FANISA

FANISA
Ciuman Candu Milik Arga


__ADS_3

"Ke rumah sakit yuk. Muka lo pucet Ga." Ajak Fani berkali-kali. Arga hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya tanda menolak.


"Sebenernya lo kenapa sih Ga?" Pertanyaan ini juga sudah berkali-kali di lontarkan oleh Fani. Tapi sepertinya Arga tidak ingin memberi tahu keadaannya pada Fani. Sampai akhirnya Arga mengantarkan pulang Fani. Tentu saja Fani menolak di antar pulang, karna khawatir dengan kondisi Arga. Tapi Arga bersikukuh mengantar pulang kekasihnya itu, karna sudah seharusnya dilakukan oleh nya. Di perjalanan Fani terus mengingatkan Arga untuk menurunkan kecepatan motornya, terus mengingatkan Arga untuk hati-hati, terus bertanya keadaan Arga. Fani bener-bener khawatir pada Arga. Apalagi Arga di rumah sendiri gak ada yang menemani. Setelah Arga hilang dari pandangannya, Fani mencari ponsel di dalam tasnya. Fani langsung menghubungi Rangga. Jelas Fani harus tau keadaan Arga yang sebenarnya lewat Rangga. Tapi nihil, bahkan Rangga pun gak tau. Rangga yakin Arga ga punya penyakit apapun.


"Dia sehat Fan. Lo tenang aja malem ini gue kerumahnya." Rangga menenangkan di akhir pembicaraan. Tapi sama sekali gak membuat Fani menjadi tenang. Fani melihat sendiri bagaimana Arga tadi kesakitan memagangi dadanya.


***


Sampai kelas Fani langsung menghampiri meja Rangga. Berbagai pertanyaan sudah siap di lontarkan olehnya.


"Gimana keadaanya sekarang?"


"Keadaan gue baik." Jawab Rangga santai bersandar di kursinya sembari memainkan pulpen di tangannya.


"Bukan lo. Tapi Arga." Jelas Fani.


"Ooh. Dikirain gue. Arga sehat Fan seperti yang tadi malem gue bilang."


"Emang lo ga bisa liat yaa Gah dia pucet gitu mukanya?" Fani masih bersikukuh.


"Dia sehat Fani, bener deh. Lo parno amat sih. Arga malah lebih sehat dari pada gue."


"Lo mah emang penyakitan." Sambar Dara yang baru saja datang. Rangga memasang muka masam mendengar celotehan sahabatnya itu. Dara sudah mendengar cerita Arga sakit dari Fani semalam. Rencananya Fani akan ke rumah Arga dengan Dara sepulang sekolah nanti. Tapi karna Dara ada acara lain jadi tidak bisa menemani Fani. Sebagai gantinya Fani memaksa Rangga untuk menemaninya. Rangga yang ogah-ogahan menemani Fani membuat Fani kesel dan menendang kaki Rangga. Sontak Rangga berteriak kesakitan, memegangi kakinya yang tak bersalah menjadi korban.


"Lo temenin gue titik!" Tegas Fani nyelonong pergi meninggalkan Rangga yang sedang kesakitan. Dan mau gak mau Rangga harus ikut. Dara tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya, di tepuk-tepuknya bahu Rangga menyemangati. Lalu berjalan mendekati Fani yang sudah duduk di kursi.


***


Arga dengan senyum lebar menyambut kedatangan kekasihnya. Tanpa babibu langsung memeluk erat Fani yang masih terlihat khawatir.


"Kengen yaa?" Goda Arga masih memeluk Fani.


"Mau mastiin lo baik-baik aja Ga. Gak percayaan banget dia di bilangin." Ucap Rangga tanpa melihat Arga dan Fani yang sedang berpelukan.


"Gue baik-baik aja Fanisa." Arga gemas sembari mengguncang-guncangkan tubuh Fani dalam pelukannya.


"Bener? Udah gak sakit lagi?" Fani memastikan.


"Bener sayang." Kali ini ciuman mendarat di pipi kanan Fani. Membuat Fani tersipu malu. Rangga jangan di tanya, matanya sedari tadi sama sekali ga memperhatikan pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta itu. "Eh jangan-jangan lo mau lanjutin yang ketunda kemaren yaa?" Goda Arga membuat muka Fani semakin memerah. Fani melepas pelukan Arga dan memukul pelan lengan Arga. Lalu duduk di sebelah Rangga yang sedang sibuk dengan poselnya.


