
Bel pun berbunyi yang menandakan waktu Istirahat telah tiba. Semua Mahasiswa Mahasiswi pun mulai kocar-kacir meninggalkan kelas masing-masing. Entah ke purpustakaan, kantin, maupun taman yang ada di Universitasnya. Chika pun membereskan barang-barangnya dan Chika pun pergi ke ke suatu tempat sendirian tanpa Naora. Sepanjang perjalanan, Chika memikirkan bagaimana caranya mendapatkan data-data tentang Chin Hyuk. Chika yakin dibalik kepolosan, kecupuan dan ketakutannya pasti ada rahasia terpendam tentang Chin Hyuk. Naora yang melihat Chika yang sedari tadi pergi yang tidak diketahui pun mengikuti dan mulai membuka suara.
"CHIKA! Bentar donk. Lo mikir apa? Sampe bengong kek gitu. Nanti kesambet mampus lo." ucap Naora ceplas-ceplos begitu saja. Chika pun seketika sadar kalau Naora dari tadi mengikutinya dan melongos kasar begitu saja karena tidak terima.
"Enak aja lo omongin gue mau kesambet! Gue cuma mikirin orang gobl*k! Ngotak lah Naora Ajibana?! Dan lo ga usah ngejar-ngejar dan nguntit gue. Unfaedah tau ga?!" Chika tidak terima dan mulai mengomel Naora. Naora hanya tersenyum tanpa dosa begitu saja. Chika pun mulai marah kembali kepada Naora.
"Lo ga usah sok-sok ga punya dosa anj*ng! Lama-lama kutebas pala lo pake Katana gue. Gue juga bisa bunuh Naora!!!" Chika pun marah dan mulai mengeluarkan hawa yang tidak biasa, melainkan hawa pembunuh yang selama ini dikeluarkan untuk membunuh para Vampire dan orang-orang yang menurutnya menjengkelkan baginya. Orang-orang yang disekitarnya tersentak kaget. Selama ini yang mereka pikir, Chika tidak akan bertindak lebih jauh seperti ini. Chika pun menghembuskan nafasnya dengan kasar dan meninggalkan Naora begitu saja yang membatu. Selama ini, selama dia hidup, Naora tidak pernah diperlakukan yang tidak sewajarnya. Naora yang merasa sahabatnya tidak beres dengan Chika pun menyusul Chika sambil berlari-lari.
"CHIKA!!! TUNGGUIN!!!" teriak Naora memanggil sosok yang dipanggil. Chika pun mulai mengabaikannya dan mulai bergabung dalam keramaian Mahasiswa Mahasiswi di lorong Gedung Fakultas Kedokteran Jurusan Spesialis Ilmu Bedah. Naora pun merasa aneh sekali dengan Chika pun mulai bergabung dengan keramaian Mahasiswa Mahasiswi di lorong Gedung Fakultas Kedokteran Jurusan Spesialis Ilmu Bedah. Tetapi...
Sudah terlambat buat Naora mengejar Chika. Dia menghilang bagaikan hantu yang selalu ada secara tiba-tiba. Naora yang tidak melihat dan menemukan Chika pun mengomel-omel secara tidak jelas.
Sementara Chika...
Taman Belakang Pojok Kampus...
Angin berdesir dengan lembut dan menenangkan membuat nyaman yang terkena angin pun. Seseorang datang dan memutuskan duduk pada kursi dibawah pohon sakura. Sepi, menenangkan. Disitulah terdapat seorang diri meratapi nasib. Memikirkan bagaimana mendapatkan data-data bahwa Chin Hyuk adalah seorang Vampire yang menyamar menjadi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Jurusan Forensik yang culun.
Siapa lagi yaitu Chika seorang diri.
Chika sedari tadi yang sudah ada disitu mencari ketenangan hati. Kini dia mempunyai firasat kepada Chin Hyuk yang kuat bahwa dia memanglah Vampire yang berubah menjadi manusia culun. Bahkan Chika menganggapnya Nerd dan Idiot. Tetapi saat dia memikirkan Chin Hyuk, Chika juga merasakan sakit luar biasa pada hatinya. Mengingat tentang Vampire, terkadang dia merasakan sakit pada hatinya. Luka di hatinya kini cukup dalam. Tanpa dikomando, air mata pun meleleh begitu saja dari mata Chika. Mengingatnya saja sudah sakit buat Chika, apalagi digali lebih dalam. Ketika dendam mulai menguasai jiwa, pastilah sulit dipadamkan bahkan menyakiti dirinya sendiri. Entah itu adalah jiwa maupun raga diri sendiri.
Saat Chika merasakan sakit itu, Chika pun mengambil Smartphone dan Headsetnya dari saku celana Chika. Chika pun memasang Headsetnya di Smartphone nya. Chika langsung memasang Headsetnya pada telinganya dan tinggal Chika membuka Smartphone. Tanpa Chika membuka Smartphonenya dan mulai menyalakan salah satu lagunya di dalam Smartphone mnya. Lagu pun mulai terdengar dari Headset ke telinga Chika. Chika pun menikmati Lagu dengan penuh hayat.
♪ ♬ I Need You Girl ♬ ♪
♪ ♬ Wae Honja Saranghago Honjaseoman Ibyeolhae ♬ ♪
♪ ♬ I Need You Girl ♬ ♪
♪ ♬ Wae Dachil Geolamyeonseo Jakku Niga Piryohae ♬ ♪
♪ ♬ I Need You Girl Neun Areumdawo ♬ ♪
♪ ♬ I Need You Girl Neomu Chagawo ♬ ♪
♪ ♬ I Need You Girl (I Need You Girl) ♬ ♪
♪ ♬ I Need You Girl (I Need You Girl) ♬ ♪
Chika sedari tadi menangis dengan diam menghayati isi lagu. Saat ini dia lelah. Lelah untuk bertahan hidup melawan Vampire-Vampire yang selama ini sudah menguasai dunia selama 10 tahun. Chika mengingat hari dimana dirinya bersama keluarganya keluarganya dibantai oleh satu Vampire. Chika mengingat hari dimana Chika bersumpah akan membunuh Vampire yang sudah membantai dirinya beserta keluarganya. Setidaknya Chika diberi sedikit keberuntungan yaitu tidak mati meskipun sekarat dan sempat koma 2 minggu. Tetapi baginya hidup sama saja seperti neraka yang menyiksanya saat ini.
