
"Fan, inget gue?" Bisik seorang cowok tepat di telinga Fani. Fani terperanjat kaget dan hampir terjatuh. Tapi dengan sigap tangan cowok tadi melingkar di pinggang kecil Fani, Fani kembali berdiri tegak. Menengok ke sumber suara. Fani kaget untuk kedua kalinya. Cowok yang membisikinya tadi adalah Arga, cowok yang Fani sukai!
Rambut Fani yang tergerai sebahu tertiup angin malam. Udara terasa begitu dingin. Fani mengusap-usap tangannya yang tak memakai lengan panjang. Fani hanya memakai kaos oblong lengan pendek dan celana jeans high waist. Mata Fani memandang jauh kedepan. Melihat pancaran cahaya dari seluruh arah.
Jadi setelah pertemuan tidak sengaja Fani dan Arga di toko buku. Arga mengajak Fani jalan ke atas bukit yang dari atas sana terlihat jelas pemandangan kota mereka. Fani jelas tidak menolak ajakan Arga. Karna tidak bisa di bohongi Fani ingin dekat dengan Arga lebih lama lagi.
Dari arah belakang Fani di kagetkan oleh tangan yang memegang kedua bahunya. Sembari berbisik di telinga Fani. "Dingin yaa." Orang itu memakaikan jaket untuk Fani.
Fani tersenyum. "Lo ga pake?"
"Gue tahan dingin ko." Jawab orang itu. Kemudian duduk di sebelah Fani. "Suka gak tempatnya?"
Fani mengangguk masih tersenyum. "Kapan-kapan gue mau ajak nyokap gue kesini. Pasti seneng." Ujar Fani terus melihat pemandangan malam di depannya sambil tersenyum, lalu melihat cowok di sebelahnya yang mengajaknya ke tempat itu.
"Ajak gue juga. Kita kesini bertiga yaa." Kata cowok itu sembari merapihkan rambut Fani yang tertiup angin ke belakang telinga.
Fani hanya menjawab dengan senyuman. Lalu kembali menyibukan dirinya dengan pemandangan malam yang begitu indah.
Anehnya Fani sama sekali gak risih dengan skinship yang di lakukan Arga. Padahal mereka baru kenal. Fani gak ngerti apa ini karna dia suka dengan Arga atau dia nyaman di perlakukan seperti itu dengan Arga. Saat Arga menyentuhnya, seperti ada sengatan di jantung Fani, tiba-tiba jantung derdegup dengan kencang dan aliran darahnya terasa mengalir dengan cepat.
"Fan." Panggil Arga menghentikan pandangan Fani ke depan, Fani langsung melihat ke sang pemilik suara. "Jadi pacar gue yaa." Arga langsung to the point.
Udara dingin seketika menjadi hangat setelah mendengar perkataan Arga. Fani mematung, otaknya tidak bekerja. Mulutnya mendadak bisu. Gak tau harus menjawab apa.
Arga gemas melihat reaksi Fani lalu mengelus lembut rambut Fani "Boleh lo pikirin deh, tapi gue gak suka nunggu lama."
Fani meminum minuman yang di pesannya. Menetralisir kekacauan di otaknya. Sebelumnya memang banyak yang menyatakan cinta pada Fani. Fani dengan mudah menolak atau mengabaikan pernyataan cinta. Tapi sekarang kasusnya beda, sekarang Fani juga punya perasaan yang sama dengan orang yang menyakatan cinta. Fani juga bingung harus berkata apa. Hatinya sudah berteriak yes gue mau. Tapi mulutnya mendadak menjadi bisu.
"Seandainya kita ketemu lebih cepet." Kata Arga membuka kesunyian. Fani masih gak bergeming. Tatapannya kini jauh menerawang di kemerlap lampu di bawah sana.
"Fan, jujur deh sama gue. Lo sampe mau ikut gue ke sini jauh-jauh kenapa? Lo ngerasa nyaman kan sama gue? Bukan karna lo ga enak nolak karna gue sepupu sahabat lo kan?" Tanya Arga lagi.
Lama Arga menunggu jawaban dari Fani. Tapi Fani ga membalas jawaban Arga, membuat Arga gemas kenapa cewek yang di sampingnya ini tidak menanggapinya.
"Gini deh. Rasain yaa Fan. Apa yg lo rasain. Lo ga boleh boong sama gue." Arga membelokkan kursinya menghadap Fani, kemudian menarik kursi Fani agar menghadapnya, hingga mereka berhadapan. Fani bingung apa yang akan di lakukan Arga. Dan tiba-tiba Arga memeluk Fani. Seketika aliran darah Fani terasa begitu cepat dan panas. Fani mematung lagi untuk yg kedua kalinya. Tak melakukan apa pun. Hanya diam dalam pelukan Arga.
