
Beberapa hari sebelumnya. Kejadiannya di rumah Arga. Rangga mengetuk pintu rumah Arga. Sebelumnya Rangga ke sekolah Arga, tapi tak di dapatinya sepupunya itu di sekolah. Rangga berpikiran Arga ada di rumah. Karna Arga memilih untuk tinggal sendiri, tidak ikut mamah atau papah nya.
"Arga lo di rumah?" Teriak Rangga dari luar. Gak lama Arga keluar hanya menggunakan boxernya. Arga menguap, seperti baru bangun tidur. "Udah gue tebak pasti lo baru bangun." Rangga nyelonong masuk rumah Arga. Arga mengikuti Rangga yang sudah duduk di sofa.
"Ngapain lo pagi-pagi kesini?" Tanya Arga heran. Arga memastikan bahwa ini masih pagi atau sudah siang, lalu melihat jam di dinding. "Oh udah jam 11." Ralatnya
"Langsung aja, gue sebagai sahabat Fani, gak mau lo ngelakuin hal yang bikin Fani tersakiti. Fani orang baik Ga. Kalo lo mau main-main cari cewek lain. Jangan Fani." Tandas Rangga tanpa basa-basi.
"Bro, lo kesini cuma mau ngomong ini doang?" Tanya Arga sembari mengucek-ucek matanya.
"Gue serius Ga. Janji ke gue kalo lo gak akan main-main sama Fani." Rangga ingin membuat perjanjian dengan Arga.
"Kalo gue main-main?"
"Abis lo sama gue." Ancam Rangga.
"Takut gue. Iya gue janji gak akan main-main. Lagian gue beneran suka sama Fani tau gak." Arga meyakinkan Rangga.
"Awas lo ya. Gue balik dulu." Rangga bangkit dari duduknya. Melihat Arga yang duduk merebahkan dirinya di sofa, Rangga meraih bantal sofa lalu melemparnya ke Arga. "Mandi lo, sekolah."
"Eh lo juga sekolah, bolos kan lo." Tuding Arga. Karna jam segini jam nya sekolah. Kenapa Rangga ada di rumahnya dengan memakai seragam sekolah.
***
"Lo tau gak Ra, kenapa rasanya kalo Arga nyentuh gue, gue selalu ngerasa ga bisa nolak, gak bisa lepas. Gue berusaha buat ngendaliin perasaan, emosi, kesadaran gue tapi susah banget." Fani bercerita pada Dara. Dara menghentikan gerakan tangannya yang sedang mewarnai kukunya. Saat ini Fani sedang main di rumah Dara. Dara memaksa mengajak Fani main ke rumahnya.
"Kaya candu tau gak. Gue malah jadi pengen deket terus sama Arga." Fani melanjutkan.
Dara mengubah posisi duduknya menghadap Fani. Mendengarkan cerita Fani.
"Dulu waktu lo pacaran sama Jeri gitu gak sih? Lo ngerasain yang sama gak kaya gue?" Tanya Fani. Mengingat sebelumnya Dara punya mantan yang tingkahnya gak jauh beda dengan Arga. Tapi hanya bertahan pacaran dalam 15 hari dengan Dara.
"Sama sih. Tapi gue gak suka kalo Jeri peluk atau cium gue gak ijin dulu. Kalo main peluk-peluk kaya Arga gitu menurut gue kaya gak menghormati lo sebagai wanita gak sih." Dara mencoba menyadarkan Fani.
"Gue juga berpikir gitu sih. Tapi kalo Arga udah mulai di deket gue, pikiran kaya gitu tuh ilang Ra, gue yang ada pengen tambah deket."
"Padahal lo paling gak suka kalo ada yang pegang-pegang lo sembarangan." Dara mengingatkan bahwa memang Fani yang terkenal jutek nya di sekolah sama sekali ga ada yang berani nyolek.
"Apa mungkin karna waktu kejadian naik gunung itu Ra. Gue ngerasa ketakutan. Arga dateng ngulurin tangannya, jadi sekarang gue ngerasa nyaman kalo di deket dia." Fani masih mencari alasan kenapa dirinya begitu suka kalo di dekat Arga.
"Yaa mungkin karna itu juga sih. Atau mungkin karna selama ini lo jomblo, yaa semacem merindukan belaian gitu lo." Ucap Dara menggoda Fani sembari tertawa mengejek.
"Enak aja lo." Saut Fani. Fani menapuk lengan Dara kesal. "Jadi kapan lo mau pacaran lagi. Gue kak udah punya pacar?" Tanya Fani tiba-tiba, menghentikan tawa Dara. Mengingat dirinya berjanji gak akan pacaran sebelum Fani menemukan cowok yang di sukainya.
"Lo yang bikin gue gak bisa cari cowok. Pikiran gue tuh ke lo terus. Pake acara punya pacar macem Arga lagi." Sungut Dara.
"Emang Arga kenapa?" Fani memikirkan apa yang salah dari pacarnya. "Karna Arga selalu ngelakuin hal-hal lo gak suka? Mungkin itu cara dia Ra nunjukin rasa sukanya ke gue. Iya gak sih?" Fani mencari pembenaran.
