Dua Hal Yang Berbeda

Dua Hal Yang Berbeda
Lelaki misterius


__ADS_3

"AKH! DOSEN SI*LAN!" gumam seorang Mahasiswi sambil menyusuri lorong gedung Fakultas Kedokteran. Siapa lagi kalau bukan si tomboy dari jurusan forensik.


Chikako Ebina Gayantri. Mahasiswi tomboy berasal dari Jepang kuliah di Korea Selatan. Mengambil perkuliahan fakultas kedokteran dengan jurusan forensik. Kulit putih bersih, bibir merah menawan, rambut panjang sepunggung, bulu mata yang lentik, mata sipit tetapi bundar, serta otak cemerlang dan bertubuh langsing membuat para lelaki tergila-gila dengannya. Tetapi sayang sifat tomboynya dan terkenal nakal dari jurusan forensik. Siapapun yang mengusiknya akan terkena masalah dengan Chika. Gadis satu ini suka membuat onar. Keturunan Indonesia-Jepang. Tetapi sayang selama ini dia masih amnesia sejak 10 tahun yang lalu. Tetapi dia masih beruntung memiliki sahabat yang setia dengannya. Dengan hal itu dia bisa mengembalikan beberapa ingatan saja.


"Chika!." panggil seseorang dengan memanggil Chika dari belakang. Chika yang merasa dipanggil pun menoleh. Tampak ada seorang Mahasiswi seumurannya berlari mendekati Chika. Chika pun berhenti melangkah dan terus melihat Mahasiswi tersebut. Setelah Mahasiswi tersebut tepat dibelakang Chika, dia pun berhenti sambil mengatur deru nafasnya setelah berlari mengejar Chika.


"Jangan ninggalin gue dong. Capek tau ga ngejar lo? Pake lari-lari lagi buat ngejar lo." omel Mahasiswi tersebut sambil mengatur deru nafasnya yang masih belum stabil. Chika pun hanya melihat Mahasiswi tersebut sambil berdiri dan menghadap Mahasiswi tersebut. Dia hanya diam menunggu Mahasiswi tersebut selesai mengatur deru nafasnya.


"Salah sendiri kan ga ada yang nyuruh lo lari-lari karena gue." balas Chika acuh.


"Lagian kan lo bisa treak-treak kayak tadi trus jalan santai kan bisa Nao. Otak lo mana Naora Ajibana?..." lanjut Chika sambil mengelus dadanya. Mahasiswi tersebut hanya bisa tersenyum dan merasa tidak berdosa sekalipun kepada Chika.


"Udah deh, mending kita ke kantin bareng yuk! Ga usah lari-lari yang unfaedah." ajak Chika kepada Mahasiswi tersebut yang bernama Naora. Naora yang merasa tersindir dengan kata-kata Chika tadi pun mulai tidak terima.


"Enak aja lo nyindir gue!" balas Naora yang merasa disindir dengan Chika dengan tidak terima. Chika pun terkekeh sebentar sambil berjalan santai bersama Naora menyusuri lorong.


"Iya-iya gue salah. Udah jangan marah-marah lagi. Nanti jadi nenek-nenek deh." balas Chika yang masih terkekeh. Naora pun mendengus kesal dan diam seribu bahasa. Sama saja kalau nanti protes pasti Chika membuatnya makin kesal. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke kantin bersama.


Sesampai di kantin mereka pun memesan makanan seperti biasa dan makan di bangku kantin yang sudah di fasilitaskan oleh Universitas. Mereka pun menikmati makanan dan diselangi canda tawa mereka berdua. Ketika mereka berdua sedang bercanda tawa, sebuah televisi besar yang ada di kantin pun menyala dan menampakkan berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Vampire. Mereka yang mendengar suara televisi besar pun diam dan mulai menonton televisi dengan antusias. Tampak ada foto mayat yang terkulai lemas dengan sebuah bekas gigitan Vampire pada leher mayat pada televisi tersebut. Mayat tersebut ditemukan di gang sempit nan gelap. Pada malam hari, biasanya para Vampire memburu mangsanya ditempat sepi, sempit nan gelap seperti di beberapa gang bagian jalan pintas. Setelah siaran berita itu habis, mereka berdua pun terdiam.


