
"Ngapain bengong sayang, mending belajar sana." Ucap Fatih yang tiba-tiba masuk kamar
Fatih baru pulang dari masjid setelah solat isya. Dan ia melihat istrinya sedang melamun entah karna apa.
"Ihh mas ngagetin aja sih, aku gak bengong.!" Jawab Al langsung membuka ponselnya
Fatih mengelus puncak kepala istrinya. "Yaudah belajar gih, sebentar lagi udah mau uts kan."
"Males ah, ngapain belajar."
"Oh istri mas ini, iya aku tau kamu udah pinter sayang, tapi butuh belajar juga kan."
"Hehe bukan ngerasa udah pinter mas, emang lagi males tauk, besok aja deh, masih seminggu lagi juga uts nya." Jawab Al
"Yasudah, terus istri mas mau apa sekarang, coba cerita apa yang sedang kamu pikirkan? Setelah joging tadi aku perhatikan kamu sering ngelamun?" Fatih duduk di samping istrinya
"Ah gak ko gak papa."
"Gak papa nya cewe itu berarti ada apa-apa." Ucap Fatih entah tau pemikiran itu dari mana
"Hm mas, kamu selama ini nahan banget ya?" Ucap Al pelan-pelan
Fatih sontak mengerutkan keningnya, apa yang di maksud oleh ucapan istrinya itu, menahan apa.
"Aku nahan apa sayang?" Bingung Fatih
"Em itu, sebagai laki-laki normal, mas kan pasti butuh itu."
Sepertinya Fatih sudah tau, arah perkataan Al. "Emang kenapa sayang? Kamu mau ngasih?" Ucap Fatih menggoda
"Ihhh em gimana ya." Al ingin memberikan mahkotanya juga masih takut, entah takut merasakannya, juga takut hamil, dan ia takut di sakiti setelah memberikan hal paling berharga di tubuhnya
"Hahaha kamu gemes banget sih. Sayang denger, aku memang seperti laki-laki pada umumnya yang juga memiliki hasrat, yaitu sama kamu sebagai istri yang sudah pasti halal untuk aku, apalagi istrinya cantik dan imut begini." Fatih mencubit pipi Al gemas
"Tapi, aku juga tidak memaksakan kamu, aku tau kalo aku menikahi bocil seperti kamu, jadi masih takut untuk memberikan mahkotanya kan."
Al mengerucutkan bibirnya, karna di panggil bocil oleh suaminya.
"Aku masih kuat ko sayang untuk menunggu kamu, jangan dipikirin lagi yaa hm."
"Tapi kalo ini, aku mau tiap hari!" Lanjut Fatih menunjuk bibir ranum Al, yang memang sudah menjadi tempat candunya selama ini
Pluk!! Al langsung berhambur memeluk Fatih dan sedikit sesegukan. Ya Al menangis di dada Fatih, dia tidak menyangka akan mendapat suami se lembut dan sepengertian Fatih. Dosen yang selama ini di bayangannya akan dingin dan tidak bisa bicara, apalagi romantis dan lembut. Ternyata sangat lembut dalam memperlakuakan.
"Terimakasih mass." Ucap Al di sela tangis nya
Fatih tersenyum, mengusap punggung istrinya itu. Ia tidak tahu, mengapa sekarang sangat sangat menyayangi istri bocil nya ini. Dia tidak akan memaksakan kehendaknya semata untuk menggauli Al, Fatih akan sabar sampai Al yang menyerahkannya langsung.
.
.
.
"Eh guys kalian tadi ngerasa aneh gak sih, masa mukanya buk Farida itu ada lebamnya." Ucap Syila kepada para sahabatnya saat di kampus
__ADS_1
"Iya, aku tadi liat juga ada lebam di pergelangan tangannya." Tambah Nashwa
Sedangkan Al dan Dijah masih menyimak perkataan temannya.
"Gak mungkin gak sih kalo jatuh kayak begitu."
"Ya mana kita tau, kali aja bener jatuh. Tapi dia itu udah janda bukannya?" Tanya Dijah
"Iya bener, udah janda tapi belum punya anak. Kayak cuma sebentar gitu pernikahannya." Jawab Syila
Al teringat, bukankah buk Farida yang pernah minta tolong sama suaminya untuk mengantar pulang, karna orang tua buk Farida yang meminta untuk cepat pulang pada saat itu, entah ada masalah apa. Tapi Al hanya diam saja, tidak mungkin dia akan memberitahu pada temannya itu.
"Eh udah kalian mah, jangan suka gibah." Peringatan Nashwa
"Baik ughtea!" Jawab mereka bertiga kompak
Memang Nashwa yang selalu mengingatkan, jika mereka sudah mulai melakukan dosa-dosa yang seru itu.
"Widihhh, ngapain kalian, nongkrong di kelas aje." Tiba-tiba Husein datang bersama dengan sahabatnya, siapa lagi kalo bukan Angkasa
"Iya nih, mending ke kantin mau gak?" Ajak Angkasa
"Yee kita mah udah tadi makan di kantin, tapi masuk kelas lagi." Jawab Syila
"Iya lah, ngapain lama-lama di kantin, panas bestiee." Tambah Dijah
"Hi Al, udah lama gak ketemu ya." Ucap Angkasa pada Al
Al berusaha biasanya saja setelah kejadian waktu itu, karna memang dia tidak bermaksud untuk apa-apa, kecuali hanya teman.
"Gue sibuk kegiatan di luar seminggu kemaren." Jawab Angkasa yang hanya di balas anggukan dari Al
"Eh btw gue baru ngeh, kesambet apa lu Al, udah jadi ughtea juga nih kaya si Nashwa." Husein melihat gamis yang di kenakan Al.