"Rasain Fan, lo nyaman atau malah risih?" Bisik Arga di telinga Fani. Dan itu membuat Fani tersadar yang di lakukan Arga saat ini padanya. Fani langsung mendorong Arga dari tubuhnya.
"Lo ngapain?" Tanya Fani bingung dengan muka yang saat ini memerah.
"Apa yang lo rasain?" Arga menatap mata Fani dalam-dalam seolah menggali jawaban dari mata Fani.
Fani memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Lama tak ada jawaban dari mulut Fani. Fani mencoba merangkai kata dalam otaknya, kata apa yang harus di ucapkannya dahulu. Jawabannya sudah jelas iyaa. Tapi kenapa sulit sekali mengatakannya langsung. Seakan mulutnya tiba-tiba membisu.
"Fanisa?" Arga berharap cemas, khawatir bukan kalimat yang di inginkan yang keluar dari mulut Fani.
__ADS_1
Mendengar namanya di sebut berhasil membuat Fani tersadar ada yang sedang menunggu jawabannya. Fani membalas tatapan Arga. "Gue juga suka sama lo." Jawab Fani pelan tapi yakin. Arga tersenyum puas dengan jawaban Fani.
"Jadi sekarang lo milik gue." Kata Arga otoriter. Fani mengerutkan dahinya. Apa yang di maksud Arga milik gue.
***
"Fanisa." Panggil Arga setengah berteriak, sembari melambai ke arah Fani.
Fani mencari pemilik suara, karna Fani hafal suara siapa itu. Terlihat Arga duduk di motor BMW nya di sebrang jalan depan sekolahnya.
"Itu bukannya Arga Fan?" Tanya Dara yang sedang berlajan di samping terkejut melihat Arga sudah ada di depan sekolah. Fani hanya mengangguk. Bisa ngamuk Dara kalo tau Fani belum memberi tau dirinya sudah berpacaran dengan Arga.
Fani memegang lengan Dara sembari menatap mata sahabatnya itu. "Nanti gue ceritain yaa Ra. Nnti malem gue telfon. Gue duluan." Lalu Fani berjalan mendekati Arga. Meninggalkan Dara dengan berjuta pertanyaan di otaknya.
Tanpa ragu Arga mengelus lembut rambut Fani ketika Fani sudah berada di hadapannya. Lalu memakaikan helm ke kepala Fani. Gak lama Fani dan Arga melesat pergi.
Dara yang bingung melihat adegan Arga membelai rambut Fani, langsung mencari hp di dalam tasnya. Dara menghubungi Rangga yang sudah pulang lebih dahulu. Dara mengadukan apa yang di lihatnya barusan. Dan jelas Rangga yang dari awal ga setuju kalo Fani suka dengan sepupunya langsung menghubungi sepupunya itu.
"Dimana lo." Tanya Rangga langsung pada Arga di sebrang telfon.
"Nanti gue telfon balik. Gue lagi di jalan nih." Jawab Arga langsung mematikan sambungan telfon Rangga.
Rangga gak tenang, menelfon balik Dara. Mengajak Dara bertemu. Rangga sepertinya serius banget masalah Fani dengan Arga. Akhirnya Rangga putar balik menuju rumah Dara.
"Kayanya ada sesuatu yang lo tutupin, apaan sih? Kenapa lo gak mau banget Fani sama Arga?" Tanya Dara penuh selidik pada Rangga sesaat setelah Rangga duduk di teras depan rumahnya.
"Trouble maker gimana sih Gah maksudnya?" Tanya Dara masih ga meengerti yang di ucapkan Rangga.
Kemudian Rangga menjelaskan detail yang dia tahu tentang Arga. Arga anak satu-satunya di keluarganya. Tapi orang tuanya pisah waktu Arga masih kecil. Arga tumbuh jadi anak yang broken home. Hidupnya bener-bener semaunya. Sekolah jarang berangkat, kalau pun berangkat pasti bolos. Arga sampai dua kali di keluarin dari sekolah. Sekarang seharusnya Arga sudah lulus 2 tahun yang lalu, tapi dia harus mengulang karna kenakalannya. Arga juga sering terlibat perkelahian dengan teman-temannya. Terakhir yang Rangga tau, Arga bermasalah dengan cewek di sekolahnya, cewek itu gak terima kalo Arga kerap melakukan kekerasan kepadanya. Rangga juga beberapa kali liat Arga minum-minuman.