Saat Chika terbantut oleh lagu yang menenangkan dirinya. Tiba-tiba...
"Chika!!! "
...**✿❀ ❀✿**...
"CHIKA!!! " seseorang telah memecah kesunyian tetapi yang dipanggil tidak mendengar. Naora yang melihat Chika sedang memakai Headset pun langsung memahami nya. Chika benar-benar sedih saat ini. Naora yang melihat kondisi Chika pun tidak tega. Tidak ada perkembangan dengan amnesia nya. Tetapi saat ini Chika selalu dihantui trauma & ingatan terakhirnya.
Sejak Chika amnesia 10 tahun terakhir, Chika selalu mencari data-data tentang Vampire entah dari berita, data ilegal maupun menyadap beberapa kamera CCTV di beberapa daerah yang diketahui sering menjadi sarang Vampire. Chika bersungguh-sungguh dengan sumpah balas dendamnya itu. Chika ingin dunia kembali seperti dulu dimana Vampire masih tidak berkeliaran dimanapun pada saat di malam hari.
Naora pun mulai mendekati Chika dan duduk disamping kirinya. Menunggu Chika tenang saat ini. Entah sudah berapa kali kepergok bunuh diri oleh Naora. Tetapi, berkat Naora Chika tegar dan bertahan hingga saat ini. Bukan berarti Chika saat ini terlihat tegar &membuat Naora lengah begitu saja. Takut kehilangan orang yang disayangi.
Chika kini mulai tenang. Chika pun melepas headset dan smartphonenya. Setelah itu memasukkan ke dalam celana jeans nya. Chika belum menyadari bahwa Naora ada di samping kirinya saat ini. Chika pun menoleh ke kiri & terkejut bahwa bahwa Naora ada di samping kirinya. Belum lagi Naora tersenyum seram yang membuat Chika makin terkejut.
"Eh, Vampire Anj**g! " latah Chika melihat Naora ada di samping kirinya sampai terjungkal ke belakang dan jatuh ke tanah saking terkejutnya.
"Aduh! Naora Ba**sat! " keluh Chika sambil mengumpat kepada Naora yang membuatnya kaget dan terjungkal ke belakang. Naora hanya bisa tertawa melihat sahabatnya jatuh konyol begitu saja sedangkan Chika menggosok-gosok pantatnya. Akhirnya Chika pun berdiri sambil membersihkan kotoran yang terdapat pada bajunya akibat terjatuh. Naora pun akhirnya berhenti tertawa & menanyakan kondisi Chika.
"Lo gapapa kan Chika? " tanya Naora sambil memasang tampang polos nya. Chika pun mendengus kesal dan memarahi Naora.
"Telat lo G*bl*k! Gini-gini gue menderita dan lo enak banget ketawain gue! Ba**sat! " marah Chika kepada Naora sambil mengumpat kepada Naora.
Seketika hening.
Naora yang ingin berbicara pun diam tidak ingin mengganggu Chika. Sekali Chika ngamuk, ngamuknya kek orang kesurupan. Sedangkan Chika hanya diam. Kini moodnya jelek kembali.
Tiba-tiba....
Kruuukkkkk..........
"Anj*r perut gue ga bisa diajak kompromi ba**s*t. " batin Chika kepada dirinya sendiri.
"Lo lapar Chika? " tanya Naora dengan polos.
Chika hanya bisa mengangguk pelan. Naora pun menghela nafasnya. Ini adalah kesempatan emas untuk mendekati Chika.
"Yaudah gue traktir. " ucapan yang kini terlihat sederhana tetapi tidak bisa ditolak seseorang pun keluar. Dengan senang hati pun Chika langsung semangat menjawab.
"Serius lo?! YEEE MAKASIH NAORA AJIBANA-! Lo tau aja dari kemaren gue ga makan. " balas Chika kepada Naora yang kini penuh semangat. Naora hanya bisa tersenyum tipis & mengganggu kepada Chika.
"Untung sahabat gue. Kalo ga..... Huh, sabar Naora Ajibana... Nanti malah putus persahabatan sama ga bisa diajarin Chika lagi. Nanti ga seru kalo belajar sama yang lain... Lagian kapten gue lagi:) " batin Naora yang harus menahan emosinya demi sahabatnya. Toh, lagian seharusnya Naora bersyukur kalo bisa makan dengan teratur. Nggak kayak Chika yang makan nya tuh nggak ada kepastian.
Akhirnya Chika pun pergi dari situ bersama Naora. Chika yang kini mood nya mulai baik mengobrol dengan Naora sepanjang perjalanan hingga tidak terasa mereka sampai ke kantin.
"Yah kok udah sampe sih? " tanya Chika dengan muka malas.
"Ya iyalah ya kali kalo ga sampe-sampe nanti malah kebablasan. Tumben otaknya ngilang. " balas Naora dengan ringan begitu saja. Chika hanya bisa tersenyum tipis mendengar apa yang telah dikatakan Naora.
"Otak lo g*bl*k yang ngilang-! Enak bat tuh anak ngomong nya mesti ringan banget kek bulu, kebablasan lagi. Gue harus banyak-banyak sabarlah sama satu ni anak. Udah hiperaktif, ngomongnya ringan banget, ga lupa kalo dibeliin pudding kek habis menang undian aja ni anak. Dahlah tetep aja gue ter anj**g kan. " maki Chika di dalam hatinya yang meruntuki sang Naora. Chika yang menganggap Naora sebagai masa lalunya yang dulu. Hiperaktif, cerewet, kalo dikasih hadiah aja udah seneng banget. Tapi waktu dan trauma lah yang membuat Chika seperti ini. Naora selalu mendukung Chika suka maupun duka. Menyemangatinya dengan polos dan sangat pengertian. Setidaknya Chika bersyukur mempunyai sahabat seperti itu yang mau begitu saja menceritakan masa lalunya dan menerima Chika yang sekarang apa adanya.
Masa lalu yang indah berakhir dengan tragis dan trauma yang sangat dalam. Itu yang dialami Chika. Chika pernah dulu sejak awal-awalan Amnesia pergi ke psikiater guna menyembuhkan trauma. Tapi apa daya lah kalau beberapa makanan yang dihindari dan selalu minum pil membuat dirinya terkekang dari dirinya. Maka Chika membuat hal nekad untuk mencari tau siapa pembunuh keluarganya bahkan yang membuat dirinya sekarat tak berdaya. "Andai gue bisa kembali kek dulu... " runtuk hati Chika yang merindukan dirinya yang dulu.
