Edward Is A Devil

Edward Is A Devil
Bab 4


__ADS_3

Kamipun segera kembali menuju kamar, hanya aku dan Edward sedangkan ibu dan ayah masih asik mengobrol dengan tuan rumah.


Tak ada satu katapun yang terlontar dari bibir kami hanya ada suara detak sepatu dilantai seiring langkah kecilku dan langkah serakahnya.


Arah kamar kami berbeda jadi kami berpisah dipersimpangan lorong vila, aku bergidik tak peduli segera ku langkahkan kaki ke arah yang lain.


Udara segar menyeruak masuk lewat jendela kamarku, kulihat danau bening yang terletak tak jauh dari bawah balkon kamarku.


Untuk beberapa menit mataku dimanjakan oleh pantulan air dibawah sinar sang surya yang mulai bertolak.


Karena amunisi perutku sudah terisi penuh ,akupun tak sadarkan diri setelah menguap beberapa kali.


*****


Lolongan anjing liar membangunkanku dari dunia fantasi, aku mengerjap-ngerjapkan mata kulihat cahaya lampu neon menerjang tepat kedalam mataku.


Ku kucek mata menggunakan kedua punggung tangan lalu duduk dengan malas.


Senyap-senyap terdengar suara gemericik air dari arah danau, anak seusiaku ini penuh dengan rasa penasaran dan hal itu muncul kepermukaan.


Kubuka tirai jendela dengan perlahan lebih terkesan mengintip ,dan ternyata ada seseorang yang sedang berdiri dipinggir danau dengan kepala sapi ditangannya.


Kuperhatikan secara seksama karena disana gelap jadi tak begitu jelas hanya cahaya bulan sebagai penerangan.


Seseorang itupun menoleh ke arahku dengan tatapan sinis yang selalu ku kenal.


"ternyata itu Edward."


Umpatku kesal, bukan hanya soal tatapan matanya tapi dia juga menyeringai kearahku.


BEYUURRRRRR


Edward melempar kepala sapi tersebut ke tengah danau lemparannya sangat kuat, dan seakan dia merasa puas dengan semua itu.


Tak lama air danau yang bening itu berubah menjadi merah semakin lama warna nya semakin melebar.


Kepala sapi itu bergerak tak tentu arah dan kulihat semakin lama kepala sapi itu semakin terkoyak hingga menjadi potongan-potongan kecil mengambang dipermukaan.


Betapa kagetnya setelah aku tahu kebenaran dari adegan sadis tersebut.


"i,,, i,, ikan piranha???????!!."


Mulutku menganga dengan lebar, mataku terbelalak.


Rasanya sulit menerima kenyataan, ini seperti sebuah ilusi bagiku.


Karena penasaran aku mencubit tangan kiriku dengan kencang.


"auwwww."


Ternyata aku sangat kesakitan, itu menjadi bukti bahwa apa yang aku lihat nyata.


Kulirik kembali Edward yang masih berdiri membelakangi, selang beberapa detik dia kembali menoleh ke arahku dengan senyum menyeringai yang lebih seram dari sebelumnya.


Segera kututup rapat tirai itu, lalu kujatuhkan tubuhku diatas ranjang, ku tarik selimut hingga membalut kepala hingga kakiku.

__ADS_1


Tubuhku masih bergetar ketakukutan dan aku mulai mengigil, udara terasa amat dingin malam itu.


Pikiranku buyar berlarian, aku sungguh tak bisa menerima perbuatan Edward tadi sehingga aku tidak bisa memikirkan apapun selain senyum terakhirnya itu.


Aku bergidik ngeri dan mengandai-andai


"bagaimana jika aku yang di lempar?."


Sungguh kekalutan malam itu menyelimuti pikiran remajaku, hingga aku sama sekali tak bisa memejamkan mata dengan tenang.


Bagaimana jika dia melemparku?, hanya itu yang terus berkecamuk hingga beberapa jam lamanya.


Hingga akupun kembali tak mengingat apapun.


*****


Ketika aku membuka mata, aku segera memeriksa satu persatu bagian tubuhku.


Aku mengabsennya dari atas sampai bawah, tanganku tak henti-hentinya bergerak.


Betapa leganya ternyata aku masih hidup dan tubuhku masih sangat lengkap, baru lah saat itu aku bisa bernapas dengan lega menghirup udara segar pagi ini.