"Balik lo. Ngapain di sini terus?" Usir Arga seraya menendang pelan kaki Rangga.


"Oke gue balik. Yuk Fan." Rangga mengajak Fani pulang bersamanya.


"Enak aja. Fani tinggal di sini. Lo aja sana yang balik."


"Yaudah gue tetep di sini." Ujar Rangga mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Biar Fani gue yang anter. Lo balik duluan aja sana." Arga masih mencoba mengusir sepupunya itu.

__ADS_1


"Gak! Kan dia dateng bareng gue. Yaa pulang juga bareng gue." Rangga masih bersikukuh.


"Yok ayok balik. Gue cuma bentar ko Ga, cuma mau mastiin lo sehat. Sekarang gue udah tenang lo baik-baik aja." Fani berdiri menarik lengan baju Rangga agar ikut berdiri. Belum sempat Rangga berdiri, Arga langsung menyuruh duduk Fani kembali. Memintanya agar tetap di sini lebih lama untuk menemaninya. Fani yang sudah terkena hipnotis kalo sudah melihat mata Arga langsung mengiyakan permintaan Arga, tapi dengan syarat Rangga tetap akan mengantarnya pulang. Fani hanya merasa takut kalo Arga sakit lagi jika harus keluar mengantarnya pulang. Arga gak terima, karna sebagai pacar dia merasa bertanggung jawab atas Fani. Dan pada akhirnya setelah melewati perdebatan yang sangat panjang antara mereka bertiga. Arga lah yang keluar sebagai pemenang yang akan mengantar Fani pulang. Lagi-lagi itu terjadi karna Fani yang terhipnotis oleh Arga.


"Pulang sekolah gue jemput yaa." Ujar Arga seraya memegang tangan Fani dan mendekatkannya ke bibirnya dan menciumnya lembut. Saat ini mereka sudah berada di depan rumah Fani.


"Mau kemana?" Tanya Fani dengan muka yang memerah karna tindakan Arga barusan. Di cium tangannya oleh seorang pria adalah hal pertama woy buat Fani, biasanya Fani yang mencium tangan, itu juga tangan orang tuanya.


"Ke rumah gue. Belajar bareng yuk."


"Bukan cuma alesan aja kan?" Tanya Fani menyelidik.


"Kan lo mau gue lulus taun ini, jadi gue harus banyak belajar. Bener ga sih." Kata Arga meyakinkan. Yang sebenernya di telinga Fani itu hanya sebuah alasan.


"Ajak Rangga sama Dara yaa?"


"No! Big no! Kita berdua aja oke." Arga membelai pipi Fani dengan lembut. Membuat Fani seketika merinding. Love language nya Arga emang Physical Touch deh. Pasti! Soalnya sedikit-sedikit pasti sentuh-sentuh Fani terus. Tanpa perlawanan Fani jelas mengiyakan ajakan Arga. Membuat Arga tersenyum senang. Lalu pamit pulang.


***


Keesokan harinya Arga sudah stand by didepan sekolah Fani. Dengan senyum mengembang di bibirnya, Arga melambaikan tangannya ke arah Fani yang baru saja keluar dari gerbang sekolahnya dan berjalan kearahnya. Tidak ada Dara ataupun Rangga di sampingnya. Hanya ada siswa-siswi yang juga berhamburan keluar gerbang yang tak di kenal Arga.


"Siap?" Tanya Arga setelah Fani sudah duduk di jok motornya.


"Siap!" Jawab Fani tanpa ragu. Lalu dengan cepat Arga meraih kedua tangan Fani mengaitkannya di perutnya agar memeluknya erat.


Setengah jam kemudian motor Arga berhasil terpakir di garasi rumahnya.


Tapi bukannya menyuruh Fani duduk di ruang tamu, Arga malah menggandeng Fani masuk kamarnya. Sontak Fani melepas genggaman tangan Arga lalu mengeplak bahu Arga.


"Gue bukannya mau tidur Arga." Wajah Fani berubah menjadi kesal sekaligus malu. Arga cekikikan melihat ekspresi kekasihnya itu. Begitu menggemaskan. Bagaimana bisa dirinya yang banyak kurangnya ini mendapatkan Fani. Arga tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk tubuh Fani. Seketika tubuh Fani sudah berada dalam dekapan tubuh Arga yang lebih besar dari Fani.


