
Weekend ini, Al tidak ada rencana ingin kemana-mana. Dia sedang menunggu orang tua dan mertuanya datang, seperti yang sudah Fatih beri tahu.
Tin tin!! Suara klakson mobil yang terdengar dari depan rumah Fatih dan Al.
"Hah, ayah bundaa!!" Teriak Al yang langsung bangkit dari duduknya
Al dan Fatih sedang duduk di halaman belakang, Al yang sibuk memberi makan ikan, dan Fatih yang duduk menikmati kopi sambil menatap ke arah istrinya.
Melihat Al berlari ke arah depan, Fatih langsung menyusul istrinya itu.
"Assalamualaikum." Ucap ayah bunda, umi dan Abah berbarengan
"Waalaikumsallam." Jawab Fatih
Sedangkan Al langsung berhambur memeluk ayahnya.
"Hm kangen ayah bunda." Ucap nya
"Jawab dulu salamnya dek." Kata Fatih mengingatkan istrinya
"Waalaikumsallam." Jawab Al cengengesan
"Oh jadi kangennya sama ayah bunda doang, sama umi dan abah nggak."
"Eh, nggak gitu maksudnya umi, aku juga kangeeeennn umi dan abah." Al langsung bergantian memeluk umi Fatimah
"Haha, iya umi juga kangen banget sama mantu umi ini." Umi mengelus punggung Al yang masih memeluknya
"Ayo ayah bunda, umi abah, masuk kesini. Duduk di sofa, istirahat dulu." Ucap Fatih sambil membantu bawaan dari orang tua dan mertuanya.
Al langsung duduk di sebelah umi lagi, dan masih bergelayut manja. Sebenarnya dia memang suka mempunyai mertua yang sangat padanya. Dan sudah sangat lama ini belum bertemu dengan umi dan abah. Berbeda dengan orang tuanya yang baru saja bertemu sekitar 2 minggu yang lalu.
"Maaf ya, kalian datang kesini tapi Al gak ada persiapan apa-apa. Bahkan di kulkas juga gak ada stok makanan lagi. Abisnya mas Fatih sih baru kasih tau pas mau tidur semalem." Ucap Al mencebikkan bibirnya
"Eh ya gakpapa sayang, itu bunda emang sengaja udah bawain perlengkapan masak, biar nanti kita bisa masak bareng-bareng disini." Ucap bunda menunjuk barang bawaannya
"Hah bunda sama ayah bawa banyak banget itu, yey jadi gak ngeluarin duit lagi buat belanja isi kulkas." Ucap Al senang
"Husstt kamu itu, kayak kamu aja yang ngeluarin duit." Sinis ayah pada Al
Sudah pasti Fatih yang mengeluarkan duit untuk belanja apapun itu, Al hanya cengengesan mendengar ucapan ayahnya.
"Nih liat umi bawa juga." Ucap umi meminta abah menaikkan wadah besar, seperti kontainer makanan ke atas meja, yang di dalamnya sudah pasti isi ya toples-toples kue kering.
"Wahh itu apa umi??" Al penasaran
"Taraaaa." Umi membuka wadah itu sehingga terlihat isi dalamnya
"Uwahhhh banyak sekali kue nya umi."
Umi langsung mengeluarkan beberapa toples kue kering, dan membuka nya agar Al bisa langsung memakannya.
"Ini umi mau buat sendiri lo kuenya, di bantuin sedikit sama beberapa santri." Ucap abah, karna memang umi Fatimah membuat sendiri kue sebanyak ini, sejak 5 hari yang lalu
"MasyaAllah besan, kok kamu banyak banget gini buatin kue nya, kan Al jadi keenakan." Ucap bunda
"Haha ya nggak papa Alya. Sengaja buat stok Al sebulan."
__ADS_1
"Umi the best." Ucap Al mengacungkan dua jempolnya di hadapan umi
"Mana ini enak banget lagi." Ucap Al yang sudah memakan kue itu sejak awal di buka, malah sudah hampir habis setengah toples
"Iya sayang, karna ini weekend, jadi kita nanti bakal masak-masak bareng umi dan bunda." tambah umi lagi
Fatih tersenyum tipis, melihat istrinya begitu senang mendapatkan kue dari orang tuanya, bahkan Al memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil makan.
