Fantasy World Online

Fantasy World Online
Sekali lagi terlibat dengan VR


__ADS_3

Loading… 


Welcome to MMO Channel! 


"Okay, apa semuanya sudah siap?! MMO Channel kali ini akan memberikan info seputar Fantasy World Online kepada para pemain sekalian. Sekitar jam 10:38 menit yang lalu, sebuah misi telah ditambahkan ke dalam Hidden Mission yang berhadiah pedang kelas Ultimate bernama Obsidian Blade. Saat ini lokasi misinya sudah diketahui oleh para pemain veteran namun belum ada diantara mereka yang dapat menyelesaikan misi tersembunyi tersebut. Inilah saatnya kalian para pemain untuk berkompetisi dalam menyelesaikan misi tersembunyi itu dan dapatkan hadiahnya, Obsidian Blade terbatas bagi mereka yang mampu menyelesaikan misi tersembunyi itu sebelum misi itu dinonaktifkan kembali oleh Sistem! Sekarang tunggu apa lagi, ayo berpetualang!"


"Yeah! It's time to shine, baby!"


"Obsidian Blade? Kelas Ultimate? Hahaha, let's Go!"


"Wooo!!!"


Aula VR Neet saat ini penuh dengan sorak-sorai para pemain VR MMORPG terpopuler Fantasy World Online karena game VR yang satu ini mendapatkan update Hidden Mission dengan hadiah yang paling diinginkan oleh setiap pemain game tersebut. Yaitu, Ultimate Class Equipment, dimana perlengkapan kelas Ultimate ini adalah tingkatan tertinggi dari Equipment Class dalam Fantasy World Online dengan atribut yang sangat kuat. 


Obsidian Blade, sebuah pedang ungu bertipe 2HS dengan spesialisasi daya rusak yang sangat tinggi. Informasi tentang atribut pedang ini bocor ke internet saat seorang hacker berhasil meretas server Fantasy World Online beberapa jam yang lalu meski sekarang server game tersebut sudah ditingkatkan keamanannya. Dan seperti inilah tampilan atribut Obsidian Blade tersebut. 


✾●✾


Obsidian Blade


ATK: 1000 (80%)


Power: 10000


Class: Ultimate


Type: Two Handed Sword


Max HP +10000


Max MP +5000


Attack +50%


Strength +50%


Dexterity +50%


Critical Rate +150%


Critical Damage +100%


Short Range Damage +75%


Physical Penetration +75%


Physical Barrier +5000


Magical Barrier +5000


Rare: Very Rare(SSS) 


Refine: +50(SSS)


1st Slot: Obsidian Stone


2nd Slot: Exotic Stone


Get From: Reward of Limited Hidden Mission - Vengeance of The Obsidian


✾●✾


Dilihat dari manapun atribut pedang Obsidian tersebut sangatlah Overpower dengan serangan dasarnya saja sudah menyentuh 4 digit angka dan memiliki kekuatan yang menyentuh 5 digit angka, stabilitasnya juga sangat tinggi yaitu 80%, pemain mana yang tidak menginginkan pedang kelas Ultimate tersebut? Semua pemain pasti sangat menginginkan pedang tersebut namun tentu saja melihat atributnya sendiri sudah tertera sangat jelas tingkat kelangkaannya itu sangat langka atau triple S, dengan tingkat kelangkaan seperti itu jelas misi tersembunyi tersebut sangatlah sulit untuk diselesaikan oleh seorang pemain, bahkan mungkin beregu sekalipun.


"Mereka berisik sekali, padahal aku yakin mereka juga tidak akan bisa menyelesaikan misi pembalasan sang Obsidian itu."


"Yah, biarkan saja mereka bersenang-senang King, nanti saat gagal mereka juga akan putus asa seperti kita."


Terlihat ditempat duduk paling pojok dua orang pemuda berbicara satu sama lain dengan wajah kesal, mereka berdua tentunya adalah pemain Fantasy World Online juga jika mendengar dari pembicaraan mereka barusan.


"Hei, apa kau tidak mau membujuk dia, King?"


