FANISA

FANISA
Pertemuan Yang Tak Terduga Part 1


__ADS_3

Fani terkejut mendengar suara Mamah nya. Melihat Mamah nya yang sudah berada di ambang pintu rumah.


"Dia buru-buru mah mau langsung pulang." Ujar Fani beralasan. Arga yang ga bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan Mamah nya Fani langsung buru-buru membuka helmnya lalu turun dari motornya.


"Ngga ko tante. Ini saya mau mampir rencananya." Arga langsung mendekati Mamah Fani yang masih berdiri di depan pintu. Arga dengan sopan menyalimi tangan Mamah Fani.


"Saya Arga tante, pacarnya Fanisa." Kata Arga memperkenalkan dirinya tanpa ragu.


"Pacar?" Tanya Mamah Fani meyakinkan yang di dengarnya benar.


"Iyaa tante paaccaarr." Ucap Arga dengan jelas.


"Wah pertama kalinya ini, biasanya cowok yang sering di bawa ke sini cuma Rangga. Ayok sini masuk." Mamah Fani mempersilahkan Arga untuk masuk ke dalam rumah. Fani menggeleng-geleng memikirkan hal aneh apa yang akan di lakukan Arga nanti di dalam.


"Maaf yaa tante gak bawa apa-apa, besok nanti saya main lagi bawa makanan kesukaan tante deh." Kata Arga saat sudah duduk di ruang tamu. Fani memilih duduk bersebrangan dengan Arga, takut kalau Arga tiba-tiba menyentuhnya di depan Mamahnya. Bakalan kena double semprot Fani dan sudah di pastikan tidak boleh berhubungan dengan Arga lagi.


"Gak apa-apa. Gak usah repot-repot."


"Ngga repot ko tan."


"Satu sekolah?" Tanya Mamah Fani pada Arga.


"Ngga, beda sekolah tan. Cuma sama sama kelas tiga."


"Kalian ko bisa kenal?" Tanya Mamah Fani lagi.


"Kenal waktu naik gunung tante. Waktu itu Fani minta kenalan duluan sama saya." Arga mengarang cerita.


"Yee enak aja." Sela Fani gak terima. Kesannya Fani cewek kegatelan minta kenalan duluan sama cowok.


"Dia yang nolongin Fani Mah waktu Fani hampir jatuh ke jurang." Fani menjelaskan yang sebenarnya.


"Oh kamu orangnya, makasih yaa udah nolongin Fani. Dia tuh kalo di bilangin susah banget, tante sendiri gak setuju kalo Fani punya hobi naik gunung, itu kan bahaya. Berhari-hari di dalem hutan. Kalo ada apa-apa gimana mau minta tolong sama siapa. Untung kemaren ada Arga kan, gimana kalo ga ada Arga. Tante gak bisa bayangin gimana." Di akhir ucapannya tersirat perasaan sedih Mamah Fani. Fani hanya diam tak berkomentar. Karna sudah berkali-kali di larang pun gak akan mempan buat Fani.


"Besok-besok kalo Fani naik gunung saya pasti jagain, tante tenang aja yaa." Arga menenangkan, padahal sudah di pastikan Mamah Fani tidak akan merasa tenang sampai Fani tidak naik gunung lagi. Mamah Fani hanya tersenyum mendengar ucapan Arga. Obrolah terus berlanjut sampai Fani menyadarkan Arga agar pulang karna hari sudah larut. Dan gak lama Arga pamit pulang. Fani lega karna Arga melakukan hal-hal aneh seperti ke khawatirannya.


***


"Fan, anter gue yah. Gue butuh pendapat lo." Dara tengah merengek dan memasang muka memelas pada Fani.


"Aah gue males, lagian hari ini gue ada janji sama Arga." Tolak Fani kesekian kalinya. Dara mengajak Fani untuk menemaninya bertemu dengan gebetan barunya yang belum pernah di temuinya sama sekali, karna mereka kenal lewat sosmed. Dara cuma takut kalo gebetannya itu gak sesuai dengan yang diharapkannya.


"Oke jadi sekarang Arga lebih penting dari gue yaa." Dara ngambek Fani sedikit pun tidak terenyuh dengan rengekannya.


Fani melirik Dara yang sudah tidak lagi memintanya untuk ikut dengannya. Kini Dara sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Iya iya iya gue ikut." Ujar Fani akhirnya luluh.


Senyum Dara langsung mengembang. Buru-buru dipeluknya sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tengkyu Fan."