"Jangan banyak-banyak Al, nanti gendut." Ucap ayah, karna melihat Al sudah hampir menghabiskan setoples
"Ihh ya gimana dong, enak." Jawab Al
"Eh iya, ini kamu keliatan gendutan sayang. Apa kamu sudah isi?" Ucap umi Fatimah
Al tau arah pembicaraan umi kemana, karna umi juga memagang perutnya sambil berkata seperti itu. Sontak itu mengejutkan Fatih dan Al, mereka terdiam, karna memang mereka belum melakukan ibadah itu.
"Hm umi, Al emang makannya banyak, jadi keliatan gendutan sekarang." Jawab Fatih membantu istrinya
"Ya bisa aja kan emang sudah isi. Kamu udah telat belum haidnya?" Tanya umi lagi
"Ah itu b-belum umi, aku baru berapa hari kemarin haid, iya. Ucap Al sedikit gugup
"Iya umi, ini namanya Al bahagia setelah menikah. Kan kebanyakan pasangan setelah menikah, memang bertambah berat badannya." Ucap abah Ali
"Oh kalau begitu ya tidak apa-apa, semoga cepet ada isinya ya." Umi mengelus perut datar Al
Al hanya tersenyum kikuk, mau mengaminkan juga mereka belum melakukan hubungan suami-istri.
Mereka mengobrol banyak hal dan meluapkan rasa kangen kangenan. Kemudian, ayah, bunda, umi, dan abah langsung beristirahat sejenak di dalam kamar tamu yang sudah di siapkan.
"Sayang kamu langsung mandi gih, terus bersiap solat bareng bunda mu." Ucap umi lembut kepada Al yang baru saja mencuci piring bekas memasak.
"Eh tapi ini belum selesai umi, liat dapurnya masih berantakan."
"Udah mau magrib sayang, biar umi yang bersihkan, dan menata makananya di meja. Alya ini ajak anakmu, kalian mandi dan solatlah." Ucap umi pada temannya yaitu bunda Alya
"Iya Al, kita naik saja, umi fatim masih haid. Ayo kita bersiap solat." Ajak bunda
"Owh yaudah ayo bun. Tinggal dulu ya u, assalamualaikum."
Setelah umi menjawab salam, mereka berdua langsung naik ke atas. Al mandi di kamarnya dan bunda mandi di kamar tamu. Kemudia mereka melaksanakan solat magrib berjamaah di kamar Al dan Fatih. Sedangkan para lelaki, solat berjamaah di masjid komplek.
Bunda melirik ke arah Al yang sedang berdoa. Setelah mereka selesai solat dan merapikan mukena serta sajadah kembali, bunda menyuruh Al untuk duduk di sampingnya. Duduk di sofa yang ada di kamar Al.
"Hm ada apa bunda?" Tanya Al yang sudah duduk di samping bundanya
"Bunda mau nanya sama kamu, tapi kamu jawab yang jujur ya."
"Ihh nanya apa sih bunda, kok berbisik gitu. Kamar ini kedap suara ko, kata mas Fatih."
Bunda menghela nafas. "Kamu sama Fatih belum melakukan hubungan suami istri kan??"
Damn!!
Al sontak kaget atas pertanyaan bunda, bagaimana bunda bisa tahu tentang hal ini, dan bagaimana dia menjawabnya. Al hanya menundukkan kepalanya, bingung memberi jawaban apa.
"Kamu belum memberi hak Fatih Al?" Bunda bertanya lagi
__ADS_1
Al pun hanya bisa menggeleng pasrah, tanda iya belum memberikan hak Fatih sebagai suami.
"Astagfirullah." Ucap bunda
"Ada apa Al, kenapa kamu begitu. Fatih itu suami mu, dan dia laki-laki normal, bagaimana kamu menyiksanya setiap hari dengan melakukan ini."