Chika yang sejak awal memegang sendok di tangan dari awal berita Vampire di televisi tersebut hingga sekarang pun tidak melepaskan sendoknya sama sekali. Chika menggenggam sendok tersebut dengan sangat erat sambil mengingat ingatan tentang terbantainya keluarganya 10 tahun yang lalu. Setelah Chika menggenggam sendok tersebut di tangannya lalu Chika pun membanting sendoknya begitu saja pada bangku kantin dengan perasaan dendam. Chika pun bergegas membayar atas makanannya pun lalu mulai meninggalkan kantin. Sebelum Chika meninggalkan kantin, Chika pun menunggu Naora yang cepat-cepat menghabiskan makanannya dan tidak lupa membayar makanannya sendiri.


Setelah Naora membayar makanannya, Naora pun menyusul Chika yang sedari tadi menunggunya. Mereka berdua pun meninggalkan kantin dan mulai menyusuri lorong gedung fakultas kedokteran pada lantai satu. Chika sedari tadi diam seribu bahasa sambil memendam dendamnya kepada para Vampire. Dengan susah payah, Naora pun membuka suaranya yang menandakan ingin memulai pembicaraan.


"Lo masih dendam ya sama berita tadi?" tanyanya kepada Chika dengan hati-hati. Chika pun diam. Dia hanya mengepalkan tangan nya dengan sangat erat. Naora pun mulai bersuara lagi.


"Lo yang sabar ya. Gue yakin lo pasti bisa bantai semua Vampire itu!" Naora pun mulai memberikan semangat kepada Chika. Chika tetap diam tetapi kini tangannya melemas.


"Udah 10 tahun gue menderita Nao. Gue ga punya keluarga lagi..." balas Chika dengan lirih tetapi masih bisa didengar oleh Naora.


"Tapi lo punya gue. Lo harus kuat. Gue yakin sumpah lo bisa terwujudkan." Naora tidak henti-henti memberikan Chika semangat. Sebab Chika bisa bertahan sampai saat ini karena Naora. Naora lah yang selama ini membantu dirinya untuk tegar padahal sebenarnya dia sangat rapuh. Tetapi karena dukungan Naora, kini dia masih bisa bertahan dan mencari beberapa data yang berhubungan dengan Vampire sampai saat ini.


"Arigatou Nao. Lo selalu dukung gue, karena lo gue tetap bertahan. Karna lo gue bertekad membalas kematian keluarga gue. Karna lo penyemangat gue. Makasih atas semua itu Nao. Gue bersumpah gue akan balas kematian keluarga gue. Kalau bisa gue bantai semua Vampire Nao." balas Chika dengan lirih dan lemas yang masih bisa didengar oleh Naora. Dari kata-kata Chika tadi terdapat suara kesedihan mendalam dan tekad yang kuat dari dalam hatinya. Naora pun tersenyum dan merangkul pundak Chika.


"Lo harus kuat Chika!. Semangat!" Naora tak berhenti memberikan semangat kepada Chika. Chika pun tersenyum. Mereka pun tertawa lepas bersama. Selama ini Naora menjadi tumpuan untuk Chika.


Tiba-tiba.....


"Permisi..." tampak ada suara dari belakang mereka berdua. Mereka berdua pun diam dan mulai menoleh ke belakang dan mulai berhenti melangkah.


Mereka memperhatikan ada seseorang laki-laki dengan kemeja bergaris hitam putih yang terkancing rapi dan dimasukkan ke dalam celana, terdapat pita di leher hingga Suspender yang tak lepas dari pakaiannya. Belom lagi berkacamata bundar dan tebal. Benar-benar pakaian orang cupu. Dia pun berjalan mendekati Chika dan Naora. Tanpa basa-basi pun Chika menanyakan kehadiran lelaki tersebut dengan sangat dingin.


"Apa lo?" tanya Chika kepada laki-laki tersebut dengan sangat dingin dengan kata-kata yang penuh penekanan.


