Employer Is My Ex

Employer Is My Ex
Akad


__ADS_3

"Dia siapa Rozi..?" tanya papa dan mama Rozi hampir bersaaman, Rozi yang bingung tidak tau berkata apa, bibirnya hanya mangap mangap seolah olah ia mendadak bisu.


" Dia siapa Rozi..!?,kenapa dia keluar dari kamar kamu" tanya ibu Rozi sekali lagi dengan nada setengah teriak, rozi yang gemetaran bangkit dan mengajak rose yang masih mematung ikut duduk disofa, dengan langkah ragu Rose duduk pasrah,


Rose menunduk tak berani menatap wajah calon mertuanya yang duduk berseberangan denganya, Rose hanya bisa pasrah untuk apa yang akan terjadi selanjutnya, entah orang tua Rozi menerimanya di keluarga itu, atau justru sebaliknya.


" mah, pah, kalian tenang dulu aku bisa jelasin," ujar Rozi berusaha menenangkan orangtuanya,


" ok, sekarang mama udah tenang coba jelasin "  balas mama Rozi yang pura pura tenang, Rozi menarik nafas panjang dan menghembuskanya kasar, dia sedang mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan .


" ma, pah, aku minta maaf bangat sama kalain, aku udah buat kalian kecewa, ini adalah Rose calon istriku "  jelas rozi masih dengan suara gemetar,


" apa,kamu bilang...?, calon istri.....!!, ngak usah ngadi ngadi lah, kamu  ini udah mau wisuda kampus sebentar lagi mau ujian "  jawab mamanya masih tak percaya.


" aku ngak sengaja ngehamilin dia ma, pah, sekarang dia sedang hamil, dan aku harus menanggung jawabinya" jelas Rozi sekali lagi,


" ha..? Bagaimana bisa kamu ngehamilin anak orang nak...!" ujar ibu rozi sebari menutup mulut dengan keduan telapak tanganya, tangisan mama Rozi pecah saat itu juga.


" kamu punya otak ngak sih buat ngomong itu, kalau aku punya penyakit jantung, mungkin sudah mati mendadak aku sekarang", berang ayah Rozi yang mulai emosi.


" maafin aku pah " mohon Rozi lirih.


" kata maaf mu itu tidak berarti lagi untuk saat ini, mama sama papa benar  benar kecewa sama kamu,siang malam kami bekerja dengan susah payah menabung banyak uang agar kamu bisa menyelesaikan kuliah mu, dan  bisa membeli semua kemauan mu, tapi apa yang kami dapatkan sekarang, kamu malah membuat ulah menghamili anak orang"


Rozi hanya bisa menunduk kan kepala tak berani menatap wajah papanya, baru kali ini dia melihat orangtuanya semarah itu.


" aku minta maaf ayah, aku janji tidak akan mengecewakan kalian lagi " mohon Rozi untuk sekian kalinya.


" sudahlah, mama sama papa tidak mau ikut campur, kalo kamu ingin menikahi dia, urus saja sendiri...!, ayo ma, kita kekamar, ngak usah pikirkan lagi anak ngak ada otak ini " lanjut papa Rozi sembari menggandeng tangan mamanya berjalan menuju kamar.


" ma..pa...aku minta maaf " teriak Rozi namun tidak direspon orang tunya lagi.


" ahhhhh......memang aku anak bodoh, bisanya cuman menjadi beban " Rozi mengacak rambutnya kasar sambil memaki dirinya sendiri, Rose yang melihat mendekat dan mengandengan sebelah tangan calon suaminya itu, Rozi yang menunduk mengankat kepalanya dan menoleh kesamping menatap mata calon istrinya.


" maafin aku ya bang " ucap Rose sedikit berbisik,


" maaf buat apa sayang, kamu kan ngak salah, aku yang salah, justru kamu yang jadi korban disini " ujar Rozi dengan lembut sambil membelai halus rambut calon istrinya.


