Dokter Jenius Istri Dewa Perang

Dokter Jenius Istri Dewa Perang
Hukum Dia!


__ADS_3

Mendengar Bibi Zhu menangis keras, Meily mendekat untuk menenangkan. Memapah Bibi Zhu untuk duduk di bangku yang ada disana.


Menteri Shoyan tidak tega melihat Bibi Zhu yang terus saja menangis itu. Menteri Shoyan mendekati Tabib Ze. "Ku mohon bantulah Zho Ji. Dia sangat menderita. Setidaknya beri obat pereda rasa sakit saja. Kami berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun jika anda pernah merawatnya." Shoyan berbicara pelan sambil menggenggamkan uang di telapak tangan Tabib Ze.


"Kalau hanya untuk meredakan sakit baiklah. Tapi sebenarnya itu tidak ada gunanya. Karena jika harus pergi , maka akan segera pergi." jawab Tabib Ze.


Menteri Shoyan hanya mengangguk. Baginya itu sudah cukup , andai Zho Ji harus pergi, setidaknya dalam keadaan baik. Keadaan anak itu saat ini benar benar menyedihkan. Menteri Shoyan tentu tidak tega. Karena walau bagaimanapun juga, Menteri Shoyan juga melihat bagaimana anak itu tumbuh di sekitar Istana dan dekat dengannya.


Tabib Ze keluar di ikuti semua, lalu dia hendak menulis resep obat. Tiba tiba tanpa di duga, pintu itu di tutup seseorang yang masuk dengan cepat dan menguncinya dari dalam.


Mereka terkejut, terlebih saat Meily mengenali pakaian yang dikenakan seseorang tadi sesaat sebelum menutup pintu itu.


"Itu Permaisuri!" teriak Meily.


Bibi Ze yang mendengar dan menyadari jika Permaisuri yang saat ini berada di dalam kamar Putranya itu begitu sedih dan sangat marah. Dia langsung menerjang dan menggedor gedor pintu. "Buka Pintunya. Buka! Apa yang kamu perbuat Permaisuri!" Teriak Bibi Zhu sampai seperti orang yang menggila.


Ameera terdengar menjawab dari dalam dengan suara yang tidak terlalu keras, Dia tidak banyak bicara selain mengatakan "Masih bisa di selamatkan. Aku akan berusaha."


Tabib Ze yang mendengar ucapan Ameera tersenyum sinis. "Anak itu sudah sekarat. Mana bisa di selamatkan lagi? Kau pikir dirimu seorang dewa? Tidak ada orang sehebat dewa di istana ini. Kau hanya ingin mempercepat kepergiannya? Kenapa harus melakukannya itu?"


Tubuh Bibi Zhu seketika melemas dengan wajah pusat, ia menoleh pada menteri Shoyan dengan tatapan putus asa.


"Tuan Shoyan. Ku mohon. Panggil beberapa orang agar mendobrak pintu ini. Aku ingin melihat keadaan Putraku. Dia pasti saat ini sedang ketakutan." iba Bibi Zhu pada Menteri Shoyan.


Menteri Shoyan juga tidak menyangka jika Permaisuri akan datang di saat seperti ini dan membuat kekacauan.

__ADS_1


"Nampaknya Permaisuri tidak mendengarkan kata kata Yang Mulia Raja Han. Kalau begitu, jangan salahkan aku jika akan melaporkan ini pada Yang Mulia." gerutu Menteri Shoyan.


Menteri Shoyan lalu memerintahkan Meily "Meily.. Cepat pergi menghadap Yang Mulia. Jika Yang Mulia tidak ada,maka kita tidak bisa bersikap sopan lagi kepada Permaisuri. Dan panggil juga beberapa Pria kemari untuk mendobrak pintu ini!"


"Baik!" Meily yang juga sangat marah pada Ameera segera bergegas keluar dengan cara berlari untuk menemui Yang Mulia Raja Han Carl.


Menteri Shoyan kembali pada Tabib Ze dan meminta Tabib Ze membuka resep dan segera meminta orang untuk mendapatkan obat yang diresepkan Tabib Ze..


Sementara Ameera yang mendengar percakapan dari luar itu langsung bergerak secepat mungkin. Apalagi ketika melihat kesadaran Zho Ji semakin menipis, namun bocah itu masih terus berteriak kesakitan.


