Edward Is A Devil

Edward Is A Devil
Bab 5


__ADS_3

Mobilpun kembali melaju, jalanan hutan yang berasapal itu sudah retak dimana-mana bahkan ada juga yang retakannya sangat parah.


Ternyata kami tak sendiri, terlihat sebuah mobil tronton besar dari arah berlawanan.


Tronton itu membawa banyak sekali kayu besar, sepertinya untuk dikirim ke kota.


Karena jalanan yang sempit ayah sengaja menepi mempersilahkan mobil tronton penuh muatan kayu itu melewati kami, jalanan jadi bergetar dan suara mesinnya bergemuruh, takut sekali rasanya melihat mobil tronton sedekat ini.


Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang, sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa dengan keadaan alam liar.


Singa, rusa, gajah, jerapah, sepertinya dihutan ini semua hewan hidup dengan damai, dilihat dari populasinya yang cukup sering muncul sih aku pikir begitu.


Sesekali aku melihat seseorang yang berdiri ditengah semak dipingir jalan, tapi entah lah karena hanya sekelebatan saja.


Mungkin orang suku, lagi-lagi imajinasiku kembali menggali adegan dalam film yang pernah ku lihat.


Perjalanan ini terasa amat panjang, matahari sudah semakin turun, hari sudah mulai gelap dan dingin.


"ayah, kapan kita sampai?."


Keluhku.


"tak lama lagi sayang."


Ayah menjawab dengan memberi senyuman.


Lagi-lagi ayah berkata seperti itu, tapi sampai kapan mobil hanya terus melaju belum berhenti. Batinku.


Aku membuang napas sambil menyenderkan tubuhku lunglai.


Pandanganku tak pernah lepas kesisi arah kaca mobil.


Suara alam liar mulai membawaku pada alam mimpi.


*****


"Stepany, bangun sayang kita sudah sampai."


Tubuhku terasa di sered atau melayang ya?. Ujarku yang masih dialam mimpi.


Lalu senyap-senyap ku dengar suara teriakan anak kecil, dia tertawa riang, juga terdengar lolongan anjing yang cukup jelas, lalu suara kambing.


"dimana aku?."


Aku mengerjap-ngerjapkan mata, melirik pada sisi kiri.


Kulihat obor disepanjang jalan, juga terdapat rumah gubuk yang hanya diterangi satu lampu kecil mungking hanya 5 wath.


Akupun tersadar setelah puing-puing ingatanku bangkit dari alam mimpi.


Damn ternyara Edaward sedang menggendongku dipunggungnya.


Akupun mulai melirik kesetiap arah memcoba mengapsen anggota keluargaku, betapa leganya ternyata ayah dan ibu juga bersamaku.


"kita sudah sampai dikampung halaman nenek".


Ujar ayah ketika melihatku gelisah.


Mendengar kenyataan itu batinku terasa lega, akhirnya aku bisa berbaring manja diatas kasur empuk dan hangat.


Kulihat didepan sana terdapat sebuah rumah yang lebih bagus dari rumah-rumah sebelumnya yang sudah kami lewati.


Rumah yang ini cukup rapih dibangun dengan tembok walau sudah sedikit mengelupas, dibandingkan dengan rumah yang lain yang hanya berupa gubuk kecil, ada juga yang besar tapi tetap deinding anyaman dari kayu.

__ADS_1


"kaliyan sudah datang."


Seorang kakek dan nenek tua menyambut ayah dan ibu dengan pelukan.


"ayah, ibu bagaimana kabar kaliyan?."


Ujar ibu pada kedua orang yang berumur lebih dari setengah abad.


"kabar baik nak, mari masuk."


Ternyata itu kakek dan nenek, aku sudah mekupakan wajah mereka karena sudah sangat lama tidak bertemu.


Ayah dan ibu masuk terlebih dahulu, sedangkan aku masih diatas punggung Edward.


"Edward, Stepany nenek sangat merindukan kaliyan."


Ujar nenek sambil mengelus punggungku dan bahu Edward.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman, aku masih merasa asing berada disini.


"turun."


Ujar Edwar hampir tidak terdengar.


Akupun melompat dari punggungnya dengan mengerucutkan bibir, padahal aku masih betah di gendong.


Edward meraih tangan nenek dan menciumnya, nenek membalas dengan pelukan setelah itu dia pergi dengan senyum palsunya yang ditebar pada nenek.


