Employer Is My Ex

Employer Is My Ex
Marah Besar


__ADS_3

"Oh ngk kok tante " jawab Rozi singkat.


" kalo ada masalah, cerita aja sini, tante siap membantu, " lanjut ibu Rose sambil mengajak duduk disofa,  Rose dan Rozi duduk megiyakan, disusul oleh Fadil yang sengaja keluar kamar dan ikut duduk bersama mereka.


" aku minta maaf tante, " ujar Rozi sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap wanita paruh baya yag duduk dihadapanya itu, ibu rose mengerutkan kening heran.


" maksudnya, minta maaf buat apa nak, kamu kan ngak ada salah sama tante, atau karena kemaren tante marahi kamu sama Fadil karena pulang pagi " jawab ibu Rose menebak.


" bukan tante "


" lalu minta maaf buat apa." tanya nya heran, Rozi menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum bicara


" aku minta maaf karena, karena, aku, aku ngak sengaja ngehamilin Rose tante " jelas Rozi terbata bata  dengan suara gemetar dan masih belum berani mengangkat kepala untuk menatap.


" apa kamu bilang, ha...?...hamil..?, kamu, becanda kan nak " tanya ibu rose memastikan dan masih belum percaya.


" aku tidak becanda tante, Rose sedang mengandung anakku sekarang " jelas Rozi sekali lagi, ibu Rose kaget dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena kaget, tangisnya pecah saat itu juga.


" aku yang salah tante, aku yang memaksa Rose, kalian jangan membenci rose, kalian benci saja padaku" lanjut Rozi.


" apah...? maksud kamu apa Rozi, dia itu adikku, dan kamu sahabatku, bagaimana mungkin kamu menghamili dia " berang Fadil yang ikut emosi.


" iya, aku salah Fadil, aku minta maaf, aku bakalan tanggung jawab"


" apa kamu bilang, tanggung jawab,  " amarah Fadil tidak bisa dibendung lagi, dia menarik kerah baju Rozi dan menyeretnya keluar dari sofa kedepan televisi.


brukk...bruk....


Dua tinjuan mendarat  secara bergantian dipipi kanan  dan kiri Rozi, Rose mencoba menolong calon suaminya yang terpental kelantai dan merintih kesakitan. namun, baru saja ia mencoba mendekat Fadil langsung mencegatnya.


" jangan mendekat atau kamu bakalan bernasip sama, andaikan saja kamu berani memberontak saat diajak berhubungan badan oleh dia, pasti kamu ngak bakalan hamil seperti ini " bentak Fadil yang sedang emosi tinggi, Rose mundur tiga langkah menjauh.


" kalian berdua, harus dapat pelajaran, besok, kalian berdua harus dinikahkan, dan ingat, setelah kalian menikah jangan pernah melangkah kan kaki lagi kesini, karena sekarang bagiku, kalian lebih kotor dari seekor babi "  bentak Fadil kasar.


" tidak, Rose masih kecil, anak itu harus di gugurkan, Rose tidak akan sanggup hamil dan melahirkan diusia semuda itu " tambah ibunya membantah suruhan Fadil.


"buk, yang mengatur disini aku, semenjak ayah ngak ada, aku yang mengatur keluarga ini, jadi aku bakalan melakukan yang terbaik buat keluarga ini, kalau mereka berani berbuat itu, maka meraka harus membayar akibatnya, usia 18 tahun sudah cukup dewasa untuk melahirkan, jadi ibu ngak usah khawatir soal kesehatan Rose " balas Fadil tak ingin dibantah.


" tapi Fadil, ibu khawatir sama Rose, dia masih sekolah, dari pada kita malu juga, mending anak itu digugurkan saja" ujar ibu Rose tak mau kalah.

__ADS_1


" Rose udah besar buk, dia sudah punya otak buat mikir, harusnya sebelum melakukan itu, dia sudah tau akibatnya, anak itu tidak boleh digugurkan, yang seharusnya diggurkan itu, mereka berdua, anak itu punya hak untuk terlahir kedunia ini, biarkan saja kita malu, asalkan mereka menikah." balas fadil tak ingin dilanggar,


Melihat emosi fadil yang semakin memuncak, Rozi berdiri dan menarik tangan rose keluar, rose yang masih polos hanya mengikut pasrah.


