
Setelah semuanya selesai makan malam bersama, kemudian kumpul di ruang keluarga, berbagi banyak cerita antara orang tua dan anak. Abah Ali yang juga menyempatkan ceramah sedikit untuk anak dan menantunya itu, sambil mereka menikmati kue kering bawaan umi Fatimah.
Saking asik berbincang untuk saling melepas kerinduan, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.17 malam. Sehingga orang tua mereka sudah waktunya akan pulang ke rumah, agar tidak terlalu malam saat sampai.
"MasyaAllah gak terasa sudah jam segini, saking asik berbincang." Ucap abah
"Iya, ayo sebaiknya kita pamitan, biar nanti gak terlalu malem sampenya." Ucap bunda
"Apa gak sebaiknya kalian menginap dulu bun? Ini sudah malam, kasian ayah mau nyetir mobil, umi sama abah juga lebih baik menginap dulu. Nanti Al siapkan kamarnya."
"Ayah sama bunda pulang aja sayang, karna besok pagi ayah masih harus ke kantor, ada meeting." Jawab ayah
"Umi sama abah nginep dulu aja ya, kasian pak Ujang kalo suruh jemput terus balik lagi, udah malem ini." Bujuk Al
Entah mengapa Al masih ingin berlama-lama dengan orang tua dan mertuanya, hanya saja untuk ayah dan bundanya memang memiliki kesibukan lain jadi tidak bisa di paksa.
"Iya besan, menginap saja disini, rumah kalian lebih jauh dari pada kami, istirahat semalam di sini, temani menantu mu itu Fatim." Ucap bunda cengengesan sambil menunjuk Al menggunakan dagunya. Dan di tanggapi cengengesan juga oleh umi Fatimah
"Betul umi, abah, sebaiknya menginap dulu disini. Besok kan masih libur, jadi biar Fatih antar ke pesantren." Tambah Fatih
Sedangkan ayah, tadi izin keluar rumah untuk menerima telepon dari koleganya di kantor.
"Bagaimana abah?" Tanya umi
"Yasudah kami berdua menginap di sini malam ini, pak Ujang juga belum mengangkat telepon abah sejak tadi." Putus abah
"Yeeeyy, umi abah nginep sini. Nanti biar Al siapkan kamarnya ya." Ucap Al kegirangan
"Iya sayang terimakasih." Ucap umi membalas rangkulan Al yang duduk di sampingnya
Saat ini di rumah itu tinggal mereka berempat, karna tadi bunda dan ayah sudah pulang kembali ke rumahnya. Al baru kembali dari kamar yang habis ia bereskan untuk tempat umi dan abah tidur. Ia berjalan menuju ke ruang keluarga dimana Fatih dan mertuanya duduk disana.
"Umi, abah, kamarnya sudah siap." Ucap Al yang langsung duduk samping umi
"Oh iya terimakasih nak." Ucap umi
"Loh mana abah?" Tanya Al
"Abah lagi terima telepon pak Ujang di luar, ngasih tau kalo umi sama abah tidak jadi pulang." Jawab Fatih yang duduk di depannya, dan Al hanya ber oh ria sebagai balasan
"Umi, ayo kita tidur, sudah malem. Umi tidur sama Al ya!" Ucap Al tiba-tiba
Mendengar itu, Fatih langsung menatap tajam Al, dia berpikir, apa maksud istrinya itu ingin tidur dengan umi.
"Bagaimana umi." Tanya Al lagi
"Hem sepertinya bagus, bagaimana Fatih, boleh?" Tanya umi melirik kepada Fatih yang tambah memberikan tatapan tajam, umi bisa melihat itu, dan mencoba menggoda anaknya.
"Tidak!!" Jawab Fatih langsung dengan wajah datar
"Tapi mas, aku mau tidur sama umi." Ucap Al sengaja memeluk umi, Al tau kalau suaminya akan melarangnya, dan dia sengaja melakukan ini. Karna, Fatih tidak bisa tidur tanpa memeluk istrinya itu, kecuali sangat urgent
"Tidak dek, kamu tidur sama aku." Jawab Fatih lembut tapi masih dengan wajah dingin
"Ih umi, liat tuh mas Fatih." Al mengadu
Umi Fatimah tentu saja gemas dengan kelakuan pasutri ini. "Sayang, kamu kan ada suami dan umi juga ada suami, itu abah. Jadi tidak baik jika harus berpisah ranjang, tidurlah bersama suami mu." Nasihat umi lalu mengelus puncak kepala Al
"Baiklah." Al mencebikkan bibirnya, tetapi dia juga senang dalam hatinya karna berhasil membuat Fatih kesal, dan melihat sisi posesif suaminya
.
.
.
Mentari pagi ini, terlihat sangat mendukung. Bersinar dengan sempurna, dengan cuaca lagi yang sejuk dan segar. Al sudah siap dengan pakaian olahraganya, dan baru saja turun dari tangga untuk menemui suaminya yang sudah menunggu di bawah.
