
[Real World]
Malam hari, di kamar sebuah rumah sederhana terlihat seorang gadis sedang duduk dipinggir tempat tidurnya sambil mengingat sesuatu yang sepertinya menyenangkan untuk gadis itu. Wajah cantiknya menampilkan senyuman tipis dengan sedikit rona merah menghiasi pipinya. Gadis itu membaringkan tubuhnya lalu dia menatap sebuah helm dengan nama Cloud Gear di meja kecil dekat tempat tidurnya sambil mengingat sesuatu yang menyenangkan itu lagi.
"Ah, rasanya membimbing newbie itu sangat menyenangkan ya."
Gadis itu bergumam pelan, dia kemudian menatap langit-langit kamarnya.
"Yuna itu hebat ya. Aku pikir dia itu bukan newbie, tapi pemain veteran yang mungkin baru membuat akun di FWO."
Gadis itu mengingat bagaimana seorang pemain dengan karakter wanita dewasa bernama Yuna di beberapa momen, pemain itu dengan nekatnya maju kedepan monsternya meski dia menggunakan senjata busur yang diperuntukkan untuk menyerang dari kejauhan.
"Kira-kira, dia itu beneran wanita atau Fakegirl? Karakternya sangat cantik sih."
Gadis itu mengangkat tangannya keatas dan melakukan gerakan menebas sesuatu dengan tangannya itu.
"Berpura-pura menjadi laki-laki itu sulit ya. Kira-kira Riky bagaimana perasaannya ketika aku merepotkannya padahal aku bukan pacarnya."
Gadis itu menjatuhkan tangannya begitu saja saat gambaran wajah seorang pemuda sekilas terlintas dipikirannya.
"Lebih baik aku tidur saja, tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang."
Gadis itu menguap sambil menutupi mulutnya dengan salah satu tangannya.
"Selamat tidur…"
●●●
[Fantasy World Online
Avante, kota Sofya.]
Yuna duduk disebuah bangku ditaman kota Sofya. Setelah dia berhasil keluar dari labirin bawah tanah Sofya, dia langsung pergi ke taman kota itu setelah bertanya pada NPC dijalan tadi. Yuna terdiam sambil menatap langit FWO dengan wajah kecewa saat dia mengingat apa yang menjadi penyebab dia kembali lebih cepat ke dunia VR.
'Rini, kenapa kau melakukan itu? Apa yang kurang dariku?'
Yuna menghela nafas kecewa, dia kemudian berdiri berniat untuk pergi namun...
"Hei hei, lihat ada seorang wanita yang sedang galau. Hei nona, apa kau sedang patah hati? Kalau iya, bagaimana kalau kami obati dengan permainan kami yang menyenangkan, kau pasti akan terhibur, iya tidak teman-teman?"
"Iyes, hehehe."
"Hehe tentu saja."
Yuna menghela nafas melihat ketiga pemain didepannya itu, dia kemudian membuka menu dan mengirim undangan duel kepada ketiga pemain tersebut. Duel ada dua jenis di FWO, duel RvR dan duel SvS. Duel RvR atau Regu VS Regu adalah duel yang sedang Yuna gunakan saat ini. Sedangkan duel SvS itu adalah sistem default dari suatu Game yang tidak lain adalah duel Satu VS Satu.
"Hoho? Kau setuju untuk bermain bersama kami? Hehe bagus, meski tidak nyata tapi... Ugh!?"
Yuna langsung menembakkan anak panah pada pemain yang memimpin itu setelah pemain itu menerima undangan duel RvR dari dirinya.
"Kurang aja! Serang dia dan lucuti pakaiannya!"
"Oke!"
"Siap!"
Yuna melompat mundur saat kedua pemain itu menyerangnya dengan senjata mereka yang berupa pedang satu tangan dan tombak. Saat Yuna melompat dia bisa dengan bebasnya menembakkan anak panahnya kearah kedua pemain itu.
