FAT GIRL VS BAD BOY

FAT GIRL VS BAD BOY
JADI BAHAN TARUHAN


__ADS_3

"So, kita sepakat. Kalau dalam satu minggu, Jhon nggak berhasil mendapatkan Haruka, maka Jhon harus membayar kekalahannya dengan uang sebesar 10 juta pada kita," ujar Roby, cowok yang berada di urutan ketiga daftar cowok keren di SMA GENBI.


"Deal. Kamu ikut nggak, Ren?" tanya Jhon pada Reno yang sedari tadi tidak ikut berkomentar tentang rencana mereka menjadikan Haruka sebagai bahan taruhan.


Reno menggeleng. "Aku nggak ikut. Aku takut karmanya ditanggung oleh adikku," jawab Reno dengan pelan.


Meskipun mereka bertiga kecewa mendengar ketidak ikut sertaan Reno, tapi taruhan tetap harus dijalankan.


"Waktu kamu di mulai dari malam ini dan berakhir di malam minggu berikutnya," kata Roby seraya mengetuk meja tiga kali dengan tangannya.


Jhon yang sudah mendapatkan label 'Playboy berstandar SNI' itu, merasa yakin dapat memenangkan hati Haruka dalam waktu singkat. Di mata Jhon, Haruka hanyalah gadis gendut biasa dan dari keluarga yang biasa saja. Dan ditunjang dengan kejadian yang baru saja disaksikannya sendiri, Jhon dapat menyimpulkan bahwa Haruka sedang patah hati karena diputuskan oleh Dion, cowok yang sudah merebut kekasih terbaiknya, Jenny.


"Aku akan sangat menikmati permainan ini," pikir Jhon seraya menatap Haruka yang sedang beranjak pergi, meninggalkan cafe bersama teman-temannya.


Dulunya, Jhon adalah pacar Jenny. Tapi semenjak Jenny kenal dengan Dion, yang namanya melejit setelah dia terpilih menjadi juara cover boy sebuah majalah anak muda yang terkenal di kota itu, Jenny memutuskan hubungannya dengan Jhon. Semenjak itulah Jhon mulai bergonta-ganti pacar.


Keesokan harinya, Jhon mulai melancarkan aksinya dengan melakukan pendekatan pada teman-teman Haruka terlebih dahulu. Jhon berusaha menggali informasi sebanyak mungkin tentang Haruka agar dapat menentukan hal terbaik apa yang akan dilakukannya untuk meraih simpati Haruka.


"Bukan tentang apa yang disukainya, Jhon. Tapi kalau kamu serius mau dekat sama tuh anak, kamu harus menghindari satu hal yang sangat dibencinya," kata Aulya saat Jhon menemuinya di perpustakaan.


Jhon merasa antusias mendengarnya. Dengan sabar dia menunggu sampai Aulya mendapatkan semua buku yang ingin dipinjamnya dan menyerahkannya pada pustakawan untuk dicatat.


"Jangan pernah menyinggung masalah berat badannya!" kata Aulya dengan tegas di luar perpustakaan.


"Hanya itu?" tanya Jhon yang masih penasaran.


Aulya mengangguk. "Hanya itu," ujarnya sambil bergegas karena beberapa meter di depannya, Ririn dan Vira sedang menatapnya seperti elang yang mengintai mangsanya.


"Kamu bicara apa tentang Haruka pada play boy cap katak itu?" tanya Vira tanpa basa-basi.


Aulya mengangkat kedua bahunya, "Ada deh," katanya sambil kembali melangkah menuju kelasnya.


Di tempat lain, tepatnya di kantin sekolah, Jhon sedang duduk bersama Haruka. Awalnya Jhon bingung memulai pembicaraan karena Haruka tampak tidak peduli dengan kehadirannya.


"Haruka  ..., ehm  ..., kamu mau nggak jadi  ...." Jhon menghentikan ucapannya karena melihat ekspresi Haruka tiba-tiba berubah.

__ADS_1


"Mau," jawab Haruka singkat.


Jhon nyaris berteriak karena kegirangan. Akhirnya dia bisa memenangkan taruhan. Tapi kegembiraannya musnah seketika saat Haruka menyiramnya dengan sisa air mineralnya.


"Kamu pikir, dengan wajah kamu yang tampan rupawan itu, kamu bisa dengan mudah memacari semua gadis? Sorry, aku tidak memandang wajah, tapi hati." ujar Haruka, lalu menghampiri Ibu kantin untuk membayar makanannya.


Plok! Plok! Plok!


"Ternyata seleramu makin hari makin  rendah, ya, Jhon. Pamor kamu sepertinya mulai pudar. Bahkan cewek sejelek ini pun menolakmu." Jenny tiba-tiba muncul bersama gengnya dan mengejek Jhon.


Haruka yang mendengar ucapan Jenny yang juga menghinanya, datang dan menghampiri Jenny. Dengan emosi yang tak kuasa ditahannya lagi, Haruka menampar wajah mulus Jenny.


Seisi kantin melihat ke arah mereka. Baru kali ini ada yang berani melawan Jenny dan teman-temannya.


