Dokter Jenius Istri Dewa Perang

Dokter Jenius Istri Dewa Perang
Kemustahilan!


__ADS_3

Ameera tertidur dengan keadaaan seperti orang bingung. Mungkin karena pemilik asli tubuh ini terlalu lemah.


Dalam tidurnya kali ini, Ameera bermimpi. Dia bermimpi telah kembali ke ruangan Penelitiannya.


Ruangan Penelitian ini adalah ruangan Rahasia yang disediakan khusus dan diatur oleh Pihak Perusahaan. Tidak banyak yang tau tentang keberadaan Ruangan ini kecuali hanya orang orang khusus yang bersangkutan dengan Ruangan ini , terutama Tim Ameera yang memang khusus menemani Ameera saat berada diruangan ini.


Ameera menyentuh Meja. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Komputer, Mikroskop, obat obatan dan bahkan jarum suntik yang ia gunakan untuk menyuntik dirinya saat itu masih terlihat tergeletak di samping ranjang.


Komputer miliknya masih menyala dan banyak sekali pesan masuk melalui chat WhatsAppnya. Itu semua adalah pesan dari keluarganya yang terus menanyakan keberadaannya saat ini. Apa ini?


Ameera dibuat bingung. Apa dia belum mati di dunia Modern ini? Kenapa keluarganya mempertanyakan keberadaannya? Ataukah Pihak Perusahaan ini tidak memberi kabar pada keluarganya? Ameera benar benar bertanya tanya. Dia ingin pergi mencari jawaban yang begitu ganjil ini.


Namun kakinya sangat berat. Seperti tidak bisa untuk melangkah sedikitpun.


Ameera mengusap layar komputernya. Ada setitik air mata bergantung di sudut matanya menatapi deretan pesan dari keluarganya. Kesedihan menancap ulu hatinya. Dia tidak bisa lagi melihat keluarganya sekarang.


Saat Ameera melamun, dia melihat sebuah botol Antiseptik diletakkan di atas meja. Ameera mengambil itu dan mengamati. Dia mengingat sesuatu. Dia sendiri yang menaruh ini sebelum dia menyuntik dirinya sendiri saat itu. Karena pada saat itu ia berpikir akan berada lama diruangan ini, makanya dia membawa serta kotak obat miliknya. Dia menoleh,menatap kotak yang masih tergeletak disitu. Dia mengambilnya dan membukanya. Obat obatan Kedokteran miliknya masih utuh tak tersentuh.


Dia kemudian teringat bocah yang terluka itu. Jika saja dia menpunyai obat obatan ini disana, mungkin anak itu bisa selamat. Sayangnya disana entah zaman apa, tidak mungkin ada obat obatan seperti ini.


Entah sudah berapa lama Ameera tertidur dan bergelut dengan mimpinya mengenai Ruang Penelitiannya itu, dia terbangun karena mendengar suara pintu terbuka. Seorang pelayan wanita masuk dengan membawa sebuah piring berisi Roti. Pelayan itu meletakkan piring di atas meja.


"Silahkan dinikmati Permaisuri." ucapnya, dengan nada begitu dingin padanya dan langsung keluar dari kamar itu.


Ameera hanya terpaku. Tidak memikirkan ucapan dingin pelayan wanita itu, dia memikirkan kejadian tadi. Itu hanya mimpi. Ameera mendengus. Lalu merasakan perutnya sangat lapar. Dia melirik Piring berisi Roti. Ameera bangun dari Ranjang dan menjajakan kakinya di lantai.


Dia hendak melangkah menuju meja, namun kakinya tersandung sesuatu. Ameera langsung memeriksa, benda apa yang telah menyandung kakinya.


Darah dalam tubuh Ameera seketika membeku. Matanya terbelalak kaget melihat apa yang sudah menyandung kakinya tadi.

__ADS_1


Kotak Obat, tergeletak di bawah Ranjang. Ameera mengamati itu, sama Persis dengan Kotak Obat miliknya di Ruang Penelitian.


Ameera lalu mengangkatnya kotak itu ke atas meja, lalu membukanya dan meneliti.


Otak Ameera benar benar membeku. Ini adalah kotak obat miliknya, yang ia lihat dan ia sentuh didalam mimpi tadi.


Pikiran Ameera terpaku sekarang, bagaimana semua ini terjadi?


Jiwanya bisa melintasi Dimensi, melewati ruang dan waktu saja ini sungguh hal yang luar biasa baginya. Suatu hal yang mustahil dicerna oleh akal sehat. Sekarang, kotak obat ini mengikutinya Kemari?