Tiba-tiba...
"CHIKAKO EBINA GAYANTRI-! LO KESAMBET APA G*BL*K-?! LO JANGAN NGELAMUN WOY-!! " betapa kesalnya Chika yang lagi melamunkan dirinya yang dulu dengan beberapa ingatan nya diteriakin sama Naora. Suara kayak toa lagi.
Chika yang merasa terkampr*tkan pun kaget sampai terjungkal. Apalagi suara toanya bikin menjadi pusat perhatian di kantin. Naora yang membuat keributan hanya bisa melihat sahabatnya terjungkal begitu saja. Detik berikutnya riuh tawa memenuhi kantin dengan adegan Naora dan Chika begitu saja. Bahkan Naora saja ikut menertawakan Chika begitu saja.
"Kampr*t lo Nao-! " mulut Chika yang mau memarahi Naora pun langsung tersumpal. Seorang laki-laki mengulurkan tangan nya untuk membantu Chika berdiri. Chika hanya bisa mendengus kesal dan menerima uluran tangan tersebut. Chika pun berdiri dan menyimpan kemarahan.
"Thanks. " ucap Chika kepada seseorang tersebut dengan ketus dan dingin. Naora pun terkejut dan melongo.
"Kamu gapapa kan? Baik-baik aja kan? " tanya seseorang tersebut kepada Chika. Chika hanya membalas anggukan kecilnya sambil menatap ke bawah.
"Yaudah kalo gitu... Jaga baik-baik yah... " ucap kembali seseorang tersebut kepada Chika sambil tersenyum manis pada Chika. Chika hanya mengangguk kecil kembali. Semua orang melongo dan menutup mulut masing-masing. Banyak wanita pun berteriak histeris yang melihat seseorang tersebut. Bahkan Naora saja ikut teriak.
"KYAAAAAA!!! KYUNG HOU OPPA!!! " teriak para wanita yang menyukai seseorang tersebut. Tubuh tinggi, dada yang bidang & tubuh atletis membuat para wanita terpesona dengan tubuh Kyung Hou. Lee Kyung Hou, Laki-laki yang berasal dari keluarga konglomerat yang memiliki perusahaan properti tersukses di Korea pada urutan ke-tiga. Wajah memang tidak terlalu tampan tetapi badannya lah yang membuat para wanita terpesona. Kyung Hou yang menyukai Chika berkali-kali sudah menyatakan cintanya tetapi selalu ditolak mentah-mentah begitu saja oleh Chika. Kyung Hou tidak menyerah untuk membuat Chika luluh pada dirinya. Tetapi tetap saja Chika hatinya masih sekeras batu.
Kyung Hou pun pamit kepada wanita di sekitarnya yang mulai mengerubunginya dan pergi dari situ. Baru saja tiga langkah pergi dari tempat tersebut pun menoleh kebelakang tepatnya Chika.
"Chika! Kalo kamu berubah pikiran kamu bilang aja ke aku ya. " ucap Kyung Hou kepada Chika dengan ramah sambil tersenyum hangat. Chika hanya menanggapi senyum remeh dan sambil berkata...
"Jangan harap gue suka lo, dan gausah panggil aku kamu. Jijik tau ga. " tanggap Chika kepada Kyung Hou dengan menekan kata-katanya. Kyung Hou hanya bisa tersenyum dan pergi dari situ.
"CHIKAKO EBINA GAYANTRI-!! NAPA LO TOLAK DIA SIH?! NAPA LO SIA-SIA IN DIRI LO SIH?!?!! " sewot Naora sambil teriak-teriak dengan suara toanya. Chika hanya menanggapinya dengan santai.
"Bukan nya lo yang sia-sia in? Kan lo sewot banget sih, pake suara toa lagi. Gini-gini gue masih biasa aja sama orangnya. " tanggap Chika kepada Naora dengan santainya sambil menyindirnya. Naora hanya bisa tepuk jidat kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Duh Chika... Lo susah banget sih suka sama orang. " ucap Naora kepada Chika dengan gregetan gemasnya. Chika pun langsung melanjutkan jalan tanpa memperdulikan Naora.
"Eh kok lo tinggal sih?! Kan gue tanya! " ucap Naora kepada Chika yang masih gemas kepada Chika. Chika hanya tersenyum simple tanpa menoleh kepada Naora.
"Udah deh, mending pesenin aku makanan. Trus gue bagian cari tempat enak buat makan. Nanti gue ceritain deh. " balas Chika dengan santainya yang membuat Naora naik darah dan sangat gemas sama Chika. Naora dengan pasrah membeli makanan untuk dirinya dan Chika sedangkan Chika sudah menemukan meja yang nyaman untuk duduk dan berbicara dengan santai.
Chika sedari tadi menunggu pun sering melihat pintu kantin. Mengingat kejadian saat dirinya melamun di tengah pintu kantin lalu di teriakin sama Naora pake suara toa.
Tak lama kemudian sesosok lelaki pun berjalan dari pintu kantin. Chika yang sedari tadi melihat pintu kantin pun mulai memperhatikan sosok lelaki yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan si culun teman sekelasnya, Chin Hyuk .
Chin Hyuk mulai memasuki kantin melewati pintu kantin. Chika yang sedari tadi melihat pintu kantin langsung memfokuskan pandangan nya kepada sang target. Chin Hyuk yang merasa dilihat pun menoleh ke arah bangku-bangku kantin. Baru sekali menoleh pun, dia dapat menemukan siapa yang melihat dirinya. Tanpa sengaja, Chika bertatapan dengan Chin Hyuk.
Chika yang melihat Chin Hyuk menoleh kepadanya pun secara tidak sengaja bertatapan. Chika mengamati wajah sang target lekat-lekat, hal ini membuat Chika bertambah kecurigaannya. Chika menatap Chin Hyuk dingin dan serius. Sedangkan Chin Hyuk menatap Chika dengan penuh penyesalan.
Entah apa yang merasukinya, kepala Chika seakan-akan ditusuk ribuan duri yang sangat menyakitkan. Chika pun memutuskan untuk menolehkan pandangan nya ke arah lain. Chika pun memegang kepalanya yang sangat sakit sambil meremas rambutnya dengan kuat. Kini entah mengapa Chika mengingat kejadian dirinya sekarat. Tidak ada yang sadar akan rasa sakit Chika. Chika ingin berteriak tetapi mulutnya seakan-akan tersumpal begitu saja.
