
...✫✫✫...
"Oh, Shi*t, Bill!" erang Lexy yang sibuk menggerakkan badannya di atas pangkuan Bill. Mereka bercinta untuk ronde kedua.
Bill terpaksa meletakkan rokok ke atas asbak. Dia memilih fokus untuk melakukan kegiatan intimnya sebentar.
Bersamaan dengan itu, pintu mendadak dibuka oleh Saga. Rylie yang tiba belakangan, tampak sibuk dengan ponsel. Dia baru menatap ke arah Bill dan Lexy saat tiba di ambang pintu.
Mata Rylie membulat sempurna. Bagaimana tidak? Dia sukses memergoki dua sahabatnya melakukan hubungan intim.
"Sial!" Lexy ingin berhenti. Namun Bill tidak membiarkan.
"Selesaikan yang harus diselesaikan!" tegas Bill. Dia memegang erat pinggul Lexy. Membimbing Lexy untuk bergerak lebih liar. Alhasil perempuan itu kembali bergairah dan reflek melenguh.
Rylie melotot. Dia melangkah mundur dan buru-buru keluar sambil membawa Saga. Rylie juga tak lupa untuk menutup pintu.
"Akh! Kau benar-benar gila!" umpat Lexy. Dia menjambak rambut pendeknya sendiri. Permainan berakhir saat Bill telah mencapai puncak. Lexy sontak tumbang.
Bill merebahkan Lexy ke sofa. Dia segera mengenakan handuk kimononya kembali. Lalu mengambil rokok dari atas asbak.
Merasa puas beristirahat, Lexy bergegas mengenakan pakaian. Dahinya berkerut sembari menatap Bill.
"Tadi Rylie melihat apa yang kita lakukan," ucap Lexy.
"Tidak usah memikirkannya. Aku dan Rylie tidak memiliki hubungan apapun," tanggap Bill. Tak peduli.
"Sama seperti hubungan kita?" Lexy memastikan.
"Mungkin." Bill menjawab sambil mematikan rokok yang telah habis.
"Dasar bajingan!" rutuk Lexy. Dia tentu kesal melihat reaksi Bill yang terkesan biasa saja. Terlebih Lexy sudah terlanjur memberikan keperawanannya kepada lelaki itu.
Lexy mengambil botol bir. Kemudian melemparnya ke arah Bill. Dia tahu lelaki itu mampu menghindari serangannya.
Benar saja, Bill dapat menghindari lemparan botol dari Lexy. Botol tersebut pecah berkeping-keping karena menghantam dinding.
"Kenapa kau marah? Bukankah kau sudah tahu kalau aku memang lelaki bajingan?" tukas Bill seraya membuka lemari. Dia segera berganti pakaian.
__ADS_1
"Jadi aku yang salah?!" timpal Lexy.
"Aku tidak menghakimi siapapun. Aku hanya mengakui kalau aku memang bajingan. Apa itu salah?! Jika kau marah, sebaiknya kita lupakan apa yang telah kita lakukan beberapa menit lalu." Bill sudah mengenakan kemeja dan celana panjang. Ia siap menghadiri acara perayaan kesembuhan Khaled.
"Kau pikir aku bisa melupakannya?" balas Lexy. Membuat Bill sontak mengembangkan senyuman.
"Kau ternyata punya sisi menggemaskan." Bill mendekat dan menepuk pipi Lexy dua kali. Dia segera mengajak perempuan tersebut untuk pergi. Lexy lantas mengikuti dari belakang.
Saat keluar dari ruangan, Bill langsung disambut oleh Saga. Binatang itu kegirangan saat melihat sosok Bill. Mengingat tadi keberadaan Bill tertutupi oleh sofa.
Rylie terlihat ada di balkon. Dia segera masuk dan menghampiri Bill.
"Sudah selesai?" tanya Rylie dengan wajah cemberut.
Bill tidak menjawab. Dia hanya berseringai dan melangkah lebih dulu menuju mobil.
Saat Rylie hendak berjalan, dia berpapasan dengan Lexy. Interaksi di antara mereka mendadak jadi canggung karena hubungan pertemanan yang rumit. Masalahnya hanya satu. Yaitu si lelaki bajingan bernama Bill!
...***...