"Lo tuh kaya narkoba tau gak. Ga bisa lepas gue dari lo." Ujar Arga menambah erat pelukannya. Fani balas memeluk Arga. Senyumnya mulai mengembang. Situasi seperti ini Fani sudah mulai terbiasa. Situasi Arga tiba memeluk, pegang tangan, atau cium pipi atau kening. Tapi terbiasa bukan berarti jantung Fani tidak dag dig dug. Jantungnya masih belum bisa di kendalikannya.


"Emang lo udah pernah pake?"


"Udah." Jawab Arga dengan santai. Membuat Fani kaget dan melepaskan pelukannya.


"Bener?" Tanya Fani gak percaya.


"Udah. Nih." Tiba-tiba Arga mendaratkan bibirnya ke bibir Fani. Hanya menempel. Lama. 10 detik berlalu sampai Arga melepas kecupannya bibirnya. Tapi Fani hanya berdiri mematung. Sepertinya otaknya tiba-tiba tidak bisa konek dengan tubuhnya. Arga mencoba menyadarkan Fani dengan menciumnya lagi, kali ini Arga mencium lebih dalam bibir bawah Fani, menciumnya berkali-kali tapi sang pemilik bibir hanya diam masih diam mematung, Arga melingkarkan tangannya di pinggang Fani menariknya lembut agar lebih dekat ke tubunya. Hingga Fani ikut terbawa arus dan membalas ciuman panas Arga. Arga berjalan perlahan mengarahkan Fani masuk ke dalam kamarnya, ciumannya semakin dalam tak terlepas. Fani mengikut langkah Arga perlahan. Sampai akhirnya mereka berdua duduk di ujung kasur. Seketika mata Fani yang tadi tertutup menikamati langsung terbuka, dia tersadar sekarang dirinya sudah di dalam kamar Arga. Fani melepas ciuman panas itu. Tanpa beranjak dari tempatnya Fani mengusap-usap mukanya agar cepat sadar. Di carinya ikat rambut d saku roknya lalu mengikat rambutnya, udara kamar Arga terasa begitu panas. Arga terlihat kecewa karna Fani tiba-tiba mengakhiri ciumannya yang mungkin akan berujung mereka berdua saling tindih menindih dan saling mencumbu satu sama lain jika Fani tidak mengakhirinya.


"Arga sekali lagi lo lakuin ini. Gue bener-bener gak akan pernah dateng ke rumah lo lagi." Tegas Fani kemudian berdiri dari duduknya keluar kamar meninggalkan Arga dengan kekecewaan. Tidak membalas ucapan Fani, Arga bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah Fani, melepas ikatan rambut Fani. Lalu melempar ikat rambut ke sembarang arah.


"Gue akan tetep akan coba lagi besok." Goda Arga sambil mencubit pipi Fani gemas. "Nikmatin aja Fanisa." Imbuhnya.


"Gue penganut prinsip nikah dulu baru ngelakuin aneh-eneh." Kata Fani sembari mengambil ikat rambut yang di lempar Arga, lalu duduk di sofa. Arga ikut duduk di sebelah Fani. Kakinya menyila menghadap Fani.


"Menurut lo aneh, tapi sebenernya itu normal. Cewek sama cowok saling suka normal dong saling cumbu." Arga mengemukakan pendapatnya yang menurutnya semua orang juga pasti sependapat dengan dirinya.

__ADS_1


"Udah lah pembahasan ini gak akan selesai Ga. Sekarang mana buku lo. Belajar yuk." Fani mencoba mengganti topik pembicaraan. Arga yang masih belum menyerah. Dia memegang kedua pipi Fani agar menatapnya.


"Jujur sama gue. Lo sebenernya juga mau kan?" Tanya Arga, menatap mata Fani mencari tahu jawaban yang sebenarnya. "Jawab Fan." Tanya Arga lagi dengan lembut saat tak ada jawaban dari mulut Fani.


"Ngga."


"Fanisa." Suara Arga lebih lembut lagi. Tangannya masih memegangi kedua pipi Fani.


"Mau." Jawab Fani pelan. Mukanya memerah karna pengakuannya itu. Arga tersenyum lalu memeluk Fani gemas.


"Jadi kita lanjutin yang tertunda tadi yaa?"


"Arga pleaseee jawaban gue tetep ngga. Hormatin keputusan gue yaa." Fani menolak dengan lembut.


