Fantasy World Online

Fantasy World Online
Regu leveling


__ADS_3

[Fantasy World Online


Avante, kota Sofya.]


Yuna berjalan dengan langkah santai menyusuri jalanan kota Sofya sambil sesekali mendengarkan percakapan para pemain yang menetap di kota tersebut. Yuna berhenti saat dia melihat cukup banyak pemain berkumpul di satu tempat di dekat sebuah patung burung Phoenix, dia kemudian berjalan menghampiri kumpulan pemain tersebut.


"Baiklah, bagi kalian para pemain baru, aku sebagai pemain lama akan membimbing kalian untuk menaikkan level karakter kalian dengan cepat. Pertama-tama, untuk menaikkan level, kalian harus memburu monster yang memiliki level berada di atas kalian. Contohnya, jika level kalian adalah 5 maka monster yang harus kalian buru adalah monster berlevel 10 dan di bawahnya, lebih dari itu kalian tidak akan mampu dan jika pun mampu exp yang didapatkan tidak akan terlalu besar dan cenderung kecil."


Yuna yang mendengar penjelasan pemain laki-laki didepan semua pemain lainnya itu tersenyum tipis karena teringat masa lalunya.


'Melihat kejadian ini membuatku teringat pada masa-masa MMORPG lama yang aku mainkan dulu sebagai pemain solo. Sering sekali aku membantu Newbie pada saat itu meski setelah mereka menjadi pro aku malah dilupakan seperti tidak pernah ada, hahah menyedihkan memang.'


Yuna tersenyum kecut saat memikirkan akhir dari apa yang dia lakukan dulu saat VR belum mengambil alih dunia game seperti sekarang ini.


"Baiklah, untuk saat ini, ayo kita berburu monster di dalam labirin bawah tanah Sofya, karena level kalian saat ini sudah menginjak angka 25 keatas maka disana adalah tempat berburu yang paling tepat. Baiklah, ayo buat regu beranggotakan masing-masing 4 pemain lalu setelah itu kita berangkat kesana."


Pemain yang berbicara itu memiliki nama Kronos dan terlihat menggunakan perlengkapan kelas atas yang harganya mahal. Yuna hanya diam tidak melakukan gerakan apapun sampai semua pemain disana sudah membentuk regu yang beranggotakan masing-masing 4 orang. Jumlah regu yang terbentuk adalah 4 regu sedangkan ada dua pemain tersisa ditambah dirinya dan pemain bernama Kronos itu yang belum membentuk regu.


'Mereka kekurangan anggota, jika Kronos itu bergabung maka akan kurang satu. Mungkin aku akan bergabung dengan regu mereka.'


"Sepertinya pas untuk membentuk 5 regu beranggotakan 4 orang, baiklah aku yang akan memimpin regu terakhir." Kata Kronos sambil mengirim undangan pembentukan regu kepada dua pemain tersisa beserta Yuna.


Yuna melihat jendela yang muncul didepannya yang meminta persetujuannya untuk membentuk regu yang dikirim oleh pemain bernama Kronos itu. Yuna mengangkat tangannya dan menekan tombol setuju, setelah itu dia mengamati HP dan level anggota lain terutama level milik Kronos.


✾●✾


Party Member


Leader: [Lv.140][Kronos][HP 13000/13000]


1st: [Lv.26][Claude][HP 3000/3000]


2nd: [Lv.25][Steven][HP 2800/2800]


3rd: [Lv.21][Yuna][HP 780/780]


✾●✾


'Level 140 ya. Dia sepertinya sudah berjuang cukup keras untuk sampai ke level itu.'


Yuna menatap kearah Kronos yang dimana pemain itu juga menatap kearah dirinya dengan wajah tersenyum.


"Teman-teman, kalian sudah memperhatikan level dan HP anggota regu, kan?" Mendapat anggukan dari semua orang membuat Kronos tersenyum.


"Baiklah, bagi kalian yang HP nya kecil harap berhati-hati karena satu serangan dari monster yang akan kita lawan cukup besar sekitar 690 poin damage. Jika kalian bisa menghindar maka menghindar lah jangan menahan serangan monsternya karena itu masih akan memberi damage kepada kalian meski kecil. Untuk yang HP nya lumayan besar aku harap kalian bisa melindungi anggota yang HP nya kecil agar anggota tersebut tidak mati yang akan membuat anggota tersebut terkena penalti pengurangan exp. Apa ada yang tidak kalian mengerti?" Kronos menyelesaikan penjelasannya dengan sebuah pertanyaan namun tidak ada pemain yang bertanya hingga Yuna mengangkat tangannya.


