
"Because of you ....
Kala kenyataan lebih pahit dari prasangka, aku menyerah.
-Haruka Humairah-
Ide Haruka untuk pindah ke SMA Generasi Biru akhirnya mendapat persetujuan dari keempat temannya dan juga orang tua mereka.
Sebenarnya mereka sangat berat untuk meninggalkan SMA 1, sekolah impian mereka sejak duduk di bangku SMP. Bagaimana tidak, untuk dapat menembus standar nilai 9,5 untuk tiap nilai mata pelajaran, mereka harus mengorbankan banyak waktu untuk belajar dan mengikuti bimbel di Primagama.
Namun demi persahabatan, mungkin pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. SMA Generasi Biru sebenarnya bukanlah sekolah unggulan seperti SMA 1. Tapi untuk masuk ke sekolah itu juga tidak mudah. Kalau tidak mendapat bea siswa yang menandakan siswa tersebut pintar, maka orang tua mereka haruslah dari kalangan elit yang mempunyai banyak uang. Bayangkan saja, biaya SPP siswa SMA Generasi Biru adalah sekitar 15 juta/semester. Belum lagi biaya buku-buku paket dan iuran-iuran lainnya.
Kalau Haruka pikir, mungkin itu penyebab Dion takut kehilangan bea siswanya dan harus belajar lebih giat lagi untuk bertahan. Tapi setelah Haruka berpikir lagi, alasan Dion memutuskan hubungan mereka itu terlalu klise. Jadi Haruka harus masuk ke SMA yang sama dengan Dion untuk mencari tahu yang sebenarnya. Haruka tidak terima jika dirinya dicampakkan begitu saja.
Brak!!!
Bersamaan dengan jatuhnya Haruka, terdengar suara lantang seorang gadis yang memakinya.
"Hei, Gendut! Kalau jalan pakai mata, dong!"
Haruka mengangkat wajahnya dan perlahan bangkit dari lantai. Ditepis-tepisnya bagian belakang roknya tanpa mempedulikan para gadis di depannya yang sedang menutup hidung mereka dengan jari telunjuk.
"Hei, 'ndut! Cepat minta maaf! Kalau nggak ...." ujar salah satu teman gadis yang bertabrakan dengan Haruka.
"Kalau nggak, kenapa?" kata Haruka sambil mendengus kesal.
Gadis yang tadi menyuruh Haruka untuk minta maaf sepertinya kesal dengan sikap Haruka yang tidak takut pada genk mereka. Dengan ringannya, satu tamparan dilayangkannya ke wajah Haruka.
"Apa? Mau nampar? Ayo tampar! Kalau bisa!" Haruka menangkap tangan gadis itu lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Lagian salah kalian juga sih, nutup jalan. Sudah tahu aku gendut, kalian malah nggak mau minggir," kata Haruka ketus sambil berlalu dari hadapan kelima gadis sombong itu.
Kelima gadis sombong itu mengibaskan rambutnya, lalu melanjutkan langkahnya ke kantin yang terletak di lantai dasar gedung sekolah itu.
Di sana sudah menunggu seorang cowok yang berwajah rupawan. Saat melihat kedatangan kelima gadis itu, cowok itu dengan cepat bangkit dari kursinya dan menarik kursi di dekatnya.
"Silahkan duduk, Sayang," ucap cowok itu sembari tersenyum.
Gadis yang dipanggil sayang itu duduk diikuti oleh keempat temannya.
__ADS_1
"Kalian kenapa lama banget? Aku dari tadi nungguin, lho," kata cowok itu dengan lembut.
"Tadi ada gadis tengil dan gendut yang nabrak Jenny," kata salah satu temannya.
"What? Apa kamu terluka?" tanya cowok itu lagi sambil melihat ke arah tangan dan kaki gadis yang bernama Jenny.
"Nggak ada yang luka, kok. By the way, gadis gendut itu kalau nggak salah adalah siswa baru, pindahan dari SMA 1," ujar Jenny sambil menatap cowok di sampingnya.
Cowok itu jadi salah tingkah mendapat tatapan dari Jenny. Pikirannya mulai menebak-nebak siapa gadis pindahan yang dimaksud Jenny.
"Jangan-jangan .... Ah, tidak mungkin Haruka mau pindah ke sekolah ini," pikir cowok itu.
"Dion! Kamu dengar nggak, sih, omongan aku?!" seru Jenny kesal.
Dion jadi gelagapan. "Dengar ... dengar," ucap Dion berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Jenny kembali menatap Dion dengan pandangan menyelidik. Jenny ingat, mantan pacar Dion adalah gadis dari SMA 1 yang memiliki body gendut walau berwajah lumayan cantik dan imut.
"Apa gadis itu adalah mantan pacarmu yang mengejar sampai ke sekolah ini?" selidik Jenny.
Dion semakin gugup. Dia bingung harus menjawab apa. Dia saja belum bertemu dengan gadis gendut yang dimaksud oleh Jenny.
"Tidak perlu khawatir, Dion. Kita berdua pasti akan terpilih sebagai juara," kata Jenny dengan senyum penuh percaya diri.