__ADS_1
"Udah siap dek?" Ucap Fatih saat melihat istrinya yang baru turun, dan terlihat sangat cantik plus menggemaskan, menggunakan pakaian itu
"Iya mas udah, cocok banget baju nya buat aku." Ucap Al sambil berlenggok untuk melihatkan tubuhnya
Sama sekali tidak malu, padahal di sana juga ada umi dan abah yang sedang minum teh.
"Anak umi cantik sekali, kalian mau jogging pagi ya?" Tebak umi
"Iya umi, apa umi mau nitip sesuatu, biar sekalian di beliin di jalan nanti.?" Tanya Fatih
"Nanti biar aku bawain bubur ayam gimana, untuk sarapan. Mau gak bah?" Ucap Al
"Wah iya nak, abah mau deh bubur ayamnya." Jawab Abah
"Tapi jangan pedes ya sayang!" Tambah umi
"Siap umi, abah. Kita pergi dulu, assalamualaikum."
Setelah Al dan Fatih bersalaman dengan umi dan abah, mereka langsung mulai jogging dengan berlari kecil, sampai taman yang katanya ada di dekat komplek perumahan mereka. Al sangat senang sewaktu semalam Fatih bicara akan mengajak nya jogging pagi ini.
Saat jalan beriringan, Al sering melirik ke arah suaminya. Dia merasa suaminya ini sangat tampan, dengan setelan olahraga, yang bajunya sedikit ngetat sehingga melihatkan otot yang ada pada tubuh Fatih. Untung saja baju itu tidak transparan, yang bisa memperlihatkan roti sobek di perut Fatih.
"Kenapa ngeliatin aku gitu?" Tanya Fatih saat mereka baru sampai di taman itu
"Ah g-gak papa." Al langsung melengoskan wajahnya karna ketahuan
"Em kamu beli dimana ini mas, baju aku? Kok tiba-tiba udah beli aja." Tanya Al untuk mengalihkan pertanyaan Fatih tadi
"Beli di toko di jalan, aku udah planning pengen jogging bareng kamu dari lama, jadi aku beli itu deh. Kamu suka gak?"
"Lumayan lah." Ucap Al sambil mengelus dagunya
Fatih mengacak gemas hijab instan yang Al pakai. Ia mengenakan pakaian olahraga, yang bawahnya berbahan legging, tapi di lapisi lagi dengan rok sepanjang lutut, sehingga tidak memperlihat kan bentuk tubuhnya. Dan memakai hijab instan yang lumayan panjang, hingga menutup dada. Itu adalah permintaan dari Fatih.
"Ayo kita mulai sayang, keliling puteran itu 10 kali ya?" Ucap Fatih
"Yasudah, 5 kali saja. Ayo 1 2 3."
"Lariiiiii." Ucap Al mendahului Fatih
Padahal mereka hanya akan berlari santai, bukan balapan. Tetapi saat putaran ke empat, Fatih mengajak istrinya itu untuk balapan dan mengejar dia yang sudah duluan.
"Mas tunggu ih, cepet banget." Ucap Al yang sudah kecapekan
Puteran yang cukup besar dan di tengah puteran itu ada air mancur, yang sekarang banyak orang duduk di pinggirnya.
"Huh huh hah." Al menghirup udara dan ngos ngosan karna berlari tadi
Fatih yang memang selesai duluan, sudah duduk di salah satu kursi deket air pancur itu. Al mendekati suaminya dan duduk di sampingnya.
"Wah gila, lo c-cepet ba-nget s-sih larinya." Ucap Al terbata karna masih merasa ngos ngosan
"Kamu bilang apa tadi?!"
Al yang sadar kalo tadi memanggil dengan sebutan 'lo', langsung menutup mulutnya. "Eh salah, mas maksudnya. Mas cepet banget larinya."
"Haha kamu kalah, aku dapet apa nih?" Ucap Fatih sambil memagang tangan istrinya
"Gak dapet apa-apa, orang kamu yang ajak balapan, padahal harusnya jogging aja, santai, huh!"
"Yaudah, ini minum dulu." Fatih memberikan mineral yang entah kapan dia beli
"Kapan kamu beli minum mas?" Tanya Al
"Tadi ada yang lewat, bapak-bapak jualan." Jawabnya
Al pun meminum air itu, Fatih juga meminum airnya. Dari tadi ia belum minum karna tidak ingin mendahului, ia ingin menunggu istrinya dulu, sosweet sekali bukan:v
__ADS_1
Al melirik ke arah Fatih yang sedang minum, dengan jakun yang naik turun, dan keringat yang mengalir di dahi dan bagian wajah lain, membuat Fatih terlihat sangat tampan, bahkan berdamage sekali.
'Gila, laki gue tampan banget cuiii.' Ucap Al dalam hatinya
Pada saat yang sama, setelah Fatih selesa minum, banyak sekali wanita-wanita yang melirik ke arahnya. Mulai dari ibu-ibu sampai gadis muda yang juga sedang berolahraga di sekitarnya.
