
"Pak ini kopinya. Dijamin enak dan bisa mengalahkan rasa kopi buatan mba Al." Ucap Najwa tersenyum genit sambil menyuguhkan kopi di hadapan Fatih yang baru ingin mulai makan bersama Al
"Oh iya terimakasih." Jawab Fatih tanpa menatap Najwa
Entah itu hanya candaan atau memang sengaja berkata seperti itu, tapi Fatih tidak suka mendengar Najwa berucap seperti itu, seakan mengatai istrinya.
Al yang melihat dan mendengar itu, sebenarnya sedikit tersinggung dan langsung cemberut. Memang biasanya setiap pagi, Al yang akan membuatkan kopi untuk Fatih, tapi karna tadi setelah subuh ia tidur kembali, karna kejadian semalam yang membuatnya masih capek dan sakit, sehingga tidak sempat untuk membuat kopi dan sarapan.
Sebenarnya, Fatih pun tidak menyuruh Najwa untuk membuatkannya kopi, tapi mungkin ini adalah kesempatan untuknya, membuatkan kopi dan mencari perhatian Fatih.
Saat di perjalanan, Al masih saja cemberut. Fatih memperhatikan istrinya, entah apa yang membuatnya seperti itu.
Fatih mengelus puncak kepala Al sambil berkata. "Sayang kamu kenapa cemberut dari pas sarapan tadi? Apa itu kamu masih sakit hm? Aku minta maaf ya, gara-gara aku..."
"Iya emang masih sakit, tapi ini lebih sakit lagi." Al menepuk-nepuk dadanya
Fatih pun kaget dan langsung menepikan mobilnya dengan ngerem mendadak.
"Ihhh mas, untuk gak kejedut kepala aku." Gerutu Al
"Maaf sayang, kamu kenapa, mana dadanya yang sakit, kok bisa sih." Fatih khawatir dan langsung melihat bagian dada atas Al
"Ihh bukan dadanya, tapi hatinya!" Ucap Al
"Loh, hatinya sakit kenapa?" Fatih bingung
"Seneng kan kamu di buatin kopi yang lebih enak dari buatan aku." Akhirnya Al mengeluarkan uneg-uneg nya sejak sarapan tadi
Fatih yang langsung tau apa maksud dari ucapan istrinya itu langsung tertawa pelan, ia merasa lucu ternyata istrinya marah karna cemburu.
"Besok-besok minta buatin aja sama mba Najwa, gak usah minta sama aku lagi." Al bersedekap dada sambil cemberut
"Sayang coba liat sini, dengerin aku dulu." Fatih membawa Al berhadap dengannya di dalam mobil itu
"Tadi aku udah minum kopinya, dan rasanya biasa aja sayang. Masih enakan buatan umi, dan yang pertama masih enakan buatan istri mas ini." Fatih membelai pipi Al
Al yang mendengar itu langsung berbinar tapi masih menahan senyumannya.
"Emang iya, serius? Boong kali!"
"Iya serius dek, mas tadi sebenarnya tidak ingin menghabiskan kopinya, karna merasa kurang pas di lidah. Tapi karna kita tidak boleh mubazir, jadi mas habiskan saja." Fatih berkata jujur
"Wah berarti gak enak ya mas buatan mba Najwa." Ucap Al sudah tidak lagi cemberut
"Iya, buatan kamu doang yang pas di lidah mas. Kamu kan belajar langsung dari suhunya, yaitu umi." Ucap Fatih dan mereka berdua langsung terkekeh bersama
"Yaudah ayok mas cepet jalan lagi, keburu telat nih."
Saat sampai di parkiran, Al berkata kepada Fatih, agar nanti setelah pulang dari kampus, terlebih dahulu belanja ke supermarket. Karna ada beberapa cemilan yang ingin ia beli. Setelah itu, sebelum keluar mobil, terlebih dulu Al menyalim tangan suaminya. Memang sekarang sudah terbiasa dan Al mulai sedikit dewasa dari sebelumnya.
"Apa lagi mas, kan udah salim, keburu telat nih. Pak Gibran yang ngajar, tar kalo telat aku suruh buat makalah setebal kamus lagi." Cerocos Al karna Fatih masih menahan tangannya
__ADS_1
"Ini dulu dong!" Fatih menunjuk bibirnya
"Ih mesum. Tar kalo ada yang liat gimana." Tolak Al
"Ini di dalam mobil sayang. Lagian mobil mas, gelap banget kalo dari luar."
"Yaudah merem dulu mas nya."
Fatih menuruti istrinya, ia sangat suka jika Al menciumnya.
Cupp!! Al mencium Fatih, tapi ternyata ia mencium hanya bagian pipi Fatih. Dan langsung kabur keluar dari mobil, berlari dengan cepat ke arah gedung.
"Ih berani banget kamu nipu aku sayang, awas aja di rumah nanti." Ucap Fatih sambil geleng kepala
Meski hanya di cium di pipi, pastinya Fatih tetap senang. Tapi juga merasa geregetan dan gemes dengan tingkah istri barbar nya itu. Dia bilang tadi masih merasakan sakit, tapi tadi sudah bisa langsung berlari seperti itu, memang wanita kuat pikir Fatih.
.
.
.
Sampai di kelas, ternyata dosennya memang belum masuk. Dan Al baru menyadari saat ia berhenti berlari di depan kelas. Al merasakan sakit dan perih sekali di bagian bawahnya, ia lupa kalau tadi memang sakit tapi malah ia bawa berlari, sehingga membuat itu semakin terasa perih.
Sambil berjalan masuk ke dalam kelas, dan duduk di kursinya, Al terus saja meringis menahan perih. Tiga sahabatnya itu, heran dan menaikkan sebelah alis mereka, melihat Al begitu.
