
Fani tengah duduk di depan tv, tv di biarkannya menyala tanpa dilihatnya. Fani sedang asik membolak balik novel di tangannya. Tidak menghiraukan sudah berapa cemilan yang dia habiskan dari satu jam yang lalu. Kegiatannya terhenti setelah di dengarnya ketukan pintu rumahnya. Dengan malas Fani mendekati sumber suara. Dara sudah pulang pagi tadi. Tidak bisa lebih lama lagi menemani Fani karna sudah janji menemani Mamah nya belanja.
Fani membuka pintu, dengan keadaan belum mandi dan masih acak-acakan.
"Sorry gue langsung masuk. Pagernya gak di kunci. Ini rumahnya Bu Wulandari kan?" Jelas seorang laki-laki yang kini berada di hadapan Fani.
"Iyaa bener ini rumah Ibu Wulandari. Ada apa yaa Mas?" Tanya Fani.
"Kemaren kenapa lo bilang bukan yaa. Lo gak tau yaa gue sampe muter-muter kompek sini nyariin rumah ini gara-gara lo bilang ini bukan rumah Bu Wulandari. Gue sampe berkali-kali tanya tetangga sini dan satpam buat mastiin ini bener rumah Bu Wulandari." Oceh laki-laki itu kemudian.
Fani bingung untuk sekian detik dan akhirnya tersadar laki-laki yang di hadapannya ini adalah laki-laki yang di bohonginya kemarin. Fani tersenyum malu. "Maaf yaa mas. Kemaren gue kurang jelas lo ngomong apaan. Gue lagi buru-buru." Fani beralasan sembari memamerkan muka tak bersalahnya.
"Bu Wulandari ada? Gue ada perlu." Tanya laki-laki itu tanpa menghiraukan ucapan Fani barusan. Mukanya bener-bener jutek banget.
Fani jadi naik darah. Padalah dirinya sudah minta maaf. Tapi malah di balas dengan kejutekan. "Gak ada. Lagi keluar kota." Balas Fani ga kalah jutek.
"Bilang kek dari tadi." Ujar laki-laki itu kemudian berbalik meninggalkan Fani dengan emosi yang sudah meluap-luap. Tapi malas meladeni kemudian cepat-cepat menutup pintu.
"Gak ada sopan santunnya!" Fani berjalan kesal, lalu menyambar novel yang tadi dia baca. Kemudian menyibukan dirinya lagi dengan bacaan di tangannya.
***
"Fanisaaa." Arga setengah berteriak memanggil Fani dari depan rumahnya. Arga sudah duduk manis di jok motornya menunggu sang kekasih membukakan pintu rumahnya.
Fani langsung kaget mendengar suara Arga, dia sadar dirinya masih belum mandi. Dilempanya novel yang dari tadi di bacanya ke sofa. Fani mancari-cari ponselnya, setelah menemukan ponselnya di tumpukan sampah cemilan, Fani langsung menelfon Arga. Gak mungkin Fani menemui Arga dalam keadaan seperti itu, belum mandi dan acak-acakan.
Tersambung. Arga mengangkat telfon Fani. "Arga sorry gue mandi bentar yaa. Lo nunggu bentaran yaa. Masuk aja yaa, tunggu di teras." Tanpa mau mendengar jawaban dari Arga, Fani langsung mematikan sambungan telfon dan berlari ke kamar mandi. Arga tersenyum gemas, lalu masuk menunggu di teras rumah Fani.
Setengah jam kemudian Fani keluar sudah rapi dan harum. Fani tersenyum canggung menyambut Arga, sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Lama yaa?" Tanya Fani duduk di sebelah Arga.
Arga menggeleng, memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Arga tersenyum memandangi Fani.
"Wangi" Arga mendekatkan dirinya pada Fani yang agak berjarak dari dirinya.
"Kan baru mandi." Jawab Fani malu.
"Nyokap ada? Mau ijin ajak anaknya main." Tanya Arga.
__ADS_1
"Gak ada. Lagi ke luar kota."
"Yaudah yuk, jalan. Ijinnya besok lagi aja." Ajak Arga langsung menggenggam tangan Fani.
"Kemana?"
"Tempat gue. Kan udah janji." Kata Arga to the point. Membuat muka Fani memerah.
"Ngapain?"
"Biar tau aja Fan, lo belum tau rumah gue kan. Yuk."