Tidak lama kemudian, kepala Chika pun sudah merasa lebih baik lagi. Tetapi entah mengapa ketika dirinya menoleh mencari sosok targetnya selama ini. Tetapi nihil, kini sosok tersebut menghilang entah kemana. Chika terheran-heran bagaimana bisa ketika kepalanya terasa sangat sakit dirinya tidak mengingat apa-apa? Padahal kejadian seperti itu lah yang membuat beberapa ingatan nya kembali. Chika terus-menerus memikirkan nya sampai tidak sadar akan kehadiran seseorang kepadanya.
Tiba-tiba...
"CHIKA!!!" teriak seseorang tersebut kepada Chika, Chika pun reflek kaget dengan suara tersebut. Chika menoleh, Naora yang berdiri membawa dua nampan makanan di kedua tangan nya. Chika hanya bisa mengelus dadanya dengan penuh kesabaran dan menghela nafas panjang.
"Apaan? " tanya Chika yang masih menahan emosinya dengan sabar. Naora pun tersenyum tanpa dosa. Chika hanya bisa bersabar saat ini dengan Naora.
"Ini, katanya lo mau. Ga lupa hutang jelasin napa lo ga suka sama Kyung Hou Oppa. " balas Naora sambil memberikan nampan makanan milik Chika. Chika pun menerima nampan dari Naora dan menaruhnya di meja tepat didepan nya. Chika pun menarik nafas panjang dan mulai menjelaskan.
"Bukan nya gue ga suka Kyung Hou, cuma gue ga punya perasaan sama dia. Ya ga benci ya ga suka, intinya cuma gue anggap kenalan doang. " jelas Chika dengan suara lembut nan sabar menahan amarahnya kepada Naora.
"Berarti lo anggap cuma kenalan? Dia kurang apa sih Chikaaaaa? Udah tajir melintir, badanya bagus, wajahnya juga lumayan loh. Dia udah ngejar-ngejar lo Chika, dia cinta sama lo. Masa lo ga mau balas cinta dia? Lagian kan lo bisa minta uang buat modal toko roti lo biar gede gitu, kan dia kaya. Ga mungkin lah kehabisan uang kan dia aja keluarganya hokay no tiga. Trus punya black card lagi. Seharusnya lo terima aja Chika! " balas Naora dengan penjelasan panjang lebar dengan nada membanggakan seolah-olah dirinya memuja-muja kepada Kyung Hou.
"Berarti lo suka Kyung Hou cuma harta doank sama badannya bagusnya yang bikin lo gokil? " tanya Chika dengan keheranan.
"Ya bisa dibilang gitu. Tapi kan dia- " balas Naora dengan santai dan ingin membantah pertanyaan Chika langsung dicela Chika.
"Matre. " cela Chika dengan jawaban pendek dengan satu kata yang dapat menyadarkan Naora.
"Maksud lo apa Chika? " tanya Naora dengan akting bingung. Chika hanya tersenyum aneh kepada Naora.
"Lo tanpa sadar lo suka Kyung Hou cuma gara-gara harta sama badan. Tapi tanpa lo sadar, lo ga tau gimana kepribadian nya yang asli. Bisa saja dia cuma jaga image. Emang lo tau asal-usul keluarganya? Kesukaan nya apa? Tipe ceweknya kek apa? Sikapnya gimana yang sebenernya? And trus emang lo bisa tau isi hati dia hanya dalam raut mukanya doang? Nggak kan. Lagian kan lo tau gara-gara dia hokay yang lo sebut-sebut, lo juga kan ga tau karna lo suka mementingkan fisik daripada dia. Coba lo jadi dia pas dikerubungin cewek sebanyak itu. Bisa jadi dia risih tapi dia ngehormatin cewek jadi dia bisa kalem kek gitu. Sadar Naora. Lo saking sukanya lo lupa diri kadang. " jelas Chika panjang lebar dengan kata-kata yang menyakitkan membuat Naora tertampar akan tindakannya selama ini.
"Trus ga lupa lo suka cuma fisik. Kalo fisiknya bagus tapi hatinya ga bagus gimana? Kan ga pantes gitu. Trus buat apa kalo dilahirkan fisiknya sehat trus cuma dipamerin? Kan ga ada hasilnya kan? Mending fisik lo lemah tapi hati lo baik daripada fisiknya bagus tapi hatinya jelek. Emang kalo dia hokay trus pinjem duit biar toko roti gue berkembang tuh juga bener, tapi inget kata-kata gue. Lebih baik hasil kerja keras gue sedikit dari diri sendiri daripada hasil kerja keras gue banyak tapi dari hasil minta uang mulu dari orang lain. Gue juga punya harga diri Nao, jangan menilai dari harta tapi nilailah orang dari hati. Sesungguhnya harta tidak bisa dibawa mati sedangkan hati yang tulus akan dibawa mati dan dikenang selamanya. " lanjut Chika dengan penjelasan yang panjang dan kata-kata yang membuat Naora tertampar kembali dan sadar selama ini dia tidak menyatakan perasaan nya yang membuat dirinya menjadi terobsesi dengan Kyung Hou.
Naora hanya bisa mendengarkan penjelasan Chika yang menurutnya menyakitkan dan tertampar akan dunia nyata. Sebenarnya dia menyukai Kyung Hou tapi sayangnya Kyung Hou menyukai Chika yang membuatnya tidak menyatakan perasaan nya kepada Kyung Hou. Lagipula Naora sempat berfikir, kalau dia menyatakan rasa sukanya kepada Kyung Hou, pasti dia akan menolak dan membuatnya semakin sakit hati. Tetapi kini Naora sadar, rasa sukanya kini berkembang menjadi rasa obsesi kepada Kyung Hou yang tanpa sadar pasti akan melukai Kyung Hou. Selama ini perkataan Chika benar, untuk apa menyukai seseorang hanya dari fisiknya kalau tidak menilai isi hati seseorang yang disukai. Itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan berujung rasa sakit di dalam hatinya.
"Arigatou Chika. " balas Naora pendek dengan suara lemas. Chika hanya bisa menghela nafas panjang.