"Heh lo kenapa Al, kok meringis gitu?" Tanya Syila
"Iya Al, kamu lagi sakit atau gimana, tadi jalannya juga kayak habis sunat deh." Tambah Nashwa
Syila dan Nashwa hanya ber-oh-ria, langsung percaya dan tidak curiga. Karna dosen juga sudah masuk, jadi tidak ingin membahas itu lagi.
"Kayaknya udah cetak gol nih Prof Fatih." Bisik Dijah pada Al
Plak! Al memukul pelan lengan Dijah yang langsung pura-pura kesakitan.
"Ssstt nanti yang lain denger bego!" Balas Al
"Wah beneran nih, jadi lo udah kaga gadis lagi beb?" Dijah merangkul pundak Al terharu dengan sahabatnya ini
"Terus gimana, kalo ngeliat dari lo jalan sih, pasti itu sakit banget kan?" Tebak Dijah
"Ya sakit sih, tapi ada enak-enaknya." Ucap Al frontal
"Paraaahhh!" Balas Dijah
"Serius gue Bambang?" Tambah Dijah lagi
"Udah deh diem lo, masih kecil juga!" Kata Al
Tidak mungkin dia memberi tahu pengalaman malam pertamanya dengan orang lain. Karna juga tadi setelah subuh, Fatih sudah menasihati Al, bahwa apapun itu kalau urusan ranjang, maka jangan pernah ceritakan kepada siapapun termasuk orang tua.
__ADS_1
"Lo juga masih kecil monyet!" Balas Dijah kesal dengan Al
"Ehh itu di belakang,Al dan Khadijah tolong diam dulu!" Ucap pak Gibran sedikit teriak
Sett! Dijah langsung melepas rangkulan dari pundak Al, dan sedikit menjauh. Al juga langsung mengunci bibirnya. Sudah kena semprot oleh pak Gibran maka harus langsung diam, kalau tidak bisa di hukum membuat makalah setebal kamus. Sudah seperti membuat skripsi, oh tidak akan sanggup.
Sekitar jam 1, Al sudah menyelesaikan kelas nya. Hari ini hanya ada kelas sampai siang saja, hanya ada 2 mata pelajaran.
"Eh guys, kita ngemall yuk. Nonton film, makan, main games, dan lain-lain sampe malem gitu." Ajak Syila antusias
"Ihh ko sampe malem Syil, nanti aku kena marah abi." Jawab Nashwa yang memang tidak boleh keluar malam
"Yaelah sekali doang, tar gue yang izinin sama abi lo. Mau gak Jah, Al?" Tanya Syila
"Gimana Al?" Dijah menyenggol siku Al
"Sorry guys, gue gak bisa nih. Lagian kalian gak usah main terus, sebentar lagi kita uts. Minggu depan hari Selasa udah mulai, jadi belajar cuy." Ucap Al
"Lah emang iya udah mau uts?" Tanya Dijah
"Kok lo tau sih Al?" Heran Syila
Waduh Al baru sadar kalo dia salah bicara, memang untuk uts kebanyak sudah tau, tapi para siswa tidak akan tau tepatnya itu kapan dan hari apa. Sedangkan Al tau dan menyebutkan harinya, sudah pasti sahabatnya itu heran.
"Itu kali si Al tau dari Prof Fatih, kan orang tua mereka sahabatan, jadi mungkin ketemu Prof Fatih dan beliau bilang ke Al." Ucap Dijah membantu Al
"Nah iya itu bener, kemaren Prof Fatih ada dateng sama ortunya, terus ada bilang tentang uts, makanya gue tau." Jawab Al membenarkan
"Wah, enak banget si lo, sering ketemu Prof Fatih ya. Bantuin gue deket Prof Fatih kek Al." Ucap Syila
"Dih ogah gue." Ucap Al
'dia laki gue coy, yakali mau gue comblangin sama cewe lain.' Al membatin
"Mana mau Prof Fatih sama lo Syil, temboknya tinggi banget, beda agama cuy." Balas Dijah
Syila langsung cemberut, memang benar juga. Tapi ia kagum dengan ketampanan Fatih, meski sadar tidak bisa memiliki.
"Udah deh Syil ngehalunya, ayo kita pulang." Ajak Nashwa langsung menarik Syila ke arah parkiran
Al dan Dijah juga mulai berjalan ke parkiran, tapi sebelum mereka berpisah, karna Dijah akan ke sebelah sana tempat parkiran siswa, sedangkan Al ingin masuk ke dalam mobil Fatih, Dijah mengatakan sesuatu.
"Eh gue udah bantuin lo berapa kali, lo ga ada niatan ngasih gue apa gitu." Maksud Dijah membantu menjawab pertanyaan yang susah Al jawab, tentang kecurigaan orang
"Dih lo kaga ikhlas banget!"
"Ya iyalah, ga ada gratisan."
"Yaudah sini gue bayar pake ciuman aja."
Cupp! Al langsung mengecup salah satu pipi Dijah, dan langsung berlari ke arah mobil Fatih dan masuk ke dalam. Karna memang Fatih sudah ada di dalam menunggu istrinya sejak tadi.
__ADS_1
"Aaarrghhh! Gila banget tuh nak" Dijah berteriak, karna Al menciumnya. Kemudian ia mengelap pipinya itu.
Selama mereka sahabatan, belum pernah sampai cium cium, paling hanya pelukan. Meski ia tahu bahwa itu adalah bentuk kasih sayang sahabat. Di dalam hatinya juga senang, tapi ia merasa sedikit geli kalau di cium.