"Bo-Boleh ta-tanya ga?" tanya laki-laki tersebut dengan sangat gugup. Chika pun memandang lelaki tersebut dari atas sampai bawah. Tidak berhenti sampai disitu, Chika pun menatap laki-laki tersebut dengan tajam.

__ADS_1


"Lo bisa ngomong ga? Tanya yang jelas dong!" balas Chika sambil menekan kata-katanya tersebut. Laki-laki tersebut berusaha menegakkan kata-katanya tersebut.


"Boleh tanya ga?" tanya laki-laki tersebut sekali lagi dengan gugup. Tanpa memperlamakan waktu Chika pun menyela pembicaraan dengan dingin dan penuh penekanan.


"Tanya langsung." sela Chika kepada laki-laki tersebut. Naora hanya diam. Dia tau situasi apa saat ini. Laki-laki tersebut mulai membuka suara lagi.


"Kalian tau ruangan Kepala Rektor ga?" tanya laki-laki tersebut dengan ragu. Lagi-lagi Chika pun menyela pembicaraan laki-laki tersebut.


"Lo naik lift sampe lantai empat trus lo belok kanan nanti ada tulisan ruangan Kepala Rektor, trus lo nya masuk. Keknya lo orang baru deh disini." sela Chika sambil menatap tajam laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut hanya bisa mengangguk samar. Chika pun langsung mendorongnya ketembok sambil melihat setiap inci laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut pun kaget. Dengan memberanikan diri laki-laki tersebut bertanya kepada Chika.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan takut. Chika pun menyeringai tajam.


"Jijik gue kalau lo panggil gue kamu." balas Chika dengan nada dinginnya.


Chika mulai memegang dada laki-laki tersebut tepat pada jantungnya, Chika pun mengecek jantungnya dengan tangannya apakah berdetak apa tidak. Setelah di cek, ternyata jantungnya berdetak, tangan Chika pun langsung mengecek nadi pada leher laki-laki tersebut. Setelah di cek, ternyata nadi pada lehernya pun juga berdetak. Ketika tangan Chika mulai mengecek nadi pada tangan laki-laki tersebut, Naora pun menarik kerah baju Chika dari belakang. Laki-laki tersebut sedari tadi dipenuhi keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Chika yang kaget diperlakukan seperti itu pun tidak terima dengan sikap Naora.


"Apaan sih Nao?! Gue lagi ngecek dia Vampire apa ga?!" Chika pun memarahi kepada Naora apa yang dia lakukan kepada dirinya.


"Ya ga gitu juga Chika.. Eh lo, pergi sana. Gue yang perbolehin lo pergi." Naora menyuruh laki-laki tersebut pergi dari mereka berdua. Laki-laki tersebut pun langsung pergi dari hadapan Chika dan Naora. Chika pun tidak terima langsung melengos dan memarahi Naora.


"Apa-apaan sih lo Nao?! Kan gue mau ngecek dia Vampire apa ga! Masa lo biarin gitu aja tuh cowok hah?!" Chika memarahi Naora dengan berapi-api. Naora pun mencoba menenangkan Chika dengan susah payah. Chika pun melengos pergi meninggalkan Naora. Naora pun pergi mengejar Chika yang mulai meninggalkan nya di lorong sendirian. Untung saja di lorong tersebut sepi karena Mahasiswa Mahasiswi yang lain pergi entah kemana. Mereka berdua pun kembali ke kelas bersama. Karena mereka juga satu kelas.


...**✿❀ ❀✿**...


Keesokan harinya...


"Paan?" tanya Naora sambil memberhentikan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Chika yang merasa aneh dengan Naora pun langsung menyelidikinya sebelum terkait lebih jauh lagi.


"Nao. Lo kenapa? Bener kan lo Naora with my bestie? Lo kok berubah sih Nao? Cerita ke gua dong." selidik Chika sambil memeriksa dadanya dengan tangannya, apakah jantungnya berdetak. Tangan Chika tidak berhenti sampai situ, tangan nya menjelajahi leher Naora dan mengecek apakah nadinya berdetak Naora pun mendengus kasar dan mulai membentak Chika.