"Dia tidak akan kembali ke dunia VR lagi katanya kecuali ada suatu peristiwa seperti game VR pertama yang diciptakan Argex Corporation dulu."


"Hm… begitu ya, padahal kalau dia kembali pasti Guild Nusantara akan kembali berjaya seperti dulu."


"Ya kau benar, tapi mau bagaimana lagi dia sudah memiliki banyak kekayaan dari game VR pertama dan kedua melalui kepopulerannya sebagai pemain terkuat sepanjang masa. Yang lebih penting lagi, kita juga harus berjuang untuk mengikuti jejaknya, Ren."


"Ya, kau benar tentang itu. Besok, apa kita coba lagi misi pembalasan sang Obsidian itu? Tapi kita harus membentuk regu besar untuk menyelesaikannya."


"Masalahnya, hadiahnya hanya untuk satu orang pemain, Ren. Kita tidak tahu pasti siapa yang akan mendapatkan Obsidian Blade itu antara kita berdua atau justru malah pemain lain nanti yang dapat."


"Pikirkan nanti soal hadiahnya, selama kita berhasil menyelesaikan misi sulit itu, bukankah itu juga seperti hadiah untuk kita?"

__ADS_1


"Hah~ baiklah, ayo kita coba lagi besok dan seterusnya sampai misi itu dinonaktifkan kembali."


"Nah itu baru sahabatku yang aku kenal, Riky Ardian."


Riky Ardian yang biasa dipanggil King tersebut tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu, dia mengepalkan tangannya dan meninju udara kosong diatas kepalanya.


"Ayo kita taklukan misi kampret itu, Reno Zein sahabatku!"


Ren hanya sweat drop melihat semangat sahabatnya yang menjadi over tersebut. Dia menghela nafas lalu bergumam.


"Hn."


●●●


Fantasy World Online, VR Game popular saat ini yang menggunakan sistem operasi VWR sedang gempar karena beredar kabar seorang pemain terbunuh saat sedang dalam kondisi Perfect Dive kedalam game tersebut. Menurut keterangan seorang pemain, korban saat itu sedang bersama anggota regunya didalam game tersebut bersiap untuk memulai Hidden Mission Vengeance of The Obsidian. Namun ditengah perjalanan korban tiba-tiba menerima serangkaian serangan sihir dari seorang pemain yang menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh karakternya. Pemain misterius itu mengatakan sebuah kalimat "Aku datang kembali untuk menuntut balas, engkau yang berdiri di puncak" Sebelumnya lalu menyerang korban dengan sihir setelah itu. Saat korban menerima serangan tersebut, HP nya hanya berkurang 1000 poin dari total 15000 poin. Namun kejanggalan terjadi setelah korban berkata "Ini tidak ada apa-apa nya dibanding saat sang legenda menggunakan senjata itu dulu" Setelah berkata seperti itu, korban mulai mengalami kejang-kejang pada tubuh karakternya seperti terkena efek pelumpuh, lalu tidak berselang lama setelah itu korban logout dari dalam game atau lebih tepatnya, putus koneksi. Disaat yang bersamaan di dunia nyata korban ditemukan tewas oleh pihak keluarganya dengan perangkat Perfect Dive terpasang dikepalanya.


Saat ini sebuah organisasi milik pemerintah sedang bergerak menyelidiki kasus terbunuhnya seorang pemain VR Game popular tersebut. Mereka adalah VR Force Organization yang bergerak dalam bidang kasus kejahatan virtual, organisasi ini terbentuk sejak akhir era berdarah pada VR Game pertama yang bernama Freedom Fantasy Online itu dimana pada era game tersebut, banyak nyawa pemain melayang yang diakibatkan oleh salah satu bug sistem yang dimana membuat perangkat Perdiv pemain menerima gelombang mikro yang sangat kuat, hal itu menyebabkan rusaknya jaringan saraf pada otak pemain yang mengakibatkan pemain meninggal dunia seketika, untungnya game tersebut segera ditutup setelah seluruh pemain yang tersisa berhasil diselamatkan dan game tersebut dinyatakan berbahaya. Dan kini organisasi tersebut terpanggil untuk memecahkan kasus terbunuhnya pemain tersebut sebelum kejadian berdarah pada VR Game pertama itu terjadi kembali pada VR Game Fantasy World Online tersebut. 


