
"Ayo naik!" Jhon meminta Haruka untuk naik ke motornya. Dia berniat untuk mengantar pacar barunya itu pulang. Sekalian ingin tahu alamat rumahnya, biar mudah saat ingin apel di malam minggu.
Haruka bukannya naik, malah memutar kunci motor Jhon untuk mematikan mesinnya. "Aku pulang bareng teman-temanku aja, ya," katanya.
"Kamu nggak suka pulang sama aku?" selidik Jhon. Padahal semenjak motor itu keluar dari dealer, belum ada satu pun gadis yang menolak dibonceng oleh Jhon.
"Bukan begitu. Tapi, aku mana muat duduk di sini." Haruka tersenyum malu seraya memukul jok di belakang Jhon.
Tawa Aldi dan Roby pecah saat mendengar ucapan Haruka. Lucu bercampur iba melihat badan sehat Haruka tidak muat di motor Jhon.
Tapi Jhon tidak kehabisan akal. Kebetulan dilihatnya Riko sedang mendorong motor vespanya keluar dari parkiran. Terpikir ide untuk mengajak Riko bertukar pinjam untuk sementara waktu.
"Yakin kamu nggak malu pakai vespa butut?" Riko merasa berat untuk meminjamkan motornya pada Jhon.
"Nggak. Bawel, ah! Sini kuncinya!" Jhon merampas kunci dari tangan Riko dan langsung menancapkannya di lubang kunci vespa itu.
"Yuk!" ajak Jhon usai menyalakan mesin.
Dengan riangnya Haruka naik dan membonceng di belakang Jhon. Aldi, Roby, dan Riko, saling berpandangan sebelum akhirnya mereka menyusul Jhon.
Jarak dari sekolah ke rumah yang ditinggali Haruka tidak jauh. Hanya sekitar 3 KM. Saat mereka tiba, sebuah mobil mewah juga berhenti. Dari mobil turunlah seorang wanita cantik berusia awal 30-an membawa sebuah map yang berisi dokumen-dokumen penting.
"Mau cari siapa, Mbak?" Haruka memberi isyarat pada wanita itu.
Wanita itu jadi bingung ditanya Haruka demikian. Tapi untung saja jawabannya sesuai dengan yang diharapkan oleh Haruka.
"Oh, ini. Aku mau menawarkan sesuatu pada orang tuamu. Bolehkah aku ikut ke dalam?" Wanita itu menunggu reaksi Haruka.
Haruka beralih pada Jhon yang masih duduk di motornya dan belum beranjak sedikit pun. Haruka menghampiri Jhon dan mengobrol sebentar, lalu memintanya untuk pulang.
"Aku harus mengantar Mbak itu dulu menemui ibuku. Kamu pulang aja dulu. Anytime, aku akan mengajakmu masuk." Haruka tersenyum sambil memperbaiki posisi helm Jhon yang miring.
Jhon mengangguk. Dalam hitungan menit Jhon sudah menjauh. Haruka memberi isyarat pada wanita itu untuk mengikutinya.
"So, itu pacar barumu? Yang ini tampak berbeda dari yang pertama," kata wanita itu saat Haruka mempersilahkannya untuk duduk.
Haruka mengabaikan ucapan wanita itu. Dia melangkah ke kamar untuk mengganti seragamnya. Beberapa menit kemudian, dia kembali lagi ke ruang tamu. Haruka memperhatikan lembaran kertas yang ada di map.
__ADS_1
"Apa ini butuh tanda tanganku?" tanya Haruka seraya meraih map itu.
"Iya. Dokumen itu butuh tanda tangan pemegang saham terbesar." Wanita itu mengulurkan penanya pada Haruka.
Haruka meneliti setiap kata yang ada di kertas itu. Ayahnya yang mengajarkan itu. "Biar tidak ada kesalahan. Dalam bisnis, kesalahan sekecil apapun harus dihindari," begitu kata ayahnya.
Haruka membubuhkan tanda tangannya, lalu merapikan kembali kertas-kertas berharga itu ke dalam map dan meletakkannya kembali di meja.
"Well done." Wanita itu mengambil mapnya dan berdiri. "Sesekali datanglah ke kantor," kata wanita itu sambil menjabat tangan Haruka.
Haruka mengantar wanita itu ke mobilnya. Sebelum pergi, wanita itu berkata pada Haruka, "Apa kamu ingin aku memeriksa latar belakang si bad boy, pacar barumu itu?"
"Don't try!" jawab Haruka dengan nada mengancam.
Wanita itu tertawa kecil, lalu menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan Haruka yang berdiri sambil melambaikan tangannya.
"Sampai kapan Nona Haruka terus tinggal di sini? Bukannya lebih nyaman tinggal di rumah Ayah Non?" tanya Bi Tati saat Haruka kembali ke dalam rumah.
"Kenapa, Bi? Bibi sudah nggak suka kalau aku tinggal di sini?" Haruka membanting pantatnya ke sofa.
