
hi.. namaku Stepany, umurku 12tahun aku anak perempuan yang manis dan ceria.
Ini Edward kakak tiriku yang dingin, tapi menurutku dia cukup tampan dan keren. Umurnya 17tahun berbeda 5tahun denganku.
Lalu ini ibuku namanya Julia, dia sosok ibu yang sempurna untukku dan Edward walaupun dia ibu sambung Edward tapi kasih sayangnya sama seperti padaku, tapi terkadang aku kesal karena ibu selalu membela kakak tiriku lalu memarahiku.
Tapi.. setelah itu saat malam tiba ibu selalu meminta maaf karena sudah memarahiku siang tadi dan membacakan dongeng sebelum tidur.
Dan ini ayahku namanya Jonathan.
Hhmmmm... ayah terlihat sangat muda dibandingkan dengan usianya, padahal anak pertamanya berumur 17 tahun tapi dia terlihat seperti kakaknya Edward.
Entah lah mungkin ayah melakukan serangkaian perawatan pikirku.
Kami merupakan keluarga yang sempurna dimata tetangga.
Ayah dan ibu selalu harmonis, mereka memang tidak pernah bertengkar didepan aku dan Edward.
Apalagi ketika didepan orang lain mereka terlihat sangat serasi dan mesra.
Aku senang memiliki orangtua seperti mereka.
Kami tidak pernah lepas dari sorot mata para tetangga dan orang-orang yang baru kami kenal, apalagi si dingin Edward.
Para tetangga sering memuji Edward setiap hari, mereka bilang "anak laki-laki kaliyan pinter, ganteng, tinggi nanti kita besanan yu."
Aku membuang napas panjang, dan menendang krikril yang berada dibawah kakiku baru lah mereka menyadari keberadaanku.
"wahhhh manisnya..." (sambil mencubit pipiku).
Kami sering berpindah-pindah rumah karena pekerjaan ayah.
Dia sering bekerja diluar kota dalam waktu yang cukup lama sehingga kamipun dikantonginya kemanapun.
Ini hari ke-8 dimana kami menempati sebuah rumah sederhana dipinggiran kota.
Aku ingat saat pertama kali pindah dari rumah lama, saat itu aku berumur 9tahun dan sampai sekarang tradisi pindah rumah itu berlanjut.
Pagi ini aku memulai aktivitas seperti biasa, ibu membangunkanku pagi sekali bahkan yang lain masih terlelap dibalik selimut hangatnya.
Hmmmm kadang aku malas hanya sekedar untuk membuka matapun.
Tapi ibu menarik selimut yang membalut tubuhku, lalu berkata "ayo bantu ibu memasak, sambil belajar."
Ucapan yang keluar dari bibirnya halus sekali senyumannyapun aku menyukainya hingga aku kembali luluh.
Akupun beranjak dari tempat tidur empuk itu, membuang selimut ke pojokan.
Lalu menuju dapur mengikuti langkah anggun ibu dari belakang.
Setibanya didapur seperti biasa ibu menyuruhku memotong beberapa sayuran dan menyiapkan peralatan makan.
Sedangkan ibu memasak, aroma masakannya menusuk hidung mancungku.
euuuummm air liur ku sudah membanjiri lidah.
Tak sabar ingin segera menyantap sarapan pagi ini.
__ADS_1
Hari ini aku pindah kesekolah baru, bahkan disekolah lamapun aku baru saja mendapatkan beberapa teman tapi sudah harus kembali berpisah karena pindah rumah ke luar kota.
Saat di SD saja aku 2x pindah sekolah, sekarang aku kelas 1 SMP baru saja kemarin mendaftar sekolah sudah mendaftar baru lagi.
Terkadang aku tidak menyukai hal itu, tapi si dingin Edward acuh saja.
Oh iya kali ini sekolah ku dan Edward berdekatan.
"Aku pikir aku bisa memata-matainya, aku ingin tau apa disekolah dia sedingin dirumah?."
Aku melamun dengan tangan dilipat di atas meja makan.
Tanpa aku sadari ternyata semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana, mereka menatapku heran dan aku tersenyum malu.
"maaf." Ujarku seraya menyembunyikan wajah yang ku tutup dengan kedua telapak tangan.
Acara prasmananpun dimulai sesaat setelah aku tersadar dari lamunan.
Aku belum memakai seragam sehingga setelah sarapan aku segera bergegas untuk bersiap.
Kamipun pergi kesekolah di antar ayah memakai mobil kantornya.
Seingatku mobil pribadi ayah hanya sesekali saja dipakai, mungkin hanya saat pindah rumah dan saat berlibur.
Sehari-hari ayah memakai mobil yang dipinjamkan dari kantor.
Setiap pindah rumah, ibu memakai mobil ayah untuk membawa ku dan Edward sedangkan ayah memakai mobil kantor untuk mengangkut pakaian kami dan barang kecil lainnya.
Setiap pindah rumah ibu membeli furnitur baru, sehingga suasa kamarkupun selalu baru.