"LO BISA GA TANYA SATU-SATU HAH?! LO BISA DIAM APA GAK HAH?!!" bentak Naora begitu saja kepada Chika yang kini ingin mengecek nadi kedua tangannya. Chika pun tetap tidak peduli dan mengeceknya. Tetapi tetap saja nadinya tetap berdetak. Chika pun santai menanggapi Naora dan menatap wajah Naora dengan intens. Chika pun mulai bersuara lagi dengan santai.


"Lo PMS ya? Kuy ke kantin, gue beliin puding melon kesukaan lo. Kalo lo mau nambah gapapa kok..." ucap Chika dengan halus dan mulai menenangkan Naora. Seketika pun Naora diam. Tampak terdapat senyum yang disembunyikan dari wajahnya. Dengan susah payah Naora memendam senyum itu dan mulai mengiyakan ajakan Chika. Baginya, kalau masalah puding kesukaan nya dia tidak boleh melewatkannya begitu saja. Chika pun tersenyum dan menggandeng tangan Naora pergi ke kantin guna membeli puding kesukaan Naora.


Sepanjang perjalanan di lorong gedung fakultas kedokteran pada lantai satu, mereka berdua tidak melepas gandengan tangannya. Mereka sempat memberikan canda tawa diantaranya. Tetapi canda tawa itu terhenti ketika Chika tidak melihat jalan dan menabrak seseorang lewat.


Bruk...


"Duh, Kamu gapapa kan?" tanya orang tersebut sambil mengulurkan tangannya kepada Chika yang terjatuh dan orang tersebut masih bisa berdiri. Chika pun mendengus kasar dan mulai menatap orang tersebut dengan tajam.


"Dia lagi! Kenapa sih dia selalu ada saja!" runtuk hati kecil Chika kepada orang tersebut. Orang tersebut tidak lain dari laki-laki kemarin yang dicurigainya. Tampak ada kekesalan di hatinya hingga wajahnya. Chika pun langsung berdiri dan mulai berkata...


"Ya. Dan lo ga usah ngomong kamu. Bisa ga lo ngomong lo gue gitu. Kenal gue ga? Enggak kan?" sindir Chika habis-habisan kepada laki-laki cupu tersebut. Dialah Laki-laki sedari kemarin yang ditemui Chika.


Laki-laki tersebut diam menundukkan kepada. Laki-laki tersebut takut akan kejadian kemarin terulang lagi pada dirinya lagi. Chika pun mengeluarkan seringaian aneh pada laki-laki tersebut. Chika pun mulai berkata lagi...

__ADS_1


"Dan makasih atas perhatian lo. Dah, lo pergi sebelum gue berubah pikiran." kata lagi Chika kepada laki-laki tersebut. Entah apa yang dipikirkan Chika, Chika kali ini melepaskan mangsanya begitu saja. Laki-laki tersebut langsung melarikan diri, meninggalkan Chika sebelum Chika berubah pikiran.


"Dasar Cupu! Dasar mental tempe! Laki-laki apa nggak ya orang itu." gumam Chika sambil menoleh kebelakang. Chika memperhatikan punggung laki-laki tersebut yang mulai menghilang dari pandangannya. Tampak di wajah kini dia menyeringai masam. Naora yang merasa aneh pun bertanya kepada Chika.


"Chika, tumben lu ngelepasin mangsa? Lo kesambet apa?." tanya Naora dengan heran. Naora berpikir jarang-jarang Chika melepaskan mangsanya begitu saja. Biasanya kalau melepaskan mangsanya kalau mengadakan perjanjian dengan si mangsa. Kini dia hanya mengampuni dan melepaskan begitu saja. Mengapa begitu aneh?


"Enak aja lo bilang gue kesambet! Gue bosen mainin dia tau ga. Dia terlalu cupu tau ga? Liat aja dia, masa laki-laki pake baju cupu kek gitu? Kan lucu gitu. Dia tuh mau kuliah apa ngelawak ya? Manalagi kalo bedakan keputihan lagi. Dari awal gue males sama orang cupu. Yaudah daripada ujung-ujungnya mood gue jelek, mending gue lepas lah. Kenapa lo heran?" Jelas Chika panjang lebar sambil menerangkannya dengan cepat layaknya lagu rap. Ketika dia menjelaskan, terdapat banyak ekspresi yang membuat Naora memperhatikannya. Dari wajah julid ala Chika, kesal, dan sedikit kemarahan. Naora pun tertarik, Naora mendengarkan dan memperhatikan Chika menjelaskan dari awal sampai akhir. Meskipun dia menjelaskannya begitu cepat, untung saja Naora bisa mendengarkan semuanya dari awal sampai akhir.