Saat ini seorang pria berpakaian kantoran sedang berbicara dengan seorang pemuda berusia sekitar 19 tahunan di sebuah cafe. Pria itu terlihat memasang wajah serius saat melakukan pembicaraan dengan pemuda tersebut.


"Apa itu sebuah bug sistem lagi?" Pemuda itu bertanya serius.


"Tidak, kejadiannya berbeda dengan di FFO. Kali ini kasusnya terkesan seperti kasus pembunuhan terencana." Pria itu menjawab dengan wajah serius juga.


"Jadi, Pak Ryan ingin aku melakukan penyelidikan dalam game FWO, begitu?"


"Ya begitulah, tenang saja bayarannya ada." Kata Pak Ryan sambil mengangkat tangannya dan membentuk 4 jari terbuka dengan ibu jari tertekuk.


"Pak Ryan tahukan kalau kasus yang berurusan dengan kematian dalam VR Game itu sulit untuk diselidiki, bahkan jika dibayar 4 juta sekalipun."


"Yah, aku tahu itu Azios," Pemuda yang dipanggil Azios tersebut menatap tajam pria itu.


"Mah, jangan menatapku seperti itu, Aziz. Aku cuma bercanda." Kata Pak Ryan sedikit gugup.


"Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak memanggilku dengan nama itu, Pak Ryan? Kau tahu aku tidak ingin mendapatkan masalah dari nama itu."


"Ahaha, yah… maaf keceplosan."


"Hah~ lebih baik kita langsung ke intinya saja. Kau ingin membayarku 4 juta untuk penyelidikan itu?" Pak Ryan mengangguk mendengar pertanyaan itu.


"Aku menolak." Lanjut Aziz tegas.


"Tu-tunggu. Apa maksudmu? Bukankah kau pernah bilang kau akan kembali bermain VR saat ada kejadian seperti di FFO terjadi? Lalu kenapa kau menolaknya? Apa bayarannya kurang? Kalau begitu akan aku tambah jadi 5, bagaimana?"


"Kalau begitu kapan kau tidak sibuk dengan pacarmu itu?"


"Aku tidak tahu."


"Kalau begitu, saat kau ada waktu luang kau bisa menghubungiku."


"Baiklah."


Setelah melakukan pembicaraan diatas, Aziz pergi meninggalkan Pak Ryan seorang diri dicafe itu dengan berbagai pikiran.


'Apa aku harus terlibat lagi dengan VR? Nanti aku bicarakan dengan Rini.'


●●●


[Fantasy World Online


Avante, Bukit Floram.]


Terlihat seorang wanita berbicara dengan seorang pria dengan wajah serius. Wanita itu kemudian berjalan mendekati pria itu dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.


"Dia pasti kembali, Albert. Saat dia kembali, kau akan tamat." Bisik wanita itu lalu berjalan melewati pria itu yang tubuhnya bergetar.


"Lusiana, ancamanmu tidak akan membuatku gentar." Lusiana tertawa sambil terus berjalan menjauhi pria bernama Albert tersebut.


'Sial! Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia VR saat ini? Kenapa dia akan kembali ke dunia ini? Apa ini ada hubungannya dengan Hidden Mission itu? Atau… kasus kematian yang dirumorkan itu? Aaaahh, sialan kau Raja Terakhir! Kau mau sampai kapan menerorku dengan rasa sakit itu, haaahhh!'


Albert berteriak keras dalam pikirannya dengan tubuh bergetar sambil mengingat suatu kejadian dimana seorang pemain dengan julukan Raja Terakhir menebaskan sebuah Antena televisi lama yang membuat dirinya merasakan sakit didunia nyata karena tebasan itu seperti memancarkan gelombang yang mampu mengirim sensor rasa sakit ke otaknya. Rasa sakit yang dia rasakan saat itu lebih sakit daripada tertusuk ratusan pisau, efek dari tebasan itu juga memberikan bekas luka mental padanya dimana dia sempat trauma untuk bermain VR Game lagi. Dia baru kembali bermain VR Game setelah mendengar pemain berjulukan Raja Terakhir itu memutuskan untuk meninggalkan dunia VR setelah dua kali terlibat dengan kasus kematian dalam game VR, dia sempat tenang karena pemain itu tidak ada lagi didunia VR yang dia cintai ini, namun setelah perkataan Lusiana tadi traumanya kembali muncul lagi membuat dia merasa seperti di Neraka saat ini.


