Di Cintai Ketua Geng Motor

Di Cintai Ketua Geng Motor
5. Kedatangan Bibi Sum


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Arsenio duduk ditempat tongkrongannya bersama kawan-kawannya. Arsenio memandang dari arah masuk warung bi Arsi, Arsenio melihat bi Sum yang tengah kecapekan membawa barangnya.


Arsenio pun berdiri dari tempat duduknya, kemudia Arsenio menghampiri bi Sum, bi Sum meletakan barangnya dilantai. Arsenio pun Salim kepada bi Sum, kemudian bi Sum memeluk Arsenio.


"Ya Allah den, bibi kangen sama kamu, bibi tinggal dikampung satu bulan udah kangen sama aden !"kata bi Sum.


"Iya bi, Arsenio juga kangen pada bibi Sum !"katanya.


Kemudian bi Sum melepas pulukan Arsenio, dari arah warung bi Arsi dan paklek Dam menghampiri bi Sum.


"Gimana perjalanannya ?"tanya bi Arsi.


"Alhamdulillah lancar !"jawab bi Sum.


Kemudian Arsenio membawa barang bawaan bi Sum.


"Biar paklek Dam aja den yang bawa barangnya !"nawar paklek Dam.


"Ngak usah paklek biar Arsenio aja yang bawa !"ucap Arsenio.


Arsenio pun membawa barangnya bi Sum kedalam tempat duduk warung bi Arsi dan diletakan diatas meja.


Mereka pun duduk diatas kursi didalam warung tersebut. Kemudian para kawan-kawan Arsenio menghampiri mereka dan menyalami kedatangan bi Sum.


"Bagaimana kabar bi Sum ?"tanya Gilbert.


"Alhamdulillah bibi sehat-sehat !"jawab bi Sum.


"Keluarga di sana sehat-sehat kan bi ?"tanya Aarav kemudian.


"Alhamdulillah sehat, tapi cuma anak bi Sum, Dika kemarin habis jatuh dari atas motornya !"jawab bi Sum.


"Bibi khawatir dengan anak bibi, kata dokter Dika harus menjalankan operasi, kakinya patah pada saat jatuh dari motornya !"


"Maaf ya bi, apa Dika masih seperti dulu masih nakal nggak bisa murut sama bibi ?"tanya Arsenio


Bibi memang wajah sedihnya itu.


"Masih den, bibi capek sama dia, susah banget bibi tuturin, bibi pulang justru dia sering nginap di rumah teman-temannya yang nakal-nakal itu !"jawab bibi sambil sedih.


"Maaf iya bi, Arsenio tanya seperti itu !"ucap bibi.


"Nggak papa den, bibi juga sayang aden, bibi sudah anggap aden seperti anak bibi sendiri !"ucap bibi.


"Arsenio juga sayang bibi, juga bibi Arsi dan pak Dam !"ucap Arsenio


"Dika dirawat di mana bi ?"tanya Arsenio kemudian.


"Di Rawat di rumah sakit umum di dekat alpartemen aden !"jawab bibi.


"Bibi tenang aja, biar Arsenio yang membayar semua administrasi Dika !"ucap Arsenio.


"Nggak usah den, bibi sudah banyak meropotin aden !"ucap bibi Sum.


"Semua Arsenio berikan kepada kalian belum cukup bi, pak lek, belum cukup untuk membalas jasa kalian yang sudah merawat Arsenio hingga sangat ini !"ucap Arsenio.


"Kalau kalian butuh apa-apa bilang Arsenio, kalian sudah Arsenio anggap orang tua Arsenio !"ujar Arsenio


"Iya bi, paklek kita semua nyaman lebih suka di sini, kalian juga sudah seperti orang tua kita semua di sini, karena kehangatan yang belum tentu orang tua kita yang kasih, orang tua kita sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sedangkan kita tidak di beri kenyamanan itu !"ucap Aarav memakili isi hati teman-temannya.


Mereka semua pun memeluk bibi Arsi, bi Sum dan paklek Dam.


"Bibi sayang kalian semua, bibi juga sudah anggap kalian semua anak-anak bibi !"ucap bi Arsi dan bi Sum.


"Paklek juga !"


Keesokan harinya anggota The Moge bersama bi Sum, bi Arsi dan paklek Dam menuju rumah sakit yang di mana Dika dirawat.


Teman-teman Arsenio menunggu di depan kamar pasien Dika.


Arsenio dan bi Sum, bi Arsi dan paklek Dam masuk ke dalam ruang Dika dirawat itu.


Ya seperti biasa Dika menunjukan wajah yang tak enak di lihat, selalu sombong.