Ketika Chika mulai tenang, Chika dan Naora pun pergi ke kantin seperti janjinya. Mereka hanya memesankan Naora puding kesukaan nya tiga porsi dan membungkusnya. Setelah itu mereka pun bergegas ke kelas bersama sambil menunggu waktu pelajaran dimulai. Mereka mengisinya dengan perasaan dan mood yang cukup baik. Naora memakan puding melon kesukaan nya di kelas sedangkan Chika mengerjakan tugas-tugas dari dosen dan skripsi yang belum selesai-selesai. Chika ingin menyelesaikan skripsinya dengan cepat supaya ingin lulus dengan nilai terbaik dan tentu saja mengakhiri kuliah S2 nya kini. Para Mahasiswa-Mahasiswi pun datang sebelum bel berbunyi dan dosen datang. Tiba-tiba...


Ting Tong...


Bel berbunyi keras yang menandakan jam pelajaran dimulai. Tak lama pun Dosen datang bersama seseorang yang mengikutinya dari belakang sambil menundukkan kepala. Dosen pun mengucapkan sapa khasnya. Dialah Wali Dosen kelas Chika. Dosen tersebut berdiri di depan dan orang yang mengikutinya pun berdiri disamping Wali Dosennya. Chika yang sedari tadi fokus dengan tugas-tugas dan skripsinya pun cepat-cepat membereskan mejanya yang penuh kertas dan buku-bukunya.


Untung saja jam pelajaran saat ini waktunya Dosen killer tetapi kini Wali Dosen nya mengawalinya untuk membawa berita kepada Mahasiswa Mahasiswi nya. Kalau tidak, bisa-bisa Chika dihukum karena mejanya yang berantakan. Chika menjawab Wali Dosennya sambil membereskan barang-barang nya diatas meja. Dosen itu hanya tersenyum dan menunggu salah satu Mahasiswi kesayangannya membereskan barang-barangnya di atas meja. Setelah Wali Dosen tersebut menunggu Chika yang selesai membereskan barang-barangnya diatas meja, Wali Dosen pun mulai bersuara...


"Hai kalian semua. Mudah-mudahan kita diberi kemudahan oleh Tuhan hingga bisa hidup dan bertahan sampai saat ini. Kini saya selaku Wali Dosen mau menyampaikan berita bagus. Disamping saya terdapat Mahasiswa baru. Semoga kalian bisa bergaul dengan Mahasiswa baru ini. Hei nak, kau boleh memperkenalkan dirimu." Wali Dosen pun mulai memperbolehkan Mahasiswa tersebut bersuara. Mahasiswa tersebut pun mulai mengangkat kepala. Bibirnya tampak kaku dan tidak tersenyum. Sepertinya Mahasiswa tersebut gugup untuk perkenalan.


Chika yang sedari tadi memperhatikan betul Dosen pembimbingnya, Chika pun melihat orang tersebut. Chika yang merasa kenal dengan orang tersebut mulai memperhatikan betul orang tersebut. Chika yang mulai ingat pun mulai meruntuki hati kecilnya. Ternyata Mahasiswa baru itu tidak lain dari laki-laki misterius yang ditemuinya sejak kemarin. Chika kesal, mengapa dia harus sekelas dengan si cupu ini? Benar-benar menyebalkan!


"Ha-Hai teman teman." Mahasiswa tersebut mulai bersuara dengan gugup. Mahasiswa tersebut diam sementara dan mulai melanjutkan perkenalannya.


"Perkenalkan nama saya Jang Chin Hyuk." Ucap kembali Mahasiswa tersebut dengan gugup. Setelah itu dia menoleh kepada Wali Dosen tersebut. Wali Dosen tersebut tersenyum. Wali Dosen pun mulai bertanya Mahasiswa tersebut yang bernama Jang Chin Hyuk dan Mahasiswa Mahasiswinya.