"Bukan begitu, Non. Tapi Ayunda akan keenakan tinggal di rumah, Non. Ibu takut dia berubah jadi sombong karena terbiasa menikmati kekayaan dan kemewahan," kata Bi Tati sambil mengelus lengan Haruka.
"Jangan khawatir, Bu. Ayu tetap ingat pesan Ibu. Ayu tidak akan sombong kecuali lagi dibutuhkan," kata Ayu sambil meraih cemilan dalam toples.
Tak lama kemudian, teman-teman Haruka yang lain juga datang dan bergabung dengan mereka. Canda tawa mereka terdengar riuh. Apalagi saat membahas pacar-pacar Haruka.
"Bisa-bisanya si Dion mutusin Haruka gara-gara Bokap Jenny membelikan ayahnya sebuah tempat untuk berjualan ayam goreng," celetuk Ririn sambil menepuk jidatnya.
"Iya. Padahal, jangankan hanya warung seluas itu, Haruka bahkan bisa memberinya peternakan ayam," timpal Vira dan disambut tawa oleh yang lain.
"Cukup! Yang lalu biarlah lewat. Aku sudah ikhlas, kok. Setidaknya aku sudah tahu, jenis cowok apa yang lima tahun ini menjadi pacarku." Haruka menghentikan teman-temannya untuk terus membicarakan Dion.
******
Suara motor vespa yang masuk ke halaman sekolah, menarik perhatian siswa-siswa yang masih berada di luar kelas. Bukan karena motornya, tapi dua orang yang sedang berada di atasnya.
Banyak yang tertawa melihatnya. Ada juga yang tidak senang. Yang merasa muak dan hendak muntah adalah Jenny dan teman-temannya.
__ADS_1
"Pasangan langit dan bumi. Aku harus berbuat sesuatu untuk menghancurkan gadis jelek ini." Jenny meninggalkan tempatnya berdiri dengan gusar.
Beda lagi Roby dan Aldi, mereka berdua dengan senang hati menyambut kedua insan itu di parkiran. Bahkan Roby membantu Haruka untuk turun dari motor.
"Gimana? Semalam tidurmu nyenyak, 'kan?" Roby mengangkat alisnya naik turun.
"Maksud dari pertanyaanmu adalah ...." Haruka memandangi Roby, tak mengerti.
"Ya ..., siapa tahu aja kamu terus terbayang-bayang wajah ganteng Jhon," gurau Roby.
Haruka tertawa mendengar ucapan Roby. Dengan cepat dia menyambar lengan Jhon dan menggandengnya dengan mesra. Mereka berdua berjalan ke kelas di ikuti oleh Roby dan Aldi yang lebih menyerupai dua pengawal.
Tiba di kelas pun Haruka masih memamerkan kemesraannya. Sepertinya Haruka bermaksud memanas-manasi Jenny dan teman-temannya.
"Haruka!" Riko memanggil dengan kamera yang sudah siap untuk memotret.
Saat Haruka menoleh, terdengar suara 'klik' kamera.
"Rik, ingat! Jangan di pajang. Nanti seseorang bisa baper dan ngamuk," kata Haruka dengan nada mengejek.
"Siapa yang baper?! Kamu nyindir aku!" seru Jenny sambil menarik tangan Haruka hingga terlepas dari Jhon.
"Aduh, Sayang! Mantan kamu ini sepertinya cemburu melihat kita." Haruka pura-pura kesakitan.
Jhon meraih tangan Haruka dan membawanya ke kursi. Jenny semakin emosi. Rasa bencinya pada Haruka semakin bertambah.
"Dion! Kamu sudah lama kenal Haruka. Kamu pasti tahu dong latar belakangnya seperti apa." Jenny mendatangi Dion ke kelasnya.
Dion yang saat itu sedang membaca buku tidak terlalu menggubris pertanyaan Jenny. "Sudahlah, Jen. Haruka bukan siapa-siapa kok." Dion tetap sibuk membaca bukunya.
Jenny merampas buku Dion dan membuangnya ke lantai. Sekarang mereka berdua saling menatap. Dion mulai tidak suka dengan tingkah Jenny sejak kehadiran Haruka di sekolah mereka.
"Haruka gadis baik dan lembut. Dia bukan ancaman buat kamu," kata Dion seraya mengambil bukunya di lantai.
"Kamu membelanya? Oh, jangan-jangan kamu masih menyukai gadis miskin itu." Jenny semakin naik darah.
Dion diam saja dan lanjut membaca buku. Jenny merebut kembali buku Dion dan merobeknya, lalu membuangnya ke lantai. Dion mulai gusar. Dia menatap Jenny tak berkedip.
__ADS_1
"Sebenarnya apa maumu, Jen? Aku tidak suka gadis egois sepertimu. Pikiranku lelah mengikuti semua maumu," ujar Dion dengan nada pelan namun dalam.
"Oh, kamu nggak suka. Ya, sudah! Kita putus detik ini juga!" teriak Jenny, lalu keluar dari kelas.