"Ya, ada yang tidak kau mengerti, Yuna?" Tanya Kronos.


"Um, apa saat pemain mati pemain itu akan mati sungguhan?" Tanya Yuna dengan nada takut.


'Setiap tindakan itu penting untuk mencari informasi dari para pemain veteran seperti dia, aku harus bersikap seperti perempuan yang penakut.'


"Tidak, pemain itu tidak akan mati sungguhan, jadi tenang saja, oke?" Yuna mengangguk meski masih menunjukkan ekspresi takut diwajahnya.


"Yah, meskipun FWO ini sempat di gemparkan dengan berita terbunuhnya seorang pemain didalam game ini, tapi itu masih belum bisa dipastikan dan juga aku akan melindungimu jika ada pemain misterius yang seperti pada berita beberapa waktu lalu itu." Kata Kronos sambil tersenyum untuk menenangkan Yuna yang terlihat takut.


'Jadi memang ada berita seperti itu, meski tidak dipublikasikan ke media oleh pihak yang mengetahuinya. Aku harus mencari tahu lebih banyak informasi dari Kronos, mungkin saja dia tahu sesuatu mengingat dia adalah pemain lama game ini.'


"Um, terima kasih." Kata Yuna pelan namun masih dapat didengar oleh para pemain yang ada disana.


"Yah, itu tidak masalah, Yuna. Oh ya, nanti kau menyerang dari belakangku saja, karena sepertinya kau adalah pengguna senjata busur dan lagi HP mu sangat kecil sehingga kau akan mudah untuk terbunuh karena monster akan lebih mudah mengincar pemain yang levelnya paling kecil diantara pemain lainnya." Kata Kronos sambil melirik daftar anggota regunya dimana disana dia melihat level dari Yuna itu adalah yang paling kecil diantara yang lainnya.


Yuna yang mendengar itu hanya mengangguk pelan, dia kemudian berjalan mendekati anggota regunya sambil berbicara.


"Um, Kronos, aku tidak memiliki daya serang yang kuat, apa aku benar-benar bisa membantu?" Tanya Yuna dengan wajah ragu yang tentunya hanya pura-pura karena Yuna sebenarnya adalah seorang pemain veteran profesional yang sedang melakukan misi dari VR FO yang tidak lain adalah organisasi milik pemerintah, dan lagi Yuna itu aslinya laki-laki.


"Itu tidak masalah, lagi pula ada aku yang bisa membunuh monster-monster itu dengan mudah. Jadi kau tidak perlu memikirkan itu, Yuna." Kata Kronos tersenyum.


Yuna membalas senyuman Kronos dengan senyuman indah miliknya yang hanya ada didunia VR ini karena dia hanya berpura-pura menjadi wanita saat ini, agar saat mencari informasi lebih mudah daripada saat menggunakan karakter laki-laki. Karakter Kronos yang melihat senyuman Yuna merona merah membuat pemain itu mengalihkan pandangannya kearah lain.


'Sepertinya dia tersipu, hadeh~' Yuna hanya menatap Kronos dengan senyuman miliknya itu namun dalam hatinya yang tidak lain adalah Aziz justru sedang sweat drop melihat kejadian itu karena bisa-bisanya pemain itu tersipu oleh senyuman dari sebuah karakter game yang belum pasti pemainnya memiliki gender yang sama dengan karakternya.

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih, semoga saja aku tidak menjadi beban tim." Kata Yuna.


Setelah melakukan pembicaraan di atas, Yuna mengikuti Kronos ke pinggiran kota dan turun memasuki sebuah pintu besi kedalam labirin bawah tanah kota Sofya dimana mereka akan berburu monster untuk menaikkan level karakter mereka.


●●●


[Fantasy World Online


Avante, kota Sofya: Labirin - Ruangan 1.]


Yuna berjalan dibelakang Kronos sedangkan 2 anggota regunya yang lain berjalan dibelakangnya. Keempat regu yang lain berjalan disamping regu Yuna, mereka berjalan dengan hati-hati mengikuti Kronos yang berjalan dipaling depan dari mereka semua.