"Iya, gue tau kok lo suka tapi lo pendem cuma gara-gara gue yang selalu nolak Kyung Hou mulu tapi lo menahan nya gara-gara gue. Gue tau kok pasti sakit denger kata-kata gue, tapi lo juga harus sadar akan sikap lo. Trus lo juga sahabat gue yang selalu ada, lo selalu bisa mahamin gue cuma dari wajah gue. Lo selalu tau apa yang gue mau tapi gue ga mau ngrepotin. Arigatou gozaimashita Naora Ajibana. " balas Chika yang membuat Naora membeku diam.
Tanpa dasar, air matanya lolos keluar begitu saja. Selama ini dia selalu peduli terhadap Chika. Selalu memperhatikan Chika. Kata-kata Chika juga membuat dirinya terharu. Kini Naora menganggap bahwa Chika adalah satu-satunya sahabatnya yang paling setia sejak dulu. Meskipun dia nakal, tomboy, ngerokok, tetapi Naora selalu menegurnya agar tidak merokok lagi seperti ibunya yang selalu mengingatkan kepada anaknya sendiri. Tidak peduli meskipun Chika nakal, tetapi sebenarnya dia baik, cuma Chika lebih suka membuat onar tanpa melibatkan orang lain.
"Arigatou. Arigatou gozaimashita Chika. Lo udah nyadarin gue kalo selama ini gue terobsesi sama Kyung Hou, Hiks... " balas Naora dengan menangis sesenggukan karena terharu dengan kata-kata Chika yang membuatnya tertampar akan dunia nyata saat ini. Chika hanya tersenyum tulus sambil mengusap punggung Naora.
"Udah, lo gausah nangis, lagian kita juga udah sahabatan lama. Lo selalu ngingetin gue meskipun gue bandel kek gini, gue juga balas budi sama lo. Udah jan nangis diliat orang noh. " balas Chika sambil menunjuk orang-orang yang selama ini melihat mereka berdua sejak Naora menangis. Naora pun mengusap air matanya dengan kasar dan menatap sekelilingnya.
"Anj*r diliatin orang, malu gue. Apa lagi Chika ngusap punggung gue lagi, nanti malah bisa-bisanya dikatain lesbi. " batin Naora sambil meruntuki isi hatinya sambil menatap orang-orang yang sedari tadi menatap Chika dengan Naora. Pipi Naora pun seketika memerah karena dilihat orang banyak.
"Maaf gue cuma terharu doang kok. Jan mikir lesbi. Ini ga kayak yang klean liat kok. Hehehe... " ucap Chika kepada orang-orang dengan senyum kakunya. Orang-orang yang menatapnya pun langsung kembali dengan aktivitasnya masing-masing. Naora sedari tadi pipinya memerah karena dilihat orang-orang disekitarnya.
"Anj*r lo ngeblus ye??? Ngakak bat anj*r.... " ucap Chika kepada Naora sambil melihat Naora yang sedari tadi pipinya memerah karena dilihat banyak orang diikuti tawa Chika. Naora pun ikut tertawa atas kejadian dirinya tadi. Chika dan Naora pun mulai memakan makanan nya yang terabaikan sejak tadi sambil melontarkan lelucon yang membuat mereka berdua tertawa lepas bersama-sama.
Sementara Chin Hyuk...
"Apa aku mengganggumu sejak dulu Chikako Ebina Gayantri? " tanya orang tersebut kepada dirinya sendiri yang tetap menatap dirinya ke cermin.
"Andai aku ga se-egois itu buat bunuh kamu dengan ayahmu Chika. Mian sudah menyakitimu tanpa sadar selama ini... " runtuk orang tersebut sambil berkata dalam hatinya dengan penuh penyesalan.
Orang tersebut pun menghela nafas panjang dan mengambil sesuatu dari saku besar dari bajunya. Entah mengapa yang keluar malah bedak. Orang tersebut pun mulai membuka bedaknya & menggunakan nya kepada wajahnya. Sebelum itu ia tidak lupa untuk mengeringkan wajahnya dengan mengusap ke lengan bajunya. Kini ia berdandan menjadi Chin Hyuk.
Tidak lama kemudian dirinya selesai berdandan dan menggunakan kacamatanya yang membuat dirinya menjadi Chin Hyuk yang culun. Chin Hyuk menatap cermin dan tersenyum kepada dirinya sendiri sebagai menyemangati dirinya sendiri. Chin Hyuk pun pergi dari toilet dan pergi menuju ke kelasnya.
Kembali ke Chika...
Chika dan Naora pun kini sudah menghabiskan makanannya dan Naora pun membayar biaya makanan nya tadi. Setelah Naora membayar makanan nya, Naora dan Chika pun meninggalkan kantin melalui pintu kantin dan kembali ke dalam kelas. Kini di kelas terdapat beberapa Mahasiswa-Mahasiswi di dalam kelas. Chika dan Naora pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. Kini kelasnya tidak terlalu ramai sehingga Chika pun memutuskan tidur dalam kondisi duduk pada bangkunya. Sedangkan Naora membuka Smartphonenya dan bermain game dalam Smartphonenya tersebut. Tidak lama kemudian munculnya sosok laki-laki culun dari pintu kelas. Siapa lagi kalau bukan Chin Hyuk.
Chin Hyuk pun mulai memasuki kelas dan pergi ke bangkunya tepat di belakang Chika. Ketika Chin Hyuk berjalan melewati Chika, Chin Hyuk memandang wajah Chika sekilas dan duduk di bangkunya. Entah apa yang dipikirkan, Naora pun mempunyai ide. Ide untuk jalan-jalan bersama Chika dan mengajak Chin Hyuk untuk mendekatkan Chika dengan Chin Hyuk. Naora berpikir, selama ini dirinya sebagai sahabat Chika, jarang sekali Chika melepaskan mangsanya begitu saja. Chin Hyuk beruntung dirinya adalah salah satu mangsa dari sekian banyak mangsa Chika yang diloloskan begitu saja oleh Chika. Naora sempat berfikir, sepertinya apa yang dikatakan Chika itu benar kalau bisa jadi Chin Hyuk adalah fake nerd. Suatu hari Chika pasti menyukai Chin Hyuk, tetapi fikiran nya menghapus jauh-jauh atas Chika menyukai Chin Hyuk. Naora pun lanjut memainkan game daripada mengurus cowok yang bisa jadi disukai Chika saat ini.
...**✿❀ ❀✿**...