" yuk kita tidur, kamu ngak usah memikirkan hal ini, biar aku saja yang mengurusnya, nanti kesehatan anak kita terganggu kalau kamu banyak pikiran " lanjur Rozi, kemudian keduanya sama sama bangkit dan pergi ke kamar.


***


Suara dering handphone berbunyi nyaring menjadi alarm pagi bagi Rose, dengan mata yang masih tertutup, Rose maraba raba mengambil handphone nya yang ada diatas meja, ia membuka sedikit matanya mengintip layar awal siapa yang menelpon  pagi pagi, 65 panggilan tak terjawab, rasa ngantuk yang masih sangat berat dimata rose seketika  hilang, dia duduk dan melihat siapa yang menelpon, ada 65 panggilan tak terjawab dari Fadil dan beberapa chat yang belum dibuka, Rose buru buru membuka whatsapp dan melihat isi chat itu.

__ADS_1


Abang fadil Tayong : udah jam 10 pagi  kalian masih belum datang juga, niat mau dinikahkan ngak sih, penghulu sudah menunggu dari tadi, sesekali  otaknya itu dipake ya.


Ibuku cantik : kamu ngak usah datang, ngak usah nikah dulu, gugurkan saja anak itu, kalau ngak jangan panggil aku ibu lagi,  jangan bodoh deh kamu, masih muda udah mau jadi  ibu ibu,


Rose menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, pagi harinya disambut dengan kata kata yang memakan hati, tapi Rose tidak punya waktu untuk bersedih, dia dan Rozi harus segera kesana, buru buru rose membangunkan Rozi,


Messkipun ibunya menyuruh untuk tidak datang dan menggurkan anak itu, Rose akan tetap melangsungkan pernikahan dan memilih melahirkan anak itu,


" bang, bang, bangun, ini kita udah kesiangan, bang Fadil udah marah marah," ucap rose sembari menepuk nepuk pelan pipi rozi, bukanya bangun, rozi malah menarik rose dan membekap rose kedalam pelukannya.


" bang, aduh, ayok, kita harus pergi, penghulunya sudah menunggu " jelas Rose dan terus memberontak melepaskan pelukan itu, handphone rose berdering lagi dan dia langsung mengangkatnya.


" kamu ini kemana sih, masih punya otak ngak sih kamu, udah jam segini belum datang, kamu yang bikin masalah, orang yang susah " teriak seorang pria yang berada di seberang telpon.


" iya bang, ini kami udah...." Rose belum selesai menjawab, telpon itu sudah dimatikan secara sepihak oleh Fadil.


" siapa sayang " tanya Rozi yang tiba tiba bangun karena mendengar teriakan fadil dari handpone.


" bang fadil marah marah bang, semuanya sudah siap, tapi kita masih disini" jelas Rose dengan mata berkaca kaca.


" aduh, harusnya kita memasang alarm biar ngak kesiangan begini " rilih rozi sambil menampar kening dengan telapak tangannya.


" abng sih, dari tadi dibanguni, malah ngak mau bangun, " pekik rose menyalahkan.


" yaudah kalo gitu, kita berangkat sekarang, jangan berlama lama lagi "  balas rose, keduanya  bangkit bersamaan dan bergegas kekamar mandi  secara bergantian, lima belas menit kemudian mereka berdua sudah selesai berberes dan tinggal berangkat, rose hanya memakain stylean celana jeans dan atasan baju polos, pakainya sederhana saja karena nanti pas dirumahnya akan diganti juga dengan baju akad yang sudah disediakan sebelumnya, begitupun dengan Rozi, dia hanya memakai celana jeans dan atasan hoody.


Sebelum berangkat, mereka berpamitan pada orang tua Rozi  yang sedang sarapan pagi dimeja makan, Rose menelan salivanya ngiler melihat  makanan yang kelihatan sangat enak karena  sejak kemaren, belum ada  makanan yang bertahan dilambung Rose karena memang dia benar benar kehilangan selera makan,


" ya alloh, aku lapar sekali, andaikan calon mertuaku itu, mengajak kami makan bersama" gumam Rose dalam hati dengan tatapan yang masih berpusat pada makanan itu.