Fani terdiam, meyakinkan dirinya sendiri, bahwa gak akan ada apa-apa di rumah Arga nanti. "Ayok." Ajak Arga lagi membuyarkan lamunan Fani. "Bentar gue ambil jaket dulu yaa." Ujar Fani akhirnya.
Gak lama Arga dan Fani sampai di rumah Arga. Arga menggandeng tangan Fani memasuki rumahnya. Dengan langkah ragu Fani mengikuti. Arga membawa Fani duduk di ruang tv. Arga menyalakan tv rumahnya. Seketika suara tv meramaikan suasana di ruangan itu. Arga duduk di sebelah Fani.
"Ada yang mau lo tanyain tentang gue Fan?" Tanya Arga tiba-tiba. "Gue ngerasa lo bikin pembatas buat gue. Lo emang selalu oke-oke aja setiap gue ajak. Tapi gue ngerasa lo ga lepas kalo deket gue. Apa yang bisa bikin pembatas itu ilang Fan?" Muka Arga berubah menjadi serius, menatap lurus mata Fani.
Fani terdiam, di otaknya sibuk merangkai kata yang akan di ucapkannya. Situasi seperti ini adalah yang pertama kali dalam hidupnya. Mempunyai kekasih. Fani juga menyadari bahwa dirinya seperti orang yang berbeda jika di dekat Arga. Tidak seperti biasanya.
"Gue butuh waktu yaa Ga, gak apa-apa kan? Biar gue bisa lepas kalo sama lo. Karna lo yang pertama buat gue." Jawab Fani
Arga menarik lengan Fani, hingga tubuh Fani tersandar di dada Arga. Arga memeluk Fani. Mencium kening Fani berkali-kali gemas. Fani seperti biasa diam mematung, sibuk mengatur nafas dan tubuhnya yang kini memanas.
"Oke gue cerita satu persatu yaa. Pertama apa yang lo mau tau dari gue?" Tanya Arga pada Fani, tapi tidak melepaskan pelukannya.
"Sekolah lo?" Tanya Fani ragu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Fani, Arga malah mencium kening Fani dengan gemas. Membelai lembut rambut Fani. Lalu mengeratkan pelukannya. Fani tentu senang, sejauh ini Fani masih merasa nyaman dengan kelakuan-kelakuan Arga kepadanya. Lo tau kan namanya dimabuk asmara. Itu yang saat ini Fani rasakan.
"Okee sekolah yaa. Gue gak tertarik sama sekolah. Sekolah buat gue cuma formalitas aja." Jawab Arga. Sembari membelai rambut pendek Fani.
"Lo gak mau lulus bareng gue? Kita kuliah di universitas yang sama." Ujar Fani masih dengan suara yang ragu, tapi berusaha menyadarkan Arga. "Orang tua lo pasti seneng kan." Imbuh Fani.
"Gue mau ngapain aja mereka gak akan perduli Fanisa." Jawab Arga sembari mencubit pipi Fani gemas. "Tapi kalo lo mau gue lulus tahun ini, oke gue siap." Lanjut Arga.
"Janji?" Fani mengulurkan kelingkingnya pada Arga. Arga menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Fani. Fani tersenyum puas.
"Apa lagi yang mau lo tau?"
__ADS_1
"Kenapa lo suka sama gue?" Tanya Fani. Fani melepaskan pelukan Arga agar bisa melihat wajah Arga.
"Mmm... kenapa yaa? Gue juga gak tau. Pertama liat lo. Yang di pikiran gue cuma gimana caranya lo bisa jadi milik gue."
Fani gak paham apa yang di katakan Arga. Apa yang di maksud dengan milik. Padahal dirinya bukan benda atau barang yang bisa dimiliki.
"Gue yaaa yang milik gue sendiri dong Ga." Fani memperbaiki ucapan Arga yang menurutnya gak sesuai dengan pemikirannya.
"Gak! Lo milik gue, selamanya." Arga langsung memeluk Fani erat. Fani ga membalas ucapan Arga, sekarang dirinya sedang sibuk dengan detak jantungnya yang udah gak karuan. Tanpa sadar kedua tangan Fani membalas pelukan Arga. "Good girl." Bisik Arga tepat di telinga Fani. Bibir Arga kini sudah menempel di telinga kiri Fani. Mengecup daun telinga Fani dengan pelan dan halus.