Waktu cepat berlalu tanpa sadar kini beli pulang pun berbunyi. Mahasiswa-mahasiswi pun mulai kocar-kacir meninggalkan kampusnya masing-masing. Chika pun terburu-buru memasukkan dan menata barang-barangnya sambil memastikan bahwa barang-barang tersebut tidak ada ketinggalan satu pun. Sedangkan Naora melihat Smartphonenya dan fokus atas kalender di dalam Smartphonenya. Naora pun menghampiri Chika yang masih menata barang-barangnya.
"Chika, lo ada waktu kapan? " tanya Naora kepada Chika yang masih fokus menata barang-barangnya.
"Ga tau sih, tapi malem pas besoknya ga ada jadwal kuliah gimana? Keknya kosong jadwal gue. " balas Chika yang sekarang menutup tasnya dan mulai beranjak dari situ.
"Soalnya jarang loh kita jalan-jalan, jalan-jalan kuy. Tapi nanti malem bisa ga? Besok ga ada jadwal kuliah nih. " tawar Naora kepada Chika. Chika sambil berjalan bersama Chika meninggalkan kelas. Chika pun berpikir sejenak untuk memutuskan tawaran Naora. Tidak lama kemudian ia mengiyakan tawaran Naora yang membuat Naora senang.
"Yaudah kuy jalan-jalan, lagian jarang loh momen kek gini. Tapi mayan malem gapapa kan? Soalnya kan gue masih ngurus toko roti gue. " balas Chika sambil mengiyakan ajakan Naora sambil memberikan syarat.
"Iya gapapa jok. Lagian yang penting kan jalan-jalan. " balas Naora dengan senang. Chika pun tertawa gemas kepada Naora.
"Lo tuh ye... Bikin gemes aja kelakuan lo kek bocil habis dikasih hadiah. " ucap Chika dengan tawa gemasnya sambil mengacak-acak rambut Naora yang senang layaknya seorang anak kecil mendapatkan hadiah.
"Ihhh.... Kan aku bukan bocil ye?! " cemberut Naora kepada Chika yang malu diperlakukan layaknya anak kecil. Chika pun tertawa gemas melihat cemberut Naora. Chika pun mengajak Naora bergegas pulang dan mereka pun berpisah di taman depan kampus.
"Udah, kita pisah disini, cepetan pulang ya. Kalo udah sampai lokasi Share Lock. Gue mau ke parkiran motor, bye. " ucap Chika berpisah dengan Naora diikuti lambaian tangan. Naora pun membalas lambaian Chika dan berpisah dengan Chika.
Chika pun bergegas ke parkiran motor guna mencari motor kesayangan nya. Chika berjalan sambil merogoh sakunya dan mengambil kunci motornya dari saku. Tidak membutuhkan waktu lama Chika sampai ke parkiran motor dan melihat motor Chika terparkir disitu.
"Nah ini dia sepeda gue. Mantab. " ucap Chika kepada motor kesayangannya tidak lupa mengkece.
Chika pun menaiki motornya dan menyalakan motornya. Tidak lama untuk menyalakan motornya, kini ia pergi dari parkiran menuju toko rotinya.
Saat Chika mengendarai motornya melewati gang sempit, kini tampak sekelompok orang menghalangi jalannya dan menganiaya seorang laki-laki yang dikenalinya. Chika yang tidak tega pun berhenti dan mencoba melindunginya meskipun malas dengan orang itu. Chika pun mematikan mesin motor dan menghampiri orang-orang tersebut.
"Heh kalean, kalean tuh pecundang ga sih? Berantem kok keroyokan. " ucap Chika dengan bar-bar kepada sekelompok orang yang menganiaya laki-laki tersebut.
Sekelompok orang itu menoleh semua bahkan yang dianiaya pun menoleh ke sumber suara. Salah satu dari sekelompok orang pun tersenyum remeh terhadap Chika.
"Enak aja ya di panggil pecundang. Eh ingat ya ini demi mempertahankan diri sendiri tau! Ga peduli keroyok atau apa kek yang penting gue menang. " cerocos salah satu dari sekelompok orang tersebut sambil mempertahankan senyum remeh.
"Lo cewek apa cowok? Kok nyerocos mulu. " sindir Chika kepada salah satu dari kelompok tersebut yang membuat dirinya marah.
"Enak aja yah lo ngomong! Woy Cecung*k sial*n! Hajar dia sampe babak belur! " perintah salah satu dari kelompok tersebut dengan marah yang diduga adalah pemimpin kelompok tersebut.
Tanpa basa-basi beberapa orang pun langsung mengeroyok Chika. Mereka mengeroyok Chika dengan berbagai benda yang dibawa seperti kayu, tongkat besi dan lainnya. Dengan cepat Chika menghajar mereka dengan tangan kosong dan tendangannya. Beberapa orang pun tidak terima akan dirinya dianggap lemah. Mereka pun berkelahi satu melawan beberapa orang.
Meskipun mereka melawan Chika dengan benda-benda yang dibawanya, Chika lebih lihai dalam perkelahian. Chika menghajar beberapa orang dengan bogeman mentah pun pada akhirnya Chika memenangkan perkelahian meskipun pipinya babak belur dengan darah mengalir dari sudut bibirnya. Meskipun kini darah mengalir, bukan berarti Chika lemah akan luka seperti itu. Chika tidak peduli dengan lukanya asalkan dialah yang memenangkan perkelahian dengan sehat dan tidak main keroyokan begitu saja. Chika pun menghampiri pemimpin kelompok tersebut sambil senyum remeh.
"Lemah banget ya? Masa anggotanya maju depan trus pemimpin nya dibelakang. Pecundang lu? " tanya Chika dengan nada sindiran yang membuat pemimpin kelompok pun semakin marah.
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu, pemimpin kelompok pun langsung memberikan bogem mentah begitu saja kepada Chika tepat di pipinya yang saat ini semakin membiru. Chika hanya tertawa dengan tersenyum remeh.
"Ini doang yang lo bisa? Kurang keras bruh. Yang bener kek gini. " ucap Chika sambil melayangkan tinjunya dengan cepat dan keras mengenai pipi pemimpin kelompok tersebut. Alhasil langsung pipinya terasa amat sakit dan membiru sampai tersungkur ke tanah begitu saja. Chika tersenyum remeh atas pemandangan nya saat ini.