Satu hari berlalu. Bill menghubungi Selena. Dia ingin mencari tahu mengenai kehidupan Matilda selama ini.
"Apa? Kau serius?" Bill memastikan.
"Ya, aku mendengarnya mengerang. Dan saat pintu terbuka, aku bisa tahu bahwa dia sendirian."
"Mungkin ibumu hanya kesepian. Kau harus lakukan sesuatu padanya."
"Melakukan apa? Dia punya suami bukan? Entahlah. Aku tak ingin ikut campur masalah orang tua." Selena mendengus. "Jadi bagaimana? Apa kita akan pergi ke California besok?" tanyanya.
"Ya, tentu saja. Thomas ikut juga bukan?"
"Dia tidak akan ketinggalan. Pantai California adalah favoritnya," ujar Selena. Pembicaraannya dan Bill berakhir di situ.
Seringai terukir di wajah Bill. Dia langsung mencari tahu keberadaan Matilda. Dengan cara meminta bantuan James.
Saat sudah tahu Matilda ada dimana, diam-diam Bill mengikuti wanita itu.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Matilda, Bill mendekat dari belakang. Saat wanita tersebut lengah, Bill perlahan mengambil dompet milik Matilda. Lalu kembali mengamati dari kejauhan.
Ketika merasa waktunya sudah pas, Bill segera menampakkan diri ke hadapan Matilda. Dia menemui wanita tersebut di toko perhiasan. Tepat saat Matilda hendak membayar perhiasan yang ingin dibelinya ke meja kasir.
Matilda kebingungan karena dompetnya hilang. Bill lantas datang. Bersikap seperti pahlawan. Persis seperti apa yang dilakukannya terhadap Selena dan Thomas.
"Biar aku yang membayarnya," ujar Bill seraya menyerahkan kartu debitnya.
Matilda langsung menoleh. "Bill?" tegurnya.
"Hai, Nona Owens. Aku sedang melihat-lihat di toko ini. Kebetulan aku melihatmu ada di sini," tanggap Bill dengan senyuman ramah.
"Terima kasih, Bill. Kau datang di waktu yang tepat. Karena aku kebetulan tidak bisa menemukan dompetku," ujar Matilda.
"Benarkah? Mungkin ketinggalan."
"Tidak. Aku tadi membawanya. Sepertinya aku kena copet."
"Kau kena copet tapi terlihat biasa saja," komentar Bill.
"Aku masih punya dompet lain dan banyak uang di rumah," sahut Matilda.
"Oke." Bill mengangguk. Dia sebenarnya muak berakting. Ketika melihat wajah Matilda, hanya omelan dan siksaan wanita itu yang teringat di otaknya.
Setelah melakukan pembayaran, Bill menawarkan Matilda untuk pulang bersama. Namun Matilda menolak karena membawa mobil sendiri.
"Maaf, Bill. Mungkin lain kali. Terima kasih banyak atas traktiranmu," ucap Matilda. Dia menepuk pundak Bill. Memperlakukan lelaki itu seperti anaknya sendiri.
"Nona Owens!" Bill sigap meraih lengan Matilda. Dia tiba-tiba menarik wanita itu lebih dekat.
"Aku tidak ingin dilihat seperti anak di matamu," ungkap Bill.
Mata Matilda membuncah hebat. Jantungnya berdegup kencang. Sebagai seorang istri yang kesepian dan sering diabaikan suami, dia otomatis termakan dengan rayuan Bill.
Perlahan Bill mendekatkan mulut ke telinga Matilda. "Aku ingin kau melihatku sebagai lelaki," desisnya sambil tersenyum smirk. Lalu meremaas bokong Matilda begitu saja. Bill tahu betul wanita itu akan terbuai.
"Bawa aku, Bill! Bawa aku pergi," pinta Matilda dengan nafas yang sudah sulit di atur. Bagian bawah perutnya sudah meronta-ronta untuk mendapatkan sentuhan.
__ADS_1
"Ayo kita pergi ke tempatku!" seru Bill sembari menarik tangan Matilda. Dalam hatinya lanjut berkata, 'Tempat yang bisa kau sebut nerakamu.' Seringai kembali terpatri di semburat wajah Bill. Ia akan memilih Matilda untuk menjadi orang yang mendapatkan siksaan pertamanya.