"Cih, pengguna busur benar-benar merepotkan kalau diajak duel. (Tapi, dilihat dari tampilan busurnya dia pasti pemain baru. Hehehe, ini akan mudah.)"
Setidaknya itulah isi pikiran pemimpin kelompok pemain yang saat ini sedang berseteru dengan Yuna, tanpa menyadari suatu kejanggalan pada pemain yang sedang dilawan kedua temannya itu.
Pemain baru bukan berarti pemula, apa lagi jika pemain itu sendiri yang langsung mengundang duel RvR, dan pemimpin kelompok pemain itu tidak menyadari kejanggalan itu...
●●●
[Real World]
Sekitar jam 11 malam Aziz logout dari FWO dengan perasaan kesal, itu karena ketika dia sedang merenung tiba-tiba ada 3 pemain yang dengan bodohnya ingin melakukan tindak kejahatan padanya, atau lebih tepatnya pada karakter Yuna.
Setelah dia mengalahkan mereka dalam duel RvR, dia mengambil imbalan dari duel itu yang menjadi haknya. Saat seorang pemain melakukan duel, ada dua jenis hadiah mutlak dalam dunia VR MMORPG, pertama hadiah yang disepakati dan kedua hadiah yang tidak ditentukan. Bagi mereka yang tidak melakukan kesepakatan seperti duel yang Yuna lakukan tadi, hadiah yang akan pemenang dapatkan adalah uang dalam Game yang merupakan milik pemain yang kalah, hak dari pemain yang menang adalah setengah dari total uang yang pemain yang kalah miliki. Memang fitur ini cukup merugikan untuk pemain pemula meski sudah berlevel tinggi, tapi itu juga menjadi sebuah peringatan untuk semua pemain bahwa melakukan duel itu memiliki resiko meski bukan kematian dengan begitu tidak ada pemain yang akan asal-asalan menerima tantangan duel dari pemain lain karena takut kehilangan uang mereka.
Aziz duduk dan melepas Cloud Gear miliknya yang terlihat sudah luntur tulisan Cloud Gearnya. Aziz menyimpan alat itu di meja kecil disamping tempat tidurnya.
'Hari pertama tidak ada informasi yang berarti. Besok aku akan pergi ke VR Neet untuk mencari informasi dari orang-orang disana.'
Aziz kemudian berbaring dikasurnya dan tidur untuk memangkas waktu...
●●●
[VR Neet]
Aziz duduk di salah satu tempat duduk disana yang paling dekat dengan sekelompok muda-mudi yang sedang mengobrol. Aziz memperhatikan dan mendengarkan apa saja yang ada dan dibicarakan oleh orang-orang yang ada di VR Neet.
"Kemarin itu benar-benar memusingkan ya, untungnya bisa teleport kalau tidak apa yang akan terjadi dengan kita di hutan ilusi itu."
__ADS_1
"Terjebak disana benar-benar menakutkan karena karakter kita tidak akan hilang meski kita logout."
"Aku tidak akan pergi ke tempat itu lagi."
Aziz sedikit menghela nafas saat dia tidak mendengar satupun yang membicarakan kejadian pemain yang terbunuh itu ataupun membicarakan tentang Hidden Mission yang memiliki syarat untuk menyelesaikannya itu sangat janggal sekali untuk sebuah misi yang membutuhkan regu besar. Aziz berdiri dan berjalan mendekati kelompok muda-mudi tersebut.
"Hai, sepertinya kalian habis terkena sedikit masalah ya."
Mendengar suara seseorang berbicara membuat mereka menoleh dan melihat seorang pemuda berjalan menghampiri mereka.
"Kau siapa?"
Aziz berhenti saat sudah dekat dengan tempat duduk mereka.
"Namaku Aziz, boleh aku bergabung dengan kalian?"
"Tentu silahkan. Aku Leon dan mereka teman-temanku, dia ini Lucy, dia Bambang, Siska dan dia Zahra." Kata Leon mempersilahkan Aziz sekaligus memperkenalkan teman-temannya.