"Terserah lo dah. Pusing gue." Dara melanjutkan mewarnai kukunya lagi.
__ADS_1
***
Mamah Fani membuka pintu kamar Fani, dan hanya berdiri di ambang pintu. Melihat anaknya belajar, Mamah Fani tersenyum. "Fan, besok mamah ada seminar di luar kota, sekitar 2-3 harian. Kamu gak apa-apa nak di rumah sendiri?" Tanya Mamah Fani khawatir.
"Gak apa-apa mah tenang aja, kalo Fani takut nanti langsung lari ke rumah Dara." Ujar Fani meyakinkan sambil cengar-cengir.
"Oke, kalo ada apa-apa kabarin mamah yaa." Kata mamah nya lagi. Fani menjawab dengan anggukan. Mamahnya kembali menutup pintu kamar anaknya.
Mamah Fani adalah dosen di sebuah universitas. Jadi sesekali ada agenda keluar kota. Dan membuat Fani hanya sendirian di rumah. Kadang kalo Fani merasa takut, Fani akan meminta Dara menginap di rumahnya. Atau Fani yang menginap di rumah Dara.
***
Fani bergegas mengikat sepatunya. Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Mamah nya sudah berangkat dari jam 5 pagi. Mamah nya sudah berkali-kali membangunkan Fani sebelum berangkat, tapi Fani berdalih masih pagi. Dan akhirnya saat mamah nya sudah berangkat tak ada yang membangunkannya lagi. Fani melewatkan sarapannya. Padahal mamah nya sudah membuatkan sarapan di meja makan.
Saat Fani menutup pagar rumahnya. Seseorang bertanya padanya. "Sorry ini rumahnya Bu Wulandari bukan?"
Fani tak langsung menjawab. Fani melirik jamnya. Mepet banget waktunya kalo harus meladeni cowok yang sedang bertanya padanya. Pasti cowok itu siswanya Mamah nya. Beberapa kali memeng ada yang datang ke rumah ingin bertemu dengan Mamah nya.
"Bukan-bukan." Fani menggelengkan kepalanya. Lalu langsung pergi meninggalkan cowok itu. Cowok itu kebingungan, dia yakin ini rumah yang di tunjukan satpam padanya.
Fani sampai di kelasnya, nafasnya tak beraturan. Gerbang di tutup saat Fani tepat sampai di depan sekolah. Fani memohon agar dirinya bisa masuk. Pasalnya hari ini ada try out. Fani gak boleh telat. Akhirnya Fani di perbolehkan masuk tanpa harus kena hukuman.
"Hampir aja lo telat." Ujar Dara saat Fani sudah duduk di sebelahnya.
"Rasanya mau mati gue, pagi-pagi udah lari." Fani membenamkan wajahnya di meja. Dara mengelus-elus bahu sahabatnya, menyemangati.
Gak lama guru masuk langsung membagikan lembar try out. Seketika suasana menjadi hening, semua murid sibuk mengerjakan ujiannya masing-masing.
***
Arga
Fani melihat layar ponselnya. Mulai mengetik balasan untuk Arga.
Fani
Sorry, hari ini gue gak bisa ketemu lo Ga. Banyak tugas nih.
Fani memasukan kembali ponselnya ke kantong roknya. Lalu melanjutkan makannya lagi. Di sampingnya ada Dara dan Rangga sedang makan bersamanya. Mereka bertiga terlihat kepedasan, memakan bakso ektra sambal. Mengerjakan soal try out membuat kepala mereka hampir meledak. Ektra sambal ini membuat mereka akan kembali menetralisir otak mereka, itu yang biasanya mereka lakukan kalo sudah pusing dengan ujian-ujian. Banyak try out minggu-minggu ini karna memang sudah memasuki semester akhir. Mereka harus banyak mempersiapkan untuk ujian akhir nanti.
“Rumah gue yaa balik sekolah.” Fani mengingatkan kembali kedua sahabatnya. Keduanya mengangguk mengiyakan. “Tapi lo nginep lo Ra.” Fani memaksa Dara untuk menginap di rumahnya.
“Siap komandan.”
“Gue nginep sekalian gak nih” Tanya Rangga menggoda.
“Nginep aja sana di rumah Tania.” Jawab Fani di ikuti tawa Dara dan Fani.
“Jahat lo.” Sungut Rangga.
__ADS_1
“Balik kelas yuk.” Ajak Dara setelah melihat kedua sahabatnya menghabiskan baksonya. Ketiganya berdiri meninggalkan kantin.
***
Fani meregangkan badannya berkali-kali. Tugas yang di kerjakan mereka belum selesai juga, padahal mereka sudah menghabiskan waktu 4 jam. Walaupun tidak full 4 jam mereka mengerjakan tugasnya. Kebanyakan waktu di gunakan untuk ngerumpi Fani dan Dara. Rangga hanya mendengarkan ocehan-ocehan kedua sahabatnya.