"Jadi gimana rencananya?" Fani ingin tau rencan apa yang akan Dara lakukan kalo gebetannya itu nilai penampilan dan nilai ketampanannya di bawah standarnya. Karna Dara punya nilai sendiri untuk cowok. Nilainya harus 10. Kalo nggak, yaa bye!


***


"Tungguin di sini aja yaa." Ucap Dara. Dara dan Fani masuk ke restourant dekat tempat Dara dan gebetannya akan bertemu. Dara dan Fani sengaja datang setengah jam lebih awal untuk melihat situasi.


Dara mencari tempat duduk yang pas untuk mengintai gebetannya itu. Gak lama keduanya duduk dan memesan minum. Dari tempat duduk mereka dapat terlihat target tujuan mereka. Setengah jam pun berlalu, Dara mulai mengawasi setiap cowok berbaju merah yang berhalu-lalang di tempat mereka bertemu. Sampai akhirnya mata Dara tertuju pada cowok berbaju merah yang wajahnya sangat mirip dengan foto yang di pasang di sosmednya.


"Fani Fani itu dia. Udah dateng." Dara menunjuk yang di maksudnya. Fani langsung melihat ke arah yang di tunjuk Dara.


"Ih itu mah 10 kali Ra." Ujar Fani setelah melihat gebetan Dara.


"Tapi bentar Fan, tunggu 10 menit lagi yaa." Kata Dara masih belum yakin.


Mata Dara dan Fani tidak lepas dari cowok berbaju merah itu. Cowok tinggi, perawakan tidak gemuk ataupun kurus terlihat pas. Wajahnya bisa di bilang sebelas dua belas lah sama Junior Roberts. Penampilannya juga keren. Gak malu-maluin lah kalo di bawa ke mall. Cowok itu kini sibuk dengan poselnya. Entah siapa yang di hubunginya. Karna dari tadi gak ada notifikasi masuk dari gebetannya itu untuk Dara.


"Samperin gih. Kasian nunggu lama."


"Bentar 5 menit lagi deh."


"Yaudah balik aja deh kita yuk." Ajak Fani kesel, mau apa lagi yang di tunggu. Karna laki-laki yang kini sudah menunggu Dara itu menurut Fani nilai ketampanan dan penampilannya itu 10.


"Gue takut gimana kalo suaranya jelek." Ujar Dara, matanya masih tidak lepas dari gebetannya.


"Tunggu yaa Fan. Gue samperin dia dulu." Ujar Dara bergegas.


Fani tersenyum lega melihat kepergian Dara. Fani melihat Dara mendekati gebetannya ragu-ragu. Dari tempat Fani duduk hanya bisa melihat gerak tubuh mereka berdua. Sepertinya Dara lega karna kekhawatiran tentang suara gebetannya yg jelek itu salah, terlihat jelas Dara terus tersenyum pada cowok itu. Dan gak lama keduanya pergi.


Dan beberapa detik kepergian Dara ada whatsapp masuk dari Dara untuk Fani.


Gue di ajak nonton. Lo mau ikut ga?


Jelas Fani tidak akan ikut nonton, yang ada Fani akan jadi obat nyamuk. Fani membalas whatsapp Dara.


Gue langsung balik deh Ra. Arga mau jemput gue.


Dan sudah tidak ada balasan dari Dara. Sudah di pastikan Dara sedang asyik dengan gebetannya itu. Dan jawaban Arga akan menjemput Fani itu hanya sebuah alasan Fani agar Dara dengan nyaman meninggalkan Fani pergi.


Fani berjalan keluar mall, matanya sibuk menatap layar poselnya, memesan gojek untuk pulang. Sampai akhirnya Fani menabrak cowok yang sedang jongkok mengikat sepatu. Fani terjatuh, cowok yang di tabrak Fani juga ikut terjatuh. Fani mengambil ponselnya yang terlempar gak jauh dari tempatnya terjatuh. Langsung berdiri memegangi sikunya yang terasa sakit.


"Lo ko sembarangan aja sih duduk di tengah jalan." Fani membentak cowok yang di tabraknya.


"Lo yang ga liat-liat jalan juga. Gue lagi diem di tabrak." Cowok itu gak terima kalo dirinya di salahkan, balik bembentak Fani. "Lo anaknya Bu Wulandari kan?" Tanya cowok itu setelah sadar siapa yang berdiri di hadapannya.


Fani mengerutkan kening. Heran kenapa cowok itu tau siapa orang tuanya.