"Salam kenal."
"Salam kenal juga ya."
Aziz tersenyum kecil menanggapi respon mereka yang terdengar ramah padanya. Aziz duduk dikursi kosong disana.
"Apa kau juga bermain FWO, Aziz?" Tanya Leon.
"Aku bermain tapi untuk saat ini aku hanya iseng-iseng saja mainnya."
"Iseng-iseng?" Tanya Lucy bingung.
"Ya, aku hanya jalan-jalan disana."
"Kenapa hanya jalan-jalan saja, kenapa tidak langsung bermain seperti pemain pada umumnya?" Tanya Bambang heran.
"Aku ada pekerjaan yang berhubungan dengan kematian dalam game, aku harus hati-hati karena itu cukup berbahaya meski belum dapat dipastikan seratus persen kebenarannya."
"Kasus kematian ya? Hm... Di FWO memang pernah terjadi kematian seperti itu tapi informasinya ditutupi oleh pihak yang mengetahuinya, itu akan sulit untuk mencari informasi tentang kejadian itu sekarang." Kata Leon serius.
"Ya, kau benar tentang itu." Kata Aziz, dia juga mengeluarkan smartphone miliknya.
"Apa kita bisa berteman? Aku benar-benar butuh informasi tentang kejadian itu dan melakukannya sendirian benar-benar sangat sulit untuk mendapatkan informasi, diluar ataupun didalam game." Kata Aziz.
"Tentu kita bisa berteman, dan lagi aku juga sedang menyelidiki kasus itu juga atas permintaan keluarga korban." Kata Leon.
"Bukankah itu suatu kebetulan? Kita bisa bekerja sama untuk mengungkap kasus ini." Kata Aziz.
"Aku tidak menggunakan Simcard, tapi Smartwifi." Kata Aziz.
Smartwifi adalah suatu jaringan internet modern yang memiliki fungsi seperti wifi pada umumnya namun Smartwifi ini dipasang diperangkat seperti smartphone sebagai pengganti Simcard lama karena Smartwifi ini akan menghubungkan siapapun dan dimanapun dengan koneksi internet yang stabil hanya menggunakan kode yang sudah disesuaikan oleh penggunanya dan sekali ditetapkan tidak akan bisa diganti lagi. Untuk menggunakan Smartwifi smartphone seseorang harus terinstal aplikasi Smartdial sebagai pengganti aplikasi dial bawaan smartphone mereka karena seseorang yang menggunakan Smartwifi membutuhkan semacam scan kode QR untuk menampilkan alamat Smartwifi yang ingin dihubungi.
"Kalau begitu tunjukkan kodemu." Kata Leon sambil membuka aplikasi Smartdial di smartphone miliknya.
Aziz juga membuka Smartdial dan masuk ke menu My Profile, Aziz kemudian menekan huruf A dengan font yang unik. Saat Aziz menekan huruf A tersebut sebuah kode QR muncul, Aziz kemudian menunjukkan kode itu pada Leon yang segera Leon scan dengan smartphone miliknya. Di smartphone Leon muncul huruf A yang ada di smartphone Aziz tadi dan juga tertera nama Aziz Azlords diatas huruf A tersebut.
"Kau bisa menghubungiku jika kau mendapatkan informasi tentang kejadian itu, Leon. Saat ini aku harus kembali dan login untuk melanjutkan pencarianku." Kata Aziz sambil berdiri dari duduknya.
"Baiklah, tapi apa kita bisa bertemu didalam game nanti? Aku pikir kita perlu melakukan kontak juga disana." Kata Leon.
"Tentu, tapi akun yang saat ini aku gunakan bukan akun utamaku. Nama karakternya Yuna, kau bisa menghampiriku jika kau melihatnya." Kata Aziz.
"Yuna? Karakter wanita?" Tanya Leon.