"Baiklah," Kronos berhenti berjalan, dia berbalik dan menatap satu persatu wajah semua pemain dibelakangnya dengan wajah serius.


"Didepan sana adalah titik berkumpulnya monster berlevel 28-33, ingat apa yang aku katakan tadi, kalian harus melindungi anggota yang HP nya paling kecil agar tidak terbunuh. Meski kita tidak benar-benar mati, ada baiknya kalian menganggap game ini adalah game hidup dan mati agar kalian tidak mudah lengah dan menjadi beban tim nantinya. Kalau begitu, ayo!"


Semua mengangguk mendengar perkataan Kronos. Merekapun melanjutkan langkah mereka menuju ke sebuah area yang lumayan luas namun terletak di sudut ruangan pertama dari labirin bawah tanah kota Sofya itu.


"Perlu kalian ketahui, disetiap ruangan akan terdapat mini boss. Mini boss itu bertindak sebagai kunci untuk membuka ruangan selanjutnya jadi kita harus mengalahkannya jika ingin masuk lebih dalam, dan semakin dalam mini bossnya akan semakin kuat, termasuk monster-monster biasanya." Sambil berjalan Kronos menjelaskan tentang labirin bawah tanah Sofya itu kepada pemain pemula dibelakangnya.


"Ano,,, Kronos,"


"Ya?"


"Apa item dari mini boss itu bagus?" Tanya seorang pemain dari regu kedua yang memiliki nama Juna.


"Hm, tidak juga. Tergantung dari tingkat kesulitannya, semakin sulit mini bossnya item yang akan dijatuhkan akan semakin bagus, kira-kira begitulah simpelnya." Jawab Kronos.


"Begitu ya, hm. Baiklah, aku akan berusaha untuk mendapatkan item yang bagus, terutama perlengkapan karena perlengkapan di toko terlalu mahal untuk pemula yang tidak punya banyak uang sepertiku." Kata Juna mengangguk.


Merekapun akhirnya sampai ke area cukup luas yang menjadi tempat berkumpulnya monster berlevel 28-33. Dengan komando dari Kronos mereka melawan monster-monster itu sampai habis, setelah monster-monster habis monster-monster baru muncul dan begitu seterusnya sampai beberapa gelombang hingga mini bossnya muncul. Mini bossnya bernama Titax, dia adalah monster berwujud raksasa bermata satu atau Cyclops. Mini bossnya itu memiliki level 35 dan membawa palu berduri sebagai senjatanya.


"Bossnya muncul!"


"Lindungi yang HP nya kecil, para Tanker bersiaplah diposisi kalian!" Kata Kronos tegas mengomandoi para pemain baru itu.


"Baik!"


Empat orang pemain maju kedepan anggota regu mereka masing-masing. Sedangkan regu Kronos, Kronos sendirilah yang berdiri dipaling depan bertindak sebagai Tanker meski dia adalah pengguna pedang dua tangan.


'Aku pikir Cyclops akan muncul di hutan-hutan, tapi ternyata di labirin seperti ini munculnya. Dan lagi, sepertinya aku sudah dilock oleh monster itu ya…'


Yuna mengambil busurnya yang berada di punggungnya, dia kemudian bersiap dengan kuda-kuda untuk menarik senar busurnya meski dia belum menyentuhnya.


"Siap! Serang!" Kronos berteriak keras membuat semua pemain jarak dekat maju kedepan untuk melancarkan serangan pada monster itu, sedangkan pemain jarak jauh seperti Mage dan Archer seperti Yuna berdiri di belakang sambil melancarkan serangan mereka.


Yuna menarik senar busurnya dan melakukan gerakan untuk mengaktifkan skillnya.


"Tembakan kuat." Yuna bergumam pelan sambil melepaskan sebuah tembakan anak panah cukup kuat membuat Titax, monster Cyclops itu terkena efek stun selama 2 detik.


'Sudah kuduga, mini boss memiliki ketahanan lebih tinggi dari monster biasa. Di game fantasi manapun pasti seperti itu, hah~'


Yuna menghela nafas pasrah saat serangannya tidak begitu berarti untuk melumpuhkan monster itu.


"Bagus! Yuna, siapkan serangan skillmu lagi, buat mini bossnya berhenti bergerak!" Perintah Kronos tanpa melihat kebelakang.