" Rose, jangan pergi nak, gugurkan saja anak itu, kalau kamu sampe melahirkan anak itu, ibu tidak mau lagi punya anak sepertimu " ucap ibu Rose setengah teriak, Rose melihat sekilas kebelakang, rasanya ingin kembali dan menuruti permintaan ibunya, tapi tangan Rozi terlalu keras menggengam pergelangan tanganya, sehingga ia susah untuk lepasnya.


" kamu gila ya, mau menuruti ibumu menggugurkan kandungan itu, kalau misalnya kamu yang digugurkan saat dikandung, bagaimana perasaanmu " berang Rozi pada Rose yang berusa memberontak.


" tapi bang, kasian ibuku, diam pasti sangat terpukul " balas Rose merasa iba.


" aku tidak akan membiarkan kamu membunuh anak kita, sekarang kita kerumahku, besok kita kesini lagi pas mau nikah " ujar Rozi kemudian memaksa Rose naik keatas motornya, denga berat hati dia pun menurut,  Rozi memutar pedal gas dan cepat cepat meningkalkan rumah rose.


hiks..hiks...


Suara tangisan rose membuat orang orang yang berlalu lalang membulatkan mata melihat mereka, baik itu pengendara yang lain atau pejalan kaki, melihat rose yang tidak berhenti menangis, Rozi merasa iba, dia memutar gas semakin kuat dan menyetir gila gilaan di jalan raya,  sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai, motor Rozi berhenti di halaman bagian samping rumahnya dan parkir disana, lalu mereka turun dan masuk rumah,


Rose berjalan sangat lambat seperti manusia tak niat hidup, Rozi yang berjalan 3 langkah didepanya berbalik dan menggendong Rose masuk kekamarnya.


" kamu istirahat disini, aku keluar sebentar" ucap rozi yang baru saja merebahkan tubuh Rose diatas kasur.


" kamu mau kemana bang..?"


" kalau orang tuamu datang, aku bilang apa bang " tanya Rose khawatir.


"  mamaku lagi dibandara menjemput ayahku, kemungkinan mereka akan pulang malam, kamu tenang aja, sebelum sore, aku sudah balek kesini kok"  jelas Rozi, kemudian berlalu pergi,Rose menatap punggung calon suaminya yang berjalan kepintu.


" aku akan mengunci pintu dari luar, biar kamu ngak bisa kemana mana, kalo butuh sesuatu, atau pengen sesuatu, kabari saja aku, aku pasti bakalan segera datang " ujar rozi yang sudah sampai kepintu kemudian menutup dan mengunci kamarnya. Rose menghembuskan nafas kasar dan kembali merebahkan badanya dikasur Rozi yang menurutnya begitu nyaman.


***


Rose terbangun dan kaget melihat bajunya sudah berganti dengan piama warna ping, dia menatap sekeliling dan tidak ada siapa siapa disana, sejenak iya melirik jam digital yang ada dimeja disamping kasur, jam  22: 30, Rose tertidur kurang lebih tujuh jam.


" hai sayang, udah bangun," ujar Rozi yang tiba tiba masuk., rose ketakutan setengah mati mengira yang datang itu adalah orang tua Rozi.


" ihh abng nih, bikin kaget aja deh, lain kali kalo mau masuk itu ketok pintu dulu, biar orang ngak kaget " berang rose yang jantungnya serasa mau loncat dari tempatnya.


" iya, maaf sayang, nih, aku sudah siapin bubur ayam buat kamu, biar kamu sama anak kita sehat , dimakan ya " ucap Rozi sambil membawakan semangkok bubur ayam kemudian duduk di pinggir ranjang.


" sini aku suapin, aaaaaaaakkkkkk" seru Rozi sambil mengulurkan sesendok bubur ayam ke mulut rose, baru saja dua suapan mendarat di lambung Rose, dia sudah mual mual parah, dengan sigap Rozi berlari kekamar mandi mengambil ember kecil agar calon istrinya tidak muntah dilantai,

__ADS_1


Rose terus uek uek namun tidak ada muntah yang keluar, Rozi terus memijat lembut punggung leher Rose yang memasukan setengah kepalanya kedalam ember, baru kali ini rose merasa kehilangan selera makan yang berlebihan dan membuat ia memuntahkan apa pun yang masuk kemulutnya.


" jangan dimuntahin sayang,  dimakan dong, biar kamu ada energi " lirih rozi membuat rose mengangkat kepalanya dan melirik tajam kearahnya.


" kenapa kok natapnya kayak gitu"


" karena yang hamil itu bukan kamu bang, coba kamu yang hamil, biar kamu tau rasanya" berang rose yang sedang menahan rasa pusing dan mual.


