Dia Bukan Aku

Dia Bukan Aku
kastil sisila


__ADS_3

Ferro dan leo sudah sampai di tempat posko mereka dan mendengar kalau beberapa temannya sedang bercerita.


"kalian sudah kembali".kata keisya yang melihat kedua temannya datang, namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut keduanya, yang tentu membuat teman-temanya yang lain ikut penasaran.


mereka yang sudah terbiasa dengan wajah leo yang datar tentu tidak akan bisa menemukan jawaban dari manusia es itu, dan satu-satunya harapan mereka adalah ferro yang masih terlihat kesal.


" bagaimana? ketemu tidak dengan kastilnya? ".tanya mima dengan sedikit bercanda, yang di sambut gelak tawa dari teman-temanya yang lain.


" tentu saja ketemu, tapi seseorang mengacaukanya ".mendengar pernyataan ferro membuat leo langsung berbalik, yang tadinya dia berniat ke kamarnya kini dia beralih menatap ferro dengan marah dan juga kesal.


" aku sudah peringatkan jangan mendekati tempat itu, kalau kamu ingin kembali kesana, silahkan.. tapi jangan menyesal kalau kami tidak bisa menolong mu ".teriakan leo mampu membungkan mereka semua, hingga tidak ada yang berani mengeluarkan suara, ya leo walaupun sedingin es dan bersikap acuh tak acuh, namun dia tetap lah pria yang tidak gampang marah, apalagi tersulut emosi, jarang bicara sehingga teman-temanya itu sangat menghormatinya, bahkan orang di desa sana juga sangat menghormati nya yang kadang membuat teman-temanya merasa ragu dengan identitas temanya itu.


"kita selesai kan saja penelitian ini dengan segera, dan jangan mendekati tempat di hutan selatan..tapi kalau kalian ingin tetap kesana kita akhiri kontrak penelitian ini".imbuhnya, lagi dengan pelan. setelah itu dia menutup pintu kamarnya dengan rapat.


" ada apa? ".tanya kinan dengn nada penasaran, karena mereka sama sekali tidak mengerti dengan arah prmbicaraan ferro dan juga leon.


" tanya saja sama manusia es itu, kenapa malah tanya sama aku? ".celetuk ferro tidak kalah kesal lalu masuk kamarnya dengan membnting pintu juga.


" mereka berdua memang manusia-manusia aneh.. Kita kesini mau meneliti kasus atau meneliti sikap mereka sih? ".gerutunya dengan nada kesal.


" bukankah kita akan semakin penasaran dengan kastil itu kalau mereka bersikap seperti itu? ".jesika seperti mencium gelagat yang aneh dari kedua timnya itu.


" jangan bahas kastil itu lagi, leon sudah memperingati kita.. Jadi jangan coba-coba".sungut keisya memperingati teman-temanya yang lain


"bukankah aneh kalau kita tidak penasaran dengan kastil itu.. Bukankah semua kasus yang kita tangani sampai saat ini mengarah ke kastil itu ? ".sambung mima yang mendapat tatapan bingung teman-temannya yang lain.


" sudahlah kita harus mengikuti intruksi dari leon".kata keisya memperingati teman-temanya.


"kenapa kita harus mengikuti intruksinya, kita bukan bawahanya... Kita sama-sama datang kesini karena sebuah misi, bukankah sangat aneh jika kita menunda-nunda kasusnya, dan juga kita sudah terlalu lama disini".tambah mima lagi .


" kita itu detektif, dan kita bukan warga disini... Kita sudah sejauh ini tapi kita belum juga menemuka pembunuh berantai itu, dan setiap hari kita menerima laporan pembunuhan di kota ini.. Tapi hanya satu tempat itu yang belum kita selidiki".