"Baik!" Balas Yuna sambil bersiap dengan skill yang sama karena dia hanya punya satu skill itu saja.


"Claude, maju dan gunakan skillmu!"


"Oke!" Balas Claude sambil melesat maju sambil memposisikan pedang satu tangannya di pundaknya, pedang itu bercahaya biru lalu…


"Tebasan cepat!" Claude berteriak keras bersamaan dengan tubuhnya digerakkan oleh sistem untuk melakukan sebuah tebasan vertikal dengan kecepatan lumayan kearah mini boss itu yang sudah siap dengan sebuah serangan miliknya sendiri.


"Roni, tahan serangan bossnya, dan susul dengan serangan skill kalian masing-masing!" Kronos terus dan terus mengomandoi semua regu untuk mengalahkan mini bossnya. Tebasan demi tebasan para pengguna pedang dan tombak lakukan untuk mengurangi HP bossnya. Serangan sihir dan anak panah juga menghujani Titax membuat HP barnya berkurang banyak hingga akhirnya mini boss berwujud Cyclops itu hancur menjadi pecahan berbentuk data-data program yang kemudian menghilang.


"Wooo! Aku naik level!"


"Aku juga!"


"Yes, aku dapat pedang yang lebih bagus dari milikku!"

__ADS_1


Sorakan dengan nada gembira itu terlontar dari mulut pemain yang naik level ataupun mendapatkan item dari mengalahkan mini boss Titax si Cyclops itu.


Kronos tersenyum melihat ekspresi senang di wajah para Newbie yang dia bimbing itu, Kronos kemudian menatap kearah Yuna karena melihat wanita itu hanya diam saja padahal Yuna juga naik level dari mengalahkan mini boss itu.


"Ada apa, Yuna?" Tanya Kronos bingung.


"Tidak ada apa-apa kok, aku hanya kepikiran sesuatu." Jawab Yuna sambil tersenyum.


"Begitu ya?" Kata Kronos sedikit merona.


"Iya."


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari jalan menuju ke ruangan selanjutnya karena seperti namanya labirin, tentu saja pintu ke ruangan selanjutnya pasti masih berada di tempat lain, rasanya itu seperti sebuah teka-teki dimana seorang pemain harus mencari pintu masuknya setelah mendapat kuncinya.


Mereka terus membasmi monster-monster yang muncul di ruang pertama itu sambil mencari pintu ke ruangan selanjutnya itu ada dimana.


●●●


[Fantasy World Online


Avante, kota Sofya: Labirin - Ruangan 10.]


"Gila! Untuk mencari pintunya lama sekali, aku sampai pusing berputar-putar kesana kemari hanya untuk mencari pintunya saja!" Steven berteriak frustasi karena sudah sekitar 3 jam-an dia bersama semua regu disana mencari pintu masuk ke ruangan 11 tapi mereka sama sekali belum menemukannya sampai sekarang.


"Kau benar, dibandingkan mini bossnya, mencari pintunya justru lebih susah. Aku pikir aku akan logout saja dari sini, aku terlalu lelah pikiran mencari pintunya." Kata seorang pemain bernama Leon.


"Iya benar, aku juga belum makan sejak pagi tadi." Kata seorang pemain lagi bernama Ritano.


"Hei kak Kronos, apa kakak tidak tahu lokasi pintunya? Kakak kan pemain lama." Kata seorang pemain bernama Yukie dengan wajah lelah meski hanya lelah mental saja karena fitur stamina belum diaplikasikan kedalam game sehingga pemain tidak bisa merasakan perasaan lelah didalam game meski sudah bertarung berjam-jam lamanya sekalipun.


"Haha, maafkan aku, dimulai dari ruangan ini dan selanjutnya pintunya itu selalu pindah tempat dari lokasi awal yang sudah diketahui ke tempat lain yang tidak diketahui. Mungkin lebih baik kita kembali ke kota saja, lagi pula semakin kalian frustasi kalian justru hanya akan kehilangan semangat bermain game ini nanti." Kata Kronos sambil menggaruk kepalanya dengan senyum gugup karena dia sepertinya lupa memberitahu mereka tentang tingkatan yang ada didalam labirin.


"Hah~ kau benar, lagi pula bagaimana cara kita kembali ke kota saat kita saja tidak tahu lokasi pintunya jika kita seandainya menemukan pintu ke ruangan 11?" Kata seorang pemain bernama Angga dengan wajah pasrah.