" kalian makan dulu sebelum berangkat,..?" ujar mama Rozi singkat, semarah apapun mama Rozi padanya, pasti  seorang orangtua  akan tetap memperhatikan kesehatan anaknya, Rose membulatkan matanya mendengar ajakan itu, serasa doanya barusan langsung dikabulkan, tanpa ragu, Rose dan Rozi duduk bersampingan dimeja makan, kemudian menyantap makanan yang dimasak oleh mama Rozi dengan lahap.


" mama sama papa ngak niat ikut ya ke perkawinanku " tanya Rozi dengan suara memalas,


" ngak " jawab ibu rozi singkat dengan nada datar namun cukup menusuk.


" papa kan sudah bilang sama kamu, kalo papa sama mama, tidak mau ikut campur dengan urusan ini, kalo soal biaya mungkin papa sama mama akan bantu, tapi untuk menghadiri akad nikah kamu,  kami tidak mau ikut campur" jelas ayah Rozi menambahi. 


 Rozi membatin mendengar itu, tapi dia tidak bisa menyalahkan siapapun kecuali diri sendiri, buru buru Rozi menghabiskan makananya dan segera pergi,  lima menit kemudian setelah selesai makan, mereka pun pamit pergi, Rozi menyalam dan mencium punggung tangan mama dan papanya, disusul dengan Rose yang ikut menyalam, namun uluran tangan Rose tidak dibalas oleh calon mertuanya, Rose terpaksa menarik kembali tanganya, lalu  ia berbalik badan dan pergi.


" kamu jangan masukin ke hati ya sikap orangtuaku, mereka aslinya bukan begitu kok, cuman lagi marah aja sekarang " ucap Rozi membujuk, Rose hanya tersenyum paksa mengiyakan,


***

__ADS_1


"ASSALAMUALAIKUM semua, maaf kami telat "


Baru saja masuk kedalam rumah, orang orang yang duduk menanti langsung melemparkan tatapan tajam kearah Rose dan Rozi, dengan langkah gemetar, mereka berdua ikut bergabung dan duduk bersila dilantai yang sudah dikasih tikar,


" lama sekali kalian, kami capek menunggu dari tadi" berang seorang wanita yang merupakan bibinya Rose, acara itu hanya dihadiri oleh beberapa keluarga dekat keluarga Rose, dan dilakukan secara diam diam didalam rumah.


" cepat masuk sini, ganti baju kalian, bukannya langsung kesini ganti baju, malah duduk dulu" teriak sepupu Rose yang hanya menongolkan kepalanya saja dari pintu kamar, Rose dan rozi yang baru mendudukkan pantatnya langsung bangkit dan menuju kamar.


" nih, pake, ini yang paling simple biar cepat, soalnya kalian telat datang, membuat orang orang lama menunggu " ucap sepupu Rose sembari mengulurkan kebaya putih dan celana yang sepasang dengan jas, setelah selesai menganti baju dan memakai sedikit make up, mereka pun beranjak keruang tamu untuk melangsungkan akad.


" saya terima nikah dan kawinya dengan mahar tersebut dibayar tunai"


" bagaimana para saksi..?"


" sahhh...." seru semua saksi setelah selesai mengucapkan ijab kobul. Rose menoleh ke kanan  menyalam punggung tangan Rozi lalu tersenyum manis,dibalas dengan rozi yang mencium kening Rose, setelah semuanya selesai, mereka pun saling salam menyalam, keluarga besar Rose tidaklah terlalu memperdulikan mereka, semuanya kembali sibuk dengan urusan masing masing setelah acara salam menyalam selesai.


" kenapa orang tuamu tidak datang..?" tanya Fadil dengan muka memalas


" aaa..mereka, mereka lagi sibuk kerja dil, makanya ngak sempat datang" jawab Rozi berbohong.