"Aahh.." desah Fani, melepaskan pelukannya dari Arga begitu saja. Fani mengerutkan keningnya. Yang di lakukannya saat ini benar-benar salah. Tapi kenapa kenikmatan yang di rasakannya begitu luar biasa. Fani terperangkap di antara hati nuraninya dan gairah yang bergejolak. Apalagi di rumah hanya ada mereka berdua. Fani takut ga bisa menolak ajakan Arga untuk melakukan hal yang gak seharusnya. Fani seperti terhipnotis kalau Arga sudah memintanya melalukan sesuatu, pasti akan di ikutinya. Fani berusaha menjaga jarak dengan Arga. Memalingkan wajahnya dari tatapan Arga yang penuh tanda tanya.
"Kenapa?" Arga berusaha meraih tangan Fani, tapi Fani langsung menyibukan tangannya dengan ponselnya.
"Keluar yuk." Ajak Fani, matanya tidak lepas dari ponselnya.
Arga tersenyum menyadari Fani menghindarinya. Tapi tak menghiraukan ajakan Fani, Arga melangkah pergi ke kamar mandi. Melihat Arga sudah tidak lagi ada di sampingnya Fani menghela nafas panjang. Mengatur detak jantungnya yang seperti biasa seperti mau meledak. Fani merapikan rambutnya agar menutupi kedua telinganya. Gak lama Arga keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Fani yang menyadari itu langsung membelakangi Arga. Matanya tidak siap melihat Arga bertelanjang dada.
"Ga kita cuma berdua. Pake baju lo."
Arga melangkah mendekati Fani, manarik lembut tangan Fani agar memeluknya. Fani dengan cepat menolak. Mata Fani tetap tidak melihat wajah Arga. Takut kalo pendiriannya runtuh kalo matanya sudah menatap mata Arga. Arga jelas tidak selesai di situ, masih ada aja kelakuannya yang membuat Fani menjadi dag dig dug. Tak bisa membuat Fani memeluknya, kini tangan Arga sudah merada di pinggang kecil Fani, merengkuhnya dengan kuat. Membuat Fani tak bisa kemana-mana.
"Nikahin gue, kalo lo mau ngelakuin yang aneh-aneh." Fani sekuat mencoba menatap mata Arga. Meyakinkan dirinya bahwa tidak akan terperangkap.
Arga tertawa membenamkan kepalanya di bahu Fani. Fani ga bereaksi. Karna dia tau Arga akan bereaksi seperti ini.
"Pemikiran lo kolot banget Fan." Ujar Arga di sela-sela tawanya. "Jaman sekarang ada yaa yang punya prinsip kaya gitu?" Arga masih tertawa masih mencoba memahami. "Oke kita liat seberapa kuat prinsip lo itu." Kini Arga mendorong tubuh Fani ke sofa. Kini tubuh Fani sudah terkunci oleh kedua tangan Arga. Arga tepat di atas tubuh Fani. Tapi masih ada jarak di antara keduanya. Lama mata Arga menatap mata Fani dengan penuh arti. Arga mulai mencodongkan tubuhnya lebih dekat pada Fani, Arga pelan-pelan mendekatkan bibirnya ke bibir mungil Fani, belum sempat mendaratkan bibirnya, tiba-tiba Arga memegang dadanya seperti kesakitan. Fani panik melihat Arga yang kesakitan.
"Lo kenapa Ga?" Fani panik.
Arga meringkuk kesakitan di sofa. Mengatur nafasnya agar lebih terkontrol.
"Ga, lo kenapa Ga?" Tanya Fani semakin panik melihat Arga kesakitan.
Arga bangkit dari sofa berjalan gontai menuju kamarnya, Fani berdiri mengikuti. Belum sempat Fani masuk kamar, pintu kamar sudah lebih dulu di tutup oleh Arga. Fani mengetuk-ngetuk pintu kamar Arga, khawatir dengan keadaan Arga. "Arga buka, lo kenapa Ga?" Kata Fani setengah berteriak. Kini pikirannya kacau. Bingung mau berbuat apa. Tapi tidak ada jawaban dari pemilik kamar. 10 menit berlalu Arga membuka kamar dengan senyum yang lebar, wajahnya tampak pucat. Terlihat kaos oblong sudah di pakai di badannya, melihat Fani yang masih panik berdiri di depan pintu kamarnya Arga cepat-cepat memeluk Fani dengan hangat. Tidak mau membuat kekasihnya khawatir.
"Gue gak kenapa-napa. Maaf yaa lo khawatir yaa." Ujar Arga menenangkan sembari membelai rambut Fani.
***
__ADS_1