
Keringat dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuh Anatasya, nafasnya terasa sesak dan detak jantungnya masih berdegup sangat kencang
" Mmmirate!...... Mmirate! "
Pelan pelan Anatasya memanggil peri kecil itu dengan suara bergetar, Terdengar suara alunan nyanyian yang sangat lembut dari pintu di atas bukit yang membuat bulukuduk Anatasya berdiri terasa hawa dingin memenuhui seluruh tubuhnya
" Laaaaaaaa..la...lalalala......la..la..la "
Suara nyanyian itu semakin jelas Anatasya memberanikan diri merangkak menuju bukit tempat suara itu berasal. Setelah semakin dekat terlihat Mirate dengan rambut panjang dan telinga panjang meruncing yang keluar dari kiri kanan kepalanha dengan gaun kerlapkerlip duduk membelakangi Anatasya, ia memberanikan diri mendekati Mirate
" Mirate! "
Mahluk kecil itu membalikan wajahnya, ia hanya bagian kepalanyasaja yang bergerak sementara tubuhnya kaku membelakangi Anatasya. Mahluk itu tersenyum dengan hanya sebelah bibir yang bergerak, senyuman di sebelah wajah cantiknya begitu bergetar sehingga terlihat sangat menyeramkan, Anatasya menarik nafas membuang semua ketakutannya lalu duduk di sebelah Mirate yang kembali membalikan kepalanya ke suatu arah
" Aaaku rindu sekali tempat ini, Aku juga merindukan kamu suaramu terus datang di kepalaku selama bertahun tahun aku ingin mencari jawaban dari semua ini, setelah bertahun tahun juga tempat ini sudah berubah.... Seperti dunia kami "
Mirate kembali memandang Anatasya dengan kedua telinganya yang bergerak seolah dia ingin mengatakan sesuatu telihat sebelah wajah birunya berwarna sangat pucat dengan satumata dan mata lainnya selalu bergerak dengan arah yang berlawanan
" Dan ketika kau ada maka dunia ini sudah tiada,dan ketika kau berlari dunia ini sudah beralaskan duri dan ketika kau menyongsong cahaya, terangnya hanya tipuan semata "
__ADS_1
Suara itu datang kembali ketika ia dan Mirate saling berpandangan, Mirate kemudian berdiri dan membalikan pandangannya di ikuti Anatasya. Terlihat bagian gelap tempat itu Anatasya langsung kembali bergidik ketika mengingat apa yang baru saja terjadi
" Bagian itu sangat gelap dan semakin gelap, aku tidak menyukainya disana sangat menyeramkan aku mendengar pekikan, suara angin kencang suara sesuatu terjatuh dengan keras dan banyak suara suara aneh itu sungguh menyeramkan dulu semua tidak seperti ini dulu tempat ini penuh cahaya dan sangat indah "
Terdengar lagi suara nyanyian dari mulut Mirate dengan mulut tertutup rapat tapi suara itu benar benar berasal darinya
" Lalala....la..la..lalala.....Lalala......la..la..lalala hmmmm...hmmmmm...hmmmmm "
Suara nyanyiannya seperti gumaman namun terdengar merdu dan menyayat hati, seolah Mirate sedang sangat bersedih Tiba tiba pintu lain terbuka di dekat bagian kegelapan sangat jelas di dalam pintu itu adalah Sekolah tempat Anatasya dan kawan kawannya belajar, mahluk hitam itu kembali keluar dari kegapan dan berkelabat dengan cepat masuk kedalam pintu
" Jangaaaaan!!!! "
" Nana!.... Nana bangun! "
Tiba tiba suara ibu Anatasya membangunkan ia yang tidur di kursi di meja makan
" Kok kamu tidur disini, udah gitu kamu nangis. Ibu sampai kaget na... kalau mau tidur itu mbok ya berdo'a dulu jadi tidurnya gak ngelindur kan ngeri kalau kamu tidur sambil jalan keluar Rumah tengah malam, sana pindah ke kamar udah hampir subuh loh, ibu mau ke pasar dulu "
Anatasya mengusap air mata di pipinya sambil berjalan ke Arah kamar tidurnya, dia kembali menatap ke jendela sambil mengingat kembali apa yang sudah terjadi, " Sesuatu terjadi, sesuatu yang buruk sudah terjadi " ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Jam di dinding sudah menunjukan pukul 06:00 dan Anatasya sudah bersiap untuk pergi sekolah, ia sedang duduk menunggu ibunya yang belum kembali dari pasar
" Haduh naaa...... maaf ibu lama, dipasar sekarang udah jarang yang jualan katanya orang orang sudah pindah jualan di kota. Ibu sampe keliling keliling toko toko sembako juga sudah tutup. Kamu pasti belum sarapan ini Ibu beliin roti buat bekal ".
