
Saat ini Al sedang mondar mandir di dalam kamarnya. Kebetulan Fatih sedang mengerjakan beberapa kerjaan di ruangan kerjanya. Al sedang memikirkan, apakah dia harus memberikan hak suaminya itu malam ini atau tidak.
Ada ketakutan di dalam hati Al, setelah mendengar nasihat dari sahabat dan bundanya kemarin, bahkan setelah melihat langsung kejadian saat mereka jogging waktu itu, dan tadi melihat Najwa. Al merasa banyak sekali wanita yang mengidamkan suaminya itu, sampai ingin menjadi pelakor. Ia tidak akan merelakan suami yang sudah ia cintai itu jatuh ke tangan wanita lain.
Tapi sebenarnya, di satu sisi juga Al merasa takut dan belum siap. Ia belum ingin hamil, karna ingin meraih cita-citanya dulu sebagai dokter.
"Duh gimana ya, apa gue kasih aja malam ini. Gue takut mas Fatih nanti cari cewe di luaran sana." Ucap Al yang sejak tadi mondar mandir
"Gue harus ngelaksanain kewajiban gue, iya gue harus ngelakuinnya malam ini. Memberikan hak mas Fatih." Al memantapkan hatinya
Al langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi, dengan membawa paper bag dari bundanya waktu itu, yang berisi baju lingerie. Bahkan Al membawa alat make up ke kamar mandi, rencana akan dandan tipis-tipis.
"Iyuh kok gue jadi kek wanita murahan gitu sii!" Al mengatai diri nya sendiri setelah melihat tubuhnya pada cermin
Baju lingerie berwarna merah terang, seperti melambangkan keberanian yang melekat pada tubuhnya, sangat lah tipis dan terbuka. Bahkan pakaian dalamnya pun langsung terlihat di mata.
Al memoles wajahnya dengan make up sedikit saja, menggunakan bedak dan lipstik simpel. Dan itu membuat dirinya terlihat sangat cantik.
"Gilak! Kalo Dijah sampe liat gue kek gini, pasti dia ngakak banget yaAllah. Bisa di ejekin ampe 7 hari 7 malam nih gue." Gumam Al
"Gak papa lah, nyenengin suami, hihi." Lanjutnya
Al tertawa sendiri, merasa lucu dengan dirinya sendiri, meski memakai baju seperti wanita murahan, tapi ini adalah untuk suami. Jadi pastinya tidak murahan malah mendapatkan pahala baginya.
Fatih yang merasa sudah selesai dengan tugasnya, langsung kembali ke kamar untuk menemui istrinya. Fatih memang merasa selalu ingin dekat dengan istri kecilnya itu, dia sudah terlalu bucin. Bahkan akan bersabar untuk menunggu istrinya memberikan hak dan kewajiban kepada dirinya.
Cklek!!
"Sayang!?" Fatih masuk ke dalam kamar, tapi ia tidak mendapati istrinya di dalam kamar itu. Fatih menyangkan bahwa Al mungkin lagi di kamar mandi, sedang bersih-bersih untuk bersiap tidur
Tok tok!
"Sayang, kamu di dalam ya?" Tanya Fatih, karna di kamar mandi memang tidak terdengar suara air, tapi pintunya terkunci. Ia takut jika terjadi sesuatu pada istrinya
"Hah masa Fatih udah masuk lagi." Ucap Al pelan di dalam sana
"Duh keluar gak ya, gimana nih, gue malu oii." Al mondar mandir di depan kaca, ada perasaan malu dalam dirinya untuk memperlihatkan ini pada Fatih. Takut Fatih menyangka dirinya murahan karna memakai baju seperti ini
"Dekk!" Panggil Fatih lagi dari luar
"Ah iya mas, sebentar." Al pun menjawab
Karna merasa istrinya baik-baik saja di dalam sana, Fatih langsung menunggunya dengan duduk di bibir ranjang tidur, sambil membuka ponselnya.
"Bismillah! Lo pasti bisa Al, demi suami."
Al perlahan membuka pintu kamar mandi dan mendapati suami yang sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang sedang Fatih lakukan dengan hpnya, sampai tidak menyadari bahwa Al sudah keluar dari kamar mandi, dan mulai berjalan mendekati Fatih.
"Mas!" Panggil Al, dia berhenti di tengah sebelum benar-benar mendekati Fatih
Fatih yang mendengar itu, sontak langsung menjawab dan menoleh ke arah istri yang sudah ia tunggu sejak tadi.
"Iya sayang." Fatih mendongakkan kepalanya
Pada saat itu, Fatih langsung membolakkan matanya kaget. Melihat penampilan istrinya malam ini, apakah benar ini adalah Al istrinya? Memakai baju transparan berwarna merah menantang, hingga jiwa kelakian Fatih langsung tersulut. Fatih heran dan tentunya kaget.
