
Malam yang indah dan tenang disertai oleh ranjang yang nyaman membuatku betah berlama-lama disini. Tetapi sayangnya malam yang indah itu tidak bertahan Lama. Sesuatu yang membuatku gelisah selalu datang saat aku merasakan kebahagiaan.
Seakan-Akan mereka tidak mengijinkan ku untuk bahagia, dan harus merasakan ketidak nyamanan.
Kali ini ketidak nyamananku disediakan dalam mode alam bawah sadar.
----
Aku membuka Mata, milihat semua disekelilingku. Semuanya tampak gelap, Tidak Ada seorang pun disana. Dan sesuatu muncul dihadapanku berbentuk tanda panah seolah-olah memberi tahu dimana jalan keluarnya. Tanpa berpikir panjang aku mengikuti tanda panah itu, tak Lama aku mengikuti tanda itu. Aku bisa mendengar samar-samar seseorang tengah berkelahi dan bertumpah darah.
Aku semakin dekat dengan asal suara itu. Dari kejauhan aku melihat pertarungan yang sengit. Tapi..
Mengapa aku merasa mereka tidak asing?
"tunggu.. Siapa itu?" aku bertanya-tanya dalam hati kecilku. Aku sangat penasaran. Aku memberanikan diri untuk melihat pertumpahan darah itu dari jarak dekat. Sedikit demi sedikit langkah kaki ku hampir sampai. Dan akhirnya aku bisa melihat dengan jelas siapa kedua pria yang sedang bertarung itu.
"tu, tunggu! A, apa itu Ayah!?" aku terkejut melihat siapa yang sedang bertarung, aku tidak menduga bahwa yang sedang bertarung adalah Ayah.
JLEB!
Sebuah pedang melayang lurus menusuk dengan cepat ke arah jantung Ayah.
"A, apa?.." tiba-tiba sekujur tubuhku gemetar karna ketakutan. Melihat dengan jelas kematian Tragis Ayah yang dibunuh oleh pria bermbut hitam dan memakai anting merah.
Tiba-tiba pria itu mendekat kehadapan Ayah dan memberikan senyuman licik. Dan lagi melihat ekspresi pria itu, sepertinya Pria itu tidak puas hanya sekali serangan. dia menyiapkan senjata yang sangat besar untuk Ayah ku. Dan menghitung dengan santai kapan harus membidik.
"T, TIDAK!! BERHENTI! JANGAN!, JANGAN SAKITI AYAH!!." aku berlari dengan cepat menuju TKP dan berharap bisa menghentikan pria itu, tetapi sayangnya tidak bisa, sesuatu menghalangiku untuk masuk.
"APA INI!?...KACA!?! ARGH." teriak ku dengan nada kesal. Aku mencoba untuk memecahkan dengan pukulanku, tetapi tidak bisa kaca itu sangat kuat. Dan lagi pria berambut hitam dan menggunakan anting merah itu hampir selesai dalam hitungannya.
DUAS!!
Tiba-tiba muncul beribu jarum merah dari langit hitam yang mengarahkan pria berambut hitam itu.
"!.. Jarum? Ah.. Jurus ini..!!" aku melihat ke atas dan berpikir keras, siapa yang mempunyai jurus ini. Tetapi belum selesai aku berpikir, aku dikejutkan oleh kedatangan wanita berambut panjang tepat didepan ku.
Seseorang yang telah melahirkan ku.
"!!!, Ibu!?! T,TIDAK APA YANG IBU LAKUKAN!? IBU TIDAK BOLEH MELAWAN DIA! DIA MEMPUNYAI SESUATU YANG TIDAK KITA KETAHUI! " aku berteriak mengharap ibu akan mendengarku dari balik kaca ini. Tapi sayang semua itu sia-sia. Seperti yang kulihat ibu sangat-sangat Marah. Mungkin aku hanya bisa menonton dari balik kaca ini dan tidak berbuat apa-apa
"UH..TIDAK BU.. JANGAN.. AKU MOHON DENGARKAN AKU.." Aku terisak nangis sambil memukul-mukul kaca yang ada didepanku. Dan tiba saat pria itu mau membidik ibuku. Dia mengucapkan beberapa kata
"J.......N... L.... Y..... Hehe" ucap pria itu dengan licik
Aku tidak bisa mendengarnya dan..
DOR!
Sebuah senapan mengenai kepala ibu.
"!!!!.." sekali lagi aku dikejutkan oleh hadiah terburuk. Aku hanya terdiam, dan berlutut terpaku melihat apa yang kulihat barusan.
"T, tidak.. Jangan serang dia ibu..ja..
Ngan.." semua perasaanku bercampur aduk.
"Ah.." aku gemetaran. Dan meneteskan Air Mata, kukira hanya terkena debu tetapi tetesan Air ini terus mengalir membasahi pipiku.
"AAAAAAHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!"
"
A
A
A
A
A
A
A
__ADS_1
A
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
T
D
A
K
!