Anatasya kemudian mengambil roti lalu memakannya, sementara ibu Anatasya berlalu menuju dapur tidak lama kembali membawa segelas air teh hangat lalu duduk disebelah Anatasya
" Ini minum na, hmmm ibu jadi bingung bagaimana nasib anak cucu kita kelak kalau perkembangan kampung kita semakin mundur, orang orang sudah menyerah dan mulai pindah ke kota Ibu berharap nanti kamu dan anak anakmu meneruskan perjuangan ibu hidup di kampung mengurus kebun jangan jual tanah di kampung, Kita itu tidak kekurangan meski hidup di kampung mereka yang jual tanah tanah nya itu cuma ingin kehidupan yang moderen padahal kalau di hitung pengeluaran di kota itu lebih besar lagi, air beli sayur sayuran yg biasa mereka tanem di kebun beli, mereka itu hanya ingin menikamti gaya hidul tidak peduli meskipun gaya hudup mencekik mereka "
Anatasya mendengarkan apa yang dikatan ibunya tanpa berkata sedikitpun, Ia hanya memandangi pemandangan di depannya dan membayangkan bila semua ini berganti menjadi jalan jalan besar dengan asap dimanamana pabrik pabrik juga rumah rumah kumuh dan megah yang kontras dihalangi tembok tembok tinggi. Anatasya menarik nafas dalam
" Kita itu hidup bukan berarti jangan modern jangan ikuti kemajuan zaman, tapi semua itu ada porsinya loh kalau kita pasrah pasrah saja mengikuti kemauan zaman ya nanti Akan ada timbal baliknya, ingat loh Na hancurnya alam hancurnya dunia itu ya karna kita sendiri yang merusak alam merusak dunia "
" Nanaaaaaa! "
Terdengar suara seseorang memanggil Anatasya dari arah jalan
" Nana berangkat sekolah dulu bu "
Anatasya kemudian menyalami ibunya dan begegas menuju sekolah bersama teman temannya, Selama perjalanan fikiran Anatasya hanya tertuju pada apa yang terjadi tadi malam,sepanjang jalan Anatasya berdo'a agar tidak kembali terjadi hal buruk seperti hari itu, hari dimana sesuatu sudah menghancurkan perkebunan sementara kawan kawannya asyik mengobrol sepanjang perjalanan, Anatasya hanya terdiam sementara kakinya terus melangkah dengan fikiran yang entah berada dimana " Seharusnya Mirate menjelaskan sesuatu, sedikit saja agar aku mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi dan bila itu membawa keburukan, agar aku bisa mencegahnya bila memang sesuatu itu akan terjadi " . Ucap Anatasya dalam hati, tanpa terasa dari kejauhan gedung sekolah sudah terlihat, Anatasya bergegas berjalan mendahului teman temannya, Sementara teman teman Anatasya hanya berbisik bisik melihat apa yang dilakukan Anatasya dengan Asap hitam kembali keluar dari kepala mereka.
__ADS_1