******
Sudah enam hari sejak kepindahan Haruka dan keempat temannya ke SMA GENBI. Namun belum ada tanda-tanda penampakan Dion di sekolah itu.
"Hhaah! Ini sungguh ironis dan menyakitkan," ujar Ririn usai menghela nafas panjang.
Keempat temannya yang sedang asyik berselancar di dunia maya serentak menoleh pada Ririn.
"Apanya yang ironis? Hidupmukah?" tanya Vira seraya menggeser pantatnya ke dekat Ririn.
Ririn mendorong kepala Vira dengan pelan. Setelah itu dia menunjukkan photo-photo mereka saat masih berada di SMA 1. Vira tersenyum melihat photo-photo itu. Masa-masa mereka di SMANSA adalah bagian terindah dari hidup kelima sahabat itu. Layaknya mantan terindah atau cinta pertama yang sulit untuk dilupakan.
"So, dimana letak ironinya?" Vira kembali bertanya.
"Kita sudah enam hari di SMA GENBI dan belum pernah melihat Dion sekalipun. Apa benar Dion sekolah di sana? Jangan-jangan dia sekolah di tempat lain. Terus kita merugi dong ninggalin SMANSA," jawab Ririn dengan sedikit menyesal dalam nada suaranya.
__ADS_1
"Walaupun tidak ada Dion, aku tidak menyesal sama sekali. Dibalik hal yang buruk pasti ada hal baik yang tersembunyi," kata Aulya dengan mata berbinar.
Vira dan Ririn berpandangan. Dalam pikiran mereka berdua, terlintas pertanyaan yang sama. 'Ada apa dengan Aulya? Biasanya anak itu yang paling sering protes jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan rencana.
"Daripada kalian membahas tentang ironi, bagaimana kalau kita ke cafe kamu aja, Vir? Dengar-dengar dari jurnalis sekolah, anak-anak GENBI pada nongkrong di sana semua kalau malam minggu," usul Bintang yang sedari tadi mendengar obrolan ketiga temannya.
"Iya, usul yang bagus. Let's go!" Haruka langsung setuju dengan usul Bintang. Dan tanpa menunggu persetujuan dari temannya yang lain, Haruka bangkit dari duduknya dan menyambar jaketnya yang tergantung di sandaran kursi belajarnya.
Tiba di cafe Cupacabras, yang dinamai seperti nama genk mereka, salah satu pelayan menyambut dengan ramah. Baru saja pelayan tersebut ingin mengeluarkan suara, dengan cepat Vira memberi isyarat pada pelayan tersebut agar segera diam.
"Jangan sampai mereka semua tahu kalau aku pemilik cafe ini. Bisa-bisa mereka pada minta gratis. Terus bagaimana aku bisa membayar gaji kakak?" bisik Vira pada pelayan cafenya.
Pelayan cafe mengerti dan berbuat seolah-olah Vira dan teman-temannya adalah pelanggan.
"Arah jam tiga, cowok dengan kemeja putih. Bukannya itu Dion, ya?" kata Ririn.
Mereka semua serentak menoleh. Di sana duduk seorang cowok bersama seorang gadis yang sangat mereka kenal. Siapa lagi kalau bukan si judes Jenny.
Jenny juga melihat ke arah mereka dan mencolek tangan cowok di sampingnya. Dengan isyarat mata, dia menunjuk pada genk Cupacabras. Cowok itu menoleh dan tampak jelas dia sangat terkejut melihat Haruka ada di sana.
"Benar, 'kan itu Dion. Belum juga sebulan putus sama Haruka, eh ...., dia sudah punya pacar baru," ujar Ririn seraya memainkan sedotannya.
Haruka cuma diam. Sekarang semuanya menjadi jelas. Dion memutuskannya karena gadis lain. Gadis yang lebih cantik dan memiliki body yang bagus. Tidak seperti dirinya yang gemuk.
Tanpa disadari oleh teman-temannya, Haruka berdiri dan berjalan mendekati meja dimana Dion sedang bersama Jenny.
"Oh, jadi karena dia kamu mutusin aku? Sungguh kasihan diriku, harus tersingkir oleh gadis cacat seperti dia," kata Haruka pura-pura sedih.
"Apa katamu?!" Jenny berdiri dan menatap Haruka dengan penuh emosi.
"Ya, cacat moral dan etika," jawab Haruka dengan nada mengejek.
Dion berusaha menenangkan Jenny dan memintanya untuk duduk. Tak disangka, Haruka mengambil gelas yang berisi jus alpukat dan menyiramkannya ke kepala Dion.
Dion hendak berdiri dan marah. Tapi terdengar suara kamera dari beberapa ponsel yang sepertinya ingin mengabadikan moment itu.
Dengan langkah yang riang, Haruka kembali ke mejanya dan menenggak habis minumannya. Terpancar kepuasan di sorot matanya.
Tak jauh dari meja mereka, ada empat orang cowok keren yang sedang memperhatikan aksi Haruka mempermalukan Dion. Mereka tampak sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1