Rangga melihat jam di tangannya, lalu membereskan buku-bukunya yang berserakan di lantai. "Gue yang lanjutin aja deh tugasnya, tinggal dikit lagi." Ujar Rangga sembari membereskan bukunya.
"Ah yang bener? Gue seneng banget kalo gitu." Mata Fani berbinar-binar, Fani buru-buru ikut membereskan buku. Rangga hanya tersenyum melihat tingkah Fani. Sedangkan Dara sudah tidur dari setengah jam yang lalu.
Setelah selesai membereskan semua bukunya Rangga pamit pulang pada Fani. "Gue balik yaa? Apa nginep sini aja?" Tanya Rangga bercanda.
Fani meninju pelan lengan Rangga. "Boleh, tidur luar yaa."
"Fan, kalo lo ngerasa gak nyaman dengan Arga, bilang ke gue yaa." Ucap Rangga pelan saat berdiri dari duduknya. Fani mengangguk sembari tersenyum. Lalu Fani mengantar Rangga pulang sampai depan pintu rumahnya.
"Fanisa." Teriak seseorang dari luar gerbang.
"Arga lo ngapain?" Fani menghampiri Arga yang sedang menunggunya di jok motor.
"Nungguin lo Fanisa." Jawab Arga singkat, kemudian melihat Rangga sudah di belakang Fani. "Lo balik lo, udah malem." Arga memerintah Rangga untuk pulang. Tidak mendengarkan ucapan Arga, Rangga malah ikut duduk di jok motor milik Arga. "Ngapain lo malah di sini, sana balik." Arga menyikut purut Rangga agar pindah dari motornya.
"Gak, gue mau pulang bareng lo." Rangga beralasan.
"Idih lo kan bawa motor sendiri." Arga menunjuk motor Rangga yang di parkir tak jauh dari motor Arga.
"Oh iya, tapi gue tetep mau pulang sama lo." Rangga menarik lengan Arga, memeluk lengan Arga lalu di goyang-goyangkannya. Fani tertawa geli melihat tingkah kedua cowok di depannya saat ini. Arga menoyor kepala Rangga agar menjauh darinya.
"Minggir sana lo, ganggu aja." Arga berdiri dari jok motornya lalu mendekati Fani. Arga memeluk erat Fani di pelukannya. Fani yang seperti biasa tidak bisa membaca tingkah Arga yang implusif, mendadak mematung. Aliran darahnya cepat dan mulai terasa panas. "Gue gak pernah nunggu selama ini. Gue kangen pengen ketemu." Ucap Arga pada Fani, bibir Arga hanya berjarak 5 senti dari telinga Fani. Sehingga hembusan nafas Arga terasa di telinga Fani.
Rangga yang melihat tindakan sembrono sepupunya langsung menarik kerah baju Arga. Hingga pelukan Arga dan Fani terlepas. "Eh liat ini di depan rumah orang. Sembarangan aja lo." Rangga menggerutu. Arga tidak mengiraukan ucapan Rangga, malah membelai mesra rambut Fani.
"Emang lo nunggu berapa jam? Kenapa gak panggil atau telfon. Malah nunggu di luar." Tanya Fani penasaran.
"Mmm.. sekitar setengah jam. Gue tau lo lagi ngerjain tugas, makanya gak mau ganggu."
"Setengah jam ko lama." Rangga tertawa mendengar jawaban sepupunya itu.
"Diem lo berisik!" Bentak Arga merasa Rangga terus menganggunya dari tadi.
"Mau masuk?" Fani menawarkan pada Arga.
Arga tersenyum dan langsung mengangguk mengiyakan tawaran Fani. Lalu dengan cepat menyambar tangan Fani dan menggandengnya berjalan masuk ke dalam rumah. Rangga yang gak mau Arga masuk kedalam rumah Fani langsung menarik kerah baju Arga lagi.
"Gak, lo harus balik sama gue. Udah malem. Gue ada perlu sama lo." Ujar Rangga.
Dan setelah perdebatan yang panjang antara Rangga dan Arga, akhirnya Arga ikut pulang bersama Rangga. Tapi sebelumnya seperti biasa selalu ada tindakan implusif dari Arga. Arga mendekatkan bibirnya pada telinga Fani, begitu dekat, sampai begitu terasa hembusan nafas Arga. Kedua tangan Arga sudah di bahu Fani.
"Besok lo yang kerumah gue yaa. Jangan bilang siapa-siapa." Bisik Arga. Membuat jantung Fani tak berhenti berdegup dengan kencang. Fani teringat kalo Arga tinggal sendirian di rumah. Dan Fani membayangkan hanya berdua dengan Arga di rumah. Arga meremas kedua bahu Fani, membangunkan Fani dari lamunannya. Lalu Fani mengangguk cepat. Arga tersenyum melihat jawaban Fani. Berbalik mendekati motornya. Gak lama Rangga dan Arga melaju dengan motornya. Tersisa hanya Fani yang menyesali jawabannya.
__ADS_1
"Kenapa gue ngangguk." Fani memukul pelan kepalanya menyesali.
***