"Kan ada kristal teleportasi, kita bisa gunakan itu."


"Hah? Kau tidak tahu ya, kristal teleportasi itu cukup mahal harganya, dan lagipula kita saat ini tidak ada yang punya kristal itu!" Kata Juna sambil menatap pemain yang baru saja berbicara.


"Tapi aku punya 100 biji, aku beli pakai uang asli."


Semua terdiam mendengar pengakuan pemain bernama Kattie itu.


"Dasar, kau bahkan membeli kristal teleportasi dengan uang asli, apa kau benar-benar lebih suka yang instan dari pada hasil perjuangan?!" Kata Juna dengan wajah kesal entah karena apa.


"Apa? Kau pikir aku tidak bekerja keras buat dapat uang didunia nyata apa?!" Teriak Kattie tidak terima.


"Sudah-sudah jangan ribut, lebih baik kita kembali saja ke kota, jangan bertengkar di labirin seperti ini." Kata Claude menengahi.


Yuna menatap kejadian itu dengan wajah bingung meski sebenarnya dalam hatinya dia justru sedang sweat drop saat ini, bagaimana tidak mereka jadi ribut seperti itu cuma gara-gara mencari pintu menuju ruangan selanjutnya yang tidak ketemu sama sekali dari tadi, lalu kemudian pada mengeluh semua hingga berakhir membahas kristal teleportasi dan ribut seperti itu. Yuna menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya kearah Kronos bermaksud meminta solusi karena dia pemimpin semua regu ini.


Kronos yang mengerti arti tatapan Yuna hanya menggaruk kepalanya sambil berpikir.


"Ehem! Maafkan aku sebelumnya karena aku lupa memberitahu kalian tentang tingkatan dalam labirin kota Sofya ini. Lain kali akan aku jelaskan lebih rinci saat kita ingin berburu kesini lagi. Untuk sekarang ayo kita kembali ke kota menggunakan kristal teleportasi ini." Kata Kronos sambil mengeluarkan 38 kristal teleportasi dan membagikannya kepada semua pemain disana dengan setiap pemain mendapatkan 2 buah kristal.


"Ini? Kau serius memberikan kami kristal ini?"


"Iya, gunakan itu untuk kembali ke kota, itu juga sebagai permintaan maafku karena melupakan hal peting seperti tingkatan dalam labirin ini. Sudah ayo kita kembali, kapan-kapan kalau kita kembali kesini akan aku jelaskan terlebih dahulu tingkatannya pada kalian." Kata Kronos diakhiri dengan mengeluarkan satu kristal teleportasi untuk dia pakai sendiri.


"Kalau begitu ayo. Teleport, Kota Sofya!"


Semua pemain kecuali Yuna kembali ke kota dengan kristal pemberian Kronos. Yuna hanya berdiri diam memandang kristal teleportasi pemberian Kronos itu yang warnanya berbeda sendiri dibanding dengan yang diberikan kepada pemain lain oleh Kronos.


'Seingatku, biru adalah normal, hijau adalah highclass, dan merah adalah Ultimate. Kenapa si Kronos itu memberiku kristal merah? Terlebih lagi dua sekaligus.'


Yuna hanya menghela nafas kemudian dia berjalan untuk kembali ke kota tanpa menggunakan kristal teleportasi pemberian Kronos itu.


'Harga kristal ini sangat mahal satu buahnya, akan ku jual saja satu dan satunya akan aku simpan untuk aku gunakan jika diperlukan suatu saat nanti. Lagi pula aku sudah biasa terjebak dalam labirin seperti ini sejak VR Game kedua waktu itu.' Yuna kemudian melihat kearah daftar anggota regunya yang satu persatu nama disana menghilang menyisakan dirinya dan Kronos.


'Sampai bertemu lagi, Kronos. Maafkan aku yang sudah menipumu.'


Yuna menggaruk kepalanya dan keluar dari anggota regunya membuat daftar anggota regunya itu menghilang sepenuhnya dengan notifikasi Regu dibubarkan dia terima dari sistem.

__ADS_1


'Besok aku harus membeli perlengkapan yang cukup bagus dengan uang hasil menjual kristal teleportasi pemberian Kronos ini.'


Bersambung…


__ADS_2