Jenny menatap tajam pada Haruka, lalu dia melayangkan tangannya, hendak membalas tamparan Haruka.


"Jangan coba-coba, Jen!" seru Jhon sambil menangkap tangan Jenny sebelum mendarat di pipi chubby Haruka.


Jenny menatap tajam pada Jhon dan Haruka secara bergantian. Nafasnya naik turun menahan emosi. Dan lebih emosi lagi saat Jhon menarik tangan  Haruka dan meninggalkannya.


Seisi kantin tampak bernafas lega. Ending dari sinetron satu babak itu sungguh di luar dugaan. Namun sangat memuaskan hati penontonnya, tidak terkecuali Ibu kantin, yang sering kesal karena Jenny dan teman-temannya sering makan-minum gratis.


Tangan Jhon yang memegang erat tangan Haruka di sepanjang koridor sekolah, menarik perhatian para siswa. Riko, wartawan sekolah yang bergabung dalam klub jurnalis, mengabadikan moment itu dan berniat memuatnya sebagai tajuk utama berita di majalah dinding sekolah.


Dari kejauhan Reno, Roby, dan Aldi, ikut menyaksikan kejadian itu. Ketiganya tertawa puas melihat Jhon bersama cewek yang sama sekali bukan tipenya.


"Rasanya aneh melihat Jhon berpasangan dengan Haruka. Mungkin kita harus mendaftarkan mereka di pemilihan pasangan model pelajar bulan depan," ucap Roby seraya membalikkan badannya menghadap ke tembok.


"Ide brilliant, Rob. Kita harus total mengerjai Jhon, mumpung lagi ada kesempatan," dukung Aldi.


*******


Satu sekolah gempar setelah melihat isi mading pagi itu. Terpampang photo-photo Jhon dan Haruka saat bergandengan. Dan juga tidak ketinggalan  photo-photo mereka saat berada di kantin kemarin bersama Jenny.


Isi beritanya jauh lebih menghebohkan lagi karena si Riko menuliskan ulasan yang dikumpulkannya dari para siswa yang mendukung Jhon dan Haruka berpacaran.

__ADS_1


"Minggir! Ada berita apa sih?" kata Jenny yang menyeruak di antara siswa yang sedang berkerumun di depan mading.


Mata Jenny membesar. Gadis terpopuler di SMA GenBi itu terlihat murka saat melihat fotonya yang hendak menampar Haruka juga terpampang di sana.


Emosinya semakin bertambah saat Riko datang dan menempelkan kertas yang bertuliskan "Pasangan terbaik tahun ini."


"Sorry, aku lupa memberinya judul," kata Riko tanpa mempedulikan kemarahan Jenny.


Jenny menarik lengan Riko saat hendak keluar dari kerumunan. Teman-teman Jenny, tanpa diperintah sudah mengelilingi Riko sehingga cowok itu tidak bisa melanjutkan langkahnya.


"Lepas photo-photo itu sekarang juga!" perintah Jenny dengan suara lantang.


Riko menghela nafas panjang. Dia tidak takut sedikit pun dengan Jenny dan gengnya. Tanpa mempedulikan ucapan Jenny, Riko mendorong salah satu teman Jenny yang berdiri tepat di depannya untuk membuat jalan. Riko tidak peduli bagaimana jeritan marah Jenny membahana ke seluruh penjuru sekolah.


Vira datang dengan tergesa-gesa menghampiri Haruka dan teman-temannya. Dia menyampaikan apa yang baru saja dilihatnya di mading.


"Masa sih?" tanya Ririn tidak percaya.


"Sudah! Kalaupun benar, biar saja. Aku nggak marah kok," kata Haruka dengan tenang.


Ririn, Vira, dan Aulya saling berpandangan. Mereka bertiga heran melihat sikap Haruka yang tidak seperti biasanya.


"Jangan-jangan  ... kalian  ...." Ririn urung melanjutkan kalimatnya. Dilihatnya Jhon datang bersama ketiga temannya sambil menarik Riko ke hadapan Haruka.


"Katakan, harus aku apakan sampah ini?"


Riko berusaha menatap Haruka. Kepalanya yang ditekan Jhon ke bawah, membuatnya kesulitan. Dalam hati, Riko berharap agar Haruka mengatakan hal yang akan membuat Jhon dan gengnya melepaskannya.


"Lepaskan! Dia punya hak jawab sebagai wartawan sekolah. Kamu bisa menanyainya kenapa dia membuat berita tentang kita di mading? Kalau kamu masih nggak puas dengan jawabannya, kamu 'kan bisa menurunkan madingnya," kata Haruka sambil berlalu dari hadapan Jhon dan gengnya.


Jhon tersenyum penuh arti mendengar ucapan Haruka. Bagi Jhon, setiap kata yang diucapkan Haruka adalah lampu hijau buatnya.


Jhon melepaskan tangannya dari kepala Riko. Dan membisikkan sesuatu.


"Bisa nggak?" tanya Jhon pada Riko yang menatapnya heran.

__ADS_1


__ADS_2