Disisi Lusiana, dia mengamati perilaku Albert dari balik sebuah pohon, dia menatap pria itu dengan wajah serius lalu setelah itu dia membuka jendela menu dan mengirim suatu pesan kepada seseorang. 


'Albert, dia bukan pelakunya. Seseorang yang terlibat dengan kasus kematian itu pasti membenci pemain legenda itu, dilihat dari manapun Albert sangat trauma sejak kejadian pemutusan paksa koneksi Perdiv dulu yang dilakukan oleh Sang Raja Terakhir.' Lusiana berbalik sambil mengeluarkan sebuah kristal biru. 


"Teleport, Kota Sofya." Lusiana menghilang dari sana tanpa ada yang menyadarinya.


●●●


[Real World]


Suara tebasan pedang terdengar, setelah itu suara seorang gadis berbicara dari ponsel pintar miliknya. 

__ADS_1


"[Master, ada panggilan masuk, tolong diangkat!]"


Aziz mengambil ponselnya dari saku celananya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Rangga?" Aziz mengangkat telpon dari Rangga tersebut.


"Halo, ada apa Rangga, kenapa kau menelponku?"


"Aziz, Rini menghianatimu."


"!? Apa maksudmu?"


"Saat aku sedang jalan sama Airi, aku melihat Rini bersama seorang pria, sepertinya pria itu orang kaya. Aku juga mendengar Rini bilang mencintai pria itu."


Aziz terdiam mendengar penjelasan dari temannya itu, dia menggertakkan giginya kuat dengan rasa marah yang mulai memuncak, namun secara mengejutkan dia berhasil menenangkan dirinya meski raut wajahnya masih terlihat menunjukkan kemarahannya.


"Terima kasih infonya, nanti akan aku tanyakan sama Rini."


"Oke, jangan sampai terbawa emosi, Aziz."


Setelah Rangga selesai mengatakan itu, Aziz menutup telponnya dan berjalan pergi untuk menemui Rini, pacarnya.


●●●


Rini berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria yang beberapa tahun lebih tua darinya. Rini tersenyum manis saat pria itu menggombali dirinya dengan kata-kata manis.


"Ah, aku biasa saja kok, sayang." Kata Rini malu.


"Tidak, tidak. Kau itu bagaikan bidadari yang turun dari kayangan, cantik dan begitu indah. Aku bahkan tidak mampu untuk berpaling darimu, Rini."


"Ah, kau bisa saja, Luis." Balas Rini malu.


Tanpa Rini sadari, Aziz menatap kearahnya dari seberang jalan. Pemuda itu tampak sangat marah sekali terlihat jelas dari tatapan matanya yang tajam seperti predator yang siap menerkam mangsanya. Aziz berjalan mendekati Rini dan pria itu, setelah Aziz berada cukup dekat dengan Rini, dia berbicara.


"Oh, begini ya acara kumpul dengan teman-temanmu, Sayang." Kata Aziz datar dengan penekanan saat menyebut kata sayang. Rini yang mendengar suara yang dia kenali menoleh ke sumber suara itu dan dia terkejut saat dia melihat pacarnya, Aziz yang menatap dirinya dengan wajah datar dan dingin.


"A-Az…"


"Apa? Kau bahkan tidak mampu memanggil namaku. Cih, padahal aku sudah melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, tapi…" Aziz menggelengkan kepalanya kecewa, dia kemudian melepaskan sebuah cincin yang selalu dia pakai di jari manisnya.