B
U
!
A
A
A
H
H
H
H
H
"
*realife*
"AHHHH!!!!!"
"PFFTTTTT!!!!"
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang yang sedang menungguku dikursi dengan secangkir kopinya itu terkejut mendengar teriakanku, dan menyemburkan kopi yang belum sampai ke tenggorokan. Alhasil yang tadinya dia rapi sekarang menjadi kotor karena semburanya sendiri.
Tunggu apa benar itu hasilnya sendiri? Sepertinya tidak
Dengan cepat dia berlari ke arah ku untuk membangunkanku.
"Kak! Kakak! Bangun!! Hei ada apa denganmu!? Duh.." ucap laki-laki itu dengan nada kesal dan panik.
"argh kakak.."
"uwahh!" teriak ku kaget.
Gedubrag!
Aku terjatuh dari ranjang dan membenturkan kepala ke lantai.
Semua tampak berputar di pikiranku.
"ugh.." aku bangun dari lantai sambil memegang kepala ku yang pusing.
"uh..ini sakit" ucapku dengan kesakitan karena baru pertama merasakan jatuh dari ranjang.
"eh?" aku melihat siapa yang menjatuhkanku. Dia menatap ku dengan dingin dengan tangan yang dilipat di depan Dada.
Dan dia adalah "Eyden?.."
Anak terakhir dari empat bersaudara. Dia adalah adik ku!.
Aku berdiri dan bertanya kepada Eyden mengapa bajunya kotor dengan nada polos yang seketika membuatnya berganti wajah menjadi wajah kesal.
"Whaha ya Ampun kakak.. Kakak kira ini perbuatan siapa~" ucap Eyden dengan pelan dan tersenyum kesal
"eh?"
"(Oh tidak!,tiba-tiba aku merasakan hawa membunuh dari anak ini!.)"
dengan cepat aku mengubah topik agar tidak menjadi pertengkaran.
"Eh,um..Oh Iya! Kenapa Kau ke kamarku pagi-pagi sekali?" ucapku dengan nada panik. Sambil merapikan kasur. Berharap tidak bertatapan dengan matanya.
"Ya ampun kakak~ kakak mengalihkan pembicaraanku dan sekarang bertanya kenapa aku datang pagi-pagi sekali~Apa kakak pura-pura Lupa Hari ini, hari apa dan apa yang kakak ucapkan tadi malam?~" ucap Eyden dengan senyum tetapi tidak ikhlas
"(Meskipun dia mengucap dengan lembut tetap saja kelihatan bahwa dia sedang menahan amarahnya)" perbincangan dalam hatiku yang panik
"eh? Lupa apa? Dan kenapa kau bertanya hari? Bukan kah sudah jelas bahwa hari ini hari senin? :D " ucapku dengan riang tanpa rasa bersalah ini. sepertinya Aku telah menambah lagi.
Aku melihat Eyden yang benar-benar ingin mumbunuh.
"(eh?!)" tiba-tiba sebuah ingatan muncul seketika dalam otak ku.
.Dalam ingatan.
Tadi malam di ruang makan.
"MM..YUUHUUUUU!! Besok aku akan masuk sekolah! Aku rindu kalian Teman! Jajan! Tteokbokki! Kali ini Aku tidak akan terlambat lagi! Tunggu aku kawan! Hoho!" teriak ku senang sambil berdiri di atas kursi meja makan.
"Wah lihat siapa yang sangat bersemangat untuk sekolah saat ini" ucap ibuku sambil menertawakan ku.
"paling besok akan terlambat lagi seperti biasanya.." ucap saudara ketiga ku dengan nada meremehkan.
"Hei! Itu karna aku sering tidur malam tahu!" aku membalas saudara ke tiga ku dengan wajah ngambek karena tidak Terima.
"Dan lagi besok aku bisa menjamin tidak terlambat karna Eyden yang akan membangunkan ku! Hehe" ucapku dengan sombong.
"Wut!?". Eyden yang mendengarku terkejut, karna dari awal kita belum membuat kesepakatan dan aku sudah berkata lebih dulu.
"Tidak." ucap Eyden dingin.
"Eh a, apa?" aku panik sekaligus bingung. Aku mencoba untuk membujuk Eyden agar dia mau membanguniku esok hari agar aku tidak terlambat dihari pertama ku sekolah.
Dan akhirnya setelah 2 jam, usahaku tidak sia-sia untuk membujuk Eyden. Ya meskipun harus di sogok Dulu sih, aku menjanjikan akan meneraktirnya Tteokbokki setelah pulang sekolah.
Realife
"(ah.. Ternyata aku membuat kesalahan)" Dalam hatiku yang panik.
__ADS_1
Aku pun terkejut melihat jam berapa sekarang, Dan Aku Edlynne Sye terlambat lagi untuk ke sekian kalinya di hari pertama ku sekolah.
To be continued.