"Kenapa yaa ibu nya sopan dan ramah tapi anaknya gak ada akhlaknya." Lanjut cowok itu.

__ADS_1


Fani makin kesel lalu menginjak keras sepatu cowok yang di hadapannya itu. Lalu Fani pergi begitu saja meninggalkan cowok yang di tabraknnya itu.


"Awww sakit.. Gue belum selese!" Teriak cowok itu kesakitan. Fani sama sekalu tidak menghiraukan cowok itu, tetap bejalan menambah kecepatan langkagnya keluar mall.


***


"Gimana lancar?" Tanya Fani sesampainya Dara di kelas. Dara senyum-senyum mendengar pertanyaan Fani.


"Rian ngajakin gue ngedate Fan malam minggu besok." Dara teriak kegirangan. Beberapa anak yang sudah datang langsung melihat ke arah Dara. Ingin mengetahui pembicaraan Dara dan Fani.


"Selamat yaaa Raaa."


"Rangga belum dateng yaa?" Tanya Dara, matanya melihat bangku Rangga yang masih kosong. Fani menjawab dengan gelengan kepalanya. Dara sudah tidak sabar ingin bercerita ke Rangga soal kemarin.


"Kemaren langsung pulang?" Tanya Dara lagi pada Fani.


"Langsung pulang. Tapi tau gak di mall gue ketemu sama orang freak. Kesel gue. Dia tau nyokap gue lagi." Cerita Fani kembali kesal mengingat kejadian kemarin. Dan Fani menceritakan dari awal sampai akhir yang di alaminya kemarin pada Dara. Dara tertawa mendengar cerita sahabatnya itu.


"Lo yang salah kali Fan. Parah lo. Gimana kalo cowok itu cerita ke nyokap lo." Ujar Dara masih dengan tawanya.


"Biarin. Gue yang bener ko." Fani masih kekeh kalo dirinya yang benar. "Tapi yaa Ra, mukanya kaya gak asing gitu. Gue lupa pernah ketemu dimana." Fani mengingat-ngingat dari kemarin tapi sama sekali gak inget.


"Tetangga lo kali." Ujar Dara mengingatkan.


"Bukan, gue gak pernah liat muka-muka nyebelin kaya gitu." Fani masih belum bisa menghilangkan rasa kesalnya.


"Emang lo kenal tetangga lo? Yang sebelah rumah lo aja lo gak kenal." Sindir Dara. Pasalnya Fani emang gak kenal tetangga-tetangga rumahnya. Fani hanya nyengir mendengar sindiran Dara. Tapi Fani yakin cowok itu bukan tetangga rumahnya.


Gak lama Rangga datang langsung menyapa kedua sahabatnya yang menyambut kedatangannya dengan lambaian tangan. Terlebih lagi Dara dengan wajah bahagianya. Membuat Rangga jadi penasaran dan menjatuhkan tubuhnya di depan meja sahabatnya itu.


"Kayanya ada yang lagi happy nih." Selidik Rangga.


"Lo tuh emang paling tau isi hati gue ih." Dara menepak pelan bahu Rangga. "Gue ceritain yaa." Ujar Dara tanpa di minta cerita oleh Rangga. Membuat Rangga dan Fani senyum-senyum geli. "Gue sekarang punya gebetan baru. Dan nanti malem minggu kita mau ngedate." Cerita Dara antusian.


"Ah baru gebetan belum jadi pacar." Jawab Rangga mematahkan semangat Dara.


"Ih kan semuanya butuh proses Rangga. Gak tiba-tiba langsung pacaran, kan kesannya aneh belum lama kenal langsung jadian. Makanya punya pacar dong biar ngerti." Ujar Dara.


"Ah gak penting." Jawab Rangga sembari berjalan meninggalkan kedua sahabatnya itu ke meja tempat duduknya.


"Gimana kalo kita jodohin Rangga aja Fan. Biar dia gak kesepian kalo kita lagi pacaran." Dara mengeluarkan idenya, berbisik pelan pada Fani. Fani menggeleng gak setuju.


"Rangga bisa Ra cari cewek sendiri. Biarin aja."


"Fan, Rangga tuh dingin banget loh sama cewek. Gimana ceweknya mau pada deket."


"Yaa artinya Rangga masih belum mau punya cewek Ra. Udah deh biarin Rangga maunya gimana." Tutup Fani. Dan Pak Daus guru Matematika datang memulai pelajaran.


***

__ADS_1


__ADS_2