
Selama Beberapa hari yang lalu, Ameera tidak bisa tidur, itu sudah menyebabkan dia lemas tak bertenaga. Tapi karena nalurinya sebagai seorang Dokter, ia memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan menemui Zho Ji. Ameera sangat berharap bisa menyelamatkan Nyawa Zho Ji. Setidaknya, meringankan penderitaan Zho Ji.
Tapi kali ini, tamparan yang begitu keras ia dapatkan, membuat Ameera semakin lemah dan tidak bisa untuk berdiri tegak lagi. Hingga tangan yang mencekik lehernya terlepas, tubuhnya yang sudah sangat lemas itu jatuh lunglai ke lantai. Ameera yang merasa hampir pingsan akhirnya bisa bernafas kembali walaupun masih terasa begitu sesak.
Namun baru saja dia menarik nafas Beberapa kali, tiba tiba tubuhnya ditarik keluar secara paksa oleh para pengawal.
Dalam keadaan yang belum sepenuhnya sadar, dia masih bisa melihat wajah dingin penuh amarah Raja Han yang menatapnya dengan penuh jijik padanya. Belum sempat mengatakan apapun, Ameera sudah di seret dengan kasar.
Entah sudah berapa puluh meter Para pengawal menyeret tubuhnya kemudian menuruni tangga batu. Kepala Ameera beberapa kali terbentur di tangga batu yang keras dan tajam. Ada rasa sakit yang begitu sangat dia rasakan. Hingga kedua matanya kini mulai menggelap dan akhirnya benar benar menggelap. Ameera jatuh Pingsan.
Namun itu tidak terlalu lama. Sebuah rasa sakit yang teramat sangat dia rasakan. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan selama ini. Sebuah Papan menghantam pinggangnya dan bagian pahanya. Setiap pukulan itu sakitnya hingga menembus tulang. Dia bahkan merasa bahwa pinggang dan kakinya mungkin sudah patah. Ada bau darah dari mulutnya. Dia menggigit bibir dan juga menggigit lidahnya untuk menahan rasa sakit, atau setidaknya agar dia bisa pingsan kembali. Tapi semua itu tidak bisa membuatnya kembali pingsan. Rasa yang begitu sakit malah membuatnya terus tersadar.
Setelah menerima Tiga puluh kali pukulan, Ameera merasa Melawati itu dengan cukup lama.
Ameera terisak menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia merupakan Dokter terbaik di dunia yang ia tinggali sebelum disini. Orang orang sangat menghormatinya dan bahkan akan mengantri panjang saat ingin mendapatkan pelayanan darinya. Di setiap ada acara, Ameera juga akan menjadi sorotan utama.
Di abad ke 21, seluruh orang dengan sabar sedang menantinya mengembangkan obat penyelamat nyawa manusia. Namun disini, semuanya begitu berbalik. Ameera hanya ingin menyelamatkan seorang bocah saja, harus membayarnya dengan rasa sakit dan bertaruh nyawa.
Belum selesai rasa sakit yang ia rasakan, Ameera kembali di seret oleh para Prajurit. Mereka menyeretnya dan membuangnya kesebuah ruangan khusus di Paviliun Red bersama kotak obatnya yang juga di lempar begitu kencang hingga mengenai punggungnya .
Ameera kembali mengeluh, punggungnya terasa sangat sakit dan merasa ada darah yang mengalir dari punggungnya. Dia tidak bisa membalikkan badannya. Hanya berusaha mengulurkan tangannya untuk menjangkau kotak obat yang terpental agak jauh dari tubuhnya.
Dengan terus berusaha sambil meringis menahan sakit, Ameera mendapatkan kotak obatnya. Dia berusaha untuk duduk bersandar di tembok dan cepat membuka kotak obat. Mencari pil penahan rasa sakit dan menyuntik dirinya sendiri untuk mengeringkan lukanya.
Dia mulai merasakan pusing yang semakin parah. Hingga Akhirnya Ameera jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sementara itu Raja Han Carl. Terlihat berdiri di Ruangan Luas Paviliun Red. Raja Han sudah memerintahkan beberapa Prajurit untuk memberi hukuman pada Ameera, tapi dia merasa masih kurang puas. Amarahnya belum juga mereda. Dia tadi sempat mengucapkan beberapa kalimat untuk menghibur Bibi Zhu sebelum dia pergi.
