
"Kak Ara! Sudah jangan seperti ini!." Ujar Fika
"Sudahlah kau tak perlu ikut campur ini urusan saya dengan dia!"
"Berani kau berlaku kasar terhadap ayahmu mu! Dimana etika kau letak kan percuma saya sekolahkan kau!"
"Tak perlu anda bahas etika! Karena, disini anda lah yang tak beretika. Orang tua macam apa yang memperlakukan anak kandung seperti musuh. Dan memperlakukan anak tiri seperti ratu."
"Diam kau!" Saat tamparan ke2 akan dilayangkan oleh Angga. Tangan nya lebih dahulu di tepis oleh Dita.
"Sudahlah, jangan seperti ini!" Ujar Dita kepada Angga suaminya.
"Jangan, kau bela dia terus. Sesekali dia perlu diberi pelajaran agar dia berlaku sopan! Lebih baik kau minggir!"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kau berlaku tak adil padanya. Dia layak mendapatkan perlakuan baik!"
"Sudah cukup! Saya lelah dengan drama ini. Saya akan keluar dari rumah ini!" Karamel pun kembali masuk kedalam kamarnya dan merapikan seluruh perlengkapan nya dalam koper. Tak lupa Karamel menelpon seseorang untuk membawa perlengkapannya.
Karamel keluar kamar dengan membawa koper dan tas yang sudah dia isi dengan perlengkapan yang dia miliki.
"Ra! Jangan pergi, Ini rumah mu juga sayang!" Ujar Dita mencegah Karamel pergi.
"Maaf, Tante. Tapi, ini kebaikan yang harus Ara ambil. Biarkan Ara pergi!"
"Kak Ara, jangan pergi!"
Karamel tak memperdulikan Dita dan Fika yang memanggil melepas kepergian dirinya.
Karamel menuju sebuah apartemen peninggalan almarhumah mamanya yang sudah di alih wariskan kepadanya.
"Makasih!" Ujar Karamel pada kurir yang mengantarkan perlengkapan berserta koper miliknya.
__ADS_1
"Iya sama-sama non!"
Karamel masuk kedalam apartemen dia merasa kesulitan merapikan apartemen yang sudah lama tak dihuninya. Akhirnya Karamel memutuskan untuk menelpon seseorang, untuk membantunya membereskan apartemen yang sudah lama tak ditempati.
"Hallo!"
"Iya, hallo dek ada apa!
"Bisa nggak mbak datang ke apartemen Ara sekarang!"
"Iya bisa dek! Kamu kirimkan saja alamatnya."
"Okeh mbak!"
"Jadi, Ara bakal tinggal disini. Terus gimana kehidupan Ara selanjutnya. Hidup mandiri itu nggak mudah Ra!" Ujar mbak Nala menasehati Karamel.
"Iya, Ara tau mbak. Menjalani kehidupan memang nggak mudah apalagi diusia Ara yang remaja ini! Tapi, mau gimana lagi mbak, Ara harus tetap jalanin ini. Mungkin Ara akan kembali membuka Kafe milik mama, dengan begitu Ara bisa melanjutkan kehidupan."
"Ara udah pikirkan semua dengan matang mbak! Lagian Ara punya tabungan dan Ara bisa lelang motor yang nantinya bisa jadi modal."
"Ya, udah kalau gitu. Nanti, mbak bakal bantu Ara!"
"Makasih ya mbak!"
"Iya Ra sama-sama. Owh ya, terus sekarang kamu nggak sekolah kah?"
"Nggak mbak!"
"Kenapa?"
"Gpp, pengen menenangkan diri dulu. Mbak bisa kan datang ke Sekolah Ara buat minta izin sama guru Ara!"
__ADS_1
"Bisa Ra! Nanti mbak izin. Sekarang, kita bersih-bersih dulu aja ya!"
"Okeh mbak!"
3 hari telah berlalu. Namun, Ara belum juga kembali masuk sekolah.
Sebab, dia masih sibuk mengurusi persiapan pembukaan kafe miliknya yang diberi nama" Karmel cafe".
Sementara disisi lain. Fika saudari tiri Karamel masuk disekolah yang sama dengan Karamel hanya berbeda tingkatan dia masuk dikelas X ips3 yang merupakan kelas Raja.
Pagi itu digerbang sekolah tanpa sengaja Fika dan Raja bertemu.
"Raja! Lo Raja kan!"
Raja tak perduli dengan sapaan Fika. Karena, baginya Fika adalah masa lalu yang harus dilupakan.
"Ja! Tunggu jangan menghindar dari aku!"
Raja hanya diam dan terus berjalan hingga membuat Fika kesulitan mengejar Raja. Fika pun berdiri didepan Raja.
"Apa an sih Lo Fik! Minggir sana!"
"Gue nggak mau Ja!"
"Mau Lo apa sih Fik, belum puas Lo nyakitin perasaan gue!"
"Gue minta maaf Ja! Gue ngaku salah. Sekarang, gue sadar ternyata Raka tak sebaik Lo"
"Terus mau Lo apa sekarang!"
"Gue mau kita balikan lagi. Gue mau kita perbaiki semuanya dari awal lagi. Gue masih sayang sama Lo ja!"
__ADS_1