"Cowok apa cewek sih? Masa bogem aja ga becus sih Cecung*k sial*n. " sindir Chika kepada pemimpin kelompok tersebut. Tanpa Chika sadari pemimpin kelompok tersebut mengambil sesuatu dari saku celananya bagian belakang.
Tanpa persiapan apapun, alhasil pemimpin kelompok tersebut melemparkannya tepat di mata Chika. Chika pun merasa perih teramat sangat pada matanya. Kini matanya merasa kelilipan sesuatu yang membuat Chika tidak bisa melihat dengan jelas.
Tanpa ba-bi-bu, pemimpin kelompok tersebut pun lari tunggang langgang. Tidak terima akan diperlakukan seperti itu, Chika langsung mengejar pemimpin kelompok tersebut dengan bantuan telinganya yang fokus dengan suara langkah kaki yang cepat layaknya berlari dari sepatu pemimpin kelompok tersebut. Pemimpin kelompok tersebut terus berlari, sesekali menengok kebelakang. Kelompok pemimpin itu mulai kesal bahwa Chika tetap mengejarnya meskipun matanya tidak dapat melihat. Sedangkan Chika terus berlari tanpa memedulikan kondisi matanya saat ini, yang kini dia perlu hanyalah lari mengejar pecundang sial*n tersebut meskipun rintangan didepan nya. Bukan nya hati-hati malah menerobos rintangan tersebut dan melewatinya dengan mudah.
Pemimpin kelompok tersebut pun berhenti. Kini kakinya capek dengan buntunya jalan yang membuat dirinya terpaksa berkelahi dengan Chika. Chika pun berhenti karena suara langkah sepatu pemimpin kelompok tersebut berhenti. Pemimpin kelompok tersebut pun mendekati Chika.
"Udah ya kejar-kejarannya, ayo kita tarung. Gue ga selemah itu! " ajak pemimpin kelompok tersebut memberanikan diri dengan hati nya yang bertolak belakang bahwa dirinya kini takut dengan Chika.
Chika pun mendekat dan langsung menghajar pemimpin kelompok tersebut. Pemimpin kelompok tersebut pun tidak mau mengalah, mereka bertarung sengit satu lawan satu. Chika yang tidak bisa melihat tanpa sadar kini pemimpin kelompok tersebut ingin memukul kepalanya dengan kayu yang dipegang di tangan kanannya selama Chika selalu menghajar kepalanya.
Sesuai perkiraan, kayu tersebut pun langsung mengenai kepala Chika. Untung saja ketua kelompok tersebut memukulnya cukup keras yang membuat kepalanya berdarah.
"Anj*ng lo?! Beraninya lo main di belakang! " amarah Chika semakin bertambah dan mulai menghajar habis-habisan pemimpin kelompok tersebut yang membuat dirinya semakin tidak berdaya. Chika trus menghajar pemimpin kelompok tersebut sampai dia memohon ampun.
"A-ampun Chika... " mohon pemimpin kelompok tersebut pun menyerah. Chika tersenyum remeh kepada pemimpin kelompok tersebut.
"Ampun? Lo udah mukul kepala gue pake kayu katanya minta ampun? " tanya Chika kepada pemimpin kelompok tersebut. Pemimpin kelompok tersebut pun mengangguk pelan dengan menahan rasa sakit pada kepala nya. Chika pun menghela nafas panjang.
"Oke, tapi tolong kasih gue air dan kasih tau jalannya ke tempat tadi. " perintah Chika yang membuat pemimpin kelompok tersebut berkeringat dingin dan bergetar takut akan kemarahan Chika meledak lagi.
"I-iya.. " balas pemimpin kelompok tersebut takut. Pemimpin kelompok tersebut pun mengantarkan Chika ke tempat awal.
Sesampai disana, kini hanya terdapat laki-laki tersebut dengan babak belur bekas sisa penganiayaan tadi. Chika pun meraba dengan tangan nya mencari keberadaan tasnya.
Tidak butuh waktu lama, Chika pun menemukan tasnya dan membuka tasnya bagian depan. Terdapat botol air minum dengan sebuah kunai yang membuat merinding pemimpin kelompok tersebut. Chika pun meraba tasnya dan mengambil botol air minum tersebut guna membasuh matanya yang perih sejak tadi.
Tidak lama kemudian, setelah Chika membasuh matanya dengan air minum tersebut, kini matanya bisa melihat lagi. Pemimpin kelompok tersebut yang melihat Chika ragu-ragu bertanya kepada Chika.
"Chi-Chika... Kamu kok bawa itu? " tanya pemimpin kelompok tersebut yang tidak percaya bahwa kini di tas Chika terdapat sebuah kunai. Chika tersenyum remeh.
"Kalo iya kenapa? Lo ga percaya? And lo ga usah umbar tentang hal ini kalo kunai gue ga mau terbang kena jantung lo. " balas Chika dengan nada dingin yang membuat pemimpin kelompok tersebut merinding.
"And lo. " tunjuk Chika kepada laki-laki tersebut yang ia kenal. Laki-laki tersebut pun mulai merinding.
"Lo itu harus jadi cowok berani Chin Hyuk. " ucap Chika yang membuat laki-laki tersebut merinding ketakutan. Yup, bukan siapa lagi kalau laki-laki tersebut adalah Chin Hyuk.
Entah apa yang dipikirkan Chika saat ini, Chika pun menghela nafas panjang. Chika pun mulai menatap pemimpin kelompok tersebut.
"Lo Jung Hye Jin kan? Berandalan dari fakultas kedokteran selain gue? " tanya Chika kepada pemimpin kelompok tersebut. Pemimpin kelompok tersebut yang diduga Jung Hye Jin pun mengangguk pelan. Chika pun tertawa remeh kepada Hye Jin.
"Makanya lo ga usah sok-sok jadi berandalan jago. Lo ngelawan gue aja nyerang dari belakang tetep aja kalah. " ejek Chika kepada Hye Jin yang membuat Hye Jin menundukkan kepala.
"Dah, kalean berdua cepet pergi sebelum gue berubah pikiran. " tanpa diperintah dia kali, mereka berdua pun langsung pergi meninggalkan Chika atas ancaman Chika. Chika pun tertawa gemas atas kepergian Chin Hyuk.
"Chin Hyuk, Chin Hyuk... Lo tuh ye pecundang tapi culun-culun penakut ya. " gumam Chika diikuti tawa gemasnya. Chika pun menaiki motor dan menyalakan motornya.
