
"Hooaaammm..."
Ibu membangunkanku pagi sekali, bahkan bulan masih terjaga dan matahari masih terlelap.
Aku menggeliat malas, segera ku tarik kembali selimut yang sudah berada dilututku karena di tarik ibu.
"ibu.. aku masih ngantuk.."
Gumamku penuh dengan aura malas.
"ayo bangun, kitakan akan pergi ke rumah nenek."
Kata yang terlontar dari bibirnya halus sekali, jika itu kain sutera pasti sudah kuwalitas super.
Aku mengucek kedua mata dengan punggung tangan, beranjak dari tempat tidur dengan berat hati.
Kulangkahkan kaki dengan sempoyongan menuju wastapel untuk membasuh muka juga menyikat gigi.
Sedangkan ibu kembali ke bawah setelah melihatku bangun seraya mengambil tas ranselku yang berisi beberapa pakaian juga cemilan yang sudah kusiap kan sejak kemarin.
Setelah selesei bersiap aku segera mengunci kamar hendak berjalan menuju lantai bawah.
"arrgg.."
Edward menarik kupluk hoodieku yang menggatung dipunggung, seketika tubuhku tertarik kebelakang diapun berlalu mendahuiku dengan wajah sombongnya.
"Iiishhh.."
Aku menatapnya sinis seraya bergumam komat kamit bahkan secara otomatis aku mengepalkan tangan kearahnya yang sedang berjalan angkuh didepanku.
Tentu saja dia cuek bebek terus saja melenggang tak memperdulikanku.
Kami hampir tidak pernah saling menyapa walaupun tanpa sengaja berpapasan, saat dimeja makanpun dia hanya terus saja menyumpal mulutnya dengan makanan tanpa mau berbicara apapun.
Padahal kami bertiga tertawa lepas disana, tapi dia tidak pernah bergeming.
"seharusnya dia tinggal di matahari agar sifat icenya mencair." Batinku kembali sesumbar.
Setibanya dilantai bawah ibu menggiringku keluar rumah dan ayah menyuruhku masuk ke dalam mobil duduk dikursi belakang pengemudi.
Ternyata Edward sudah duduk manis disamping jok mobil yang akan kududuki, aku menatapnya sinis mengingat perlakuannya padaku tadi.
Akupun duduk dengan kesal, tapi rasa kesalku hilang seketika saat ibu menyodorkan sebuah puding anggur untuk ku dan Edward.
Aku menyodorkan bagian Edward tepat ditangannya, diapun menerimanya dan memasukannya kedalam saku hoodie.
Tak lama setelah prepare mesin mobilpun menyala, lalu ayah mulai menginjak pedal gas perlahan dan kecepatannya semakin bertambah sedikit demi sedikit, kali ini kami menggunakan mobil pribadi ayah.
"Eummmm wangi sekali."
Aku menghirup napas panjang menikmati wewangian didalam mobil.
Ibu memakai pewangi beraroma jeruk yang digantungkan di bagian depan.
Jam di tanganku baru menunjukan pukul 4 pagi, sepanjang perjalanan aku hanya melihat lampu kendaraan dan lampu jalanan selebihnya hanya pemandangan kelabu.
Aku kembali mengantuk karena laju ban mobil itu bagai menina bobokan ku, akupun menutup mata semakin lama aku semakin tenggelam suara bising ditelingaku mulai menipis dan akupun tak sadarkan diri.
*****
Entah bagaimana gaya tidurku tadi, saat membuka mata aku mendapati diriku sedang tidur telentang dengan kaki sedikit ditekuk dan kepalaku berada di paha Edward.
Sejenak mataku menatap langit-langit mobil, lalu melirik ke arah ayah yang sedang fokus menyetir.
Dan terakhir aku melirik pada si pemilik paha, dia sedang asik dengan handphone ditangannya.
Saat nyawaku terkumpul aku segera bangun sebelum si dingin itu marah.
Aku kembali duduk dengan susah payah mencoba membenahi posisi.
"sudah bangun?."
Ibu bertanya padaku dengan buku tebal ditangannya, dia melirikku yang masih sibuk berbenah diri.
"sudah bu." Hhheeeee
Dengan senyum cengengesan ala anak 12 tahun yang ku tebar pada ibu.
Setelah aku duduk dengan benar aku baru sadar ternyata sinar matahari sudah mulai menyengat masuk lewat kaca mobil.
Ku lirik jam tangan berwarna pink yang berada di tangan putihku ternyata waktu sudah menunjukan pukul 10.00 siang, betapa kagetnya ternyata aku tidur cukup lama.