"Ngapain kalian ke sini !"ucap Dika ketus.


"Kita menjenguk kamu nak !"ucap bi Sum.

__ADS_1


"Jenguk, gue capek bu terus-terusan jadi miskin begini !"ucap Dika.


"Pergi bu, jangan nemuin aku lagi di sini !"ucap lanjutnya.


"Jaga ya omongan lu !"ucap Arsenio dengan emosi.


"Tenang den !"ucap bi Arsi sambil mengelus pundaknya.


"Bibi Sum ini orang tua kamu, yang sudah jerih payah untuk membesarkan lu !"ucap Arsenio.


Bibi Sum menangis, mendengar ucapakan anak kandungnya yang kasar itu.


"He, lu beruntung kaya raya, apa-apa lu bisa beli !"ucap Dika.


"Lu bilang enak, apa-apa bisa beli, apa nyawa orang tua gue bisa di beli, lu beruntung masih punya orang tua gue dari kecil sudah ditinggal orang tua gue, gue bisa merasakan kasih sayangnya walau sedikit belum bisa membahagiakan mereka !"ucap Arsenio.


"Gue cuma punya bibi, sama paklek, Meraka sudah gue anggap orang tua gue sendiri !"


"Ada yang sakiti hatinya, itu juga nyakiti hati ku !"lanjutnya.


Mereka terharu dengan ucapakan yang Arsenio ucap.


"Lu masih beruntung semuanya, hargai mereka yang masih ada, jangan sakiti mereka !"


"Bacot, bodo amat, yang penting lu punya banyak uang sedangkan gue nggak ada !"ucapnya.


"Lu mau punya uang, kerja ?"


"Kerja yang halal baru lu punya uang !"ucap Arsenio.


"Gue punya uang gue kerja keras selama ini, gue kerja hingga membuat toko-toko yang orang lain gue kerjaan yang butuh pekerjaan, hingga gue bangun kost-kosan dengan jerih payah gue, dan gue harus membuat bibi Arsi, bi Sum, paklek Dam bahagia dan menghidupi mereka !"ucap Arsenio.


"Lu pikir enak jadi gue ?"


"Susah !"lanjutnya.


"Itu kan hidup-hidup lu sendiri, pergi gue muak lihat wajah kalian-kalian !"ucap Dika.


"Dan ingat bu, jangan datang kalau lu belum kaya !"ucapnya.


"Astaghfirullah !"ucap bi Sum sambil mengelus dadanya.


Mereka pun keluar dari kamar inap Dika dan teman-temannya Arsenio terkejut melihat bi Sum menangis.


"Bi nggak papa kan, anak itu pasti buat bibi nangis kan dengan ucapannya ?"tanya Gilbert sambil menenangkan bi Sum.


"Sudah bi, jangan nangis kita bayar operasinya dan kita pergi dari sini !"ucap Arsenio.


Arsenio pun menuju ke tempat administrasi dan mengeluarkan uang untuk operasi Dika dan membayar juga ruang inapnya.


Arsenio pun menghampiri dokter yang akan mengoperasi kaki Dika.


"Dok tunggu sebentar, tolong dok, nanti dan seterusnya jaga Dika di sini dok, kalau saya dan lainnya tidak ada di sini dan juga buat operasnya berjalan dengan lancar ?"ucap Arsenio.


"Kita akan menjalankan operasinya dengan baik-baik mas tenang aja kita akan menjaganya !"ucap dokter itu.


Pagi pun tiba di alpartemennnya itu Arsenio menggangkat telepon miliknya. Ternyata rumah yang dia jual ada yang juga membelinya.


Arsenio pun beralih menelepon Megan dan teman-temannya untuk ikut membantu dia nantinya.


Sertifikat tanah dan rumah sudah Arsenio berikan kepada orang yang membeli rumahnya, kemudian Arsenio mengambil dua koper yang berisi uang dan berjaba tangan.


Setibanya di panti asuhan Arsenio membagikan amplop yang berisi uang tersebut kepada anak-anak yang tinggal di panti asuhan itu, begitu juga teman-temannya dan Megan juga membantunya.


Kemudian mereka bergegas pergi ke minimarket membeli sembako, dan makanan lainnya, kemudian mereka menuju di tempat kasir.


"Nanti ini di bagi mbak satu-satu !"ucap Arsenio.


"Iya mas !"ucap kasir itu.


Kasir itu pun mengerti apa yang diucapkan Arsenio.