"kastil ? Yha benar kastil itu, hanya hutan sebelah selatan yang belum kita selidiki".


beberapa menit kemudian ruangan itu sunyi dan hening.. semua orang larut dengan pikiran nya sendiri-sendiri, entah tiba-tiba mereka merindukan rumah mereka masing-masing.


"kita selesaikan ini dengan segera, semakin kita diam disini, kita akan semakin menjadi di bingungkan".


" besok kita akan menyelidi hutan sebelah selatan".pernyataan leo tiba-tiba saja membuat yang lainya melongo.


"tapi katamu tadi ... ".


"tapi aku tidak akan menjamin apakah kita akan pulang dengan formasi lengkap setelah ini, sepertikata mima, aku hanya kepala investagasi penyidikan disini.. Jadi sudah pasti aku yang akan bertanggung jawab terhadap semua keselamatan kalian".semuanya terdiam, yang awalnya antusias kini menjadi bimbang.


" leon jangan menakuti kami seperti itu, kami hanya ingin mencari sekecil apapun kemungkinan yang akan terjadi".


"ada beberapa hal yang tidak boleh tersentuh di tempat ini , jadi aku melarang kalian datang ke tempat itu.. ".


*******


aycile tengah khusu' berdo'a di gereja kecil di samping kastil mereka, entah sudah berapa lama dia disana.


"nona sudah saatnya kita kembali, sebentar lagi tuan besar pulang".bi inem dengan sopan mengingatkan nona mudanya kalau mereka sudah sangat lama di gereja. aycile sepertinya tidak berniat untuk bergeming sedikitpun,


" nona? ".bi inem memgang pundak aycile.


" baiklah kita pulang .. Ah lututku sampai sakit, tapi kenapa tuhan belum juga mengabulkan permintaanku".kata aycile dengan mimik wajah yang sulit di artikan oleh bi inem.

__ADS_1


"apa bi inem tidak penasaran dengan doaku? ".tambah aycile dengan nada seperti bertanya namun seperti hendak memberitahukan sebuah rahasia.


" memangnya bi inem boleh tahu apa permintaan non aycile?".jawab bi inem dengan takut-takut.


"tentu saja tidak boleh... Tapi coba bi inem tebak? ".kata aycile lagi, bi inem hanya bisa menenguk ludah dengan susah payah, baginya hal yang paling susah dia lakukan adalah berhadapan dengan nona mudanya itu adalah hal yang paling dia takutkan.


" apa nona aycile ingin keluar dari kastil? ".aycile menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, senyuman yang menurut bi inem lebih menyeramka dari pada ketika nona alice kambuh.


" nona ingin ,nona alice segera sembuh? ".jawab bi inem yang berusaha menebak apa yang barusan nona mudanya itu doakan, sampai dia susah berdiri.


" nona ingin jalan-jalan ke kota? ".aycile kembali menggelangkan kepala.


" cobalah tebak dengan hal-hal yang lebih berani".sambung aycile lagi dengan senyuman yang menakutkan.


"mmm keluar dari kota ini ? ".jawab bi inem takut-takut.


" ah bi inem payah".celetuk aycile dengan wajah masam, lalu berlalu dari hadapan bi inem dengan kesal.


"ayo kita kembali ke kastil".katanya dengan sedikit nada ceria lagi, entahkenapa bi inem selalu saja takut jika berhadapan dengan aycile di bandingkan dengan alice.. Dia tetap saja merasa merinding jika nona mudanya itu sudah mulai mengajaknya berbicara.


Di tengah perjalanan tiba-tiba aycile menyuruh untuk memberhentikan mobil.


" kita berhenti disini sebentar".perintahnya dengan wajah tersenyum.


"maaf nona, tapi hari sebentar lagi gelap, saya takut tuan besar akan memarahi kita kalau sampai pulang telat".jawan bi inem takut-takut.


Namun bukanya marah atau memasang wajah kesal justru nona mudanya itu tersenyum dengan lebar.