Tidak. Tadinya kotak ini tidak ada disini, dan setelah ia bermimpi dan memikirkan jika saja dia memiliki kotak obat itu disini, lalu tiba tiba kotak obat itu muncul.


Ini sungguh Mustahil!


Awalnya, Ameera menolak kejadian ini, ia mencoba menjelaskan masalah ini dari sudut pandang Ilmiah.


Semua pemikiran Ameera sia sia, tidak bisa menjelaskan. Ameera tetap tidak bisa memecahkan poin ini.


Hingga sekian lamanya Ameera bergelut dengan pikiran runyam, dengan kejadian mustahil, dia mencoba menenangkan diri. Lalu memakan beberapa roti sekaligus karena kelaparan. Setelah merasa kenyang, Ameera menyembunyikan Kotak Obat itu di bawah Ranjang.


Lalu Ameera kembali ke ranjang.


Kembali ingin tidur dan siapa tau saja dia bisa bermimpi lagi. Dan bisa membawa sesuatu dari dalam mimpinya kemari.


Tapi sayangnya hatinya dipenuhi emosi, mungkin karena Ameera terlalu bersemangat sehingga dia tidak bisa tidur. Seberapa keras dia mencoba tidur, tapi tetap tidak bisa.


Bukan itu saja, malam berikutnya dia juga belum bisa tidur. Walaupun tubuh ini sangat lemah, matanya terpejam, tapi otaknya tidak bisa berhenti dengan kecepatan penuh terus berpikir.


Sampai malam yang ketiga pun dia masih belum bisa tertidur. Ameera bangun dari Ranjang, menatap dirinya di cermin sekarang. Melihat wajah tubuh ini. Seperti gembel. Matanya hitam cekung ke dalam. Dengan Rambut acak acakan.

__ADS_1


Ada bekas luka kecil di atas Alis, lalu luka di pergelangan tangan. Ini sudah tidak buruk. Tidak perlu dikhawatirkan lagi. Karena Ameera sudah mengkonsumsi obat dari kotak yang ia sembunyikan di bawah kolong Ranjanganya. Hanya sesekali terasa nyeri saja. Itu adalah gejala penyembuhan luka saja.


Dia juga merasa beruntung, tidak ada Pelayan yang membersihkan ruangannya. Ameera akan membersihkan sendiri sesekali saja.


Ameera menatap luka dipergelangan tangan yang mulai mengering. Dia kemudian teringat bocah kemarin yang terluka. Tertancap paku di bagian sudut matanya. Ameera ingin tau kabar keadaan bocah itu. Andai saja sekarang dia bisa menemui, mungkin Ameera bisa menolong. Karena dia sudah memiliki kotak Obat dari Ruang Penelitiannya.


Ameera ingin mencari tahu keberadaan bocah itu. Tapi kemana-kemana? Dia bingung. Lalu mencoba untuk mencari keluar.


Ameera terkejut ketika hendak melangkah ke pintu. Seseorang membuka pintu. Pelayan Wanita yang kemarin datang, masuk kembali dengan membawa sepiring Roti kembali.


Lalu meletakan piring ke atas Meja.


"Silahkan dinikmati Permaisuri." suaranya masih sama seperti hari hari kemarin. Dingin.


Tapi kali ini ada yang berbeda.


"Meyli." tiba tiba Ameera memanggil Pelayan wanita itu. Ameera bisa mengetahui nama Pelayan wanita itu. Ini mungkin adalah salah satu dari ingatan si pemilik tubuh asli yang masih tertinggal.


Pelayan Wanita itu berhenti dan menoleh, tanpa bertanya atau pun menjawab panggilan Ameera.


"Em.. Bagaimana kabar Putra Bibi Zhu. Apakah dia sudah membaik?" tanya Ameera.


"Apa? Membaik katamu?" Pelayan Wanita itu melotot marah pada Ameera.


"Keadaannya sangat buruk. Zho Ji Sekarat! Apa kau senang mendengar?" ucap Wanita itu terdengar semakin dingin. Lalu pergi begitu saja tanpa permisi, bahkan menutup pintu dengan sangat kuat.


Ameera terpaku. "Sekarat? Lalu, kenapa aku harus senang?"


Seperti ada yang tidak beres, apakah ada hubungannya Bocah itu terluka dengan Si pemilik tubuh ini? Ameera berpikir demikian.

__ADS_1


__ADS_2