"Oke mungkin hari ini nggak. Besok akan gue coba lagi." Arga menyamangati dirinya sendiri lalu berjalan mengambil tasnya. Fani menundukan kepalanya, Arga sama sekali ga menyerah.


Arga kembali dengan buku cetak pelajaran Kimia di tangannya. Buku yang sudah lusuh. Arga menaruhnya di meja. Lalu duduk di bawah sofa, tepat di sebelah kaki Fani. "Buku gue nih selama hampir 3 taun di kelas 3." Dengan bangga tanpa malu Arga menepuk-nepuk bukunya itu. Fani ketawa cekikikan.


"Keren bagus banget." Fani pura-pura takjub dengan buku yang di tunjukan Arga. Ikut duduk di bawah sofa. "Tandanya lo sering pake bukunya kan." Imbuh Fani. Masih cekikikan.


"Emang paling tau nih pacar gue." Dicubitnya lagi pipi Fani gemas. Fani mengusap-usap pipinya yang sebenarnya tidak terasa sakit.


Mereka berdua bejalar sambil sesekali Arga menjaili Fani. Yang terlihat sekarang memang lebih banyak bercandanya dari pada belajar. Tapi saat Fani tidak paham bahasannya Arga menjelaskan pada Fani dengan detail. Malah bisa di bilang Fani lebih paham jika Arga yang menjelaskan ketimbang Pak Danu selaku guru Kimia yang menerangkannya. Rasa penasaran muncul di otak Fani, mungkin bukan Arga tidak mampu dalam pelajaran, tapi Arga memang sengaja membuat dirinya tidak naik kelas. Fani membuka tasnya dan mengeluarkan buku tulis matematika dan fisika. Ada beberapa soal yang Fani belum bisa kerjakan karna susah. Fani meminta Arga mengajarinya. Dan benar saja dengan mudah Arga menjelaskan jawabannya. Fani memandangi wajah Arga terkesima. Lalu mengacungkan kedua jempolnya.


"Serius lo jago banget. Pinter banget!" Ujar Fani menyatakan isi pikirannya.


"Gue udah kelas 3 hampir 3 taun yaa pinter laah."


"Ajarin gue lagi yang ini." Fani membolak-balikan halaman mencari yang belum di pahaminya.


"Mana-mana?" Tanya Arga sambil memeluk Fani. Dan pemandangan belajar - bermain - belajar - bermain terus berlanjut sampai akhirnya Fani di sadarkan waktu sudah mulai gelap. Fani memasukan semua bukunya ke dalam tas.


"Gue belum ijin mau kesini. Nnti bisa di omelin." Kata Fani was-was Mamah nya akan mengomelinya karna pulang telat.


"Nanti gue yang ngomong." Ujar Arga menenangkan.


"Gak usah. Nanti lo pasti ngomong yang aneh-aneh deh. Nyokap gue jauh lebih kolot tau gak pemikirannya. Nanti malah gue ga di bolehin ketemu lo lagi." Kata Fani sudah berpikir yang ngga-ngga duluan.


"Takut yaa kalo ga bisa ketemu gue lagi. Hayoo ngaku ngaku." Goda Arga, mencolek-colek dagu Fani.


"Ngga tuh biasa aja." Fani berlalu berjalan keluar rumah Arga.


"Fanisa jujur dong, susah banget sih jujur sama pacar sendiri." Arga mengerjar Fani yang meninggalkannya.


"Biasa aja. Yuk anter balik." Fani sudah siap-siap memakai helm.


Tidak lama kemudian Fani sudah berada di depan rumahnya di antar oleh Arga. Niat baik Arga yang akan bicara langsung dengan Mamah Fani tetap di tolak Fani. Selain khawatir Arga akan ngomong yang aneh-aneh kepada Mamahnya, Fani juga belum siap kalo Mamahnya tau anaknya itu sudah punya pacar. Setelah kelulusan nanti rencananya Fani akan bercerita tentang Arga kepada Mamahnya.


"Oke oke. Sampe ketemu besok yaa Fanisa." Ujar Arga akhirnya. Fani mengangguk. Melepaskan helm yang di pakainya dan memberikannya pada Arga. Tapi belum sempat Arga melajukan motornya tiba-tiba Mamah Fani sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Melihat keluar gerbang bersama siapa putrinya berbicara.

__ADS_1


"Fanisa. Kenapa di luar aja. Ajak masuk dong sayang temennya." Kata Mamah Fani.


***


__ADS_2