"kebo."
__ADS_1
Ujar si dingin yang sedang menatapku tanpa senyuman sedikitpun.
Akupun menjawabnya dengan gaya sombong ala Edward.
"semalam aku tidak bisa tidur."
Ujarku dengan sedikit penekanan.
Ayah tersenyum kecil melirik pada ibu, ibu membalas senyuman ayah lalu mereka tersenyum padaku dan Edward.
Melihat mereka tersenyum spontan akupun ikut tersenyum.
Kulihat Edward memalingkan wajahnya, aku rasa dia sedang menyembunyikan eksperesi angkuhnya itu yang di bawanya kemanapun.
Mobil berhenti di rest area dipinggir jalan, lalu ayah mengajak kami turun untuk beristirahat disana.
Aku bergegas turun lalu menggeliatkan punggungku dan sesekali berolahraga kecil untuk meluluruskan otot-otot yang tegang sepanjang perjalanan.
Ehh ternyata ayah, ibu dan Edwardpun melakukan hal yang sama.
Ibu mulai membuka bekal makanan yang dimasaknya pukul 2 pagi, ujar ibu.
Tapi untunglah makanannya tetap hangat karena berada didalam termos makanan.
Kami melahapnya dengan semangat, kami memang tidak sempat sarapan pagi tadi.
Tidak lama waktu yang kita pakai disana, ayah bilang perjalan masih panjang.
"OMG."
Aku mengeluh pada ayah, padahal sudah 6 jam kami menempuh perjalanan tapi ternyata itu hanya seperempat perjalanan terang ayah.
Lalu ibu menyuruhku dan Edward ke toilet sekarang jika ingin buang air, aku pun melakukannya begitu pun Edward yang menyusul setelahku.
Lalu ibu setelah selesai membereskan bekas makan kami, di ikuti ayah setelah mengecek setiap sudut mobil.
Kamipun melanjutkan perjalan, untunglah aku tidak mabuk perjalanan.
Kuambil sedikit demi sedikit puding anggur yang ibu berikan tadi pagi menggunakan sendok kecil, euuuummm rasanya enak sekali terasa segar ditenggorokanku.
Disaat aku menikmati setiap suapannya, imajinasiku mulai muncul kepermukaan.
Aku mengandai-andai jika Edward menjadi seorang kakak laki-laki yang ramah pada adik perempuannya.
Matakupun iseng melirik padanya yang masih saja sibuk dengan handphonenya.
Jari jemari panjangnya sibuk menyentuh layar hp, sepertinya sedang chatingan pikirku.
Aku terus menatapnya dengan penuh harapan karena aku merindukan sosok kakak laki-laki seperti dalam otakku.
"sudahlahh."
Aku segera memalingkan wajahku darinya lalu kembali memakan puding anggur ditanganku.
Sepanjang perjalanan kami lewati dengan tawa, sesekali ayah menanyai Edward dan dia menjawab seperlunya.
Empat jam berlalu, kami mulai masuk pada sebuah area perhutanan.
Disana berdiri dua orang penjaga di gerbang masuk, mereka menanyai ayah dengan berbagai pertanyaan.
Terutama mereka menekankan pertanyataan soal daerah yang kami tuju.
Dari raut wajah kedua pria berseragam satpam itu terlihat menyuruh ayah mengurungkan niatnya, aku memperhatikan seksama dari balik kaca mobil.
Setelah perdebatan sengit,ayahpun kembali kedalam mobil dan kembali melajukan mobilnya.
"bagaimana?." Tanya ibu.
"tak apa." Jawab ayah.
Semakin jauh mobil meninggalkan gerbang besar tadi, semakin dalam pula kami memasuki area hutan.
Awalnya seperti tempat wisata di pegunungan lalu setelah semakin jauh tempat itu semakin rimbun oleh pepohonan yang menjulang tinggi.
Pohon tinggi besar terlihat mengerumuni kami, mobil berjalan dijalanan setapak yang panjang.
Didepan sana terlihat gerbang besar tak jauh dari tempat mobil melaju, ayah kembali turun dari mobil saat tiba disana.
Sepertinya ayah meminta ijin pada penjaga, pria berseragam disana lebih banyak juga terdapat beberapa polisi hutan yang sedang sibuk mengelus senapannya.
Ayah mulai tertawa dengan salah satu polisi hutan, sepertinya mereka saling mengenal karena saling menanyakan kabar.
Mereka berbincang entah apa, tapi dari gestur tubuhnya terlihat sedang menikmati kebersamaan dengan teman akrab yang lama tidak bertemu.