" tenang saja, cuman sebentar.. Aku ingin memotret beberapa hal untuk kenang-kenangan buat kakakku tersayang".aycile mengeluarkan kamera yang dari tadi bertengger di lehernya.


"nona ini sudah terlalu sore, kita harus kembali".tegas bi inem, walaupun dia takut dengan nona mudanya, tapi tuannya lebih menakutkan, jadi dia harus memberanikan diri.


" baiklah kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan".jawabnya masih dengan wajah yang penuh dengan senyuman. Hal yang justru membuat bi inem semakin ketakutan.


Bi inem sepanjang perjalanan hanya diam sambil curi-curi pandang terhadap nona mudanya.. Tidak ada pembicaraan di perjalanan hanya hening dan suara nafas, dan nona mudanya itu hanya tersenyum sesekali ke luar jendela , dan sesekali tertawa kecil seolah tengh menertawakn sesuatu, yang bagi siapa saja yang saat itu sedang berada di posisi bi inem pasti akan mengerti bagaimana ketakutan yang saat ini dia hadapi.


Perjalanan yang panjang bagi bi inem akhirnya berakhir, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai, dan cepat-cepat di bukakan pintu mobil oleh petugas yang sedang berjaga di depan pintu kastil itu.


"hufh".aycile menoleh ke arah bi inem yang menghela napas.


" maaf non".paham dengan tatapan nona mudanya , bi inem langsung meminta maaf dengan segera.


"kenapa bi inem menghela nafas seperti itu? Ada apa? ".aycile menatap bi inem dengan intens, karena tidak nyaman dengan apa yang baru saja bi inem lakukan, dia serasa orang paling jahat karena membuat seseorang tak nyaman denganya.


" tidak ada non, saya hanya khawatir kalau tuan akan memarahi saya karena telat membawa nona muda pulang ke rumah. ".bi inem menjawab dengan tulus, agar nona mudanya itu tidak salah paham .


" aku akan bertanggung jawab bi, lagian kita kan cuman ke gereja , atau bi inem takut padaku ? ".selidik aycile sambil memgang pundak bi inem.


" itu .. Mana berani bi inem takut pada nona, biinemlah yang merawat nona sejak lahir jadi mana mungkin bi inem takut ".


********


"apa perjalananya menyenangkan ? " pertanyaan dari seseorang sukses membuat langkah aycile terhenti, ia menoleh ke belakang untuk memastikan posisi orang yang sedang mengajaknya bicara.


"tentu saja sangat menyenangkan kakakku sayang".jawabnya dengan senyuman penuh ejekan.


" apa kakak tahu , aku berkeliling gereja, memetik bunga dan juga berdoa pada bunda maria".jawabnya dengan tersenyum lebar, yang siapa saja pasti tahu bagaimana menyenangkan sebuah perjalanan ketika hampir tidak pernah keluar dari tempat yang mengerikan itu.

__ADS_1


"maaf yha, aku lupa mendoakan kesembuhan kakak,karena sepertinya tuhan juga tahu kalau kakimu yang cacat itu adalah sebuah berkah untukmu.. Owh yha aku punya beberapa foto tadi di gereja,khusus aku abadikan untuk kakakku yang paling cantik".aycile merogoh kantongnya dan memberikan beberapa lembar foto .


" kakak bisa merasakan feelnya dari sini, bagaimana menyenangkanya untuk keluar dari rumah ini,bagaimana rasanya berlarian di tanan dan memetik bunga".alice berusaha untuk menahan amarahnya.


"berlarian di padang rumput itu sangat menyenangkan dari pada hanya berdiam diri di atas kursi roda,atau hanya berdiam diri di dalam kamar".sungut aycile dengan suara setengah mengejek,hingga tanpa sengaja alice malah menjalankan kursi rodanya yang berakhir menabrak aycile yang tentu membuat aycile terjatuh.


"aaakhhh".teriaknya dengan keras sehingga siapapun yang mendengar suaranya akan tahu kalau ada yang sedang terluka.