" kan aku cowok sayang, aku berbiji dan  aku ngak punya rahim, kayak mana mau hamil " jawab rozi lirih diakhiri dengan tertawa kecil mengejek, Rose yang kezal memalingkan wajahnya kesamping tak ingin menatap, sedetik kemudian Rozi memegang kepala bagian belakang Rose, memutarnya hingga Rose menatapnya kembali,


Dengan agresip rozi ******* bibir rose, jelas itu adalah permen padat favoritnya, rose menangkis  ciuman itu dengan mantap, sesekali Rose menggit bibir calon suaminya itu,  rozi yang bahagia perlahan lahan  merebahkan tubuh rose hingga ia menindihnya, tangan kanan rozi terus bergerak liar meraba sana sini hingga terpusat di bagian inti hutan blantara Rose,


" ahhh..,ahhhh, " desah Rose dengan bibir sedikit terbuka saat Rozi memainkan dua jarinya keluar masuk di lubang inti Rose, satu persatu kacing baju Rose dibuka oleh Rozi, dua gumpalan gunung kembar terpampang indah di depan Rozi.


Tanpa aba aba, Rozi mengkulum dengan rakus ujung gunung kembar itu, sementara satu tangannya masih sibuk menggerakkan jarinya keluar masuk kedalam lubang inti.


"ahh, ahh.. "


Desah Rose yang sedikit mengeras, Rozi kemudian mengangkat kepalanya dan menatap wajah Rose yang memperlihatkan ekpresi wajah menikmati. Rozi yang tidak tahan melihat bibir Rose yang sedikit terbuka langsung ********** kembali.


TOK....TOK....


Keduanya refleks melepaskan ciuman saat mendengar suara ketukan itu, dengan buru buru Rozi bangkit dan menyuruh Rose memperbaiki bajunya, dengan langkah berat Rozi keluar kamar dan berniat membukakan pintu, rasa gemetar membuat jantung Rozi berdebar sangat kencang, dia sudah bisa menebak kalau yang datang itu adalah orangtuanya.


" haiii sayang, mama sama papa pulang " seru seorang wanita yang masih cukup muda saat Rozi baru membukakan pintu untuknya.


" ehh mama, papa, kok pulangnya lama bangat " jawab Rozi berusaha menutupi kegugupan.


" iya nak, mama sama papa tadi mampir dulu dirumah oom kamu yang didekat bandara itu, soalnya mama udah kangen bangat sama keponakan mama si Tari, sekarang dia udah besar dan cantik bangat lo,mama  sama papa berniat jodohin kamu sama dia " jelas mama rozi dengan nada ceria sembari masuk dan duduk disofa, disusul oleh rozi yang ikut duduk.


" aku ngak mau di jodoh jodohin ma, aku maunya nikah sama  pilihan aku sendiri, apalagikan siTari itu sepupu aku juga " jawab rozi sambil berlagak aneh, jelas dia berlagak aneh, karena besok dia harus menikahi Rose sementara orang tuanya malah menjodoh kannya.


" kok kamu agak berbeda ya mama liat, tidak seperti biasanya, jangan jangan ada yang kamu sembunyikan dari mama " tanya mama Rozi sedikit heran.


" ooh ngak kok ma, aku cuman ngak enak badan aja "  jawab rozi mengelak, sekarang Rozi sangat  kebingungan harus bagaimana menjelaskan tentang perihal kehamilan Rose, di satu sisi sebenarnya  ia tidak ingin mengatakan sekarang karena iba dengan orang tuanya yang masih keliatan sangat capek sehabis perjalanan jauh, disisi lain, jika ia tidak mengatakanya sekarang, bagaimana ia bisa melangsungkan akat nikah besok, kalo masih ditunda, keluarga rose pasti akan tambah marah.


" siapa yang datang bang..." tanya rose yang tiba tiba keluar kamar dan membuat suasana seketila menjadi hening, tiga pasang bola mata menatap tajam kearahnya , Rose yang shok dan kaget berdiri mematung di depan pintu kamar tak berani berkutik, jantungnya serasa berdetak seratus kali lipat lebih kencang dari biasanya, sukur saja rose tidak ngompol dicelana


" harusnya tadi aku ngintip dulu jangan asal keluar aja,....duhh, bodohnya aku " gumama Rose dalam hati namun sudah terlambat.

__ADS_1


__ADS_2