusak!" Omel si gadis pembawa bunga itu pada Daniel.


"Maafkan aku, Nona. Aku tadi tidak sengaja menabrak mu." ujar Daniel melangkah mendekat ke arah si gadis pembawa bunga.


"Lalu bagaimana dengan bungaku yang sudah rusak ini? Apakah kau akan bertanggung jawab atas kerugiannya?" tanya si gadis pembawa bunga itu.

__ADS_1


"Ya, aku akan bertanggung jawab untuk mengganti bungamu yang rusak itu. Tapi tolong maafkan aku, tadi itu aku benar-benar tidak sengaja menabrak mu." ucap Daniel.


Pandangan Daniel kini menatap ke arah tubuh gadis si pembawa bunga itu. Ia melihat kaki dan sikut gadis itu yang berdarah. Tanpa di sangka, Daniel langsung membopong tubuh si gadis pembawa bunga itu gaya bridal style lalu memasukkannya kedalam mobilnya. Sontak saja si gadis pembawa bunga itu berteriak, "Hei Paman! Kau ingin membawaku, kemana?! Turunkan aku!"


"Diamlah, gadis kecil! Aku hanya ingin membawamu ke rumah sakit untuk mengobati lukamu agar tidak infeksi." jawab Daniel.


Dan gadis pembawa bunga itu tidak lagi memberontak, ia terus memandangi wajah Daniel lewat kaca spion yang berada di depan. Ya, saat ini gadis si pembawa bunga itu sedang berada di jok mobil belakang Daniel. Jadi dia bisa melihat dengan jelas wajah tampan Daniel lewat kaca spion yang berada di depan.


"Hei Gadis kecil. Kau baru melihat lelaki setampan aku ya?" tanya Daniel.


"Tidak." ucap si gadis pembawa bunga itu dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ah, tapi jangan memandangi wajahku seperti itu. Nanti aku bisa kepedean." Daniel terkekeh kecil dengan mata yang masih fokus mengendarai mobil.


"Siapa juga yang sedang memandangi wajahmu. Percaya diri sekali." elak si gadis pembawa bunga itu.


"Mm....begitu ya? Ya sudah kalau tidak mau mengaku. Tetapi, kalau memang benar pun tidak apa-apa. Karena aku suka saat kau terus menerus memandangi wajah tampanku ini." ucap Daniel mengulum senyumannya dan mengangguk - anggukan kepalanya.


"Menyebalkan sekali." gumam pelan, si gadis pembawa bunga itu.


"Paman, seharusnya kau tidak perlu membawaku ke rumah sakit dan mengobati lukaku. Lagi pula ini luka kecil. Dan dalam waktu beberapa hari saja lukaku ini pasti akan sembuh."


"Kau tahu, luka kecil pun kalau tidak di obati bisa berbahaya. Dan jangan pernah sekalipun kau menganggap sepele luka kecil seperti itu." ucap Daniel. "Dan berhenti memanggilku dengan sebutan Paman!" Sambung Daniel yang merasa kesal.


"Memangnya kenapa kalau aku memanggilmu dengan sebutan Paman?"


"Karena aku bukan Pamanmu dan usiaku baru 26 tahun. Jangan pernah sebut aku dengan panggilan Paman!"


"Paman, usiaku juga sudah 20 tahun.Tapi kau tadi memanggilku dengan sebutan gadis kecil. Lagi pula, kita hanya berbeda enam tahun. Dan aku hanya menghormati panggilan untuk orang yang lebih tua di atasku." ucap si gadis pembawa bunga dengan senyuman di wajahnya.


"Kau-"

__ADS_1


"Paman, maafkan aku. Tapi aku harus segera pergi. Terimakasih atas semuanya. Kau memang laki - laki yang sangat bertanggung jawab." ucap si gadis penjual bunga itu, memotong ucapan Daniel.


"Memangnya kau ingin pergi kemana? Biar aku antar sekalian."


"Terima kasih atas tawaranmu itu, Tuan.Tapi aku harus pergi ke pemakaman sahabatku." jawab si gadis pembawa bunga. Dan setelah mengatakan itu dia langsung pergi meninggalkan Daniel.


Setelah kepergian si gadis pembawa bunga itu, ponsel milik Daniel bergetar. Saat melihat ke layar dia melihat nama Luhan, asistennya yang menghubunginya. Daniel hendak menolak panggilan itu, karena sebelumnya dia sudah mengatakan kepada Luhan, agar tidak ada yang menganggunya. Namun, ponsel Daniel tidak henti berdering.


Daniel menghembuskan nafas kesal. Dengan raut wajah dingin, dia mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon dari asistennya itu.


"Ada apalagi, Luhan? Bukannya aku sudah mengatakan padamu, kalau aku tidak ingin di ganggu?" seru Daniel saat panggilan teleponnya terhubung.


"Maafkan saya, Tuan muda. Saya hanya ingin menyampaikan jika saya sudah berhasil mengetahui indentitas laki - laki yang ada di foto waktu itu."ucap Luhan dari sebrang telepon dan memberikan alasan menelpon ke Presdirnya itu.


"Katakan!"


"Tuan muda, tapi saya tidak bisa membicarakan lewat telepon, Tuan. Sebaiknya kita bertemu saja, Tuan." pinta Luhan dari sebrang telepon.


"Baiklah Luhan, kau temui aku di rumah saja."


"Baik. Saya akan segera kesana, Tuan."


*********


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2