"Ya, untuk antisipasi ketahuan seseorang karena akun utamaku akan langsung diketahui orang itu. Ya sudah aku duluan, sampai bertemu disana." Aziz berjalan meninggalkan Leon dan teman-temannya sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang.
"Menurutmu apa dia bisa dipercaya, Leon?" Tanya Bambang serius.
"Azlords, aku pernah mendengar suatu title seperti itu ada di FWO, dan title itu bersama Legendary belum pernah ada yang mendapatkannya." Kata Leon sambil mengingat nama belakang Aziz.
"Azlords? Apa yang kau bicarakan Leon?" Tanya Zahra bingung.
"Iya benar, kenapa kau mengatakan itu?" Tanya Siska.
"Nama belakang Aziz itu Azlords dan aku yakin nama itu bukan nama keluarganya, nama itu pasti ada disana karena sistem Smartwifi." Kata Leon.
"Lalu apa hubungannya dengan apa yang aku tanyakan tadi?" Tanya Bambang sweatdrop.
"Jika asumsiku tidak salah, Smartwifi memberikan nama belakang Azlords dan Azladys untuk pengguna yang merupakan pemain profesional VR Game. Aku tidak tahu pasti sistem Smartwifi itu seperti apa, tapi..." Perkataan Leon terhenti saat Bambang berteriak.
"Karena itulah... Apa hubungannya itu dengan pertanyaanku?!" Semua yang ada di VR Neet menoleh memandang kesumber teriakan itu dan teman-teman Bambang sweatdrop saat Leon tidak mendengarkan dan malah mengabaikan pertanyaan pemuda itu.
"Terkadang dia itu juga cukup menyebalkan, atau sulit dipahami." Gumam Siska sweatdrop.
●●●
[Fantasy World Online
__ADS_1
Avante, Kota Sofya.]
Yuna berjalan disekitar taman semalam dan dia bertemu dengan sekelompok pemain. Yuna menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan?"
Semua pemain yang ada disana menoleh saat ada yang bertanya.
"Kami menemukan lokasi Hidden Mission tapi level kami tidak cukup saat ini." Kata salah seorang pemain disana.
'Hidden Mission? Sepertinya HM disini masih level kecil tapi yang namanya Hidden Mission pasti hadiahnya lumayan bagus. Coba aku lihat persyaratannya dulu.'
"Apa aku boleh melihat persyaratannya?" Tanya Yuna.
"Tentu. Hidden Mission ini membutuhkan pemain berlevel 50 keatas, tapi pemain yang memiliki level lebih kecil bisa masuk jika dipimpin oleh pemain berlevel 50 keatas." Kata seorang pemain lagi.
Yuna berjalan mendekat dan menyentuh suatu portal kecil yang dikerumuni oleh para pemain itu yang letaknya disemak-semak. Saat Yuna menyentuh itu suatu jendela notifikasi muncul dan memberitahu persyaratan untuk memasuki portal menuju lokasi Hidden Mission berada.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=<<\=>>\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hidden Mission: Selamatkan Sang Putri
Reward: Busur Elfin
Persyaratan: Level 50 atau lebih tinggi.
(Pemain berlevel dibawahnya dapat berpartisipasi jika dipimpin pemain berlevel 50 atau lebih tinggi)
Warning!
Level Anda terlalu rendah untuk memasuki lokasi misi ini, buatlah regu dengan pemimpin berlevel 50 jika Anda ingin memasukinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=<<\=>>\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
'Hm... HM ini masih bisa aku masuki. Aku butuh pemain yang memenuhi persyaratan untuk memasukinya.'
Yuna menarik kembali tangannya dan memandang semua pemain yang ada disana.
'Aku rasa mereka juga belum memenuhi persyaratannya.'
Ketika Yuna sibuk dengan pikirannya beberapa pemain datang mendekati lokasi dirinya berada, para pemain itu memiliki penampilan seperti ksatria yang gagah dengan armor emas membalut tubuh mereka dan jangan lupakan senjata mereka yang memiliki warna serupa dengan armor yang mereka pakai.
