FAT GIRL VS BAD BOY

FAT GIRL VS BAD BOY
JADIAN


__ADS_3

"Aku sudah mendapatkannya," kata Riko pada Jhon yang sudah menunggunya di kantin.


Jhon melirik ke sekitar. Setelah di rasa aman, Jhon memberi isyarat pada Riko untuk mulai menyampaikan hasil penyelidikannya.


Riko mengawali ceritanya dari awal Dion dan Haruka berpacaran sampai penyebab Dion memutuskan Haruka di hari jadian mereka yang ke-5.


Jhon manggut-manggut tanda mengerti. Sekarang dia paham mengapa Haruka rela meninggalkan SMANSA hanya untuk bisa dekat dengan Dion.


"Kalau boleh aku bertanya, mengapa cerita ini penting buat kamu, Jhon? Kamu nggak sedang jatuh cinta pada Haruka, kan?" tanya Riko penasaran.


"Kalau iya, kenapa?" Jhon balik bertanya.


Riko terkekeh. Tidak mungkin orang seperti Jhon akan menyukai gadis gendut seperti Haruka. Kecuali ada rencana terselubung di baliknya.


"Rencana terselubung. Ya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Jhon. Aku akan mencari tahu," bisik hati Riko sambil memandangi Jhon yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Oke. Kalau tidak ada lagi, aku harus kembali ke kelas sebelum Bu Wati menyadari kalau aku sudah cukup lama berada di toilet," ucap Riko sambil bangkit dari kursinya.


"Eits, tunggu dulu! Aku ingin kamu memuat kisah ini di mading dan samarkan nama mereka. Kamu bisa, 'kan?" kata Jhon dengan nada antusias.


Riko berpikir sejenak. Lalu kemudian mengangguk. "Tapi aku juga punya satu permintaan buatmu."


"Katakan saja."


"Aku sedang kesulitan keuangan. Orang tuaku ....," Riko tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap Jhon dengan ragu.


"Tenang saja. Aku akan membantumu," kata Jhon sambil menyerahkan ponselnya pada Riko.


Riko tersenyum girang dan mengambil ponsel Jhon. Dia menuliskan nomor rekeningnya dan memberikannya pada Jhon.


"Terima kasih, Jhon," kata Riko kemudian berbalik dan kembali ke kelasnya.


*******


Sesuai janjinya pada Jhon, Riko membuat cerita tentang kisah cinta Dion dan Haruka. Pagi itu, satu sekolah gempar setelah membaca tulisan Riko yang sengaja diberi judul "Diangkat dari kisah nyata" untuk menarik perhatian para siswa.


Mereka yang membaca tulisan Riko, saling bertanya-tanya siapa tokoh dalam cerita Riko. Haruka dan teman-temannya yang datang bersamaan dengan Jenny dan gengnya, juga ikut membaca cerita itu.


Kedua gadis berbeda body itu saling bertatapan. Mereka berdua sangat yakin, kedua tokoh wanita dalam kisah Riko itu tidak lain adalah mereka.

__ADS_1


Jenny tersenyum sinis pada Haruka. Terlihat raut penuh kepuasan di wajahnya. Dia berpikir sudah mengalahkan Haruka. Dengan kasarnya, Jenny menuding kepala Haruka seraya berkata, "Sekarang kamu tahu, 'kan? Betapa tidak ada artinya kamu dibanding aku."


Teman-teman Haruka yang ikut mendengarkan ucapan Jenny jadi emosi dan ingin melabrak gadis sombong itu. Tapi Haruka dengan cepat mencegahnya. Haruka tidak ingin hal yang mereka sembunyikan selama ini jadi terbongkar.


Saat Haruka dan Jenny sedang bersitegang, tiba-tiba terdengar suara riuh di bawah. Para siswa berlarian dan kemudian berjejer dengan rapi. Mereka ingin tahu apa yang terjadi di halaman sekolah.


Terdengar suara musik yang memainkan intro lagu 'Jadikan aku pacarmu milik SO7.' Tak lama kemudian, muncullah balon yang bertuliskan 'I love you, Haruka.'


Semua mata beralih pada Haruka, diiringi teriakan 'Terima' berkali-kali. Haruka dan teman-temannya jadi penasaran. Demikian juga dengan Jenny. Mereka semua berjalan ke kumpulan siswa lainnya dan melihat ke bawah.


"Oh, ha ... ha .... So sweet! Jhon nembak Haruka," seru Aulya sambil tertawa.


Jenny yang melihat Jhon beraksi bersama anak-anak cheerleader dan anak klub musik, merasa geram dan cemburu. Dia meninggalkan tempat itu dengan segera.


"Norak banget, sih!" maki teman Jenny sambil mendorong Aulya.


"Ih, bilang aja kalian nggak terima!" balas Aulya sambil mendorong teman Jenny.


Hampir saja terjadi perkelahian kalau saja Bu Ana dan Pak Budi tidak segera datang melerainya.


"Cukup, anak-anak!" lerai Pak Budi.