" kakak ingin mecelakakankku ya? ".terikanya dengan keras lagi.


" aakkaaku tidak sengaja,sungguh...apa kamu tidak apa-apa"..tutur alice dengan wajah yang sangat merasa bersalah.


"apa aku terlihat baik-baik saja".teriak aycile dengan marah.


Papa dan mamnya langsung bergegas lari ketika mendengar teriakan dari aycile.


melihat kedua orang tuanya mendekat membuat aycile langsung meringis kesakitan.


"aycile ada apa sayang? ".papanya dengan segera membantu putrinya untuk berdiri.


" itu pa, ma.. Kak alice marah padaku karena aku habis dari gereja dan memberikanya foto gereja, tapi dia malah marah dan bilang kalau aku sedang menghinanya".jawab aycile yang sudah di bantu berdiri oleh papanya, sedangkan mamanya malah ke arah alice untuk memastiakan putrinya itu baik-baik saja.


"alice.. ".papanya ingin mencari tahu kebenaran atas apa yang di ucapkan oleh aycile.


" bukankah dengan memperlihatkan fotonya dia sedang mengejkku ! apa kau kira aku bodoh ? ".jawab alice yang sekarang tidak merasa bersalah sama sekali.


" alice.. ".kata papanya untuk mendapatkan jawaban yang pasti.


" aku tidak sengaja".jawab alice akhirnya.


" tu kan mama lihat kelakuan kakak, apa dia ingin aku cacat seperti dia makanya dia menabrakku".ucap aycile dengan nada memelas yang sukses membuat mamanya terlihat shock atas apa yang di dengarnya.


"aycile .. Alice itu kakak kamu,kenapa bicara seperti itu".tegur mamanya dan dengan kesalnya aycile malah mendorong mamanya yang tengah memapahnya hingga membuat mamanya hampir terjatuh.


" kalian selalu saja membela gadis cacat itu, kalau dia membuatku ikut cacat bagaimana? ".teriak aycile yang membuat papanya yang dari tadi menahan amarah langsung saja menampar putrinya itu.


" sekali lagi kamu sebut kakak kamu cacat, papa yang akan mematahkan kaki kamu itu".


Aycile memgang pipinya yang merasa kebas karena di tampar, dan mamanya hanya menggelengkan kepala.


"sayang apa yang kamu lakukan ? ".kata mamanya yang meliht kalau suaminya sudah berada diluar kontrol.


"apa kau senang ? Inilah alasan kenapa aku selalu membencimu,bukan karena kakak sakit,tapi karena mama dan papa".ucap aycile ke arah alice yang masih tidak bergerak dari tempatnya tadi, hanya melihat dan mengamati kegaduhan yang ada di depanya.


"bi inem, tolong antar aycile ke kamarnya, dan jangan lupa suruh dia minum obat , dan juga jangan lupa kompres pipinya aycile".perintah mamanya aycile kepada bi inem yang dari tadi diam saja di samping aycile.


" alice sayang, maafiin adikmu yha , dia tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, dia hanya kesal".mendengar perkataan mamanya justru membuat alice menghela napas .


"yha selalu saja seperti itu".jawabnya pelan , lalu menjalankan kursi rodanya sendiri.


"mama antar yha? ".


" tidak usah! ".katanya singkat. Mamanya ingin menyusulnya lagi namun tanganya di tahan oleh suaminya, suaminya memberi kode dengan menggelengkan kepalanya.


seperti inilah gambaran setiap aycile di izinkan keluar dari kastil, kastil akan berubah menjadi sangat menyeramkan dengan suara teriakan-teriakan histeris dari kedua gadis kembar yang ada di dalam kastil itu.


Entah berapa lama lagi mereka akan tinggal di dalam kegelapan kastil itu, kastil yang tidak boleh di datangi.

__ADS_1


__ADS_2