__ADS_1
Tak lama ayah melirik ke arah mobil, sepertinya ayah sedang membicakan kami.
Suara ayah tidak terdengar jelas jadi aku hanya menebak saja dengan memperhatikan gerakan bibir ayah juga gestur tubuhnya.
Ayahpun berjalan menghampiri, ayah menyuruh kami untuk turun dengan membawa serta tas ransel.
"kenapa?."
Tanya ibu pada ayah yang masih berekspresi ceria.
Ayah tidak langsung menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir ibu, dia hanya tersenyum menunggu kami semua keluar dari mobil.
"malam ini kita akan menginap di vila milik teman ayah,lalu besok kembali melanjutkan perjalanan."
Ayah berkata pada kami bertiga dengan senyum manisnya yang selalu sukses menghipnotis ibu dan juga aku.
Kamipun menuruti perkataan ayah, lalu kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak berlapiskan krikil menuju ke vila milik teman ayah.
Jalanan itu benar-benar kecil kami berjalan beriringan karena memang hanya muat untuk satu orang.
Ayah berjalan didepanku, teman ayah menuntun kami untuk mengikutinya.
Mendengar tawa lepas ayah yang bercanda dengan temannya itu membuatku merasa sangat senang, ayah yang selalu ceria dimanapun dan kapanpun.
"sungguh kebalikan dari Edward."
Batinku kembali bergumam.
"sebenarnya dia begitu menurun dari siapa, apa dari ibunya?.."
"Tidak, aku rasa dia memang ingin jadi seorang yang berbeda dikeluarga."
Batinku tak henti bertanya dan menyimpulkan sesuka hati tentang keanehan Edward.
Begitulah isi otakku yang penuh dengan imajinasi dan hati yang polos ini perlu di isi dengan sejuta kebaikan.
Aku tersenyum masih menatap punggung ayah.
Saat itu disisi kanan dan kiri jalan hanya terdapat rumput liar yang tinggi dan penuh.
Sejauh mata memandang warna hijau menjadi satu-satunya warna yang menonjol.
Semakin jauh kami melangkah rumput liar disisi jalanan semakin berkurang, lalu sampailah kami didepan pagar kayu setinggi perut.
Kamipun seakan masuk kedunia yang berbeda, mata kami disuguhi oleh hamparan bunga berwarna warni dengan berbagai jenis juga terdapat sebuah kolam ikan yang cukup besar dengan banyak bunga teratai atasnya.
Terlihat beberapa ikan hias berenang mendekati permukaan sehingga warnanya memantul jelas dari balik air kolam.
Setelah mataku puas melihat-lihat persekitaran baru lah mataku melirik pada vila yang akan kami tempati malam ini, ternyata vila itu terbuat dari kayu dengan ruangan in door dan out door.
"cukup nyaman."
Batinku menyetujui susana vila yang masuk lewat pupil mata dan ditransfer ke otak.
Teman ayah mempersilahkan kami masuk dan memilih kamar, vila itu sangat besar dengan banyak kamar mungkin sekitar 10 atau lebih.
Aku mencoba menghitung setiap kamar yang aku lewati, akupun memilih salah satu kamar dilantai dua yang jendelanya langsung mengarah ke arah danau dibelakang vila.
Ibu membiarkanku memilih lebih dulu barulah ibu memutuskan memilih ruangan disebelah kamarku, dan kamar Edward entah dimana sepertinya dia sengaja memisahkan diri.
"aku sihh tak peduli, lebih jauh lebih baik."
Batinku sangat ketus padanya.
*****
Setelah dirasa cukup beristirahat, ibu mengetuk pintu kamarku mengajakku makan bersama dengan penghuni vila lainnya.
Kamipun makan siang dengan daging barbeque yang sudah disiapkan.
Sepertinya daging hasil berburu karena aku melihat sebuah kulit binatang yang masih segar menggantung diatas pagar.
Aku tak begitu berselera karena aku tidak tahu daging apa yang ada didalam piringku, rasa penasaran itu ku tumpahkan pada ibu dan ibu menjawab kalo itu daging sapi liar.
Akupun merasa lega karena kecurigaanku tidak nyata, sebelumnya aku berpikir ini daging b*** hutan seperti yang sering ku lihat dalam film orang yang tinggal dihutan memakan apa saja.
Acara makan dimulai dengan tawa riang dan berakhir dengan tawa juga.
Aku sedikit memperhatikan Edward yang tertawa palsu pada teman ayah.
"kalo ga niat ga usah ketawa."
Batinku mengumpat pada tawa pormalitasnya.
__ADS_1