"Minggir kalian para pecundang kami mau lewat."
Yuna yang sedang berpikir terpaksa harus mengalihkan pandangannya kearah empat orang pemain dengan penampilan serupa namun tidak sama yang sedang berjalan kearah dirinya atau mungkin kearah portal kecil yang merupakan jalan untuk menuju lokasi Hidden Mission yang ditemukan oleh para pemain disekitarnya itu.
"Mau apa kalian? Hidden Mission ini hanya untuk pemain berlevel kecil!"
"Benar, kalian yang sudah punya perlengkapan bagus tidak perlu kesini!"
"Heh? Tidak ada aturan yang melarang kami untuk datang kesini, sebaiknya kalian pergi sebelum kami paksa kalian berduel dengan kami."
Semua pemain yang ada disana kecuali Yuna mengambil langkah mundur untuk menghindari duel paksaan yang mungkin akan berdampak sangat buruk pada diri mereka.
Duel paksaan adalah suatu kondisi dimana pemain tertentu dipaksa untuk menekan tombol setuju oleh si penantang atau rekan si penantang dengan menggerakkan tangan pemain yang ditantang untuk menekan tombol setuju setelah si penantang mengirim undangan duel. Duel paksaan ini sudah menjadi teror bagi pemain berlevel kecil sejak Red Player bernama Reaper melakukannya didepan banyak pemain didalam kota Galvan di benua Halvangard saat ada seorang pemain berlevel kecil nyasar kesana karena menggunakan kristal teleportasi. Sejak saat itu pemain berlevel kecil terkadang terkena duel paksaan tersebut dan efek dari duel itu membuat pemain berlevel kecil menjadi tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya karena mereka telah kehilangan uang mereka sebagian untuk dijadikan hadiah untuk si pemenang.
Yuna yang dari tadi diam pun akhirnya melangkah mendekati keempat pemain berarmor emas itu.
"Aku pikir kalian seorang ksatria, tapi ternyata kalian hanya sekumpulan sampah yang lupa didaur ulang." Kata Yuna datar.
"Apa katamu?! Berani sekali kau menghina kami! Kau tahu siapa kami?!"
"Tidak tahu dan tidak mau tahu." Kata Yuna membalas perkataan penuh amarah dari pemain yang memiliki nama Lores.
"Kau!" Lores mengirim undangan duel kepada Yuna dan ketiga temannya yang lainnya berjalan mendekati Yuna dan memaksa Yuna untuk menekan tombol setuju.
Semua pemain yang ada disana kaget saat melihat dengan kasarnya ketiga pemain yang baru datang itu memaksa Yuna yang mereka pikir adalah wanita untuk melakukan duel secara paksa dengan pemain bernama Lores itu.
'Hah~ menyebalkan. Akan kubua mereka menyesal.' batin Yuna yang merupakan Aziz.
"Heh, sekarang uangmu akan menjadi milikku." Kata Lores menyeringai.
"Maaf, lihatlah levelku sekarang dan lihatlah senjataku ini." Kata Yuna.
Mendengar perkataan Yuna membuat Lores melihat level Yuna yang baru level 35 dan senjata Yuna yang hanya sebuah busur dasar pemain baru.
"Apa kau sadar? Apa kau tidak malu memaksa pemain baru berduel?" Kata Yuna sambil memegang busur dasar miliknya.
Untuk sesaat Lores terdiam sampai dia tertawa.
"Hahaha, malu? Kalau aku kalah berduel baru aku akan malu, kalau hanya memaksa pemain berduel aku harus malu itu bukanlah diriku namanya Hahaha!"
Yuna terdiam namun Aziz menyeringai.
'Bagus, akan kubuat dia mengerti perbedaan kemampuannya denganku.'
__ADS_1
"Bagitu ya? Kalau begitu ayo mulai saja duelnya."
Bersambung...