Ini yang aku suka, aku jadi tidak pernah bosan berada dikamar walau dalam waktu yang lama.
Ayah menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang sekolahku, terlihat sudah banyak murid berdatangan.
Aku segera berpamitan lalu turun dari mobil dan berjalan masuk.
Akupun meneruskan perjalanan menuju kelas 1A.
"Stepany."
Aku mendengar seseorang memanggilku dari arah belakang, seketika aku menengok ke sumber suara.
Itu chloe berjalan tergesa-gesa ke arahku, dia teman sebangku ku.
Orangnya ramah dan mengasikan, baru beberapa hari kita saling mengenal tapi dia sudah seperti kembaranku, nempel bak prangko.
"hi chloe." Sapaku.
Dia tersenyum padaku, gigi nya berjajar rapih putih dan bersih bau tubuhnyapun harum.
"bagaimana PR kamu, udah selesei belum?."
Tanyanya, mungkin dia khawatir aku tidak bisa menjawab 30 soal esai dalam semalam.
"sudah dong."
Jawabku seraya menggandeng tangannya menariknya masuk kedalam kelas.
Tak lama bel berdentang tanda memulai pelajaran, wali kelas masuk dengan buku absen ditentengnya.
Satu persatu murid mengacungkan jarinya saat namanya dipanggil begitupun aku dan chloe.
Otakku mulai berputar menjawab semua pertanyaan didalam buku LKS, 3 mata pelajaranpun kami lewati bagai angin lalu.
Bel kembali meneriaki semua murid kali ini bel sekolah menyusuruh untuk beristirahat.
__ADS_1
Kamipun pergi ke kantin sekolah, ruangannya sangat bersih makanannya terlihat sangat steril.
Aku dan Chloe menyantap dengan lahap makananan yang kami pesan.
Mungkin sekarang cacing diperutku sudah cabby. Wkwk
Pelajaran dimulai kembali hingga total 3 mata pelajaran lagi.
Sinar matahari sudah menyengat, ace diruangan kelas sudah dinyalakan.
Hawa didalam kelas terasa panas sepanas otakku.
Sekolahpun selesai, aku menggeliatkan punggungku yang seakan retak karena terlalu lama duduk.
Kamipun keluar dari ruang kelas beriringan, kaya anak bebek pikirku. Wkwk
Setibanya didepan gerbang sekolah, ayah belum tampak batang hidungnya.
Chloe mengajakku masuk ke mobilnya tapi aku menolak, dia pun pulang lebih dulu meninggalkanku yang sedang termenung dengan wajah cemberut.
Tatapanku tak pernah lepas ke sisi kiri jalan, biasanya ayah muncul dari sana.
"apa aku ke sekolah Edward saja?."
Terbesit ide gila di otakku, aku memutuskan memata-matainya hari ini.
Akupun berjalan di trotoar melewati beberapa murid, sedikit demi sedikit aku mulai menjauh dari gedung sekolah.
Suara klakson mobil diatas jalanan beraspal bagaikan paduan suara ditelingaku.
Aku terus melangkahkan kaki kecilku hingga akhirnya langkah kaki ku terhenti didepan sebuah gedung SMA berlantai 4.
Gedungnya tinggi dan memanjang, aku berdiri dibalik gerbang sekolah berharap Edward cepat keluar.
Sudah 10 menit aku berdiri mematung bagai manequeen, aku mulai kesal hingga kakiku dihentak-hentakan.
Dan diapun terlihat batang hidungnya, dengan postur tubuhnya yang tinggi membuatnya tetap terlihat meski banyak siswa mengerumuninya.
"apa, dia tertawa lepas?."
Dia terlihat asik mengobrol dengan teman perempuannya yang sejak tadi menempel.
Aku segera bersembunyi dibalik kerumunan murid SMA, memperhatikannya dari sela-sela kerumunan.
"huh dasar orang aneh."
Aku mengumpat kesal, bagaimana bisa dia bersikap ramah pada perempuan itu tapi dingin sekali pada keluarganya bahkan pada ayah dan ibu.
Lamunanku buyar saat telingaku menangkap nada bicara sombong yang selalu ku kenal.
Aku kaget setengah mati ternyata si dingin Edward berada disebelahku dia memanggilku boncel.
"dasar sialan." Umpatku dalam hati.
Aku selalu sesumbar saat setiap kali mendengar kata "boncel".
Itu panggilan yang dia sematkan untukku dimanapun dan kapanpun.
Dia menatapku sombong, lama kelamaan tatapannya berubah seakan siap menusukku dengan ribuan jarum yang keluar dari sorot matanya itu.
Aku mendongak ke arahnya, leherku selalu sakit karena dia terlalu tinggi.
Sesegera mungkin aku menunduk saat menyadari sorot mata sinis nya itu.
Kamipun berdiri dipinggir jalan dekat pemberhentian bus, tak lama ayah datang.
__ADS_1
"akhirnya."
Aku merasa lega saat ayah datang dengan senyumannya, menghilangkan rasa penatku berdiri dengan si dingin Edward.