
Sebenarnya ada apa? Ameera masih bertanya tanya. Ucapan dingin Meily, lalu keadaan bocah itu, Ameera masih mempertanyakan hal itu.
Dia kembali duduk termenung di atas kursi. Namun tiba tiba, ada Sebuah ingatan yang melintas di pikirannya dan kemudian tergambar jelas. Ini adalah ingatan Si Pemilik Tubuh Asli.
Sehari sebelum bocah itu mendapatkan luka atau mengalami kecelakaan, si pemilik tubuh ini menyuruh bocah itu untuk membetulkan pintu sebuah gubug yang rusak. Bocah itu mengalami kecelakaan karena terpeleset jatuh tergelincir ke bawah dan terluka oleh sebuah paku.
Pekerjaan seperti itu seharusnya tidak dilakukan oleh bocah seumuran Zho Ji.
Entah mengapa Ameera ini menjadi seperti itu.
Apa mungkin karena kesal? Saat orang orang dari istananya yang dulu pernah menemaninya kemari di hari pernikahannya telah di usir keluar dari Paviliun Red.
Ameera melimpahkan Amarahnya pada seluruh para pelayan yang sudah di atur oleh Raja Han. Ameera bahkan sering berteriak dan memarahi pada pelayan, tak terkecuali Bibi Zhu. Bahkan Bibi Zhu pernah di lemparnya dengan sebuah gelas hingga terluka dan berdarah sangat banyak.
Pemilik tubuh ini rupanya tidak memiliki sifat yang baik dan memiliki hati penuh kebencian. Pantas saja semua orang tidak menyukainya dan sangat membencinya. Apalagi setelah Titah Raja Han yang mengatakan untuk jangan menganggapnya siapa siapa lagi.
Ameera berdiri, lalu cepat berjalan keluar untuk mencari keberadaan Meily. Dia melihat Pelayan wanita itu berada di ujung sana dan segera menghampiri. Melihat kedatangannya, Beberapa Pelayan yang lain langsung menyisih pergi. Hanya tinggal Meily yang menatapnya dingin tanpa ketidak sukaan.
"Mau apa Anda kemari Permaisuri. Seharusnya anda tetap berada di kamar saja." ucap dingin Meily kepada Ameera.
"Maafkan aku telah mengganggu mu Meily. Tapi, bisakah kau mengatakan pada Bibi Zhu jika , aku ingin melihat Zhao Ji? Aku ingin membantunya." sahut Ameera.
Meily menyeringai sinis. "Jika anda mempunyai hati yang baik, seharusnya perkara ini tidak akan pernah ada. Zhao Ji tidak akan mengalami kecelakaan!"
"Ini adalah kecelakaan. Aku tidak tau jika akan terjadi seperti ini. Ku mohon. Antar aku menemui Zhao Ji."
"Sudahlah! Apapun yang anda katakan saat ini, itu tidak akan mengubah keadaan Zho Ji!" Meily bersuara keras kemudian pergi.
Ameera menghela nafas. Apa Anak itu Sekarat?
__ADS_1
Ameera tidak tau, seberapa berat luka Zho Ji dan apakah Tabib Istana disini bisa menanganinya dengan benar. Karena jika tidak ditangani dengan benar, maka bola mata Zho Ji bisa saja mengalami infeksi dan jika infeksi itu menjalar mengenai saraf otaknya, maka akan berakibat sangat fatal.
Ameera kembali ke kamarnya. Dia begitu resah memikirkan putra Bibi Zhu. Karena sebagai seorang Dokter, nyawa manusia baginya sangatlah berharga.
Ameera makan tidak tenang, tidur pun gelisah. Lalu dia bangun dan membuka Kotak obat dan mengambil beberapa antibiotik dan memutuskan untuk berjalan keluar.
Bibi Zhu dan Zho Ji Awalnya adalah seorang budak yang di jual orang di pasar. Raja Han membelinya untuk menjadi budak dalam istananya. Karena Bibi Zhu dan Putranya hanya Budak Rendahan, maka mereka ditempatkan di Rumah bagian belakang Paviliun Red.
Ameera berjalan ke arah sana sesuai dengan sisa ingatan Si pemilik Tubuh ini. Ia bermaksud mencari keberadaan Bibi Zhu. Setelah beberapa kali berjalan memutar disana, dia bisa melihat Bibi Zhu dan langsung menemuinya.