"Sudah Chin Hyuk? Kalian tidak ada pertanyaan lagi kan?" tanyanya kepada Chin Hyuk dan Mahasiswa dan Mahasiswi nya.


Chika yang tidak mau melewatkan sesi pertanyaan ini, Chika langsung mengangkat tangannya dengan tinggi. Wali Dosen yang melihat Chika mengangkat tangan nya mempertandakan memiliki pertanyaan kepada Jang Chin Hyuk pun memperbolehkan bertanya. Chika pun mulai bertanya dengan suara yang lantang.


"Kamu Vampire gak? Atau kamu Mafia?" tanya Chika dengan lantang.


Seketika pun seluruh isi kelas menjadi riuh atas pertanyaan aneh yang dilontarkan dari mulut Chika begitu saja. Wali Dosen pun merasa aneh dengan pertanyaan Chika yang terlontarkan begitu saja. Walau terdengar konyol tetapi pertanyaan tersebut berhasil membuat seluruh isi kelas riuh dengan pertanyaan Chika. Wali Dosen pun mulai bertanya kepada Chika...


"Apa yang kamu katakan Chika? Jangan memberikan pertanyaan yang aneh." tanya Wali Dosen kepada Chika. Kelas pun menyadi senyap. Chika pun membalas pertanyaan Wali Dosen nya dengan suara yang lantang. Kali ini suaranya lebih lantang dari sebelumnya.


"Maaf... Cupu. Dia bersikap seperti itu, bukankah itu hal aneh Dosen? Apakah kita tidak berhak untuk mencurigai seseorang? Bisa saja dia Mafia, atau psikopat bahkan Vampire yang berusaha menyamar di Universitas ini." jawab Chika dengan alasan yang cukup konyol. Seisi kelas pun riuh dan mulai terhasut oleh kata-kata Chika.


"Maaf, aku tidak Mafia dan Vampire kok." suara tersebut membuat keadaan kelas kini menjadi senyap lagi. Chika pun melotot kaget atas jawaban yang keluar dari mulut Jang Chin Hyuk begitu saja. Chika pun menatap tajam Chin Hyuk. Chin Hyuk pun kembali diam. Wali Dosen pun bersuara...


"Sudah dengar Chika? Dia tidak Vampire. Dia juga tidak Mafia. Dan tolong kau tidak berkata aneh-aneh lagi Chika." Wali Dosen merasa tidak enak mengatakannya tetapi suara itu seperti ditegar-tegarkan. Tampak dalam raut wajah Dosen nya satu ini terdapat seperti raut muka menyembunyikan sesuatu dari Mahasiswa Mahasiswinya.


"Dan kau Jang Chin Hyuk, Aku harap kau bisa berteman baik dengan Mahasiswa Mahasiswi ku. Sekarang kau boleh duduk di bangku kosong paling belakang." Sang Dosen mulai berucap lagi guna menyuruh Jang Chin Hyuk.


Jang Chin Hyuk pun pergi ke bangku kosong paling belakang sebagai bangkunya saat ini di kelas. Di depan bangku kosong tersebut adalah bangku yang saat ini ditempati oleh Chika. Chika kesal mengapa belakang bangkunya diisi dengan laki-laki cupu tersebut. Tidak lama kemudian kelas pun berlangsung hingga bel istirahat.


Chika pun mendengus kesal kepada jawaban yang terlontarkan Chin Hyuk tadi. Chika berpikir lebih baik dirinya mencari seluk beluk tentang dia daripada tanpa persiapan, bisa jadi Chin Hyuk melakukan sesuatu padanya di belakang. Sepanjang Pelajaran Chika tidak terlalu fokus dengan pelajarannya. Tetapi untung saja Chika masih bisa mengendalikan dirinya ketika Dosennya bertanya. Untung saja Chika bisa menjawab semua pertanyaan. Jika tidak, bisa-bisa dia nanti dihukum sama Dosen Killer saat ini.

__ADS_1


...⋇⋆✦⋆⋇ ...


__ADS_2