Mereka pun membawa beberapa banyak kantong plastik yang di dalamnya ada sembako dan di bagikan oleh orang-orang yang masih kekurangan di dekat lampu merah di seberang jalan itu.


"Dah akhirnya selesai !"gumam Arsenio.


"Makasih ya kalian sudah membantu ku !"ucapnya.


"Iya sama-sama !"ucap mereka semua.

__ADS_1


"Gue cabut dulu ya, ada kerjaan di cafe !"ucap Megan kepada Arsenio.


"Makasih ya, hati-hati !"ucap Arsenio.


"Iya sama-sama !"ucap Megan kemudian.


Megan pun meninggalkan tempat mereka dan pergi menuju Cafe miliknya.


Arsenio dan teman-temannya menuju di tempat markas tongkrongannya itu.


Sesampainya di sana mereka melihat tongkrongannya yang bersih, nyaman itu berantakan Arsenio yang melihat ada kertas tertulis di cendela tempat warungnya tertulis.


"Ini masih kurang cukup bagi gue, sebenar lagi kalian The Moge akan binasah !"tertulis dalam kertas itu dan di bawahnya tertulis by Jake-Joker Amry.


"Sialan !"ucap Arsenio sambil mengepal-ngepal kertas itu.


"Ada apa Serno ?"tanya Arsan salah satu temanya.


"Ini ulah Jeke dan anggotanya !"jawab Arsenio sambil menahan marahnya.


"Apa yang akan kamu buat sekarang !"tanya Fino salah satu anggotanya.


"Serang markas mereka !"jawab Arsenio dengan menampakan wajah mematikannya itu.


Arsenio merancang strategi yang dia susun, meraka pun mengerti akan tugas-tugasnya.


Mereka menjadikan satu telapak tangannya dan berteriak.


"The Moge !"ucap Arsenio.


"Takan terkalahkan !"jawab mereka semua.


Malam pun tiba mereka semua menyusup pelan-pelan dan memasuki markasnya yang kumuh itu.


Mereka pun saling serang menyerang hingga Arsenio menuju ke arah Jake.


"Sialan lu !"teriak Arsenio dan berlari kearah Jake.


Mereka berdua pun saling menonjok hal hasil Jake tidak bisa menonjok Arsenio yang tak terkalahkan itu, yang ada Jake mengeluarkan banyak luka di wajah dan perutnya.


Arsenio pukul habis-habisan.


Anggota Jake tumbang semua begitu juga dengan Jake.


Sebagian anggota The Moge sudah mengacak-acak barang-barang yang berada di markas Joker army.


Mereka semua pulang dengan gembira bisa membalaskan dendamnya yang di mana geng Joker army sudah memberantakan tongkrongannya.


Di tempat nongkrongnya itu sudah terdapat bi Arsi, bi Sum dan paklek Dam yang bingung akan tempat yang indah itu jadi berantakan ngak masuk akal ini.


Mereka semua turun dari motornya dan menghampiri bibi dan paklek.


"Den ini kenapa ?"tanya paklek Dam.


"Siapa lagi paklek kalau bukan si onar Jake dan gengnya itu !"jawab Arsenio.


Mereka semua merapikan kembali yang telah diberantakan oleh Jake dan anak buah mereka.


Kemudian mereka semua istrihat di tempat duduknya masing-masing. Lalu bi Arsi dan bi Sum membawa minuman jus jeruk kepada mereka.


"Makasih bi !"ucap mereka semua setelah bibi mengantarkan minuman itu kepada mereka.


Aslan salah satu anggotanya melihat ke arah kipas angin yang berada di samping meja itu.


"Seno, kipasnya nggak bisa nyala, ada pecahan juga !"ucap Aslan kepada Arsenio.


Arsenio pun berdiri dan menuju kearah Aslan dan melihat kipas angin itu.


Anggotanya itu pun melihat kearah Arsenio dan Aslan.


"Iya nih, sudah mereka hancurkan kipas angin satu-satunya yang bertahan sudah lama kini mereka rasakan !"ucap Arsenio.


"Dasar si makhluk aneh itu, yang tiba-tiba nyerang markas kita !"ucap Brian teman gengnya.


"Yang penting kita sudah membalasnya !"sahut Gilbert kepada mereka semua.


"Kita pakai AC aja, besok-besok kita beli kipas angin !"ucap Arsenio dan kembali ke tempat duduknya.


Arsenio, dan teman-temannya itu membantu bi Arsi dan bi Sum membawa makanan ringan keatas mejanya.

__ADS_1


Tak pakai lama lagi, mereka semua menikmati makanan ringan dan minuman segar itu atas kemenangan mereka bersama.


__ADS_2