"Untuk apa anda datang?" Tanya Bibi Zhu ketika melihatnya. Matanya yang sembab menatap penuh kebencian pada Ameera.
"Bolehkan aku melihat Zho Ji?"
"Pergi dari sini Permaisuri! Kami tidak bisa menerima mu disini!" bentak Bibi Zhu.
Ameera tertegun. Dia berusaha meminta maaf.
"Kecelakaan tidak di sengaja katamu? Yang benar saja?" Bibi Zhu begitu terlihat geram.
"Zho Ji masih anak anak! Dan anda menyuruhnya membetulkan Gubug? Itu seharusnya bukan pekerjaannya. Ada Orang khusus yang menangani itu dan anda malah memaksa Zho Ji untuk melakukannya. Anda sengaja mempersulit hidupnya. Dia hanyalah bocah berusia sepuluh tahun? Dimana hatimu Permaisuri? Anda sungguh Kejam!"
Menghadapi Amarah Bibi Zhu, Ameera tidak tau lagi harus bagaimana. Untuk banyak bicara Ameera tidak bisa, ia tidak pandai dalam hal berbicara. Ameera kemudian memberikan beberapa pil Antibiotik yang ia bawa tadi.
"Bibi Zhu,beri Zho Ji pil ini tiga kali sehari. Pil ini akan meredakan rasa sakitnya dan cepat membantu menyembuhkan lukanya..."
Namun tiba tiba, Bibi Zhu melempar pil ynag sudah berada di tangannya itu ke lantai dan menggilasnya sampai hancur.
"Tidak perlu. Tolong pergilah Permaisuri. Aku tidak ingin memaki orang. Aku ingin membuat kebaikan untuk Putraku yang sedang sekarat!"
__ADS_1
Ameera menatap Pil yang kini sudah hancur itu dengan perasaan sedih. Tidak banyak pil Antibiotik di kotak obatnya. Tapi Ameera tidak bisa berbuat apa apa lagi. Apalagi saat melihat wajah bibi Zhu yang marah dan sedih Ameera memilih untuk melangkah pergi dari sana karena berbicara pun tiada gunanya.
Dan malam itu, Keadaan Zhi Ji memburuk. Zho Ji kritis.
Beruntung Raha Han Carl mendengar masalah ini dan segera memberi bantuan. Raja Han meminta Menterinya agar memanggil Tabib kerajaan untuk datang mengobati Zho Ji.
Tabib Ze, adalah Tabib terkenal di kota itu, namun setelah datang dan memeriksa kondisi Zho Ji dia tidak memberikan obat dan malah menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa berbuat apa apa. Zho Ji sudah sekarat. Jadi percuma di obati."
Bibi Zhu yang mendengar penjelasan Tabib Ze sangat sedih, dia menangis sangat kuat hingga terdengar ke telinga Ameera.
Ameera berlari keluar, Melihat Meily yang juga berlari. Ameera menarik tangan Meily dan bertanya. "Apa yang terjadi?"
"Zho Ji sekarat dan akan meninggal." mungkin karena panik, Meily lupa kalau dia sangat membenci Ameera dan mengatakan saja.
Tanpa banyak bicara, Ameera kembali ke kamarnya dan kemudian meraih kotak obat lalu berlari ke sana.
Sementara itu bibi Zhu berlutut dihadapan Tabib Ze. Memohon agar Tabib Ze mau mengobati Putranya.
Tabib Zhe menatap Bibi Zhu, lalu menatap Menteri keluarga Shoyan.
Shoyan mendekat, dengan ragu berkata pada Tabib Ze. "Cobalah dulu Tabib. Tidak ada salahnya."
Tabib Ze malah tertawa dingin. "Apa mencoba?"
"Dia sudah mau mati. Apapun yang aku lakukan tidak akan membuatnya sembuh. Lalu jika dia mati, maka Reputasi ku sebagai Tabib terbaik di kota ini akan hilang. Aku tidak mau mengambil resiko itu."
Mendengar Alasan Tabib Ze, tentu Bibi Zhu semakin sedih. Dia menangis sejadi jadinya sampai hampir pingsan.
__ADS_1
"Bagaimana nasib Putraku? Tolong aku." Tolong!"