Akupun melakukan hal yang sama, tapi dengan ketulusan tentunya.


Kamipun masuk, disana sudah ada kakek, ayah dan ibu, kami duduk diatas tikar dengan makanan ditengahnya.


Suasana rumah terlihat sederhana, terdapat tv 14inc berwarna, kulkas kecil, 4 kamar tidur yang mengelilingi ruang tamu, kipas angin kecil, dan lampu neon besar cukup terang untuk menerangi ruangan.


Ternyata jam di dinding yang bermotif batik menunjukan pukul 20.00 WIB.


Gumamku pelan.


Kami berbincang sebentar, karena aku merasa pengap aku meminta ijin untuk diam diteras rumah.


"segarnya udara pedesaan."


Rongga hidungku merasakan kesejukan aroma sawah, ternyata terdapat hamparan sawah tak jauh dari pinggir rumah.


Anak-anak bermain riang dipinggiran sebuah kolam ikan, umur mereka mungkin baru menginjak 9 tahunan.


Ketika aku sedang asik menonton anak-anak itu berlarian, seseorang menghampiriku.


Seorang anak laki-laki yang sebaya denganku.


Dia memberikan tangannya sambil berucap..


"hi nama ku Jacob, siapa namamu?."


Aku menatap sebentar pada anak laki-laki dihadapanku, tak tahu muncul dari mana, tiba-tiba saja dia sudah berada didepanku.


"hi namaku Stepany."


Kamipun berjabat tangan, Jacob terlihat ramah, dan cukup asik.


Sifatnya yang komedian membuatku tertawa terpingkal-pingkal, sampai perutku sakit.


"Stepany."

__ADS_1


Ibu menghampiriku.


"iya ibu."


Aku segera melirik pada ibu.


"tertawa sama siapa sih?."


"ini bu sama Jacob."


Aku melirik kesisi kiri, tapi aku tak mendapati siapapun.


"Jacob siapa?."


"tadi ada anak laki-laki seusiaku namanya Jacob bu."


Aku mencoba menjelaskan, tapi sebenarnya akupun tidak mengerti mengapa Jacob menghilang.


Aku mencarinya kepinggir rumah siapa tahu dia pergi tanpa pamit karena melihat ibu, tapi hasilnya nihil, kupandangi sisi rumah dengan saksama.


"tidak ada siapa-siapa sayang, ayo masuk kakek dan nenek sudah menunggu diruang makan."


"eu.. iya bu."


Akupun masuk dengan hati tidak tenang.


Kami menyantap banyak makanan yang disuguhkan nenek, masakan nenek sangat enak sampai aku melupakan misi dietku."


"huh.."


Aku membuang napas panjang ketika suapan terakhir, rasanya perutku akan meledak saking kenyangnya.


Apa boleh buat, makanannya menggiurkan. Batinku tanpa penyesalan.


Setelah acara makan malam Ayah dan Kakek berjalan-jalan menyusuri desa, itu ujarnya setelah pulang.


Aku kesal karena Ayah melupakanku, padahal aku juga ingin tahu pemandangan desa ketika malam hari.


Ayah mencubit pipiku mesra.


"lain kali ya.."


Ucapnya di akhiri dengan senyuman.


Leherku mengangguk seketika di luar kuasa kesadaranku, memang senyum Ayah mampu menghipnotis. Pikirku.


Malam semakin gelap, udara sudah semakin dingi, suasana semakin sepi dan hanya terdengar suara jangkrik dimana-mana.


Suara binatang malampun bersahut sahutan, aku bergidik ngeri membayangkan diriku berdiri seorang diri di tengah desa hanya di temani suara malam. Batinku tak sanggup lagi berfantasi.


ku tutup seluruh tubuhku menggunakan selimut pemberian nenek, sialnya aku harus tidur sekamar dengan Edward. Rasanya sangat tidak nyaman. Akupun membatin.


"ku harap Edward tidak mengusik tidurku."


Gumamku sebelum memaksa menutup kelopak mata yang belum ngantuk.


Kesadaranku mulai hilang ketika ku dengar bunyi jam dinding.


Tik tok tik tok tik tok


Hoam..


Mataku sudah tak sanggup terbuka meski hanya sedikit, cahayapun hilang.

__ADS_1


*****


Suara gaduh membuatku terjaga, suara itu berasal dari luar sana. Itu yang di tangkap telingaku di tengah kesadaran yang belum berkumpul.


__ADS_2