Al mulai berjalan lagi mendekat ke arah suaminya, perlahan lahan berjalan sampai tepat di depan Fatih yang masih membolakkan mata sambil mulut yang terbuka.
"Stop!" Ucap Fatih ketika Al sudah di depannya dan malah ingin tambah mendekat
__ADS_1
Al bingung kenapa suaminya malah menyuruhnya berhenti, apakah dia terlihat murahan saat ini, dan suaminya tidak menyukai penampilan ini.
"M-mas tidak suka ya." Ucap Al menundukkan kepalanya
"Ehm aku ganti lagi aja ya." Al hendak berbalik badan tapi langsung di tahan oleh Fatih
"Sayang, kamu sangat cantik!" Ucap Fatih sambil menggenggam tangan Al
Pipi Al langsung merona mendengar kata Fatih
"T-tapi aku malu pake kayak gini sebenarnya."
"Sini duduk sebelah mas." Fatih mendudukkan Al di sampingnya dengan jarak yang sangat dekat
"Kamu kenapa pake baju kaya gini, dapet dari mana. Apa kamu tau maksudnya, kalau pake baju gini hm? Mas ini laki-laki normal sayang." Ucapj Fatih lembut
"I-iya mas, aku dapet dari bunda. Malam ini, aku pengen kasih hak mas yang sudah tertunda lama." Ucap Al jujur
Fatih tidak bisa untuk tidak tersenyum. Dia sangat senang jika Al ingin memberikan kesucian nya, tapi Fatih juga tidak mau kalau Al merasa terpaksa dengan semua ini.
"Dek, aku kan sudah bilang sama kamu, kalau mas ini tidak memaksa dan akan sabar menunggu. Mas gak mau kamu malah ngerasa terpaksa."
Al mengernyitkan dahinya, ternyata suaminya ini sangat pengertian, bahkan sudah berpuasa 2 bulan pun, masih bicara akan sabar menunggu.
Al mendongakkan kepalanya menatap Fatih. "Mas, Al gak terpaksa, ini memang kewajiban aku, dan itu adalah hak mas. Aku ikhlas mas, ingin menyerahkan kesucianku untuk mas Fatih." Jawab Al
"Mas tidak ingin melakukan nya dengan kamu yang belum memiliki perasaan dengan mas, sayang."
Damn!
Al tersadar, dia memang belum mengakui perasaannya terhadap Fatih. Sudah pasti Fatih tidak ingin melakukan hubungan itu jika tidak memiliki perasaan cinta.
"MasyaAllah, apakah itu benar sayang?" Fatih ingin memastikan sekali lagi
"Iya mas." Al menunduk karna malu
"Mas juga cinta sama kamu sayang. Apakah kamu memakai pakaian ini untuk memberikan hak mas?" Tanya Fatih untuk memastikan
"I-iya, tapi tadi mas menolak ku." Ucap Al masih dengan menunduk
Fatih yang mendengar itu langsung meraih dagu Al, supaya istrinya itu menatap dirinya.
"Siapa yang bisa menolak keindahan halal ini sayang. Justru tadi mas lagi kaget dan menahan diri mas, agar tidak menerkam kamu. Ternyata kamu memang ingin memberikannya kepada mas. Kamu sangat cantik dan seksi sayang." Ucap Fatih sangat lembut sambil mengusap lembut tangan Al
Al langsung menundukkan kepalanya lagi, ia malu sangat malu. Pipinya merona dengan degupan jantung yang cepat.
"Kenapa menunduk, mas ingin melihat wajahmu yang memerah sayang." Fatih mengangkat wajah Al lagi, sehingga dapat melihat pipi Al yang merah bak udang rebus. Sangat terlihat tambah cantik batin Fatih.
"Sangat cantik dan menggemaskan." Ucap Fatih membelai pipi mulus Al yang tembam
Fatih menarik tengkuk Al untuk menyatukan bibir mereka berdua. Al sontak kaget saat bibirnya menyatu dengan bibir Fatih, dengan lembut Fatih terus ******* bibir istrinya. Dengan perlahan, Al pun langsung membalas ciuman itu, sehingga Fatih tambah semangat dan bergairah.
Fatih menidurkan istrinya di kasur dengan perlahan. Kemudian melepas pagutan mereka.
"Sayang, kamu serius kan?" Tanya Fatih sekali lagi, dan Al langsung mengangguk
Al sudah yakin dengan ini, setelah beberapa hari ia berpikir, memang sudah seharusnya ia berikan hak Fatih, agar pernikahan mereka juga semakin erat.