Ameera memeriksa lukanya. Sudut matanya bernanah dan seluruh matanya membengkak. Itu menandakan jika mata bocah itu sudah terinfeksi oleh bakteri.


Ameera membuka kotak obat miliknya yang sengaja ia bawa serta. Segera mengeluarkan jarum suntik. Pertama yang ia lakukan adalah menyuntik bocah itu dengan antibiotik. Setelah itu Ameera mulai mengeluarkan darah dan nanah pada luka si bocah dengan menggunakan pisau kecil. Tidak lupa mengoleskan Antiseptik.


Bibi Zhu yang mendengar Putranya berteriak kesakitan nampak Frustasi hingga membenturkan kepalanya ke pintu sambil memaki dan bersumpah serapah. "Jika kamu ingin membalas dendam atau apa, kepadaku saja. Jangan menyiksanya! Aku tidak akan pernah memaafkan mu Permaisuri! Ingat itu! Sampai aku mati, aku tidak akan melepaskanmu!"


"Dia sungguh kejam!" Tabib Ze menggelengkan kepalanya. Tampak ngeri dengan jeritan menyedihkan dari dalam.


Menteri Shoyan juga sangat marah. Tapi bingung harus melakukan apa. Melihat Bibi Zhu frustasi, dia takut Bibi Zhu akan melukai dirinya sendiri. Shoyan memilih maju untuk menahan dan menenangkan Bibi Zhu.


Mereka menoleh ketika mendengar ramai derap langkah. Meily sudah datang bersama Raja Han Carl dan beberapa pengawal.


Begitu sampai, Raja Han langsung mendengar teriakkan Zho Ji dari dalam. Darahnya mendidih, apalagi ketika Bibi Zhu langsung berlutut di lantai dan memohon kepadanya. "Yang Mulia. Tolong Putraku!"


Pandangan mata Raja Han memerah, raut wajahnya seketika dingin. "Dobrak Pintunya!" Raja Han memberi perintah pada Para Pengawalnya.

__ADS_1


Beberapa Pria itu segera melaksanakan perintah. Langsung mendobrak pintu secara bersamaan. Hingga dua tiga kali. Lalu ke empat kalinya, pintu itu pun terbuka.


Melihat pintu sudah terbuka, Bibi Zhu langsung berlari masuk. Jantungnya terpompa saat melihat pisau berada di tangan Ameera. Kapas yang penuh dengan darah berserakan di lantai.


Bibi Zhu segera menerjang ke depan. "Permaisuri! Kau benar benar ingin membuat aku hancur! Kau sungguh ingin melihatku mati secara perlahan dengan menyiksa Putraku yang tidak tau apa apa ini?"


"Ibu , Ibu. Aku sakit. Kemari lah Ibu. Ini sakit sekali." Seluruh tubuh Zho Ji gemetaran. Dengan sekuat tenaga yang tersisa berusaha menarik tangan Sang Ibu untuk mendekat padanya.


Ameera sudah selesai menanganinya, tadinya ia hendak membalut bekas luka Zho Ji dengan perban. Tapi sayangnya sudah tidak ada waktu lagi.


Ameera berpikir untuk memilih pergi saja. Dia mengangkat kotak obatnya. Tiba tiba ada Sebuah banyangan menghalanginya. Baru saja Ameera mendongak untuk melihat siapa, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di wajahnya.


Begitu kerasnya tamparan itu, hingga membuat telianganya berdenging dan pipinya terasa panas dan rasa sakit yang sangat menyengat.


Belum saja sepenuhnya sadar apa yang terjadi, leher Ameera sudah dicekik oleh seseorang.


Ameera terbelalak, melihat wajah Raja Han penuh dengan amarah. Nafasnya terasa sesak, bahkan pandangannya mulai menggelap dan hampir seperti mau pingsan.


"Zho Ji hanyalah seorang Bocah! Bagaimana kau bisa sekejam itu padanya? Apa kau benar benar sudah Gila?" suara raja Han berteriak di telinga Ameera.


"Kau benar-benar membuatku Muak!" lalu menoleh pada para Pengawal dan memberi perintah.


"Pengawal! Bawa dia ke penjara dan hukum dia? Pukul dengan Tongkat Tiga puluh kali!"


"Siap!" Pengawal menjawab dengan sigap dan segera menjalankan Perintah Yang Mulia Raja Han Carl, menarik tubuh Ameera dengan kasar!

__ADS_1


__ADS_2