"Kenapa lo ga bilang pas di rumah Bima kemaren sih?" Ujar Dara kesal kenapa Rangga baru memberi tahunya sekarang.
"Gue juga bingung."
"Kasian banget Fani, cinta pertamanya ke orang yang salah." Kata Dara mengkhawatirkan sahabatnya.
"Lo pikirin caranya kasih tau ke Fani ya. Gue ngomong ke Arga." Kata Rangga sesaat sebelum meninggalkan rumah Dara. Dara mengangguk mengiyakan. Rangga melesat pergi dengan motornya.
***
Fani membantingkan tubuhnya ke kasur, setelah tiga jam berkendara motor dengan Arga tanpa tujuan hanya mengelilingi kota Jakarta. Tubuhnya kini terasa benar-benar capek. Arga mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, membuat Fani tegang sepanjang jalan. Jantungnya tak berhenti berdegup dengan kencang karna yang pertama kecepatan motor Arga dan yang kedua Arga menyuruh Fani untuk memeluknya dengan erat.
Fani menepuk dahinya lupa akan sesuatu. Dara pasti sudah menunggunya menjelaskan apa yang dilihatnya siang tadi. Fani meraih hpnya lalu langsung menghubungi sahabatnya itu.
"Fanisa lo kemana aja sih?" Dara berteriak kesal. Padahal Fani belum memulai bicara.
__ADS_1
"Sorry ya Ra. Gue lupa."
"Cerita ke gue sekarang!" Perintah Dara tidak sabar.
"Kemaren gue gak sengaja ketemu sama Arga di toko buku. Terus dia ngajak gue ke atas bukit. Dia nembak gue di sana." Kata Fani mulai bercerita.
"Terus?"
"Ya gue bilang oke."
"Terus?"
"Lo terus-terus mulu ah. Yaudah gitu aja. Tadi juga gue kaget banget tiba-tiba Arga udah di depan sekolah."
"Kalo gue gak setuju lo sama Arga gimana Fan?" Tanya Dara hati-hati.
"Lo jangan kaya Rangga deh Ra." Jawab Fani. Merasa kenapa dua sahabatnya tidak setuju dengan hubungannya dan Arga.
"Gue seneng Fani lo akhirnya bisa ngerasain suka sama orang. Tapi apa lo yakin Arga orang yang tepat?" Dara meyakinkan sahabatnya.
"Gue rasa gue yakin." Jawab Fani mantap.
"Gue rasa cerita lewat telfon kurang tepat. Besok kita lanjutin ya Fan di sekolah." Kata Dara merasa kalo memberi tahu tentang Arga di telfon bukan hal tepat.
"Oke. Gue istirahat dulu Ra. Remuk rasanya badan gue." Tutup Fani tanpa curiga dengan Dara.
"Eh bentar lo tadi kemana sama Arga?" Tanya Dara merasa sahabatnya belum cerita semuanya padanya.
"Kemana-mana. Udah yaa bye." Fani langsung menutup sambungan telfonnya. Fani merebahkan lagi badannya ke kasur. Gak lama matanya terpejam.
***
"Fan dengerin gue yaa. Apapun yang terjadi gue sama Rangga selalu ada buat lo." Mulai Dara sembari menggenggam tangan Fani setelah guru telah meninggalkan kelas. Fani bingung kenapa Dara ngomong serius banget.
"Ada alasan kenapa kemaren Rangga gak setuju kalo cowok lo yang suka itu Arga, sepupunya. Rangga udah cerita semuanya tentang Arga ke gue Fan." Kata Dara menjelaskan dengan pelan. Fani masih mendengarkan lanjutan dari cerita Dara.
Dara menceritakan semua yang di dengarnya kemaren dari Rangga. Fani mengangguk-angguk tanda mengerti.
"So, gue harep sebelum rasa lu ke Arga makin dalem, mending udahin yaa." Akhir dari ceritanya Dara memberi saran, gak mau Fani akhirnya merasakan sakit.
"Gue gak masalah. Gue terima apa pun yang telah Arga laluin. Arga butuh suport Ra, bukannya di jauhin." Jawab Fani yakin.
Dara melongo denger jawaban sahabatnya itu. Menggeleng-gelengkan kepala gak ngerti. Mungkin kini Fani udah di cuci otaknya sama Arga, pikir Dara.
"Ra, gue terus keinget gimana Arga nyelametin gue pas gue tersesat kemaren. Gue udah putus asa. Tapi Arga tiba-tiba ngulurin tangannya ke gue." Fani mengingat jelas kejadian di gunung ciremai kemaren.
__ADS_1
***