Shoyan terlihat berlari menghampiri. "Yang Mulia. Mengenai Permaisuri bagaimana? Dia pingsan. Apakah tidak perlu memanggil Tabib untuk memeriksa nya?"
Mata Raja Han langsung memerah. "Tidak perlu! Jika dia mati, laporkan saja kalau itu kecelakaan!"
"Lalu bagaimana jika, pihak Keluarga Permaisuri tidak percaya dan bagaimana menjelaskannya?" tanya Shoyan.
"Memang harus bagaimana menjelaskannya? Katakan saja kalau dia mati, mati karena terlalu lancang!"
Shoyan tidak lagi bisa membantah. "Baik Yang Mulia."
Shoyan kembali melangkah untuk menemui Bibi Zhu. Meminta kepada Meily untuk segera menebus obat. Meily segera pergi. Shoyan masuk kedalam rumah Bibi Zhu. Melihat Zho Ji yang sudah tertidur lelap.
Bibi Zhu membereskan lantai. Dia kembali menangis, memunguti kapas yang bercampur darah dan nanah. "Syukurlah Zho Ji tertidur, dari tadi dia tidak bisa tidur karena kesakitan."
Bibi Zhu seketika menoleh. Dia juga melihat itu. Mata Zho Ji sudah tidak membengkak. Dan Nanah yang tadinya terlihat sudah tidak ada lagi.
"Syukurlah. Semoga Zho Ji akan segera sembuh. " lalu kembali melanjutkan pekerjaan. Shoyan melirik Benda yang ditemukan Bibi Zhu diantara kapas. Itu adalah jarum suntik bekas Ameera menyuntik Zho Ji tadi.
"Apa ini?" Shoyan mengamati benda itu.
"Tidak tau. Wanita itu meninggalkannya disini. Mungkin dia lupa membawanya, atau tidak sempat!" Bibi Zhu sangat kesal dan membenci Ameera hingga menyebutnya dengan sebutan wanita itu.
Shoyan masih meneliti. Dia belum pernah melihat benda ini sebelumnya selama hidupnya. "Apa Permaisuri meracuni Zho Ji?"
__ADS_1
"Hah!" Bibi Zhu langsung cemas. "Dimana Tabib? Apa dia sudah pergi?"
"Dia sudah pergi. Dia meninggalkan resep. Dan Meily sudah pergi untuk menebusnya. Tenanglah. Aku hanya menebak saja. Tapi sepertinya ini bukan racun."
Bibi Zhu sedikit lega mendengarnya, tadinya dia sudah sangat cemas. Lalu dia berkata kepada Shoyan. "Aku ingin menjaga Putraku."
"Baiklah. Temani saja. Aku akan pergi."
"Terimakasih Tuan Menteri."
Sebelum melangkah pergi, Shoyan menoleh lagi pada Bibi Zhu dan berkata.
"Tabib tadi mengatakan, malam ini temani Putramu dengan Baik. Karena besok, kita tidak atau apa yang akan terjadi." lalu Shoyan melangkah keluar dengan perasaan sedih.
Bibi Zhu yang mendengar perkataan Menteri Shoyan tadi pun langsung menangis lagi. Dia benar bener sedih mengingat perkataan Tabib Ze. Jika Zho Ji tidak mungkin selamat.
"Benarkah Putraku Akan Mati?" membayangkan itu, bibi Zhu menangis tersedu sedu.
Sampai Meily datang dengan membawa obat dari Tabib Ze. Meily menghibur Bibi Ze dan meminta Bibi Ze memberi obat secepatnya pada Zho Ji. Tidak ingin menunggu lama, Bibi Zhu memaksa Zho Ji untuk bangun sekedar untuk memberinya obat.
Zho Ji bangun meskipun tidak sepenuhnya terbangun. Cepat meminum obat itu dengan bantuan Bivi Zhu dan Meily karena badannya sanagt lemah. Kemudian Zho Ji kembali terbaring lemah.
"Tidurlah kembali Zho Ji." Bibi Zhu menarik Selimut. Zho Ji tidak mengeluarkan sepatah katapun dan langsung memejamkan matanya.
Bibi Zhu kembali cemas. "Apa dia Sekarat?"
__ADS_1
"Jangan bicara itu. Sebaiknya kita berdoa." Meily berusaha menghibur Bibi Zhu.