"Yaelah gue udah dari seminggu lalu kali pake ginian, pengen aja gue." Jawab Al asal, jangan sampe temannya tau kalo itu semua atas perintah suaminya Fatih
Meski Al tau, kalo Husein juga pasti tau kalo itu di suruh oleh Abang sepupunya.
"Gak cocok lo pake gituan, gamis itu untuk yang kalem. Itu lo duduk aja kaki naik satu." Kata Husein mengejek Al
"Iya gue ama Syila kaga percaya gitu, tetiba ni anak pake gamis, pasti ada alasannya nih." Dijah menggoda Al karna ia tahu Al menuruti perintah suami
"Eh sembarangan kaga pake bismillah kalian ngomong, gue pengen aja emang kenapa sih."
"Gue emang gak pake bismillah Al, gue kan nonis." Ucap Syila.
"Hahaha." Husein dan yang lain tertawa. Memang benar juga ucapan Syila
"Apaan sih kalian, orang Al tambah cantik ko pake gamis gini." Ucap Angkasa yang memang pangling dengan tampilan Al yang baru
"Iya bener banget, cantik." Lanjut Nashwa mengacungkan jempol tanda setuju
Al hanya bisa kesemsem di katain cantik oleh temannya, karna mereka bertiga juga dari kemarin pangling melihat Al yang semakin terlihat cantik dengan gamis dan dress yang ia pakai. Jujur saja, Al merasa nyaman dengan pakaian nya ini, meski kadang suka ribet jika ia ingin mengeluarkan sifat barbar nya.
"Oii udah mau balik aja." Ucap Sena tiba-tiba saat berpapasan dengan Al dan Dijah yang berjalan ke arah parkiran
__ADS_1
"Ngapain lo, kangen ya sama kita." Jawab Dijah
"Apa kangen sama gue." Tambah Al juga
Memang sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu di kampus, entah karna kesibukan apa yang di lakukan Sena sehingga tidak menggangu Al.
"Dih najis banget. Gue mau tanya sama lo, ngapain lo pake baju kayak begini. Lo mau tambah caper ke Prof Fatih ha? Biar di bilang alim dan ustadzah, sampe pake gamis segala. Cihh!" Ucap Sena tidak suka dengan penampilan Al memakai gamis seperti ini
Sena merasa Al caper di depan Fatih, dan takut Fatih akan tertarik dengan Al, karna tidak bisa ia bohongi bahwa Al memang lebih terlihat cantik.
"Ngapain lo ngurusin gue, ya serah gue lah. Ni baju gue juga beli sendiri." Jawab Al
"Lo takut kalah cantik kan, biasanya aja Al cantik, apalagi pake kaya gini, tambah cantik.!" Ucap Dijah
"Jauh cantikan gue ya. Prof Fatih gak akan suka liat lo dengan gaya kaya gini, jangan pede!"
'dih ini mas Fatih yang nyuruh kali, sudah pasti dia suka liat gue gini'
Ingin Al menjawab begitu, tapi tidak mungkin, karna akan tambah jadi masalah
Dan jangan caper depan Prof Fatih, awas kalo lo masih deketin Prof Fatih, gue bakal bikin pelajaran sama lo." Tambah Sena lagi
"Gak denger! Gak denger! Gak denger!" Ucap Al sambil menarik Dijah pergi dari sana
"Sial!" Gerutu Sena tidak terima
Ternyata Al tadi tidak jadi pulang bareng Dijah. Waktu sampai di parkiran, Fatih memanggil Al untuk masuk ke dalam mobilnya, karna Fatih sudah selesai mengajar. Sekarang mereka sudah sampai di rumah.
Cklek! Al membuka pintu rumah
"Loh kok gak di kunci mas?" Tanya Al, karna ia ingat bahwa tadi mengunci pintu rumah itu pastinya
Belum sempat Fatih menjawab salam. "Assalamualaikum pak Fatih dan mba Al!" Ucap Najwa yang ternyata sudah kembali ke rumah
"Waalaikumsallam, eh mba Najwa udah pulang." Jawab Al, sedangkan Fatih hanya menjawab salam dan cuek saja
Memang yang memegang kunci ada tiga, yaitu Fatih, Al dan Najwa.
"Iya mba sudah, ayo mba masuk."
Mereka melangkahkan kaki masuk kedalam. "Pak Fatih ini saya ada bawa oleh-oleh kue dari kampung." Najwa memberikan kantong berisi kue
"Iya, simpan di dapur saja ya, terimakasih." Jawab Fatih
Padahal Fatih akan melangkah ke atas, sedangkan Al yang sudah mengikuti arah Najwa ke ruang tamu tadi, tapi Najwa malah menawarkan kue itu kepada Fatih.
"Pak Fatih, ibu tadi menitip salam buat bapak. Katanya terimakasih juga atas bantuan pengobatan ibu bulan lalu, sekarang ia sudah sehat." Najwa mendekat ke arah Fatih, melewati Al begitu saja, sehingga jarak mereka tidak terlalu jauh
"Baik sampaikan juga salam dari saya."
Najwa tersenyum membalas ucapan Fatih, meski Fatih sebenarnya tidak memandang bahkan melirik ke arahnya.
'wah ngajak gelut ni pembantu.' Dalam hati Al berbicara
Al langsung menarik tangan Fatih naik ke atas, tanpa menghiraukan Najwa, karna dia merasa sakit. Wajah Najwa pun langsung berubah masam, melihat Al merangkul mesra tangan Fatih, dan Fatih pun membalasnya.
__ADS_1