Tokk Tokkk


Suara ketukan pintu berhasil membuat jantungku kembali melonjak, aku terdiam untuk beberapa saat memandangi ke arah pintu kamarku, lalu beranjak dari tempat tidur dengan sangat hati-hati agar tidak membuat suara.


Kuhampiri pintu walau jantungku berdetak kencang tak karuan.


"Stepany."


Aku memutar kunci dengan kasar dan membuka pintu dengan cepat, segera ku panggil "ibu" dan ku peluk erat.


Sepertinya saat itu ibu kebingungan melihat sikapku, karena dia menayai kabarku.


Aku hanya terseyum mendongak ke arah wajahnya yang sejuk dan cantik.


Ibu mengeryitkan dahinya melihat tingkahku.


*****


Sejak pagi tadi aku tidak melihat Edward, aku sangat bersyukur.


Jika mengingat sikapnya tadi malam, rasanya seperti adegan dalam film horor.


"ehh tidak, tapi lebih ke film pembantaian".


Aku melamun sendiri dihalaman depan vila, sekarang keberanianku untuk menatap danau telah sirna, padahal kemarin sebelum tidur aku bermaksud berdiri disisi danau sambil melempar krikil.


Niat itu ku urungkan hari ini dan tidak akan pernah.


Aku masih bergidik ngeri rasanya bulu roma ku semakin berdiri setelah ku putar ulang kejadian kemarin.


Aku menepuk-menepuk kepala menggunakan kedua tangan, ingin rasanya menyngkirkan ingatan tadi malam.


"heh boncel."

__ADS_1


Saat aku sedang duduk manis di tengah hamparan bunga, seseorang memanggilku dari belakang.


Aku mengenal suara itu, aku menoleh dengan berat hati rasanya leherku sulit untuk memutar.


"masih mau dekat-dekat danau?."


Aku terkejut, jantungku seolah berhenti di detik itu juga.


"bagaimana dia tahu aku ingin kesana?".


Batinku yang ketakutan, membuat seluruh tubuhku lunglai dan wajahku menjadi sepucat mayat.


Aku menelan ludah cepat, sehingga aku tersedak dan batuk tak karuan.


Hingga akhirnya ku beranikan diri menoleh ke belakang, kulihat Edward sudah pergi jauh meninggalkanku.


Barulah aku bisa menghela napas lega, sejak tadi malam tingkahnya sukses membuatku ketakutan sengah mati.


Aku tidak membayangkan saat tiba di rumah nenek, ayah bilang kami akan melewati hutan yang belum terjamah manusia, lalu bagaimana kondisi perkampungan disana?."


Pikiranku kalang kabut, terus saja pikiran negatif yang menyerang berhamburan memenuhi isi kepalaku.


Sebal rasanya, "semua gara-gara Edward".


Batinku kembali sesumbar pada sosoknya yang dingin dan misterius.


*****


Kamipun kembali melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya berpamitan pada seluruh penghuni vila.


Mobil ayah kembali melaju menyusuri area perhutanan, semakin dalam satwa liar semakin banyak dijumpai.


Karena pepohonan yang rimbun dan menjulang tinggi membuat udara menjadi lembab.


Sinar matahari hanya masuk lewat sela-sela dedaunan.


Bisa kulihat ular sebesar lenganku menggelantung di atas ranting pohon yang besar.


Aku tidak pernah berpikir akan membuka kaca jendela mobil karena itu pasti akan menyebabkan hal yang sangat buruk.


Ibu terlihat menikmati perjalanannya, mungkin karena ibu akan bertemu dengan sanak saudaranya pikirku.


Aku terus memperhatikan keadaan alam liar dari balik kaca mobil berwarna gelap, sedikit mengerikan tapi tercipta rasa damai.


Ku dengar suara burung berkicau saling membalas, suaranya merdu sekali.


Aku mendongak ke atas, ternyata di atas pohon yang tinggi terdapat banyak sekali sarang burung bertengger, juga terdapat beberapa burung terbang mondar mandir.


Sekejap rasa takutku hilang terbawa oleh kumpulan burung tersebut.


Ternyata sejak tadi ayah memperhatikan tingkahku, sehingga dia menghentikan mobilnya sejenak agar aku bisa menikmati pemandangan alam yang tidak kutemui di kota.


# halo.. salam author..


Terimakasih ya sudah membaca karyaku, tetap saling menyemangati ya.. 🤗

__ADS_1


__ADS_2