Tidak butuh waktu lama, motornya pun menyala dan Chika pergi dari situ menuju toko rotinya.
Chika pun sampai di depan toko rotinya dan parkir tepat tidak jauh dari toko roti tersebut. Di luar, terdapat salah satu karyawan toko roti tersebut sedang membersihkan kaca toko roti tersebut. Chika pun menghampiri karyawan toko roti tersebut.
"Jina! " panggil Chika kepada karyawan toko roti tersebut. Dia pun menoleh ke arah Chika dan memandang Chika dengan hormat.
"Bos Chika! Loh, ada apa dengan dirimu? Kepalamu berdarah dan wajahmu terluka bos... " khawatir karyawan toko roti tersebut yang bernama Jina kepada Chika, Chika pun hanya bisa terkekeh.
"Bos itu yah memang bandel! Udah dibilang jangan berantem malah masih tetep aja berantem. " omel Jina kepada Chika. Chika hanya bisa tersenyum tanpa dosa kepada Jina, Jina hanya bisa mengelus dadanya dengan sabar dan menghela nafas panjang.
"Udah ya, aku masuk dulu.. " ucap Chika kepada Jina yang masih tersenyum tanpa dosa. Jina hanya menghela nafas panjang dan membalas senyum Chika.
Chika pun membuka pintu toko rotinya, suara bel yang lembut membuat suasana toko hening dan damai. Salah satu karyawan nya menyambut kedatangan Chika.
"Selamat datang Bos. Bos kok kepala anda berdarah? Apa perlu diobati? " khawatir karyawan tersebut kepada Chika, Chika pun tersenyum.
"Iya, makasih ya Hana... " balas Chika yang tetap mempertahankan senyum manisnya. Karyawan tersebut yang bernama Hana pun langsung mengambil kotak P3K dan mulai mengobati Chika di bangku toko rotinya.
Tidak ada pelanggan sama sekali saat ini sehingga Chika bisa duduk di salah satu bangku toko roti dengan leluasa. Hana pun mengobati luka Chika yang ada pada kepala dan yang lain.
Para karyawan pun menghampiri Chika karena mereka telah diberitahukan oleh Jina. Mereka pun bertanya sangat banyak yang membuat Chika kewalahan.
"Bos habis berantem ya? Berantem sama kelompok geng kan? Bos ngelawan siapa aja? Kok bisa Bos babak belur kayak gini? Bos gapapa kan? Bos, emangnya itu ga sakit apa? Kok bisa Bos berantem sama banyak orang sih? " pertanyaan tersebut langsung menyerang Chika begitu saja. Chika pun menjawab dengan santai.
"Tanya tuh satu-satu, jangan langsung banyak gitu. Jadi Bos emang berantem sama kelompok geng kok, gara-gara tadi ada yang dibully si culun, sebenernya gue males. Tapi ya gimana lagi yaudah bos lawan, lagian luka ini kan ga sebanding sama luka latian gue selama ini. " balas Chika dengan tenang kepada seluruh karyawan nya. Mereka pun mengangguk faham atas penjelasan Chika.
"O iya, tokonya gimana nasibnya Ani (Kakak perempuan dalam bahasa Jepang) Chikuma? " tanya Chika kepada salah satu karyawan nya yang bernama Chikuma.
"Baik-baik aja bos, ada peningkatan sama penjualan kita. Soalnya kemaren rame. " balas Chikuma kepada Chika sambil memberikan data penjualan roti di tokonya. Chika pun menerima data yang diberikan Chikuma, Chika hanya tersenyum saat melihat data yang diberikan Chikuma. Chika pun mengembalikan data tersebut kepada Chikuma.
"Kerja bagus Ani Chikuma Harada. Ga sia-sia Haha (Ibu dalam bahasa Jepang) memilih dan membimbingmu Ani. " puji Chika kepada Chikuma yang membuat dirinya tersanjung.
"Makasih Bos. Ini juga karena Haha Bos. " sanjung Chikuma kepada Chika dan dibalas senyuman oleh Chika.
"Jina juga, kerjamu bagus. Bersih-bersihmu sungguh bersih sampe kinclong gitu tuh kaca. " puji Chika terhadap Jina yang membuat dirinya malu.
"Makasih Bos, Bos juga udah kerja keras sambil kuliah loh. Hebat banget deh. " puji balik Jina terhadap Chika dan langsung dibalas senyuman oleh Chika.
"Hana juga. Kerjamu bagus dari dulu pas hari pertama aja udah semangat dan ga mau buat kesalahan dalam ngitung uang. Cepet lagi kalo ambil kembalian. " puji Chika kepada Hana yang membuat dirinya semakin menaruh hormat kepada Chika.
"Iya Bos, makasih Bos atas perhatian nya. " balas Hana dengan menaruh rasa hormatnya pada Chika.
"Trus Jihan gimana? Ga ada kesalahan kan pas buat roti? " tanya Chika kini kepada karyawan terakhirnya. Karyawan tersebut yang bernama Jihan pun menggeleng.
"Semuanya baik-baik aja kok Bos. " balas Jihan kepada Chika. Chika pun tersenyum mendengar kata Jihan.
"Yaudah kalo begitu, kerja bagus ya Jihan. Kalo kalian butuh apa-apa bilang aja langsung kok ke gue, nanti gue urus kok. " balas Chika kepada Seluruh karyawan nya. Mereka semua pun mengangguk mantab, Chika pun tertawa melihat semangat dari para karyawan nya.
"Yaudah, kita lanjut yuk kerjanya. " perintah Chika kepada seluruh karyawannya dan mereka membalas nya dengan anggukan. Mereka pun pergi ke tempat masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba...
Drttttt.....
"Bentar gue mau angkat telpon. " ucap Chika kepada seluruh karyawannya. Chika pun bergegas ke kamar mandi guna mengangkat telepon. Chika yang memperhatikan layar Smartphonenya pun terlihat aneh, ada telepon dari nomer tidak dikenal. Dengan penasaran yang tinggi, Chika pun membalas telepon tersebut.
"Halo? Ini siapa? " tanya Chika yang membalas telepon tersebut. Sejenak hening.
"Benerkan ini Chika? " tanya orang tersebut dari seberang telpon.
Deg...
"Mengapa aku sangat mengenal suara ini? " batin Chika yang mendengar suara orang tersebut dari seberang telepon.
...⋇⋆✦⋆⋇ ...
__ADS_1