"Aku kecewa padamu. Ini aku kembalikan cincin ini padamu, dan ambil saja cincin pemberianku itu atau buang saja sekalian kalau sudah bosan." Aziz menyerahkan cincin itu kepada Rini dengan sedikit kasar, dia kemudian berbalik untuk pergi namun bahunya ditahan oleh pria itu.


"Siapa kau? Berani sekali kau menyakiti bidadariku!"


"Lepaskan tanganmu dariku." Satu peringatan bernada dingin terlontar dari mulut Aziz.


"Omong kosong! Kau akan aku hajar karena berani membuat bidadariku menangis!"


"Aku bilang, lepaskan tanganmu dariku." Dua peringatan bernada dingin terlontar dari mulut Aziz.


"Luis, su-sudah, ayo kita pergi…" Kata Rini dengan nada takut-takut.


"Hah? Kau ingin aku membiarkan orang miskin ini menyakitimu? Rini jangan menghalangiku, biarku beri sampah ini pelajaran!" Kata Luis marah.


"Luis, sudahlah, aku…"


"Cukup, Rini. Kau diam saja dan tunggu aku disana." Potong Luis sambil menunjuk kearah bangku di pinggir jalan didepannya atau lebih tepatnya didepan sebuah toko. Rini dengan terpaksa menuruti perkataan Luis tersebut saat pria itu menatap dirinya tajam. Luis kemudian mengalihkan pandangannya kearah Aziz namun saat dia melakukan itu sebuah pukulan tangan kanan menghantam wajahnya dengan sangat keras. Luis meringis kesakitan saat menerima dengan telak pukulan Aziz tersebut.


"Sialan! Beraninya menyerang saat orang belum siap, dasar pengecut!"


"Pengecut ya? Ya, aku pengecut memang, karena membiarkan pacarku… tidak, mantan pacarku direbut olehmu." Setelah mengatakan itu, Aziz menendang pria itu didadanya membuat pria itu jatuh menghantam tanah, dia kemudian menginjak dada pria itu dengan kuat lalu setelah itu dia berniat untuk menginjak wajah pria itu namun ucapan Rangga kembali terlintas dikepalanya membuat dia menghentikan niatnya saat kakinya hampir menyentuh wajah pria itu yang sedang memasang ekspresi kesakitan sambil memegangi dadanya.


"Cih, lain kali dengarkan peringatan orang lain, atau kau akan berakhir seperti ini lagi, pencuri pacar." Aziz berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Rini menyaksikan kejadian tersebut dengan wajah yang sulit diartikan.


Aziz terus berjalan dengan perasaan kecewa dan sakit hati yang dia rasakan itu, itu adalah kali pertama dia patah hati dan itu sangat menyakitkan untuknya yang baru pertama kali ini merasakan perasaan seperti itu. Aziz mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang lalu menelpon orang itu.


"Halo, Pak Ryan. Aku berubah pikiran, aku akan langsung terjun ke dunia VR lagi dan melakukan penyelidikan itu."


"Eh? Apa kau yakin? Bagaimana dengan pacarmu?"


"Ck, jangan pedulikan itu, yang lebih penting aku sudah berubah pikiran kan. Besok aku akan mulai Perdiv lagi ke dunia VR. Game FWO, kan?"


"Yah bagus kalau kau sudah memutuskan untuk kembali, dan ya di FWO kali ini kasusnya. Sekalian kau selesaikan Hidden Mission itu untuk mencari lebih banyak informasi karena menurut orangku pelakunya membenci Sang Raja Terakhir."


"Ho? Bagus sekali. Aku bisa melampiaskan kekesalanku padanya nanti. Kalau begitu sampai ketemu besok sebelum aku Perdiv ke dunia VR, Pak Ryan."


"Sepertinya kau habis… ah bukan apa-apa. Baiklah besok jam 10 pagi kita bertemu di VR Neet. Sampai jumpa, Aziz."


Dengan itu hubungan komunikasi itu mereka putus dan Aziz melanjutkan perjalanannya dengan wajah datar.


'Pelajaran pertama, jangan percaya kepada perempuan begitu saja. Pelajaran kedua, sakit hati ini akan memperkuat diriku. Pelajaran ketiga, Terima kasih sudah menyakitiku, Rini.'


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2