
"Because of you ....
Aku jadi tahu bagaimana rasanya ditinggalkan."
-Haruka Humairah-
"Maaf, Ka. Aku harus fokus belajar. Nilai-nilai Aku mulai menurun. Kepala sekolah sudah memberiku peringatan. Jika nilai ku terus merosot, maka bea siswaku akan di cabut. Kamu 'kan tahu sendiri, aku bisa masuk ke SMA Generasi Biru karena bea siswa," kata Dion sambil memegang tangan Haruka, di suatu sore saat Dion sedang membantu ayahnya berjualan ayam goreng.
Haruka memicingkan matanya yang memang sudah sipit. Gadis itu berusaha mencerna ucapan Dion yang dinilainya tak biasa.
"Terus ....?" Haruka menunggu Dion melanjutkan kalimatnya.
Dion menarik napas panjang seolah sedang berjuang melawan perasaannya. Lalu ditatapnya wajah Haruka sejenak. Dengan suara yang berat, Dion berkata, "Kita akhiri saja."
Haruka yang memang rada-rada lamban dalam berpikir, mengira maksud kalimat Dion adalah mengakhiri pembicaraan. Jadi, dia melepaskan tangannya dari genggaman Dion, dan bangkit dari bangku yang sedang didudukinya.
Haruka melemparkan senyum termanisnya pada Dion seraya merapikan roknya. Dion heran melihat reaksi Haruka yang tampak biasa saja setelah diputuskan.
__ADS_1
"Ka, kamu sama sekali tidak marah?" Dion penasaran.
Haruka mengerutkan dahinya. "Marah kenapa?" tanya Haruka heran.
"Ya ..., secara kita pacaran sejak SMP. Lalu, hari ini kita putus. Aku pikir kamu akan menangis atau marah, atau ...." Dion menghentikan ucapannya saat melihat mata Haruka mulai membesar.
"Jadi, maksud ucapan kamu tadi adalah kamu ingin putus?" tanya Haruka dengan suara agak keras.
Dion mengangguk.
Plak!
Haruka tersadar dengan perbuatannya dan dengan cepat membungkukkan badannya ke arah Ayah Dion dan pembelinya.
Setelah itu, Haruka kembali menatap Dion dengan tajam. Andai dengan tatapan, seseorang bisa terbunuh, maka Dion akan mati detik itu juga.
"Oke, kalau itu yang kamu mau. Cowok bukan cuma kamu aja, kok. Masih banyak yang lain dan lebih baik daripada kamu," ucap Haruka yang berusaha dengan sekuat tenaga, menahan air matanya agar tidak tumpah di depan Dion.
__ADS_1
Usai berkata demikian, Haruka segera pergi dengan membawa kekesalan dan rasa kecewanya. Bagaimana tidak, hubungannya dengan Dion yang sudah berjalan tepat 5 tahun di hari itu, harus kandas begitu saja hanya karena alasan Dion ingin fokus belajar.
"Memangnya selama ini dia tidak fokus belajar? Terus aku yang harus disalahin?" kata Haruka sambil terisak di depan teman-temannya.
Bintang, Aulya, Ririn, dan Vira adu jari untuk menentukan siapa yang lebih dulu memberi pendapatnya. Dan ternyata Bintang yang menang.
"Ka, bagaimana kalau aku menonjok mulut Dion sampai berdarah-darah, atau haruskah aku patahkan tangannya, atau kakinya, atau ...."
"Stop! Stop! Stop!" Aulya membekap mulut Bintang agar temannya itu berhenti bicara.
"Apaan sih?!" seru Bintang usai menyingkirkan tangan Aulya dari mulutnya.
"Kekerasan tidak dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah percintaan," jawab Aulya sok bijak.
"Benar! Jangan sampai emosi mengalahkan kecerdasan!" dukung Vira.
Haruka menyeka air matanya dan kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dipandanginya wajah teman-temannya satu per satu. Dengan penuh keyakinan, Haruka berkata "Aku punya ide yang lebih baik." Lalu, dia kembali duduk di sisi teman-temannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pindah ke SMA Generasi Biru?" lanjut Haruka.
"Hah!" Teman-temannya berteriak bersamaan.