" haalah, bilang aja kalau mereka malas datang karena malu, masa anak kandung nikah ngak datang sih" tambah ibu Rose yang tiba tiba ikut duduk diatas tikar bersama mereka.


" ngak buk, bukan gitu, mereka memang lagi ada kerjaan penting, jadi ngak bisa datang " jelaas Rozi sekali lagi.


Setelah beberapa jam berlalu, Rose dan Rozi beranjak pulang, fadil yang  tidak menginginkan keberadaan mereka disitu mengusir dengan kasar, Fadil juga menekankan pada mereka terutama pada Rose, untuk tidak menginjakkan kaki lagi kerumah itu,


Rose yang merasa terpukul dengan perkataan ibu dan abangnya menangis tak bersuara, semenjak dari awal mereka memang  sudah diperlakukan tidak baik oleh keluarga Rose, Rozi yang tidak tahan dengan itu tidak bisa lagi membendung emosi, amarahnya pecah saat itu juga, dia mengambil apapun yang bisa dijangkau nya kemudian membandingkan nya.


" emang dasar manusia ngak punya otak kalian,  bagaimana pun Rose itu keluarga kalian, ini juga rumah dia, jadi dia berhak datang kesini kapanpun yang dia mau...!" berang Rozi yang berdiri di depan Fadil dan mertuanya dengan suara kasar, Fadil yang sedari tadi sudah melemparkan tatapan tajam pada Rozi ikut berdiri dan sekarang keduanya  berdiri berhadapan hadapan.


" itu bukan urusan kamu, dari kemaren aku dan ibu sudah sepakat, kalau kalian sudah nikah, jangan lagi datang kesini, karena kalian bukan keluarga kami, rumah ini tidak mau menampung sepasang babi kayak kalian" balas Fadil dengan suara santai tapi menusuk,


Mendengar itu Rozi benar benar tak tahan, dia melayangkan tiga pukulan di pipi Fadil, tak mau kalah, Fadil juga membalas pukulan itu,  keduanya saling balas membalas pukulan, menghancurkan apapun yang berada di arena mereka, orang orang yang belum pulang berusaha memisahkan, Rose yang tadinya menangis tak bersuara kini menangis dengan histeris melihat abang dan suaminya adu mekanik secara membabi buta., bukannya ikut memisahkan,  ibu Rose malah membisikkan kata kata yang membuat Rose tambah  sakit hati.


" tinggalkan saja suami mu, gugurkan anak itu " bisik ibu rose disela sela keributan


"Ngak" jawab rose yang masih menangis dengan singkat.


" ok, baiklah kalau kamu tidak mau, ibu tidak akan pernah menganggap mu sebagai anak lagi" balas ibunya tak berpikir dulu.


Melihat abang dan suaminya belum bisa dipisahkan, Rose akhirnya bangkit dan mencoba memisahkan.


" hentikan..............!!" teriak rose dengan suara memenuhi ruangan membuat semua orang dirumah itu menutup telinga, bahkan tetangga sebelah pun mungkin ikut tutup telinga, baru setelah itu dua pria yang dibalut emosi itu bisa dipisahkan, Rose berjalan dengan langkah berat kearah suaminya, dia mengulurkan tangan memegang wajah suaminya yang sudah penuh dengan bekas luka tonjok dan hidung yang mengeluarkan banyak darah, dengan sigap Rose segera mencari tisu dan kotak p3k mini, melihat Rose yang lebih perhatian kepada Rozi dibanding dirinya, yang lukanya hampir sama, emosi Fadil kembali membara, segera ia ingin mendaratkan pukulan lagi pada Rozi namun langsung dicegat oleh ibunya,

__ADS_1


" pergi kalian sekarang juga dari sini, pergi......, dan jangan pernah balik lagi" teriak Fadil dengan kasar, Rozi menarik tangan Rose yang sedang sibuk mengobati lukanya, kemudian keluar dari rumah itu tanpa menghiraukan lagi rasa sakitnya.


__ADS_2