Fatih tersenyum. "Ayo baca doanya dulu." Ajak Fatih
__ADS_1
Setelah berdoa, Fatih mulai mencium bibir Al lagi. Tapi kali ini, lebih sedikit agresif, karna mereka berdua juga sudah di selimuti dengan hasrat masing-masing. Setelah ciuman, Fatih mulai melakukan pemanasan yang lain. Hingga mereka tidak memakai sehelai benang pun.
"Terima kasih sayang." Fatih mengecup lama kening Al, setelah mereka selesai melakukan ibadah itu
Malam ini, Fatih benar-benar sudah mengambil kesucian istri halalnya. Ia sangat senang dan semakin cinta kepada istrinya tentu saja. Fatih melakukan itu dengan sangat lembut, karna tidak ingin menyakiti istrinya. Meski juga memang tetap akan merasakan sakit.
Al merasakan kelembutan Fatih saat berhubungan, dia sangat bersyukur mendapatkan suami yang pengertian dan tulus. Al juga bersyukur karna sudah memberikan kesucian yang ia jaga dengan baik itu kepada suaminya sendiri, itu adalah pahala baginya.
.
.
.
Sekitar jam 4 subuh, Fatih membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah istrinya yang berada dalam pelukan eratnya. Fatih tersenyum mengingat kejadian semalam, dia benar-benar sudah menjadikan Al istri seutuhnya.
Fatih mengelus wajah dan kepala Al yang masih tertidur, ia juga mencium kening Al. Kemudian memandangi wajah Al yang menggemaskan saat tidur, cukup lama. Ia sangat bersyukur mendapatkan istri yang sangat cantik dan imut. Bahkan memiliki body yang sangat bagus, dan hanya dia yang bisa melihatnya.
"Pagi sayang!" Ucap Fatih ketika melihat Al membuka matanya
"Eeehhhh, jam berapa ini mas?" Tanya Al yang nyawanya belum kembali sepenuhnya
"Jam 4 lewat sayang, ayo mandi junub, sebentar lagi subuh."
Mendengar itu, Al langsung membuka lebar kedua matanya. Ia baru sadar dan ingat tentang apa yang terjadi semalam, dimana dia menyerahkan kesuciannya pada Fatih. Membuat wajah Al memerah, ketika membayangkan kejadian semalam, ternyata suaminya itu cukup perkasa, hingga meminta nambah dan nambah lagi.
"Kenapa sayang, kok mukanya jadi merah?" Fatih tau, pasti Al mengingat kejadian semalam
"Kamu membayangkan yang semalam ya." Ucap Fatih menggoda Al
Al langsung memeluk Fatih lagi dan membenamkan wajahnya di dada Fatih. Ia sungguh malu, dan ingin menyembunyikan pipi yang merona. Tapi Al mendusel-dusel dada Fatih sehingga Fatih sedikit tida nyaman, takut adik kecilnya itu bangun lagi.
"Sayang jangan gerak-gerak gitu, kamu mancing aku ya. Apa mau kita ngelakuin kaya kemarin lagi hm?!"
Plak! Al langsung menjauh dari Fatih dan memberikan pukulan di dada Fatih.
"Ihhh masih sakit tauk, badanku juga mau remuk rasanya."
Al bergegas ingin bangun, dengan memakai selimut, karna tubuhnya yang masih polos itu. Sedangkan Fatih sudah memakai celananya semalam.
"Ssshhhh." Tapi saat hendak bangun, Al meringis. Merasakan sakit dan ketidak nyamanan di bagian bawahnya.
"Kenapa sayang, sakit ya?"
"I-iya mas." Jawab Al
"Sayang maafin mas ya kalo udah buat kamu jadi sakit gini. Fatih benar-benar merasa bersalah, dia tidak tega melihat Al yang sangat kesakitan. Meski itu wajar jika dilakukan untuk pertama kalinya.
"Gak papa mas, lebay deh. Aku kan kuat." Ucap Al sok kuat, karna dia memang jarang menunjukkan kelemahannya pada orang.
"Kalo kuat, ayo kita lakukan lagi." Fatih hanya ingin menggoda istrinya itu
"Hehe, jangan dong. Itu udah mau adzan, aku mau mandi." Alasan Al
Fatih tersenyum dan langsung membantu Al membawa nya ke dalam kamar mandi.
Mereka pun mandi bersama, setelah Fatih yang kekeh ingin mandi bersama, meski Al awalnya menolak. Ia takut suaminya akan melakukan hal seperti semalam, sedangkan tubuhnya masih terasa sakit semua.
Tapi akhirnya, Fatih benar-benar hanya mandi bersama, tanpa melakukan apapun. Karna dia tahu bahwa istrinya masih merasakan sakit, dan juga adzan subuh sudah berkumandang.
__ADS_1