"Widih, ganteng bener tu orang ya. Bisa kali aku jodohin sama anak gadisku di rumah." Salah satu ibu-ibu
"Guys ganteng banget sih, otot nya liat tuh, meski tertutup tapi gue yakin pasti perutnya sispack." Ucap gadis muda yang cantik dan berpakaian olahraga seksi
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan mereka yang pastinya terdengar oleh Al dan Fatih. Al yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya dan wajahnya yang terlihat kesal dan cemburu. Fatih bisa menangkap ekspresi tidak enak itu, ia pun langsung mengajak istrinya pergi.
"Ayo sayang, kita pulang ya." Fatih menggandeng tangan Al
Al hanya menurut saja, ia tidak ingin ribut di tempat umum seperti ini. Al takut nanti dia bakal buat onar dengan sifat barbar yang selama ini sudah di kuranginya. Tetapi saat mereka hendak pergi dari sana....
"Maaf kak, aku boleh minta no nya gak?" Tiba tiba datang rombongan gadis yang tadi membicarakan Fatih
"Eh saya saja mas, saya minta no nya untuk anak gadis saya." Ucap ibu-ibu sambil tersenyum, yang juga menghampiri Fatih
"Maaf ya, saya tidak bisa memberi no hp saya." Jawab Fatih dengan masih menggenggam tangan Al
Al terlihat menahan emosinya, dengan mengepalkan tangannya.
"Yah mas, ini untuk anak saya yang cantik, dokter lagi." Ucap ibu itu lagi
"Iya kak, nanti kapan-kapan saya traktir makan gitu, biar enak calling nya." Lanjut gadis tadi
"Maaf, no saya private, tidak sembarangan." Jawab Fatih masih sabar
Terlihat mereka semua yang menginginkan no hp Fatih menghela nafas panjang, susah pikirnya untuk mendapatkan no lelaki ini.
"Eh dek, kamu gemesin deh, tolong dong, mintain no hp kakaknya." Ucap ibu itu pada Al yang sedikit menjauh dari Fatih, entah sejak kapan dia melepaskan genggaman suaminya
"Hah kakak saya?" Bingung Al
"Iya, kamu ini adeknya mas ganteng kan?" Tebak ibu itu
Para gadis yang lain pun mendekati Al juga untuk meminta bantuan agar mendapatkan no Fatih.
"Saya bukan adeknya bu ibuk dan mba-mba." Jawab Al dengan menahan emosi
"Lah terus siapanya? Serius lah dek, minta tolong gitu doang." Ucap gadis itu sehingga menyulut emosi Al
"Saya ini istri nya mas Fatih, bukan adeknya!" Ucap Al penuh penekanan
Hahahhaha!! Mereka semua tertawa mendengar ucapan Al. Tidak mungkin menurutnya, kalau Al adalah istrinya. Karna wajah Al yang imut, seperti masih sma jadi lebih cocok menjadi adiknya, pikir mereka.
"Kamu ini masih kecil, lebih cocok jadi adeknya." Ucap ibu
"Iya jangan gitu lah dek, pura-pura ngaku istrinya. Kita kan cuma minta tolong bantuin doang."
"Masih bocah masa udah nikah, hahahah!" Mereka tertawa lagi
Karna Fatih melihat bahwa Al sudah emosi, dan mengepalkan tangannya. Fatih langsung menarik istrinya mendekat, dan merangkulnya mesra, agar bisa menahan amarah istrinya, jangan sampai ibu dan gadis-gadis itu habis di tangan Al.
"Maaf ibu dan mba, benar yang dikatakannya. Ini adalah istri saya, jadi tolong jangan bicara sembarangan. Wajahnya memang menggemaskan dan cantik seperti masih sma, tetapi dia benar adalah istri sah saya." Ucap Fatih tegas, menunjukkan tatapan tajamnya karna tidak suka mereka mengatai istrinya seperti tadi
Mereka semua tercengang mendengar ucapan Fatih, tidak mampu berucap apapun lagi. Al pun langsung merona di wajahnya, mendengar ucapan suaminya yang tegas dalam mengakuinya sebagai istri.
"Sayang ayo kita pulang, mau beli bubur kan untuk umi sama abah hm?" Fatih mengelus lengan Al lembut
Al hanya menganggukkan kepalanya, sambil memeluk mesra tangan suaminya, agar di lihat oleh mereka semua.
Tapi saat mereka pergi dan berjalan, Al masih bisa mendengar meski samar, apa yang di katakan oleh gadis-gadis itu, yang cukup membuatnya takut dan sakit hati.
"Heh Jes, Lo bisa kali jadi pelakor untuk dapetin mas ganteng tadi!" Ucap gadis itu pada gadis lainnya yang iya panggil Jes. Dan semua itu masih bisa di dengar oleh Al karna jarak yang belum terlalu jauh, tetapi Fatih tidak mendengar.
__ADS_1