Suara musik masih terdengar, kedua guru muda itu melihat ke bawah. Sekarang mereka paham apa yang sedang terjadi. Apalagi saat melihat tulisan yang ada di balon.


"Korban penembakan? Kriminal dong. Jhon bisa dilaporkan," kata Bu Ana menimpali ucapan Pak Budi.


"Ya, nggak bisa, Bu Ana. Pelurunya 'kan pakai hati. Jelas nggak akan ada yang mati. He ... he ...." Pak Budi mengedipkan sebelah matanya pada Bu Ana dengan penuh arti.


Tidak lama kemudian, Jhon berlari ke atas dan menghampiri Haruka untuk mendapatkan jawaban. Semua merasa tegang, termasuk Pak Budi dan Bu Ana.


"Ehm ..., gimana ya?" Haruka jadi bingung.


"Sudah, Terima aja," kata Pak Budi dan Bu Ana berbarengan.


"Kalau gitu, iya deh," kata Haruka tersipu malu.


Semua bersorak senang.


"Kita kalah, Rob. Jhon sudah jadian sama Haruka," kata Aldy yang menonton peristiwa itu dari sisi lain.

__ADS_1


"Kalian sadar nggak sih? Kalian baru saja memasukkan anak orang ke mulut buaya putih," kata Reno dengan nada tidak senang.


******


Entah apa yang ada dipikiran Jhon. Setelah aksinya di halaman sekolah saat menyatakan cinta, kini Jhon membagikan cokelat berbentuk hati pada semua siswa dan guru yang ada sekolah itu untuk merayakan jadiannya dengan Haruka.


Jhon memakai uang hasil kemenangan taruhannya dengan Roby dan Aldi untuk membeli semua cokelat itu. Dan tentu saja Roby dan Aldi yang bertugas untuk membagikannya karena mereka berada di pihak yang kalah.


Kini, tibalah giliran Jenny dan teman-temannya. Geng gadis pembully dan tajir itu, membuang coklat yang diberikan Roby dan Aldi ke tempat sampah. Mereka memasang tampan geram hingga kecantikan mereka sedikit memudar.


"Bilang aja, kamu cemburu, 'kan, lihat Jhon jadian sama Haruka. Secara, waktu dia nembak kamu, Jhon cuma pakai bibir dan kamu langsung menerimanya," kata Aldi dengan nada menusuk.


"Apa kamu bilang?! Jangan coba-coba membanding-bandingkan aku dengan gadis gendut, jelek, dan miskin itu!" kata Jenny dengan emosi yang meluap.


Roby memberi isyarat pada Aldi agar tidak meladeni ucapan Jenny lagi. Mereka kembali membagikan sisa cokelatnya pada siswa yang belum mendapat bagian.


Di seberang gedung dimana Aldi dan Roby sibuk membagi cokelat, Reno dan mantan pacarnya, Ayunda, sedang berdiri sambil memperhatikan tingkah kedua sahabatnya itu.


"So, Jhon sudah jadian sama Haruka?" tanya Ayunda pada Reno yang masih memandangi Aldi dan Roby.


"Ya. Aku kasihan pada gadis malang itu," jawab Reno.


Ayunda tersenyum. "Kalian sungguh tidak tahu siapa Haruka sebenarnya," ucap Ayunda pelan, seolah dia berbicara pada dirinya sendiri.


"Jadi, apa kamu mengenal Haruka dengan baik?" tanya Reno yang bisa mendengar ucapan Ayunda walau pelan.


Ayunda mengangguk. "Haruka adalah anak ...." Ayunda belum menyelesaikan ucapannya tatkala Haruka datang dan mengajaknya ke tempat lain.


"Kamu belum membongkar rahasia kita, 'kan?' tanya Haruka dengan sorot mata tajam.


" Tenang aja. Sampai saat ini masih aman. By the way, sampai kapan kamu akan berpura-pura?" Ayunda menepuk pundak Haruka, lalu pergi.


Pembicaraan mereka berdua mengundang rasa penasaran Riko yang sudah mengikuti mereka sejak tadi. Riko penasaran melihat keakraban Haruka dengan Ayunda, gadis terkaya di sekolah itu. Teman Ayunda bisa dihitung dan hanya terbatas pada gadis kalangan elit.


"Hei, ngapain kamu di sini?" tanya Haruka dengan nada curiga.


"Ehm ...., baru aja. Aku pergi dulu, ya?" kata Riko, tidak bisa menutupi rasa gugupnya.


"Tunggu! Aku ingin memperingatkanmu, Rik. Jika sampai berita tentangku atau Ayunda jadi penghias Mading-mu, maka aku akan membuat kamu dan keluargamu menanggung akibatnya. Mengerti?" kata Haruka dengan nada mengancam.

__ADS_1


Riko menatap Haruka. Dia tidak tahu mengapa Haruka tiba-tiba berubah menjadi sangat menakutkan.


"Siapa gadis ini sebenarnya?" suara batin Riko.


__ADS_2