"Maaf bunda, tapi Al belum siap, Al masih muda bunda, bagaimana kalau Al hamil, Al tidak mau." Al menggelengkan kepalanya dan menatap bunda dengan air mata yang sudah menetes di pipinya
"Sayang dengerin bunda, kamu belum siap untuk hamil? Kenapa? Kalau nanti kamu sudah hamil dan merasakan ada bayi disini, kamu akan bahagia sayang." Bunda menunjukkan perut Al
"Kamu sudah mau 19 tahun, itu sudah dewasa Al, jangan berpikir seperti anak kecil lagi." Lanjut bunda
"Tapi bun, kalo aku hamil, gimana dengan kuliah ku. Apakah harus terhambat."
"Kamu tidak perlu khawatir Al, hamil itu tidak lama, kamu akan menikmatinya. Berikan hak suami mu itu, jangan sampai mertua mu tau tentang ini Al."
"Ihh jangan sampe tau dong."
"Sayang, jangan sampai Fatih mencari wanita lain, atau bahkan mertua mu mencarikan wanita lain untuk Fatih. Zaman sekarang banyak pelakor Al, kalau kamu tidak membuat suami mu senang, bisa saja dia mencari kesenangan di luar. Dengarkan nasihat bunda.!"
Tak! Hati Al langsung berdiri mendengar ucapan bundanya, itu sama dengan ucapan Dijah kemarin. Dia tidak mau sampai ada pelakor yang merebut suaminya. Bagaimanapun, Al sudah jatuh cinta kepada suaminya, dan dia tidak ingin di madu atau bahkan menjadi janda, huhu.
"Sayang ini, bunda bawain buat kamu." Bunda memberikan sebuah totebag yang entah apa isi di dalamnya
Al membuka nya dan mengeluarkan isinya
"Astagfirullah." Al beristigfar melihat is di dalamnya
"Di pake di depan suami mu ya." Ucap bunda tersenyum genit kemudian keluar setelah mengelus kepala putrinya
"YaAllah ini apaan, baju kok kaya saringan tahu. Gila kali ya bunda, gue di suruh pake ini di depan mas Fatih." Al bergidik ngeri jika membayangkan dia memakai lingerie yang di berikan oleh bundanya
"Baju apa sayang?" Tanya Fatih tiba-tiba yang baru kembali dari masjid
"Ahh." Al kaget dan langsung memasukkan bajunya ke dalam totebag kembali
"Ngagetin aja sih mas, salam kek."
"Aku tadi udah salam sayang, terus langsung buka pintunya. Emang gaboleh ya langsung masuk gitu ke kamar kita." Ucap Fatih sambil meletakkan sajadah di tempatnya
"Hehe gak papa sih." Al pikir ini juga rumah dan kamar Fatih
"Yasudah ayo kita turun, mereka sudah menunggu untuk makan malam."
Al langsung berdiri meletakkan totebag tadi di dalam lemarinya.
"Jangan lupa hijabnya." Ucap Fatih
Setelah Al memakai hijabnya, Fatih menggandeng tangan Al sampai ke meja makan. Itu membuat Al malu karna orang tua dan mertuanya memperhatikan mereka sambil mengulum senyuman. Sudah seperti ingin menyebrang saja, di gandeng, pikir Al.
"Ayo sayang makan, ini kalian banyak sekali memasaknya, dan terlihat enak-enak." Ucap Ayah yang duduk di depan Al. Sedangkan Fatih pastinya duduk di samping istrinya
"Iya, abah sudah tidak sabar nih."
"Haha ayo abah, ayah, umi, bunda, kita makan. Al juga tidak sabar."
Al mengambilkan nasi dan lauk untuk Fatih, kemudian memberikannya. Ia juga mengambil untuk dirinya sendiri, dengan prodi seperti kuli. Mereka geleng-geleng melihat Al seperti itu. Porsi Fatih saja tidak sebanyak itu, padahal dia laki-laki. Sepertinya Al kalap karna masakan ini di masak oleh umi dan bunda tercintanya. Sudah pasti dia rindu dengan masakan bundanya, dan mertuanya yang juga sangat enak dan lezat.
__ADS_1